NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Jeruji Air dan Bayangan di Balik Kaca

Koridor bawah tanah Rain Dinners dipenuhi oleh kelembapan yang pekat dan bau karat besi yang menusuk hidung. Dinding-dindingnya terbuat dari beton tebal berlapis baja, dirancang khusus untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun rahasia atau tawanan yang bisa meloloskan diri dari cengkeraman Sir Crocodile.

​Muzan Kibutsi melangkah menyusuri koridor tersebut dengan ketenangan mutlak, diikuti oleh Roy Mustang yang menjaga sisi belakang dan Enel yang melayang santai di udara, sesekali memainkan percikan listrik di ujung jarinya untuk menerangi jalan yang remang-remang. Putri Vivi dan Mr. 9 terpaksa berjalan di tengah, merapatkan diri karena aura kematian yang begitu pekat terasa di setiap sudut lorong.

​"Tuan Muzan..." bisik Vivi cemas, matanya melirik ke arah pintu-pintu sel besi di sepanjang lorong yang berisi binatang-binatang buas gurun yang kelaparan. "Kita berada tepat di sarang mereka. Jika Crocodile mengetahui kehadiran kita sebelum kita mencapai ruang utamanya..."

​"Dia sudah tahu," potong Muzan dingin, tanpa menghentikan langkahnya. "Seorang penguasa yang paranoid selalu memasang mata di setiap jengkal wilayahnya. Yang tidak dia ketahui adalah seberapa cepat bayangan ini akan meremukkan tenggorokannya."

​Di ujung koridor, sebuah pintu baja raksasa yang tidak terkunci rapat mengeluarkan pendar cahaya kekuningan. Dari balik pintu itu, terdengar suara tawa berat yang sar akan arogansi dan kemenangan.

​“Fufufufufu... Selamat datang di kandang buaya, para tikus bodoh.”

​Muzan memberi gestur tangan kecil kepada pasukannya untuk berhenti sejenak. Dengan langkah tanpa suara, ia mendorong pintu baja tersebut lebih lebar, membuka pandangan ke dalam ruang kurungan bawah tanah yang luas.

​Di dalam ruangan berjeruji tebal itu, pemandangan yang kacau tersaji. Monkey D. Luffy, Roronoa Zoro, Usopp, Kapten Smoker, Tashigi, dan Mr. 3 (yang entah bagaimana ikut terseret atau menyusup) terkurung di dalam sebuah sel besar yang dindingnya terbuat dari Seastone (Batu Laut) dan jeruji khusus. Namun, yang paling mengerikan adalah lantai ruangan tersebut; sebuah kolam raksasa berisi jutaan galon air berwarna hijau keruh, di mana di dalamnya berenang puluhan Banana Gators—buaya pemakan daging berhidung pisang yang siap mencabik-cabik siapapun yang jatuh ke dalam air.

​Di hadapan sel tahanan itu, berdiri Sir Crocodile dengan mantel bulu kebesarannya, cerutu menyala di mulut, dan tangan kiri berbilah kait emas yang berkilat di bawah cahaya lampu gantung. Di sampingnya, Nico Robin (Miss All Sunday) berdiri dengan tangan bersilang, menatap para tawanan dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.

​"Sialan... lepaskan kami, Buaya Tua!" teriak Luffy kesal, mencengkeram jeruji besi meskipun tubuhnya terasa lemas akibat efek melemahkan dari Seastone. "Begitu aku keluar dari sini, aku akan menerbangkanmu dengan tendanganku!"

​Crocodile mengembuskan asap cerutunya ke udara, tersenyum sinis. "Bertahanlah dalam mimpi-mungkinmu itu, anak manis. Air di bawah kalian akan segera naik, dan buaya-buaya peliharaanku sudah lama tidak merasakan daging segar pembajak laut dan Angkatan Laut."

​Smoker menggertakkan giginya, mengatupkan rahangnya erat-erat. "Crocodile... Beraninya kau mempermainkan Angkatan Laut di wilayahmu sendiri!"

​"Angkatan Laut? Pemerintah Dunia? Di negeri ini, hukum yang berlaku adalah hukumku," jawab Crocodile dengan suara serak penuh kemenangan.

​Namun, tepat saat sang Shichibukai hendak menikmati keputusasaan para tawanan lebih jauh, sebuah suara tepuk tangan yang lambat, tenang, dan bernada mengejek menggema dari ambang pintu belakang ruangan.

​Plok... plok... plok...

​Semua mata di dalam ruangan itu—termasuk Crocodile dan Nico Robin—serempak menoleh ke arah sumber suara.

​Di ambang pintu, berdiri seorang remaja berselubung jubah hitam legam. Wajahnya tersembunyi di balik bayangan tudung, namun aura dominasi mutlak yang dipancarkannya membuat udara di dalam ruangan besar itu mendadak terasa membeku. Di belakangnya, berdiri seorang perwira militer berambut hitam dengan senyum arogan, dan seorang pemuda berambut emas yang melayang malas di udara.

​Mata Crocodile menyipit tajam. Bekas luka di wajahnya berkerut. "Erebus..." geramnya, nama itu meluncur dari bibirnya seperti desisan ular berbisa. "Aku bertanya-tanya kapan tamu tak diundang ini akhirnya memutuskan untuk mengetuk pintu."

​Luffy membelalakkan matanya dari dalam sel. "Eh?! Paman Berjubah Hitam?! Bagaimana kalian bisa sampai di sini?!"

​Zoro menajamkan pandangannya, otot-otot di tubuhnya langsung menegang meskipun ia dikurung dekat Batu Laut. "Kelompok itu... mereka menyusul kita."

​Muzan Kibutsi melangkah masuk ke dalam ruangan, mengabaikan tatapan membunuh dari sang Shichibukai. Ia berhenti tepat sepuluh meter dari posisi Crocodile, mengangkat dagunya sedikit dari balik tudung jubahnya.

​"Mengetuk pintu?" suara Muzan mengalir tenang, membawa bobot tekanan yang membuat beberapa Banana Gators di dalam kolam mendadak gelisah dan mendesis. "Maaf mengecewakanmu, Crocodile. Kami tidak terbiasa mengetuk pintu rumah seseorang yang sebentar lagi akan menjadi milik kami."

​Crocodile mendengus kasar. Asap cerutunya mengepul liar. "Bocah arogan. Kau pikir bisa merampok kerajaanku hanya dengan modal omong kosong dan beberapa trik murahan di Nanohana dan Yuba? Kau sedang berdiri di hadapan kekuatan yang tidak bisa kau bayangkan!"

​Crocodile mengangkat tangan kanannya. Pasir mulai berputar di ujung jari-jarinya, siap dilepaskan untuk menghancurkan remaja di hadapannya menjadi debu kering.

​Muzan tidak gentar. Ia sedikit melirik ke arah panel sistem di dalam retinanya, memastikan seluruh parameter tempurnya berada di puncak efisiensi.

​━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

​STATUS SISTEM

​Nama : Muzan Kibutsi

​Belly : 29.369.850 Belly

​Level Sistem : Tier 1 (Optimized)

​Puppet :

​Giyu Tomioka (Tersimpan / Siap Rotasi)

​Zenitsu Agatsuma (Tersimpan / Siap Rotasi)

​Neji Hyuga (Tersimpan / Siap Rotasi)

​Roy Mustang (Aktif / Independen Command)

​Gaara (Tersimpan / Siap Rotasi)

​Uchiha Itachi (Tersimpan / Siap Rotasi)

​Enel (Aktif / Udara)

​Mission :

​[Saga: Alabasta - Intervensi Baroque Works & Runtuhnya Kekuasaan Crocodile] (Aktif)

​Achievement :

​[Bertahan dari Puncak Dunia]

​[Pembersih Nanohana]

​[Penakluk Badai]

​Inventory :

​Eternal Pose Alabasta

​Stasis: Mr. 4, Miss Merry Christmas

​Shop :

​[Shop Standar] (Terbuka)

​[Shop: Black Market Tier 1] (Terbuka)

​━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

​"Mari kita lihat," bisik Muzan dingin, membuka lebar kedua tangannya. "Apakah pasirmu sanggup memadamkan api neraka, atau meredam sambaran petir dari langit."

​Pertempuran penentuan di jantung Rainbase resmi dimulai.

​Crocodile melangkah maju, tangannya berubah menjadi badai pasir kecil. "Matilah, Erebus!" teriaknya penuh amarah.

​Namun, sebelum pasir itu sempat melesat, sebuah kilatan cahaya biru menyilaukan meledak di atas kepala mereka.

​KRAK-THOOOOOM!

​Di akhir bab ini, atap beton ruang bawah tanah itu hancur berkeping-keping akibat sambaran petir kilat Enel yang menembus bangunan langsung dari permukaan jalanan Rainbase, menyisakan debu, asap, dan ketegangan yang siap membakar seluruh kota.

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!