Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.
Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.
Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.
Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Malam Pertama Egi dan Nona Muda yang Arogan
Malam harinya, area kedatangan internasional Bandara Internasional kota tampak begitu ramai oleh lalu lalang penumpang. Lampu-lampu sorot menerangi pelataran parkir luar, tempat Egi berdiri tegap dengan kemeja rapi yang baru saja dibelinya. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat sosok wanita muda melangkah keluar dari pintu kedatangan dengan koper-koper mewah berukuran besar.
Gadis itu adalah Fani Sanjaya, adik bungsu dari Pak Frans Sanjaya. Meskipun status hubungan mereka adalah saudara kandung, rentang usia keduanya terikat jarak yang sangat jauh—terpaut hingga 25 tahun. Karena perbedaan usia yang amat drastis tersebut, sejak kecil Fani sudah sangat terbiasa menyapa Frans Sanjaya dengan sebutan "Papi", persis seperti yang diucapkan oleh Clara.
Egi yang mengenali ciri-ciri fisik Nona Muda tersebut dari foto yang diberikan Pak Frans, segera melangkah mendekat dengan santun.
"Selamat malam, Nona Fania," sapa Egi ramah seraya menundukkan kepalanya sedikit. "Saya Egi, pengawal pribadi yang diutus langsung oleh Pak Frans untuk menjemput dan mengawal Nona sampai ke rumah."
Fani menghentikan langkahnya. Gadis berusia muda itu meneliti penampilan Egi dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan pandangan mata yang teramat sinis dan merendahkan.
Bibirnya menyunggingkan senyuman meremehkan.
"Hah? Pengawal?" cibir Fani dengan nada suara yang nyaring dan arogan. "Papi bercanda ya? Masa pengawal pribadi buat gue modelannya kampungan kayak begini? Baju lu murah banget, gaya rambut lu juga kaku! Malu-maluin tahu enggak kalau dilihat orang-orang di bandara!"
Egi yang mendengar penghinaan terang-terangan itu tidak membiarkan emosinya terpancing. Pengalaman hidupnya yang keras saat bekerja membanting tulang mengantar galon air isi ulang telah membentuk mentalnya menjadi sangat penyabar dan tahan banting.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Nona," balas Egi tenang dan lugas. "Tugas saya di sini adalah memastikan keselamatan Nona Fania sampai di tujuan dengan aman. Mari saya bantu bawakan koper-kopernya ke dalam mobil."
"Gak usah dipegang-pegang! Koper gue ini barang bermerek, entar kotor kena tangan lu!" sergah Fani ketus. Walaupun terus mengomel dan bertingkah arogan sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, Fani akhirnya pasrah mengekor di belakang Egi yang tetap membimbing jalurnya dengan sigap.
Satu jam kemudian, mobil sedan mewah yang dikendarai Egi perlahan memasuki area gerbang besi menjulang milik kediaman megah keluarga Sanjaya. Lampu-lampu taman yang indah menerangi halaman luas rumah bak istana tersebut.
Di depan pintu utama, Pak Frans Sanjaya sudah berdiri menunggu dengan antusias untuk menyambut kedatangan adik kesayangannya. Di samping beliau, tampak Clara yang rupanya belum tidur malam itu. Clara mengenakan pakaian santai rumahannya, berdiri menyilangkan tangan di dada dengan raut wajah yang masih tampak agak mengantuk.
Begitu mobil berhenti dan pintu dibuka, Fani langsung melompat keluar dan berlari memeluk pria paruh baya tersebut.
"Papi!" seru Fani manja seraya melepaskan pelukannya.
"Selamat datang kembali di rumah, Fania Sayang," balas Pak Frans dengan senyuman hangat dan pandangan penuh kasih sayang.
Namun, belum sempat Pak Frans menanyakan kabar perjalanannya, Fani sudah lebih dulu menunjuk ke arah Egi yang baru saja selesai menurunkan koper-koper dari bagasi belakang.
"Papi! Fani mau minta ganti pengawal sekarang juga!" tuntut Fani dengan nada bicara yang merajuk. "Lagian Fani itu sudah besar, enggak perlu pakai pengawal-pengawalan segala! Risih tahu, Pih! Apalagi cowok yang Papi utus tadi penampilannya kampungan banget, enggak ada keren-kerennya sama sekali!"
Clara yang berdiri di dekat ayahnya memelototkan mata sedikit saat menyadari bahwa pengawal baru yang dimaksud oleh tantenya adalah Egi—sahabat dari Ketua OSIS yang sangat dibencinya.
Pak Frans menggelengkan kepala dengan raut wajah yang berubah menjadi sangat tegas dan bijaksana. "Tidak ada ganti-ganti pengawal, Fania! Mulai malam ini dan seterusnya, Nak Egi ini yang akan mengawal seluruh kegiatan kamu di luar rumah."
"Tapi Papi—"
"Dengarkan Papi, Fania," potong Pak Frans dengan suara beratnya yang tak terbantahkan. "Egi ini adalah orang kepercayaan Papi. Keberanian dan kejujurannya sudah teruji secara langsung oleh Papi sendiri. Soal keselamatan kamu,
Papi tidak mau main-main. Jadi kamu harus mau menurut!"
Fani menghentakkan kakinya ke lantai keramik dengan wajah cemberut maksimal, merasa kalah telak dari argumen sang kakak. "Terserah Papi deh!" gerutunya seraya berjalan masuk ke dalam rumah disusul oleh Clara yang ikut melangkah ke dalam.
Setelah para penghuni rumah masuk, Egi tetap berdiri siaga di area luar bersama beberapa staf keamanan dan pengawal senior lainnya, termasuk Pak Jhon. Setelah menunggu beberapa menit di bawah udara malam yang sejuk, seorang pelayan rumah tangga menghampiri Egi dan menyampaikannya untuk menghadap Pak Frans di ruang kerja bagian depan.
Egi melangkah masuk dan mengetuk pintu kayu jati yang kokoh. "Permisi, Pak Frans."
Pak Frans yang sedang memeriksa beberapa dokumen di meja kerjanya langsung mendongak dan tersenyum ramah. "Ah, Nak Egi! Ayo masuk, duduk dulu."
"Terima kasih, Pak," jawab Egi seraya mengambil posisi duduk yang sopan di hadapan majikannya.
"Egi... Terima kasih banyak ya sudah mengantarkan adik saya, Fania, dengan selamat sampai di rumah ini," ujar Pak Frans dengan nada suara yang teramat sopan, hangat, dan penuh penghargaan.
"Tidak perlu berterima kasih, Pak Frans," balas Egi cepat dengan sikap tubuh yang tegak. "Ini sudah menjadi bagian dari tugas dan tanggung jawab saya sebagai pengawal pribadi Ibu Fania."
Pak Frans terkekeh renyah mendengar jawaban profesional dari pemuda di hadapannya. Beliau mengambil sebuah kunci mobil di atas meja lalu menyodorkannya kepada Egi.
"Nah, Nak Egi... Kunci mobil ini boleh kamu bawa dan pegang sehari-hari untuk operasional menjemput dan mengantar Fania," tutur Pak Frans ramah. "Dan untuk malam ini, kamu boleh pulang setelah selesai makan malam di dapur utama. Kebetulan Fania sepertinya sudah lelah dan tidak ada agenda keluar rumah lagi nanti malam."
Mata Egi berbinar penuh rasa terima kasih atas kebaikan perlakuan dari pemilik rumah besar ini. "Siap, Pak Frans! Terima kasih banyak atas perhatian dan kebaikannya."
"Sama-sama, Egi. Selamat beristirahat untuk malam ini," ucap Pak Frans tulus.
"Siap Pak. Mari, Pak," pamit Egi seraya berdiri dan membungkukkan badan penuh hormat.
Dengan mengantongi kunci mobil di sakunya, Egi pun melangkah mantap keluar dari ruang kerja, berjalan menuju area dapur belakang tempat para karyawan dan pengawal rumah besar keluarga Sanjaya berkumpul untuk menikmati hidangan makan malam bersama.