HELENA KANAYA ATMAJAYA gadis enam belas tahun yang masih duduk di bangku sekolah, sejak kecil Helena sudah di jodohkan dengan anak teman mendiang Ibunya, yang bernama RAVELO TRIAN ADITAMA yang sama sama masih duduk di bangku sekolah, kebetulan Helena dan Velo masih satu sekolah namun beda kelas.
Dari dulu Helena memang sudah menyukai Velo, dan saat tahu kalau keduanya di jodohkan Helena semakin menempel pada Velo, membuat Velo terkadang merasa risih sendiri.
Helena sebenarnya gadis yang baik, hanya saja dia memiliki sifat posesive pada sesuatu yang memang sudah jelas jelas miliknya termasuk pada Velo. Helena tahu kalau Velo dekat dengan gadis satu kelasnya yang bernama HANA LARASATI, jadi Helena selalu berusaha menjauhkan Hana dan Velo.
Dan sikap Helena yang seperti itu, membuat semua murid di sekolahnya mengecap Helena sebagai gadis Antagonist, awalnya Helena tidak terima dirinya di anggap Antagonist, namun pada akhirnya Helan benar benar memerankan sosok Antagonist yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Esok hari Velo sengaja melewatkan sarapannya, agar bisa sampai di rumah Helen lebih cepat, namun setiba di sana Pak Ndut mengatakan kalau Helen sudah berangkat ke sekolah.
Kemarin Velo menunggu Helen sampai menjelang sore, tapi gadis itu tak kunjung pulang, akhrinya Velo mengantarkan Hana pulang lebih dulu, setelah itu dia kembali ke kediaman Atmajaya dan menunggu Helen datang, namun sampai larut malam gadis itu tak kunjung muncul, telfon darinya pun juga tidak di angkat angkat, hingga tepat pukul satu malam Helen mengirim pesan padanya untuk menyuruhnya pulang, dan saat dirinya menelfon Helen namun nomernya sudah tidak aktif.
Akhirnya Velo menuruti perintah Helen untuk pulang, tapi sampai pagi Velo tidak bisa memejamkan matanya, Velo takut terjadi sesuatu pada Helen.
''Pak Ndut, semalam Helen pulang jam berapa?'' tanya Velo.
Pak Ndut terdiam sejenak. ''Perkiraan jam lima'' jawabnya.
''Jam lima'' ulang Velo kaget.
''Pak Ndut tahu, Helen semalam kemana?'' tanya Velo.
Pak Ndut tersenyum. ''Saya tidak tahu, Den'' jawabnya.
Velo terdiam lalu dia menatap ke arah balkon kamar Helen.
''Vel, ini sudah setengah tujuh, ayo berangkat, nanti kita telat'' seru Hana dari dalam mobil.
Sedari berangkat Hana terus muram, karna melihat Velo rela melewatkan sarapannya hanya untuk menjemput Helen.
''Ya sudah Pak Ndut, saya pamit dulu''
''Oh iya Den, hati hati''
Velo lalu masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman Atmajaya.
Padahal jarak kediaman Atmajaya ke HSI tidak terlalu jauh, tapi Velo mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata, bukan karan takut telat melainkan karna ingin segera bertemu dengan Helen, sedangkan Hana yang duduk di jok belakang, dia berpegangan erat di hand grip untuk menahan tubuhnya agar tidak terpental ke kanan atau ke kiri.
Velo tiba di HSI tepat pukul tujuh kurang dua puluh menit, dia langsung memarkirkan mobilnya lalu bergegas turun, dan saat akan menutup pintu mobilnya, Velo melihat sebuah Rolls royce phantom warna hitam masuk ke halaman HSI, yang sontak menyita semua tatapan para murid HSI yang tengah buru bur masuk ke gedung sekolah, pasalnya selama ini belum ada satupun murid yang membawa mobil mewah itu, mentok mentok mobil paling mewah adalah mobil mercedes maybach milik Velo yang selalu di pakai saat ini.
''Apakah itu murid baru?'' gumam Hana yang berdiri di samping Velo, sembari menatap mobil Rolls Royce yanh berhenti di pinggir halaman.
Namun beberapa saat kemudian, Velo maupun Hana bahkan para murid HSI membulatkan matanya, saat orang dari dalam mobil Rolls Royce itu keluar yang ternyata Helen.
''Helen'' gumam Velo dan Hana bersamaan.
Tak hanya mereka berdua saja yang terkejut, Maxim yang baru tiba juga tak kalah kagetnya, tapi tidak dengan Exel, dia mengulum senyum melihat Helen keluar dari mobil yang harganya sangat fantastis itu.
Velo yang tersadar dari rasa kagetnya, langsung bergegas menghampiri Helen. ''Helen tunggu!'' seru Velo, membuat langkah Helen yang hendak masuk ke dalam gedung sekolah berhenti.
Hana juga bergegas mengejar Velo, namun Exel dengan cepat menghampiri Hana dan menahan lengannya.
''Lo, mau kemana?'' tanya Exel.
''Gue mau ke Velo'' jawab Hana.
Exel menghela nafasnya kasar. ''Han, lo bisa tidak, gak usah ganggu kalau mereka lagi berdua?'' ucapnya.
Hana mengerutkan dahinya. ''Maksud lo apa Xel, gue ga faham''
''Sebenarnya hubungan Velo dan Helen itu akan baik baik saja, asalkan lo gak ada di tengah tengah mereka'' ucap Exel santai namun sangat menusuk.
''Xel, lok kok ngomongnya gitu'' tukas Hana lirih dengan expresi sedih.
''Maaf Han kalau omongan gue menyakitkan buat lo, tapi itu emang fakta, selama ini lo selalu ngerecoki mereka, seharusnya lo sesama cewek bisa ngerti bagaimana jika lo ada di posisi Helen, pasti lo gak akan terima kalau tunangan lo berpihak ke cewek lain'' ungkap Exel.
''Tapi, lo tahu sendiri kan, gue sedekat apa sama Velo selama ini, seharusnya Helen bisa memahami itu, bukan malah marah marah sama Velo'' tukas Hana.
Exel memijit pelipisnya mendengar ucapan Hana, sepertinya cewek di depannya ini sudah cinta buta sama Velo, sampai sampai ingin merusak pertunangan Velo dengan Helen.
''Kalau lo bahasa siapa yang harus memahami di sini, tentu saja itu lo, kalau lo memang punya fikiran dan hati yang baik, seharsunya lo itu sadar, kalau lo itu tidak seharusnya ada di tengah Velo dan Helen kalau mereka lagu ingin berduaan, tapi apa?, lo malah sengaja selalu ingin ikut mereka, padahal Helen tidak pernah melarang Velo untuk pergi berdua sama lo'' cecar Exel yang sudah jengkel dengan sikap Hana.
''Tapi, Velo gak keberatan kok'' tukas Hana membela diri.
''Terus, lo gak tanya sama Helen, dia keberatan apa tidak, oh gue lupa, bahkan lo tidak perduli sama sekali dengan perasaan Helen, lo itu PPB tau gak, polos polos bangsat'' maki Exel, yang sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memaki Hana.
''Xel, lo kok segitu kejamnya sama gue, untuk membela Helen'' lirih Hana dengan kepala tertunduk.
''Karna gue gak buta kaya si Velo'' sahut Exel dan berlalu pergi, meninggalkan Hana yang sedang menahan emosinya.
Hana menatap kepergian Exel dengan tangan terkepal.
''Sialan, kenapa sekarang Exel berpihak ke Helen sih'' gerutu Hana dengan nafas naik turun.
Sedangkan Velo dan Helen kini berdiri dengan saling berhadapan, Velo bingung mau ngomong apa saat melihat tatapan tajam Helen padanya.
''Ada apa?'' tanya Helen dingin.
''Aku mau minta maaf sama kamu'' ucap Velo.
Helen tersenyum devil mendengr perkataan maaf dari Velo.
''Cih, untuk apa lo minta maaf, kalau sekirnya lo masih tetap berpihak sama si benalu itu'' ketusnya.
Velo seketika menundukkan kepalanya. ''Maaf'' lirihnya.
Helen mendengus. ''Sudahlah, lo gak usah minta maaf, gue muak tau ga dengernya'' ketusnya lalu melenggang pergi.
Velo terdiam menatap punggung Helen yang perlahan menjauh, dan menghilang masuk ke dalam gedung, dan Velo menoleh ke arah Antonio yang masih berdiri di samping mobil Rolls Royce milik Helen, lalu Velo berjalan menghampirinya.
''Om Anton'' sapa Velo.
Antonio mengangguk untuk membalas sapaan Velo.
''Kalau boleh tahu, apa Om Anton tahu semalam Helen kemana?, kata Pak Ndut, Helen kembali ke rumah saat jam lima pagi'' tanya Velo.
Antonio terdiam sejenak lalu tersenyum. ''Maaf, saya tidak bisa mengatakannya'' ucapnya.
''Oh, ya sudah, ga papa'' tukas Velo setelah itu dia pergi masuk ke dalam gedung sekolah.
Sedangkan Antonio dia juga masuk kembali ke dalam mobil Rolls Royce milik Nonanya yang ia kemudikan.
coba KLO dicabut apa kamu masih bisa sekolah disitu,
saat kamu dan ibumu di usir dari rumah majikan🤣🤣🤣
kan Hana yg keliling lapangan
bukan Hellen,,
kan malu sendiri udah nantangin masa dibatalin👊👊