Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Pokoknya Aku mau Mama Alicia yang datang ke acara kampus. Papa terserah mau datang atau enggak dan Papa juga jangan bilang ke Mama Kenanga masalah hari ini. Biarkan saja dia tidak tahu," ujar Davina.
"Terserah kamu saja mau bagaimana."
Bima pun keluar dari kamar putrinya sambil menghela napas panjang. Sejujurnya dia pun senang jika Davina semakin dekat dengan Alicia. Namun, khawatir juga, bagaimana jika Kenanga mengetahui hal itu, dirinya harus berkata apa nanti.
Davina merasa senang karena Bima sudah tidak melarangnya untuk membawa Alicia ke acara di kampusnya. Itu berarti nanti dirinya bisa mengenalkan Alicia pada teman-temannya. Dia sudah tidak sabar menanti hari itu. Davina pun segera menghubungi mamanya dan mengatakan mengenai acara tersebut.
Tentu saja Alicia merasa senang mendengarnya. Itu tandanya dia akan semakin dekat dengan anak kandungnya dan pasti akan mudah kembali pada keluarga itu. Mengenai orang tua Bima Alicia sama sekali tidak khawatir. Dia yakin jika kedua orang tua Bima pasti tidak akan ikut campur dalam urusan anaknya.
Alicia ingat dulu bahkan saat dirinya dan Bima bertengkar, kedua orang tuanya memilih untuk menasehati anaknya sendiri daripada memarahi dirinya. Itulah kenapa dia yakin ke depannya pun orang tua Bima akan selalu seperti itu. Alicia juga yakin Bima dan Davina akan lebih memilih dirinya daripada Kenanga.
Sementara itu, di taman samping rumah Kenanga menurunkan earphone yang ada di telinganya. Padahal dia sudah tahu kalau akhirnya akan seperti ini, tapi tetap saja hatinya terluka, melihat orang-orang yang dia sayangi dengan begitu tulus pada akhirnya mengkhianatinya juga.
Andai saja dia mengikuti kata orang tuanya dulu untuk lebih mengenal siapa Bima sebenarnya, pasti tidak akan terluka seperti sekarang ini. Dulu karena cinta yang begitu besar Kenanga akhirnya percaya sepenuhnya pada sang suami, tapi sekarang kenyataannya terasa begitu pahit. Bukan berarti dia sudah tidak percaya lagi dengan cinta. Kenanga percaya, hanya saja mungkin sangat sulit menemukan cinta sejati di zaman sekarang ini.
"Kenanga, kamu ada di sini? Aku dari tadi nyariin kamu loh!" seru Bima yang baru datang.
Kenanga pun langsung tersadar dan segera menghapus air mata yang entah sejak kapan sudah menetes. Itu karena hatinya sangat terluka hingga tanpa sadar air mata menetes tanpa bisa dicegah.
"Kamu menangis? Ada apa?"
"Tidak. Aku barusan nonton drama dan ceritanya itu sedih banget, jadi tanpa sadar aku ikutan nangis juga. Habis aktingnya keren banget sih, sampai-sampai aku seperti ikut masuk ke dalam ceritanya."
"Memang cerita apa sampai-sampai membuat kamu menangis?"
"Ini cerita seorang istri yang dikhianati oleh suaminya. Wanita mana yang tidak terluka jika dikhianati."
"Kenapa kamu melihat tontonan seperti itu? Memangnya tidak ada cerita lain?"
"Ini ceritanya bagus sekali. Memang sih, sekarang banyak sekali cerita seperti itu, tapi kali ini cerita itu benar-benar menyentuh."
"Sudahlah, jangan bahas soal itu lagi. Lebih baik kita masuk ke dalam. Hari sudah semakin malam, tidak baik berada di luar terus."
Kenanga pun mengangguk dan berjalan memasuki rumah bersama sang suami. Entah sampai kapan Kenanga harus tetap bertahan dalam rumah ini. Semuanya terasa semakin sesak dan menyakitkan.
Keesokan paginya Davina pergi pagi-pagi sekali. Dia beralasan pada Kenanga jika ada piket pagi hari ini. Padahal biasanya Davina piket di hari Sabtu. Namun, Kenanga tidak mau ambil pusing. Dia yakin jika putrinya itu pasti akan menjemput Alicia dan mereka akan pergi ke kampus bersama-sama.
Kenanga dan Bima pun makan dalam diam. Sepertinya suaminya itu benar-benar tidak ingin membicarakan mengenai adanya acara sosialisasi di kampus Davina. Kenanga juga tidak berniat untuk bertanya. Kalaupun Bima memberitahunya dan juga dia tidak akan pergi, tapi setidaknya itu membuat dirinya lega karena merasa dihargai sang suami.
Memangnya kenapa kalau Alicia yang pergi ke kampus Davina, bukankah wanita itu juga berhak untuk datang sebagai orang tua kandungnya. Kenanga juga tidak akan mempermasalahkan hal itu, tapi setidaknya ada pembicaraan dengannya sebagai orang yang sudah membesarkan dan merawat anaknya.
Tepat pukul 09.00 ponsel Kenanga berdering. Ada panggilan masuk dari salah satu orang tua mahasiswa yang dikenalnya. Wanita itu pun segera mengangkatnya.
"Halo, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Mama Davina. Apa kabar?"
"Alhamdulillah, saya baik, Mama Lusia. Anda sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Kenanga balik.
Sebelumnya Davina selalu mengira bahwa Kenanga tidak memiliki kenalan sesama orang tua di kampusnya padahal itu salah. Kenanga kenal dengan beberapa orang juga, tapi mereka tidak membuat perkumpulan atau semacam arisan. Hanya membuat grup dalam sebuah aplikasi, itu pun tidak aktif, hanya sesekali mengirim pesan dan menanyakan kabar.
Davina tidak tahu mengenai perkenalan itu karena memang Kenanga tidak pernah bercerita. Orang tua yang berkenalan dengan Kenanga juga anaknya beda angkatan dengan Davina.
"Baik. Mama Davina kenapa tidak datang ke acara sosialisasi di kampus?"
"Iya, saya ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan jadi, terpaksa saya tidak bisa datang."
"Terus siapa yang datang sama Davina. Dari tadi Davina senyum-senyum sambil perkenalkan wanita itu. Mereka terlihat begitu senang."
"Oh, itu Mama kandungnya Davina. Wajar kalau mereka dekat karena memang mereka punya ikatan darah."
"Begitu, ya," sahutnya sambil mengangguk meski dalam hati ragu akan jawaban tersebut, tapi dia lebih memilih diam. Mamanya Lusia pun kembali berkata, "Syukurlah kalau begitu sejak tadi aku sudah memiliki pikiran yang buruk, tapi ternyata aku salah, tapi Mama Davina baik-baik saja 'kan? Tidak ada sesuatu yang terjadi?"
"Alhamdulillah, saya baik-baik saja. Terima kasih atas perhatiannya mama Lusja."
"Sama-sama Mama Davina, tapi kenapa ada ...."
"Ada apa mama Lusia?"
"Oh tidak apa-apa."
Wanita itu ingin bertanya, kenapa Bima juga ada di sini? Namun, dia tidak berani bertanya secara langsung. Khawatir jika itu bisa membuat masalah dalam rumah tangga orang lain, tapi jika tidak mengatakan kasihan juga Kenanga dibohongi oleh keluarganya.
Akan tetapi, itu bukanlah urusannya. Sudahlah, biarkan mereka yang mengurusinya sendiri. Semoga apa yang dia khawatirkan tidak terjadi.
"Baiklah, kalau begitu saya tutup dulu teleponnya. Kapan-kapan kalau ada waktu kita bisa ngobrol lagi."
"Iya, mama Lusia, terima kasih sudah meluangkan waktu menghubungiku. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Kenanga dengan menghela napas panjang.
Dalam hati dia menebak apa yang ingin dibicarakan oleh orang tua dari Lucia tadi. Namun, dirinya tidak berani berpikir karena tentu saja itu sangat menyakiti hatinya. Seharusnya Kenanga sudah lebih kuat dari sebelumnya, mengingat dia sudah banyak tahu mengenai rahasia keluarganya, tapi ternyata dirinya tidak sekuat itu.
Hatinya tetap saja terluka. Cinta itu ternyata masih ada untuk sang suami meskipun sudah tidak sebesar dulu lagi. Semoga dengan berjalannya waktu cinta itu hilang dengan sendirinya. Kenanga juga tidak ingin memaksa untuk menghapus cinta itu begitu saja karena itu pasti akan sangat menyakitkan.
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu