NovelToon NovelToon
Aku Bukan Istri Yang Lemah Lagi

Aku Bukan Istri Yang Lemah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sindiran Ditepi Jalan

Haris masih berdiri mematung di atas trotoar, seolah terhipnotis oleh perubahan drastis pada diri istri sahnya. Sorot matanya menelusuri setiap inci penampilan Nindya—mulai dari gaya rambut ash brown sebahunya yang elegan, gaun anggun yang membingkai tubuh bugarnya, hingga raut wajahnya yang begitu tenang tanpa cela. Tidak ada lagi jejak Nindya yang dulu selalu menatapnya dengan binar kepasrahan dan rasa takut kehilangan.

​Di samping Haris, Siska yang menyadari perubahan tatapan pria itu langsung memeluk lengan Haris makin erat, berusaha menarik perhatian. "Mas... siapa wanita ini? Kenapa dia bersikap begitu sopan?" bisik Siska dengan nada sengit yang ditahan.

​Nindya bahkan tidak sudi melirik ke arah Siska. Bagi Nindya, keberadaan wanita itu hanyalah angin lalu yang tak bernilai. Ia sedikit membungkuk di hadapan Arka, mengusap lembut kepala putra kecilnya, lalu menggenggam jemari mungil Arka dengan penuh kasih sayang.

​"Arka, Ayo kita pulang duluan ya?" ucap Nindya dengan suara yang sangat lembut namun cukup nyaring untuk terdengar oleh semua orang di sana. Ia melirik Haris sekilas, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan keheningan dan ironi. "Papa sedang sangat sibuk kerja."

​Nindya sengaja menekankan kata kerja dengan penekanan yang dingin. Sebuah sindiran halus yang menghantam tepat di dada Haris seperti tamparan tak berwujud.

​Haris tersentak. Tenggorokannya terasa seperti tersumbat batu besar. Rasa bersalah dan malu membakar wajahnya seketika saat menyadari bahwa alasan "kerja luar kota" dan "urusan kantor" yang selalu ia gunakan kini hancur berkeping-keping di depan anak dan istrinya sendiri.

​Arka yang masih polos mendongak menatap ibunya, lalu melirik ke arah ayahnya yang berdiri kaku berjas hitam di samping wanita asing. Walau belum mengerti arti pengkhianatan, Arka bisa merasakan keheningan asing di antara orang tuanya.

​"Oh... Papa lagi kerja ya?" tanya Arka dengan polosnya. "Ya sudah, Papa kerja yang rajin ya. Arka pulang sama Mama!"

​Bocah kecil itu menganggukkan kepalanya nurut, lalu melambaikan tangan mungilnya tanpa beban. "Dah Papa!"

​"Arka, tunggu—" Haris refleks melangkah maju satu pijakan, ingin menahan tangan anaknya, atau mungkin ingin menahan Nindya. Namun, kata-katanya tertahan di udara saat mata Nindya beradu pandang dengannya.

​Mata bening Nindya menyiratkan ketegasan yang mutlak—sebuah batasan tak kasat mata yang memperingatkan Haris untuk tidak melangkah lebih jauh. Tidak ada kebencian membara di mata itu, yang ada hanyalah rasa tidak peduli yang amat dalam. Dan bagi seorang pria seperti Haris, diabaikan oleh wanita yang dulu mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya terasa jauh lebih menyakitkan daripada sebuah amarah.

​Tanpa menunggu balasan dari Haris, Nindya membalikkan badannya dengan anggun. Rambut sebahunya melayang halus tertiup angin sore. Ia menggandeng jemari mungil Arka, menyeberangi area pejalan kaki dengan langkah kaki yang mantap dan kepala tegak.

​Haris menatap punggung Nindya yang makin menjauh menuju parkiran restoran. Dari kejauhan, ia melihat Nindya membukakan pintu mobil untuk Arka, membantunya masuk, lalu mengitari kemudi dengan ketenangan luar biasa. Tak lama kemudian, mobil putih milik Nindya menyalakan lampu sein, membelah kepadatan lalu lintas jalan raya, dan melaju pergi meninggalkan Haris yang berdiri kaku di tepi jalan bersama bayang-bayang kebohongannya sendiri.

Mobil Nindya telah lenyap di antara lautan kendaraan yang memadati jalan raya, namun bayangan anggun wanita itu masih tertinggal jelas di dalam ingatan Haris. Pria itu berdiri kaku di atas trotoar, menatap kosong ke arah jalanan dengan pikiran yang berantakan.

​"Oh... wanita itu istrimu?" tanya Siska tiba-tiba. Suaranya melengking pelan, memecah keheningan yang menghimpit di antara mereka.

​Ini adalah pertama kalinya Siska melihat langsung sosok istri sah dari kekasihnya, begitu pula dengan anak laki-laki mereka. Selama ini, dalam benak Siska, Nindya hanyalah sosok wanita rumahan yang membosankan, tidak menarik, dan terikat pada Haris hanya karena utang nyawa di masa lalu—seperti yang selalu diceritakan Haris padanya. Namun, wanita yang baru saja berdiri di hadapannya tadi sungguh jauh dari bayangannya. Nindya tampak begitu memesona, anggun, berkelas, dan memancarkan aura ketegasan yang tak terpatahkan.

​Haris tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik tangannya perlahan dari genggaman Siska, merasa dadanya makin sesak dan tidak nyaman.

​"Mas! Aku tanya, itu istrimu, kan?" desak Siska lagi, kali ini dengan nada bersedekap dan raut wajah tidak senang. Cemburu dan rasa terancam mendadak merayapi hatinya. "Kenapa penampilan dia bisa seperti itu? Dan kenapa dia melihat kita dengan tatapan seolah kita ini tidak ada harganya?"

​Haris menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang terasa panas. "Siska, cukup. Ini di tempat umum."

​"Cukup kamu bilang?" Siska mendengkus tak percaya. "Anakmu tadi memanggilmu di depan orang-orang, lalu istrimu menyindirmu terang-terangan tentang 'kerja'! Kamu pikir aku tidak malu, Mas? Dan kenapa kamu cuma diam saja saat dia jalan pergi? Kenapa matamu terus menatap dia seperti itu?"

​Kata-kata Siska yang bertubi-tubi itu biasanya akan direspon Haris dengan bujukan manis atau permohonan maaf. Namun hari ini, suara Siska justru terdengar begitu bising dan mengganggu di telinganya. Kalimat sindiran Nindya—“Papa sedang sangat sibuk kerja”—terus bergema di dalam kepalanya seperti dentang lonceng yang menyakitkan.

​Nindya tidak marah. Nindya tidak menangis. Nindya bahkan tidak menatap Siska dengan rasa cemburu sedikit pun. Sikap tenang Nindya justru menunjukkan satu hal yang sangat menakutkan bagi ego Haris: Nindya benar-benar sudah tidak peduli padanya.

​"Aku harus pulang," kata Haris singkat, suaranya terdengar dingin dan datar.

​Siska terbelalak kaget. "Pulang? Mas, kaki aku masih sakit dan kita kan mau makan siang bareng! Kamu mau meninggalkan aku di sini hanya karena bertemu istrimu?"

​"Aku akan panggilkan taksi untukmu, Siska," potong Haris tegas tanpa menerima bantahan. Ia melambaikan tangan ke arah taksi yang melintas, menyetopnya, lalu membukakan pintu untuk Siska. "Masuklah. Aku ada urusan penting yang harus diselesaikan."

​"Mas Haris!" seru Siska kesal, namun Haris memperhatikannya masuk ke dalam taksi dan menyerahkan uang pada pengemudinya tanpa memedulikan tatapan murka dari kekasih gelapnya itu.

​Taksi itu berlalu membawa Siska. Haris berdiri sendirian di tepi jalan, merapikan jas hitamnya yang terasa makin berat. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun pernikahan mereka, ada rasa cemas dan gelisah yang membakar dadanya. Haris melangkah cepat menuju mobilnya, memutar kemudi, dan melaju menyusuri jalanan kota menuju rumahnya—kejar-kejaran dengan waktu untuk menemui istri sahnya yang kini terasa makin asing dan jauh dari jangkauannya.

1
sunaryati jarum
Maya baik bangett Sampau mau menggantikan Sif,Noval memberi kompensasi mungkin
sunaryati jarum
Maya baik bangett Sampau mau menggantikan Sif,Noval memberi kompensasi mungkin
sunaryati jarum
Aduuh masih tidak punya malu mengharap Nindya kembali.Dalsm mimpi saja tidak akan, Haris.Kamu mengadu tentang Siska pada Nindya tidak malu diketawain dan disyukurin
sunaryati jarum
Ingin hati mau melihat Arka putranya namun kelelahan hat dan fisiknya membuatnya tidur.
sunaryati jarum
Kehancuran hidupmu yang terpampang jelas,akibat kamu tidak setia Haris.
sunaryati jarum
Bab sebelumnya bawa mobil dari taman ke kontrakan kok sekarang cari taksi.Sunnguh karma yang.ksmu terima tunai,Haris.
sunaryati jarum
Masih beruntung kamu menyesal dan sadar akan semua kesalahanmu,hingga Masi ada waktu untuk memperbaiki diri,walau sudah terlambat
sunaryati jarum
Jika niat Haris baik jangan terlalu kejam zRin,dan kamu Haris ingat Arin masih trauma akan perbuatanmu,dia tidak percaya padamu,Ris.Itulsh konsekuensi atas pengkhianatan kamu dalam rumah tanggamu.
sunaryati jarum
Haris itu ayahnya mungkin ingin memperbaiki kesalahannya,jika tidak berbuat buruk, berikan waktu Haris untuk menemui Arka putranya tapi dengan izinmu, bukan diam- diam seperti ini
sunaryati jarum
Otw bahagia Nindya dan Arka
sunaryati jarum
Nah terima dan jalani serta perbaiki diri
sunaryati jarum
Simpan penyesalanmu,anakmu saja tanpa diajari , merasakan bahwa kamu tidak pernah hadir memberi kasih sayang dan perhatian
sunaryati jarum
Nikmati buah kesombongan dan pengkhianan yang kau lakukan ,Haris.Jangan- jangan dalam kandungan Siska bukan benih Haris.👋👋👋🤣🤣🤣
Ade Chubi
syukurin
sunaryati jarum
Bagus Nindya Haris jika datang membujuk tinggal ingatkan semua kesalahannya.
Datu Zahra
katanya gundik kecelakaan, kaki terkilir parah, masa ya udha jalan². cepet amat sembuh
Alia Chans
kasihan banget ya jadi Nindy😣
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Semangat dengan status dan kehidupan barumu
sunaryati jarum
Nikmati kehidupan yang telah kamu pilih Haris.Itulah jika kebaikan kau balas dengan pengkhiatan,kau dan Siska tidak akan pernah menemukan kebahagiaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!