Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran Dimeja Makan
Nindya akhirnya menyetujui tawaran Noval. Mobil milik Nindya langsung diurus oleh asisten pribadi Noval untuk dibawa ke bengkel resmi, sementara Nindya melangkah masuk ke dalam sedan mewah milik Noval. Aroma maskulin yang lembut di dalam kabin mobil menyapa indra penciumannya, menghadirkan rasa nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Kita jemput Arka dulu, ya? Dia pasti sudah menunggu," ujar Nindya pelan.
Noval tersenyum hangat dari balik kemudi. "Tentu. Aku tidak sabar ingin bertemu pangeran kecilmu."
Sepanjang perjalanan menuju tempat les Arka, Noval mengemudikan mobil dengan sangat tenang. Begitu sampai, Arka yang melihat ibunya turun dari mobil mewah langsung berlari riang. Bocah kecil itu sempat menatap Noval dengan rasa penasaran yang polos, namun keramahan Noval yang begitu tulus membuat Arka cepat sekali merasa akrab. Noval bahkan menyempatkan diri membelikan mainan favorit Arka sebelum mereka bertiga menuju ke sebuah restoran bernuansa hangat dan privat.
Di restoran tersebut, Arka duduk di kursi khusus anak, sibuk mewarnai buku gambar baru pemberian Noval sambil menyantap makan malamnya. Suasana yang aman dan tenang itu akhirnya memberi ruang bagi Nindya untuk membongkar luka yang selama empat tahun ini ia simpan rapat-rapat.
"Jadi... kamu bertanya kenapa aku menemui Pak Lukas?" Nindya menghembuskan napas perlahan, menatap cangkir teh hangat di hadapannya sebelum beralih menatap mata Noval. "Aku sedang mempersiapkan gugatan cerai, Val."
Noval yang baru saja hendak menyesap minumannya tertegun. Matanya menatap Nindya rapat-rapat, menunggu kelanjutan kalimat wanita yang pernah mengungkit rasa di hatinya itu.
"Pernikahanku dengan Haris sudah selesai secara batin sejak lama," lanjut Nindya dengan suara rendah namun sangat mantap. "Haris berselingkuh. Dan selama ini, aku hanya dianggap sebagai kewajiban materi, bukan seorang istri. Aku bertahan sejauh ini demi Arka, tapi sekarang aku sadar... Arka butuh ibu yang bahagia dan kuat, bukan ibu yang meratapi nasib di rumah dingin itu."
Nindya menceritakan segalanya tanpa raut wajah lemah—mulai dari keputusannya memotong rambut, mulai berlatih pilates, diterima bekerja di toko emas eksklusif, hingga batas waktu satu bulan yang diberikan Pak Lukas untuk mengumpulkan bukti perselingkuhan Haris demi merebut hak asuh penuh Arka.
Noval mendengarkan setiap detail cerita Nindya dengan keheningan yang dalam. Jemari tangannya mengepal di atas meja, menahan amarah yang membakar dadanya membayangkan betapa sia-sianya Haris memperlakukan wanita seanggun dan setulus Nindya. Pria yang dulu sangat ia cintai dan terpaksa ia lepaskan demi kebahagiaannya, ternyata disakiti oleh pria yang tidak tahu cara bersyukur.
"Satu bulan untuk mengumpulkan bukti dan mengamankan hak asuh Arka?" tanya Noval, suaranya terdengar begitu dalam dan protektif.
Nindya mengangguk tipis. "Iya. Dan aku tidak akan mundur sedikit pun."
Noval menatap Nindya dengan binar kagum yang amat sangat. Rasa cinta yang sepuluh tahun lalu sempat terkubur rapat di dadanya kini mendadak bergetar kembali, tumbuh makin kuat melihat keteguhan dan keberanian Nindya saat ini.
"Kamu tidak sendirian lagi sekarang, Nin," ucap Noval penuh ketegasan, tangannya terulur di atas meja, menyentuh lembut punggung jemari Nindya. "Lukas adalah sahabat baikku. Aku akan memastikan seluruh tim hukumnya memberikan pertolongan terbaik untukmu. Dan kalau kamu membutuhkan bantuan apa pun untuk mengumpulkan bukti atau melindungi Arka... katakan padaku. Aku akan ada di depanmu."
Nindya tertegun menatap mata hangat Noval. Di tengah badai rumah tangganya yang hancur, kehadiran Noval seperti membawa seberkas cahaya baru yang menuntun langkahnya menuju masa depan yang terang.