NovelToon NovelToon
Jejak Kaki Di Kotaku

Jejak Kaki Di Kotaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: A.T. Setiawan

Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.

Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.

Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Merangkai Kata

"Besok kamu berani ke sekolah sendirian Pras ?"

Suatu saat Ibu menanyakan itu ketika kami berjalan pulang dari sekolahku yang baru.

Kata Ibu aku sekarang sudah kelas satu SD. Sudah semakin besar untuk tidak perlu lagi diantar jemput sekolah.

"Ya bu ...." Aku mengiyakan tantangan baru yang ditanyakan Ibu.

Jika di TK Santa Maria Aku harus menyeberang jalan Gatot Subroto, sekarang Aku tak perlu menyeberang jalan itu.

Aku sudah mengenal SD Bruderan yang terletak menyempil dekat gereja tempat Bapak dan Ibu biasa berdoa di hari Sabtu atau Minggu tak jauh dari rumah dinas Bapak.

Jika Bapak dan Ibu berdoa di sana, Aku dan Christ ditemani bibi Yanti akan belajar dan bermain dengan teman sebaya mengikuti sekolah Minggu di salah satu kelasnya.

Aku sangat senang ketika akhirnya Aku tahu sekarang bersekolah di sana. Apalagi Aku bertemu Erwin, Eliza, dan Bogi lagi.

Aku duduk bersama Bogi di deretan bangku tengah kelas pada hari pertama masuk sekolahku.

"Duduk sini Pras."

Sebenarnya Erwin yang duduk di sudut belakang kelas mengajakku duduk bersamanya.

Tapi melihat Bogi terisak, Aku memilih duduk menemani Bogi. Dia masih saja cengeng dan selalu menangis ketika bapaknya yang mengantar meninggalkannya.

***

Aku sudah bisa menghitung jumlah dan membaca huruf saat mulai masuk di sekolah baruku.

Hanya saja Aku masih kesulitan menyebutkan angka atau huruf jika letaknya berjejeran seperti yang sering kulihat di majalah Bobo

Jika di TK Santa Maria hanya ada dua kelas nol kecil dan nol besar. Ada sepuluh kelas tempat belajar di SD baruku saat Aku menghitungnya.

Tiap kelas ditandai dengan papan kayu yang tergantung di atas pintu. Ada kelas A dan kelas B yang tertulis di papan kayu itu.

"Pras kita bertemu lagi." Eliza juga terlihat senang setelah mengetahui Aku bersekolah bersamanya lagi.

Sayangnya Eliza tidak sekelas denganku lagi. Dia ada di kelas satu A, terpisah denganku. Justru Erwin dan Bogi yang kini bareng bersamaku di kelas satu B.

"Walau kita gak bareng, toh kita setiap hari ketemu saat istirahat," kataku ke arah Eliza saat bertemu lagi dengannya

Dan tentu saja Aku berjanji akan menolongnya jika nanti ada anak yang mengusilinya di kelas barunya ketika dia mulai menceritakan teman barunya yang belum banyak dikenalnya.

***

Bangku besar yang menyatu dengan meja memudahkan Aku mengikuti permintaan bu guru Nunik yang mulai mengajari merangkai dan membaca huruf dan angka.

Apalagi gambar bocah laki-laki di buku yang ada di meja sangat menarik keingintahuanku. Ada Budi di gambar itu. Bocah yang dikenalkan bu guru Nunik dari depan kelas.

".... i - n - i ... b - u - d - i ..."

Dia terus mengulangi deretan huruf yang ditunjuknya dengan garisan kayu besar di tangannya.

Seperti saat TK dulu, Aku paling cepat mengerti dan mengikuti kemauan bu guru yang mengajariku.

Begitulah akhirnya Aku mulai bisa memahami dan merangkai kata yang ada di setiap gambar di buku itu.

Kini Aku sangat senang memamerkan apa yang kutahu di sekolah setelah pulang ke rumah tanpa perlu lagi sering bertanya kepada Bapak dan Ibu setelah ada bu guru Nunik.

Jam tujuh sampai jam sepuluh pagi menjadi hari-hariku selanjutnya yang selalu kutunggu.

Saat jalan kaki bareng Erwin di pagi dingin berkabut menjadi rutinitas uji keberanian kami tanpa perlu diantar Ibu masing-masing.

Apalagi sesudah jam pulang sekolah, ketika kami berdua akan berlomba mengucapkan deretan angka-angka dan huruf-huruf setelah berlama-lama memelototi dan mengeja huruf dan angka yang ada di setiap gerobak penjual jajanan dan mainan di dekat gerbang sekolah.

"Sempeleyo .... " Aku mulai paham maksud tulisan dan apa yang ada di gerobag penjual jajanan ketika Erwin menanyakannya padaku.

Tidak sepertiku, bocah jabrik itu terlalu senang bermain-main di kelas yang membuatnya masih kesulitan merangkai kata yang tertulis.

Apalagi Erwin duduk dengan Gani, bocah hitam tinggi besar yang kata dia disayang bu guru Nunik sehingga tetap harus tinggal di kelas kami ketika temannya yang lain pindah ke kelas dua yang masuk siang.

"Aaaah,... kata siapa dia disayang bu guru Nunik," bantahku setiap kali Erwin membanggakan Gani teman baru kami.

Aku sebal saja jika mereka berdua mulai berisik di dalam kelas. Apalagi keduanya sering membuat Bogi menangis di kelas jika bu guru Nunik belum datang.

Pernah Aku hampir meninju Gani yang menjitak kepala Bogi saat keduanya tak sengaja bersenggolan ketika bermain kejar kejaran di kelas.

Jika tidak ada Erwin yang memisahkan kami, bisa saja Aku sudah membuatnya kapok mengusili Bogi.

Jika Ibu meninggikan suaranya sebelum menabokku ketika Aku membuat kesal dirinya, ... entah kenapa Aku seperti Bapak yang selalu diam dulu jika ada sesuatu yang membuatku kesal. Tapi jika diamku itu malah membuat diriku mau meledak, Aku tak perlu banyak kata untuk melampiaskan kekesalanku dengan melampiaskan lewat tangan dan kakiku.

Erwin sepertinya selalu ingat apa yang terjadi di TK dulu ketika Aku membuat kekacauan dengan suster Brenda.

Bagusnya dia pasti akan menyingkir atau mengingatkan Gani jika mataku mulai mendelik sengit mengingatkan ulah mereka.

***

Selesai makan malam dan setelah menyiapkan apa yang harus kubawa ke sekolah besok pagi. Aku selalu mengajak Christ di kamar tamu untuk menceritakan dongeng-dongeng yang ada di majalah Bobo.

Kini Aku sudah semakin lancar membaca dan tak perlu merepotkan bibi Yanti lagi untuk tahu apa yang ada di majalah itu.

"Yuk Christ, mas ceritakan si Bona," kataku jika majalah Bobo terbaru sudah ada di ruang tamu.

Christ paling senang ketika Aku mulai membacakan dongeng tentang Bona gajah kecil berbelalai panjang dan Rong-rong kucing kecil teman bermain Bona di halaman terakhir majalah Bobo.

Untungnya majalah yang selalu datang setiap hari Kamis di rumah selalu kurawat baik-baik seperti pesan Bapak, membuat dongeng Bona dan Rong-rong tak pernah habis kubacakan kepada Christ sampai dia tertidur.

Jika adik perempuanku itu sudah pulas tertidur, Bapak biasanya melongok kamar.

"Yuk Pras ikut Bapak."

Jika dilihatnya Aku belum tertidur, Bapak pasti akan mengeluarkan sepedanya dan mengajakku ke alun-alun untuk menonton tivi hitam putih yang ada di sana setelah berpamitan dengan Ibu.

Berdesakan dengan orang-orang yang ada di depannya tidak menghalangiku untuk menonton acara yang kutunggu, karena tivi itu berada tinggi di atas kotak kayu dengan tiang yang menyangganya.

Aku paling suka menonton acara Dunia Dalam Berita tepat setiap jam sembilan malam di sana.

Apalagi Bapak juga selalu menjelaskan orang-orang yang terlihat berbeda dengan kami di kaca bergerak itu.

"Suatu saat kamu akan ke sana Pras .... Keluar negeri, " ujar Bapak setiap selesai menjelaskan apa yang kutanyakan.

"Luar Negeri ?" tanyaku dalam hati .... Aku mulai berusaha merangkai kata-kata yang mirip dengan mantra sihir yang terucap dari suster Brenda yang terdengar dari tivi itu .... "Aku harus tahu arti mantra sihir itu," ujarku dalam hati ....

***

1
Dhatu Lukita
🌹 untukmu 🤭💪
Dhatu Lukita
kemekel aku bacanya 😄
Wawan: Tengs .... semoga jadi inspirasi buatmu Thor 🤭👍
total 2 replies
Dhatu Lukita
banjir rob itu apaan ya kak
Wawan: Banjir sebab amblasnya tanah dan naiknya permukaan air laut .... Semarang dan Jakarta jadi contoh terkini banjir rob parah ... tengs atensinya
total 1 replies
SANG
Iklan lagi untukmu thor 👍💪
SANG
Lanjut thor👍💪
SANG
Semangat ya thor 👍💪
ginevra
salam juga pras
Aya Ansyar
Semangat terus berkarya Author 👍🏻
SenandikaMaret
percaya diri itu emang harus 🤣
Wawan: Nah kan .... 🤭🤭🤭😍
total 1 replies
asepnya bikin korong jadi irenk🤣
waktu kecil sering gogoh ikan di sawah, dapet seplastik, tapi malah sering lupa dibawa pulang, kerna keasikan maen ... pas diliat lagi dah jadi bangke🤣
ikan melem itu yang kayak apa kak?
jadi inget pas masih angon wedus pas jelas 3 SD🤭
ini cerita authornya kah🤭
Wawan: Hahaha ....simpulkan 🤣
total 1 replies
bjir, raup tayi🤣
kena pecut ekornya
temannya kek nama kakakku bjir🤣
enak tuh daging biawak, kek ayam
kalo anjingku dulu pas SD namanya Bopi, terus pas jalan" ke pameran ada ibu yang manggil bayinya Bopi, kakakku langsung cekikikan🤭
biasanya abis cari ular🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!