Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Pulang sebagai Orang Asing
Mobil sedan hitam mewah milik Arka memasuki pelataran rumah besar keluarga Pratama dengan kecepatan yang sangat pelan, seolah sang pengemudi—yang kali ini adalah Arka sendiri—sangat berhati-hati agar guncangan sekecil apa pun tidak menyakiti tubuh istrinya yang masih dalam masa pemulihan. Langit sore ibu kota tampak kelabu, menyisakan sisa-sisa basah di atas aspal halaman setelah diguyur hujan ringan beberapa jam sebelumnya.
Begitu mesin mobil dimatikan, Arka segera keluar dari kursi pengemudi. Ia bergegas memutari bodi mobil, membuka pintu penumpang bagian belakang dengan gerakan sigap, lalu merentangkan tangannya bersiap membantu Kirana turun.
"Hati-hati, Kirana. Pelan-pelan saja," ucap Arka lembut, suaranya dipenuhi kehati-hatian dan kekhawatiran yang mendalam.
Namun, seperti yang sudah-sudah, uluran tangan itu diabaikan begitu saja.
Kirana menolak menyentuh telapak tangan suaminya. Dengan gerakan mandiri yang tenang meskipun tubuhnya masih terasa kaku di beberapa bagian, ia melangkah keluar dari kabin mobil. Mantel krem panjang membalut tubuhnya yang tampak jauh lebih kurus dari seminggu lalu; wajahnya pucat tanpa pulasan emosi, dan perban di pelipisnya kini telah diganti dengan plester luka transparan yang tipis.
Ia berdiri tegak di atas pelataran rumah megah tempat ia dulunya tinggal, tersenyum, dan merajut sejuta harapan rapuh. Namun hari ini, saat ia mendongak menatap pilar-pilar tinggi dan dinding marmer bangunan itu, tidak ada binar apa pun di sepasang matanya. Rumah itu tidak lagi terasa seperti rumah; ia kembali bukan sebagai nyonya rumah yang penuh cinta, melainkan sebagai seorang asing yang terdampar di tempat asing.
Di teras utama, Bi Inah berdiri menyambut bersama dua orang staf rumah tangga lainnya. Wanita tua itu melangkah maju dengan mata berkaca-kaca dan bibir bergetar, menahan rasa haru sekaligus takut melihat kondisi sang nyonya muda yang baru saja kembali dari ambang kematian dan kehilangan yang begitu telak.
"Nyonya... ya ampun, Nyonya Kirana..." suara Bi Inah pecah, setengah terisak. Wanita tua itu merentangkan tangannya, hendak memeluk tubuh Kirana dengan penuh kasih sayang seorang ibu. "Syukur alhamdulillah... Nyonya sudah kembali ke rumah. Bibi senang sekali melihat Nyonya sudah pulih..."
Langkah Bi Inah terhenti seketika saat ia mendongak dan menatap langsung ke dalam mata Kirana.
Senyuman di bibir Bi Inah memudar perlahan. Sorot mata yang menyambutnya bukanlah sorot mata hangat dari Nyonya Kirana yang ramah, yang biasa memanggilnya dengan lembut atau bercengkerama di dapur sambil menyiapkan makanan. Yang ada di sana hanyalah sebuah tatapan kosong, datar, dan membeku—tatapan setajam es yang menyiratkan bahwa jiwa yang berdiri di hadapan mereka bukanlah orang yang sama dengan yang pergi meninggalkan rumah seminggu lalu.
Kirana tidak membalas pelukan itu. Ia bahkan tidak tersenyum. Tangannya tetap berada di sisi tubuhnya, terkulai kaku di dalam saku mantel kremnya.
"Terima kasih, Bi," ucap Kirana dengan suara datar, bernada formal yang begitu asing di telinga para pelayan. "Saya ingin langsung ke kamar istirahat."
Bi Inah tertegun kaku. Ia menelan ludah kelat, meresapi betapa dingin dan berjaraknya nada suara itu. Ia hanya bisa mengangguk pelan sambil melangkah mundur, membuka jalan lebar-lebar bagi Kirana untuk melewati pintu utama. Dua pelayan di belakang Bi Inah menunduk dalam-dalam, tidak berani mengangkat kepala atau sekadar melontarkan kata penyambutan yang ceria seperti kebiasaan mereka di masa lalu.
Kirana melangkah melewati ambang pintu masuk. Langkah kakinya terdengar pelan namun tegas di atas lantai marmer ruang depan yang mengkilap.
Di masa lalu, setiap kali Kirana pulang ke rumah ini, tempat ini selalu dipenuhi oleh kehangatan yang ia ciptakan sendiri. Ia akan langsung menuju dapur untuk mengecek apakah Bi Inah membutuhkan bantuan, menyapa para pelayan dengan senyuman lebar, atau menyiapkan sesuatu yang spesial untuk menyambut kepulangan Arka. Ia adalah pusat dari denyut nadi kehidupan di rumah besar ini.
Namun hari ini, udara di dalam rumah terasa begitu hampa, pekat oleh keheningan yang mencekam.
Kirana berjalan menyusuri koridor utama tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri. Lukisan-lukisan dinding klasik, vas bunga segar di atas meja konsol, hingga cahaya lampu kristal gantung yang mewah—semuanya tampak buram dan tak bermakna di matanya. Sisi ceria, hangat, dan penuh harap dari kepribadian lamanya telah mati di atas aspal basah persimpangan jalan malam itu, terkubur bersama jasad kecil jabang bayi yang tak sempat ia dekap ke dunia.
Arka berjalan beberapa langkah di belakang Kirana, menjaga jarak aman agar tidak membuat istrinya merasa risih, namun matanya tidak pernah lepas mengawasi setiap gerak-gerik wanita itu. Pria tersebut merasakan sesak yang teramat sangat di dadanya. Kehadiran Kirana di rumah ini bukannya membawa ketenangan, melainkan menjadi sebuah vonis hidup yang terus-menerus menyiksanya lewat kebisuan yang mutlak.
"Kirana..." panggil Arka pelan saat mereka tiba di lantai atas, tepat di depan pintu kamar tidur utama mereka. Arka melangkah mendahului untuk membukakan pintu lebar-lebar. "Kamar sudah disiapkan dan dibersihkan oleh Bi Inah. Kalau kamu butuh apa-apa, selimut tambahan atau obat pengurang nyeri, katakan saja padaku, ya? Aku akan menyiapkannya."
Kirana menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kamar.
Ia tidak langsung masuk. Matanya menyapu seisi kamar tidur utama yang luas itu—ranjang *king size* berseprai sutra putih, meja rias dengan botol-botol parfum kesayangannya, hingga karpet tebal di lantai. Semuanya tampak sempurna dan tertata rapi, namun di mata Kirana, ruangan itu tampak bagaikan sebuah sangkar emas yang dipenuhi kenangan palsu tentang sebuah pernikahan yang telah lama busuk di dalamnya.
Kirana menoleh perlahan ke arah Arka, menatap suaminya dengan sorot mata yang begitu datar.
"Mulai malam ini," ucap Kirana dengan suara tenang yang tidak mengandung keraguan sedikit pun, "saya akan tidur di kamar tamu sebelah."
*Deg.*
Arka merasakan sekujur tubuhnya disambar petir. Jantungnya mendadak berhenti berdetak, dan napasnya tertahan di tenggorokan. Ia melangkah maju dengan panik, tangannya terangkat hendak menahan Kirana.
"Apa maksudmu, Kirana?" suara Arka meninggi sepersekian oktaf, mencerminkan kepanikan luar biasa yang gagal ia sembunyikan. "Ini kamar kita! Kenapa kamu harus tidur di kamar tamu? Kalau kamu masih butuh ruang untuk sendiri, aku... aku bisa tidur di kamar tamu! Biar kamu tetap di sini, di tempat tidurmu yang nyaman—"
"Tidak perlu," potong Kirana cepat, suaranya tetap datar namun begitu mutlak, memutus setiap bantahan Arka sebelum sempat diselesaikan. "Kamar ini penuh dengan udara yang membuat saya sesak napas. Dan jujur saja, Arka... saya tidak ingin berbagi ruang, tidak pula berbagi atap yang sama dalam arti yang sebenarnya dengan Anda, meskipun kita masih terikat dalam secarik kertas hukum."
Kalimat itu meluncur begitu mulus, namun dampaknya bagaikan hantaman palu godam tepat di ulu hati Arka. Pria itu tertegun kaku, bibirnya bergetar hebat tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pembelaan pun.
Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut dari suaminya, Kirana membalikkan badannya. Ia berjalan melewati pintu kamar tamu yang berada tepat di sebelah kiri koridor, melangkah masuk ke dalam ruangan yang lebih kecil, lebih sederhana, dan jauh dari sentuhan kemewahan kamar utama.
*Klek.*
Pintu kamar tamu itu tertutup rapat dari dalam, dikunci dengan gerakan pelan namun pasti yang menghasilkan suara mekanis paling menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarkannya dari luar.
Arka berdiri seorang diri di depan pintu kamar utama yang terbuka lebar. Kegelapan malam mulai merayap naik melalui jendela-jendela besar di lorong rumah, menyelimuti tubuh pria itu dalam kesendirian yang abadi. Ia menatap daun pintu kamar tamu yang tertutup rapat itu dengan pandangan kosong, menyadari sepenuhnya bahwa kepulangan Kirana hari ini bukanlah sebuah awal pemulihan, melainkan awal dari hukuman seumur hidup di mana ia harus hidup seatap dengan seorang istri yang telah menjelma menjadi batu es—seorang wanita asing yang bernapas, berdaging, namun jiwanya telah selamanya hilang dari jangkauannya.