"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.
Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.
Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 021: Ketertarikan Suryadinata
Tiga hari setelah ulang tahun Bu Agung Hartono, nama Arga Pratama muncul di meja rapat PT Suryadinata Group sebagai tanda tanya yang membuat semua direktur berhenti menyepelekan keluarga Hartono.
Ruang rapat di lantai tertinggi kantor pusat Suryadinata menghadap langsung ke jalan besar Jakarta. Dindingnya kaca, mejanya panjang, kursinya kulit hitam, dan di tengah meja tergeletak satu map abu-abu dengan judul yang sangat rapi:
Catatan Awal: PT Hartono Group dan Lingkar Keluarga.
Di halaman ketiga, ada foto Arga dari malam pesta.
Foto itu diambil dari sudut jauh. Arga berdiri di sisi Kiara, jas hitam tanpa hiasan, wajah tenang, tangan kosong. Di belakangnya, Bu Agung memegang kotak beludru hijau gelap.
Anindya Suryadinata menatap foto itu lebih lama daripada halaman laporan keuangan Hartono.
"Kita sudah mendapatkan konfirmasi kurator?" tanya seorang pria tua di ujung meja.
"Sudah," jawab Anindya.
Ia berusia awal tiga puluhan, rapi, tajam, dengan suara yang tidak perlu naik untuk membuat orang mendengarkan. Di keluarga Suryadinata, orang sering menyebutnya terlalu hati-hati. Anindya tidak pernah tersinggung. Dalam bisnis keluarga tua, orang yang disebut hati-hati biasanya hidup lebih lama daripada orang yang disebut berani.
"Pak Wiratama tidak menarik pernyataannya," lanjutnya. "Zamrud Kolombia, treatment minimal, provenance jelas, pernah masuk lelang privat di Jenewa. Estimasi konservatif Rp 130 miliar."
Di sisi kanan meja, seorang direktur senior mendengus.
"Satu perhiasan mahal tidak membuktikan apa-apa. Bisa saja pinjaman. Bisa saja titipan. Bisa saja Hartono sendiri yang ingin membuat sandiwara setelah malu oleh Kusuma."
Anindya membuka halaman berikutnya.
"Kalau itu sandiwara Hartono, mereka aktor yang buruk."
Ruangan diam sebentar.
Ia memutar layar di dinding. Rekaman pendek dari pesta muncul. Galang Hartono terlihat tertawa sebelum kurator menyebut nilai. Ratna memucat. Bimo membeku. Bu Agung terdiam lebih lama daripada kebiasaannya.
"Reaksi keluarga inti tidak seperti orang yang sudah tahu," kata Anindya. "Mereka terkejut. Bukan terkejut pura-pura untuk tamu. Terkejut sungguhan."
Pria tua di ujung meja menautkan jari. Ia adalah salah satu ayah paman yang memegang kursi penting di keluarga Suryadinata, jenis orang yang tidak perlu disebut namanya di luar ruangan karena semua orang di grup sudah tahu siapa yang ia wakili.
"Jadi menurutmu, menantu ini masalah?"
"Belum tentu masalah," kata Anindya. "Tapi dia bukan orang kosong."
Direktur senior tertawa pendek. "Kamu terlalu terpengaruh acara keluarga orang lain. Fokus kita Hartono Group. Pernikahan Kiara urusan samping."
"Justru karena fokus kita Hartono Group, saya tidak mau mengabaikan orang yang berdiri di samping Kiara."
Anindya menekan remote.
Halaman berikutnya menampilkan ringkasan PT Hartono Group.
Kinerja setelah kasus Kusuma: stabil tapi reputasi terguncang.
Obligasi konversi Cakra: Rp 2 triliun, belum dikonversi.
Struktur keluarga: Bu Agung memegang pengaruh informal, Bimo lemah dalam eksekusi, Ratna agresif secara sosial, Galang ambisius tetapi tidak disiplin, Kiara masih pusat operasional yang paling rasional.
Peluang: tekanan pasar, perpecahan internal, kebutuhan modal lanjutan.
Risiko: Cakra Capital, Arga Pratama, hubungan Kiara-Arga yang mulai berubah.
"Cakra lagi," gumam seseorang.
Nama itu membuat ruangan sedikit berubah.
Tidak ada satu pun konglomerat lama Jakarta yang suka berbicara tentang Cakra Capital dengan suara terlalu keras. Mereka semua tahu perusahaan itu baru, agresif, dan terlalu bersih untuk diserang dari depan. Mereka tidak tahu siapa Acrux. Mereka hanya tahu Dinda Permata tersenyum di televisi, sementara transaksi-tranksaksi besar bergerak seperti sudah disiapkan jauh sebelum lawan sadar.
"Cakra membeli obligasi Hartono," kata Anindya. "Arga muncul dengan helikopter Cakra di acara kampus. Arga memberi hadiah Rp 130 miliar di pesta Bu Agung. Saya tidak mengatakan dia pemilik Cakra. Tapi saya juga tidak mau mengatakan semua ini kebetulan."
"Tidak ada nama Arga di dokumen publik Cakra," kata direktur senior.
"Karena itu masalahnya."
Anindya menggeser foto Arga lebih besar.
"Orang yang terlalu terlihat mudah dihitung. Orang yang tidak terlihat tetapi berdiri di banyak titik penting lebih berbahaya."
Pria tua di ujung meja akhirnya tersenyum tipis.
"Kamu ingin kita mundur?"
"Tidak." Anindya menutup mapnya. "Saya ingin kita masuk dengan mata terbuka."
Kalimat itu membuat beberapa orang di ruangan saling pandang.
Suryadinata tidak datang ke pesta Bu Agung untuk makan malam. Mereka datang karena Hartono Group sedang tampak lemah. Setelah Kusuma tumbang, pasar percaya Hartono selamat karena keberuntungan dan belum membuktikan kekuatan sendiri. Ketika sebuah keluarga besar terlihat selamat tetapi masih berdarah, keluarga besar lain biasanya mulai menghitung.
Sektor mode Hartono menarik.
Jaringan retail mereka menarik.
Tanah dan merek lama mereka menarik.
Yang tidak menarik hanyalah kekacauan keluarga di dalamnya.
Tetapi bagi Suryadinata, kekacauan sering berarti diskon.
"Nishikura sudah mengirim sinyal," kata pria tua itu. "Mereka juga mencari pintu masuk ke consumer dan retail. Kalau kita bergerak sendiri, biayanya besar. Kalau bersama mereka, tekanan ke Hartono bisa lebih cepat."
Anindya tidak langsung menjawab.
Nama Nishikura membawa bau kompetisi yang berbeda. Keluarga itu lebih agresif, lebih cepat memakai celah hukum, dan lebih tidak sabar menghadapi negosiasi panjang. Bersekutu dengan mereka bisa membuka pintu, tetapi juga bisa membuat ruangan cepat terbakar.
"Kita bisa mulai dari pertukaran data," katanya akhirnya. "Belum komitmen. Belum aksi pasar terbuka. Kita ukur dulu struktur saham, utang, dan posisi Cakra."
"Dan Arga?"
Anindya menatap foto itu lagi.
"Dia harus masuk daftar risiko."
Direktur senior bersandar. "Menantu tanpa jabatan masuk daftar risiko Suryadinata Group. Menarik."
"Lebih menarik lagi kalau kita mengabaikannya lalu kalah oleh orang yang tidak kita hitung."
Tidak ada yang tertawa kali ini.
Pria tua di ujung meja mengetuk map abu-abu dua kali.
"Baik. Buat memo resmi. Tim corporate strategy mulai due diligence awal. Hubungi Nishikura secara informal. Jangan tinggalkan jejak komitmen."
"Baik."
"Dan cari tahu siapa sebenarnya Arga Pratama."
Anindya menutup map itu dengan pelan.
"Kalau dia memang seberbahaya kelihatannya," katanya, "lebih baik kita tahu itu sebelum bergerak."
Malam yang sama, Villa Puncak tampak seperti bayangan gelap di atas lereng.
Jakarta jauh di bawah berkilau seperti papan sirkuit raksasa. Arga berdiri di depan jendela ruang kerja, satu tangan masuk saku, mata mengarah ke kota. Di belakangnya, Gacrux meletakkan tablet di meja.
"Suryadinata mulai bergerak," kata Gacrux.
Arga tidak menoleh. "Seberapa cepat?"
"Mereka membentuk due diligence internal. Belum aksi pasar. Tapi sudah ada kontak informal ke keluarga Nishikura."
Nama itu membuat ruangan terasa sedikit lebih dingin.
Gacrux mengusap layar. "Saya bisa minta tim kita mengganggu jalur komunikasi mereka."
"Tidak perlu."
"Kalau mereka bekerja sama, Hartono bisa ditekan dari dua arah."
"Biarkan."
Gacrux diam.
Arga menatap pantulan dirinya di kaca. Di balik pantulan itu, lampu-lampu Jakarta tampak seperti kumpulan janji yang selalu minta dibayar.
"Mereka akan mencari namaku di dokumen publik," kata Arga. "Mereka akan mencari hubungan langsung dengan Cakra. Mereka akan menyisir rekening, perusahaan cangkang, arsip lama, foto, orang-orang kampus, bahkan cerita keluarga Hartono."
"Dan?"
"Semakin dalam mereka gali, semakin tidak bisa menemukan aku."
Gacrux tersenyum kecil. "Itu terdengar sangat menyebalkan bagi mereka."
"Bagus."
Tablet di meja menampilkan foto dari pesta Bu Agung. Bukan foto kalung. Bukan foto Galang yang kehilangan suara.
Foto Kiara.
Ia berdiri di bawah panggung, menatap Arga dengan mata yang tidak lagi hanya marah, tidak lagi hanya bingung. Ada sesuatu di sana yang lebih sulit dihadapi daripada rapat bisnis mana pun.
Pertanyaan.
Dan harapan yang belum berani disebut harapan.
Gacrux mengikuti arah pandangan Arga. "Bu Kiara akan terus bertanya."
"Aku tahu."
"Lebih sulit daripada Suryadinata?"
Arga tidak langsung menjawab.
Di luar, angin malam menekan kaca tanpa suara.
"Suryadinata ingin tahu cara menyerangku," katanya pelan. "Kiara ingin tahu siapa aku."
"Mana yang lebih berbahaya?"
Arga menatap kota sekali lagi.
Untuk pertama kalinya malam itu, jawabannya tidak segera keluar.
Ia mengingat suara Kiara di ballroom: bukan itu yang kumaksud.
Ia mengingat tangan Bu Agung yang bergetar.
Ia mengingat cara Suryadinata menatapnya dari sudut ruangan.
Babak pertama sudah selesai.
Yang datang berikutnya tidak akan lagi berupa hinaan di meja makan.
Yang datang berikutnya adalah orang-orang yang punya uang, pengacara, koneksi, dan kesabaran untuk menunggu lawan salah langkah.
Arga mengambil tablet itu, mematikan layar, lalu meletakkannya kembali di meja.
"Biarkan mereka menggali," katanya. "Kita lihat siapa yang lebih dulu menemukan jurang."