"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Tante yang Baik Hati
Mbak Rini sudah membuka gerbang sebelum Nadhira sempat menjawab.
"Beliau keluarga mendiang Bu Dini," jelasnya sambil menekan tombol interkom. "Dulu sering datang."
Kalimat itu terdengar seperti pembelaan, tetapi juga penegasan bahwa Mbak Rini mengenal rumah ini lebih lama daripada Nadhira.
Wanita di layar tiba di teras beberapa menit kemudian. Gaun birunya jatuh sempurna sampai betis, rambutnya tertata, dan senyumnya hangat seperti orang yang datang membawa kabar baik. Dua petugas keamanan membantu menurunkan kotak mainan, suplemen anak impor, dan satu tas belanja dari butik mahal.
"Mbak Nadhira?" Ia mengulurkan tangan. "Aku Dinda Setiawan, adik kandung Dini. Berarti aku tantenya Arkan."
Nadhira menjabat seperlunya. "Selamat sore, Dinda."
"Akhirnya kita bertemu." Dinda memandang lebam yang mulai menguning di pipi Nadhira. "Aku dengar semuanya terjadi sangat cepat. Kasihan sekali."
Nada suaranya penuh simpati. Matanya tidak.
Pandangan itu bergerak dari kartu akses di meja, tangga menuju lantai dua, susunan foto keluarga di dinding, lalu pintu ruang kerja Rayhan. Tidak ada sudut yang dilewatkan.
"Arkan sedang tidur," kata Nadhira. "Dia baru pulih dari demam."
"Aku hanya ingin melihat sebentar. Dia selalu senang kalau aku datang."
"Kalau dia bangun dan ingin bertemu, saya akan tanya."
Senyum Dinda berhenti di bibir, tidak sampai mata. "Tentu. Kamu sekarang ibunya di rumah ini."
Kata ibunya diucapkan lembut, tetapi ada sesuatu yang menusuk di belakangnya.
Mbak Rini membawa teh. Dinda langsung memanggilnya mendekat.
"Mbak Rini, kamu masih ingat teh melati kesukaan Mas Rayhan? Jangan sampai kebiasaan lama berubah semua setelah ada penghuni baru."
"Masih, Mbak Dinda."
"Bagus." Dinda menyentuh lengan perempuan itu seperti teman lama. "Kamu yang paling tahu kebutuhan rumah ini."
Mbak Rini melirik Nadhira sesaat. Benih kecil itu jatuh tepat di tempat yang sudah retak.
Nadhira duduk di sofa seberang. "Hadiah sebanyak ini tidak perlu."
"Untuk Arkan, bukan untuk siapa-siapa." Dinda membuka satu kotak mobil kendali jarak jauh. "Dulu aku janji membelikannya saat ulang tahun. Setelah Dini tidak ada, hanya aku yang bisa menjaga kenangan tentang ibunya."
"Kenangan itu masih ada." Nadhira teringat foto di bawah bantal. "Tidak ada yang melarang Arkan menyimpan atau membicarakan ibunya."
Dinda mengangkat alis. "Kamu sudah menemukan fotonya?"
Pertanyaan itu terlalu cepat.
Nadhira tidak menjawab langsung. "Foto apa?"
Dinda tersenyum lagi. "Foto-foto Dini ada di banyak tempat. Aku hanya menebak."
Mbak Rini meletakkan cangkir. Jemarinya sedikit kaku, seolah ia tahu persis foto mana yang dimaksud.
Dinda membuka tas belanja terakhir. Sebuah tas tangan berlogo emas diletakkan di depan Nadhira.
"Ini untukmu. Anggap saja hadiah pernikahan."
"Terima kasih, tapi saya tidak bisa menerimanya."
"Kenapa? Harganya tidak seberapa bagi keluarga ini."
"Justru karena saya tidak tahu apa yang diharapkan sebagai balasannya."
Tawa Dinda terdengar ringan. "Mas Rayhan benar-benar memilih perempuan yang berhati-hati. Mungkin itu sebabnya dia berani membuat pernikahan kontrak lagi."
Ruangan mendadak sunyi.
Nadhira tidak menyentuh teh. "Dari mana kamu mendengar soal kontrak?"
"Semua orang membicarakan pernikahan kalian. Kamar terpisah, akad mendadak, tamu terbatas. Orang tinggal menyusun potongannya."
"Semua orang tidak tahu letak kamar kami."
Tatapan Nadhira beralih kepada Mbak Rini. Perempuan itu langsung menunduk.
Dinda menyandarkan punggung. "Jangan salahkan staf. Mereka hanya khawatir. Mas Rayhan pernah terluka karena salah memilih istri. Wajar kalau orang-orang yang setia padanya menjaga rumah ini."
"Menjaga berbeda dengan menyebarkan urusan pribadi."
"Kamu terdengar seperti pemilik rumah sungguhan."
"Saya istri Rayhan."
Senyum Dinda mengeras sepersekian detik.
Lalu ia mengambil cangkir dan berkata, "Tentu. Untuk sekarang."
Dua kata terakhir begitu pelan hingga Mbak Rini mungkin berpura-pura tidak mendengar. Nadhira mendengarnya jelas.
Dinda mengalihkan pembicaraan kepada Arkan. Ia bertanya jadwal makan, suhu terakhir, obat, dan siapa yang menidurkannya. Pertanyaannya terdengar penuh perhatian, tetapi setiap jawaban Mbak Rini membuatnya mendapatkan peta baru tentang ritme rumah.
"Dia masih takut suara anjing?" tanya Dinda.
Mbak Rini tampak bingung. "Tidak ada anjing di rumah ini, Mbak."
"Belum," jawab Dinda spontan. "Nanti kalau Mas Rayhan membawa anak anjing hitam untuk mereka, jangan biarkan Arkan mendekat terlalu cepat."
Nadhira menatapnya. "Rayhan berencana membawa anjing?"
Dinda terdiam sesaat. Sangat singkat, tetapi cukup untuk membuat senyumnya kehilangan irama.
"Aku hanya menebak," katanya kemudian. "Dulu Dini pernah bilang Arkan suka melihat anak anjing. Mas Rayhan selalu berusaha memenuhi keinginannya."
"Kamu menyebut warnanya."
Dinda tertawa dan mengangkat kedua tangan. "Kebetulan saja. Anjing hitam paling mudah dibayangkan."
Ia segera menoleh kepada Mbak Rini, memutus tatapan Nadhira. "Kalau Arkan demam lagi, kirim kabar ke nomor pribadiku. Jangan lewat grup keluarga. Di sana terlalu banyak orang yang suka bergosip."
Dinda mengambil kartu kecil dari dompet dan menyelipkannya di bawah tatakan cangkir. Mbak Rini menatap kartu itu, lalu Nadhira.
"Laporan kesehatan Arkan tetap melalui saya dan Rayhan," kata Nadhira.
"Tentu," jawab Dinda. "Aku hanya menawarkan bantuan. Mbak Rini pasti tahu kapan keadaan terlalu mendesak untuk menunggu istri baru memahami semuanya."
Mbak Rini tidak mengambil kartu tersebut saat itu. Namun, ia juga tidak mengembalikannya. Ketika mengangkat cangkir kosong beberapa menit kemudian, kartu itu ikut menghilang ke dalam saku celemeknya.
Nadhira melihatnya.
Ia tidak membuat keributan di depan tamu. Ia hanya menyimpan fakta tersebut, sama seperti menyimpan cara mata Dinda bergerak ke pintu-pintu yang seharusnya tidak ia kenal.
"Kalau ada perubahan pada Arkan, kabari aku," katanya kepada Mbak Rini. "Aku tidak ingin sesuatu terjadi hanya karena orang baru belum memahami kebiasaannya."
"Mbak Rini melapor kepada saya dan Rayhan," potong Nadhira. "Informasi kesehatan anak tidak dibagikan tanpa izin orang tuanya."
Dinda menghela napas, seolah Nadhira terlalu sensitif. "Aku keluarga kandung."
"Rayhan ayah kandungnya."
Tak ada jawaban yang bisa mengalahkan fakta itu.
Setelah hampir satu jam, Dinda akhirnya berdiri. Ia meninggalkan hadiah untuk Arkan, tetapi Nadhira meminta semuanya disimpan tanpa dibuka sampai Rayhan memeriksa. Tas mahal untuk Nadhira dibawa kembali.
Di teras, Dinda merangkul Mbak Rini sebentar.
"Jangan sampai posisimu digeser," bisiknya, cukup pelan untuk tampak rahasia, cukup keras untuk didengar Nadhira. "Rumah besar mudah berubah kalau orang baru merasa berkuasa."
Mbak Rini tidak menjawab. Namun, ia juga tidak menolak.
Begitu mobil Dinda meninggalkan halaman, ponsel Nadhira berdering. Nama Rayhan muncul di layar.
"Dinda datang?"
"Iya. Dia tahu kamar kita terpisah. Dia juga meninggalkan nomor pribadi untuk Mbak Rini dan menyebut anak anjing yang katanya akan kamu bawa."
Ada keheningan pendek. Suara Rayhan ketika kembali terdengar lebih dingin.
"Jangan biarkan dia masuk lagi tanpa izin saya."