Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Mobil sedan hitam milik Clara melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibukota siang itu.
Deni duduk santai di kursi depan sambil sesekali bersenandung kecil mengikuti irama lagu dari audio mobil.
Sementara itu Clara yang duduk di kursi belakang masih terlihat tegang dan sibuk menelepon seseorang.
"Halo Paman Tomo, tolong selidiki pergerakan keuangan Direktur Hendra hari ini juga," perintah Clara dengan nada dingin.
"Saya baru saja diserang oleh pembunuh bayaran yang menyamar jadi pelayan di Hotel Grand Mulia."
Suara seorang pria tua terdengar samar dari speaker telepon milik Clara.
"Baik Nona Clara, saya akan segera membekukan beberapa aset rahasianya dan melaporkan hasilnya secepat mungkin," jawab pria itu.
Clara menutup teleponnya dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil yang empuk.
Dia memijat pelipisnya yang terasa pusing memikirkan kelicikan paman tirinya tersebut.
"Nona Clara, orang tua tadi itu siapa? Kakekmu?" tanya Deni menoleh ke belakang dengan wajah penasaran.
"Bukan Deni, dia Paman Tomo tangan kanan mendiang ayahku yang paling setia di perusahaan," jawab Clara lelah.
"Aku akan mulai menyerang balik Direktur Hendra dari jalur keuangan agar dia lumpuh perlahan."
Deni mengangguk-angguk sok mengerti walau sebenarnya dia sama sekali tidak paham soal bisnis.
"Baguslah kalau begitu Nona, kalau ada yang berani mengganggu lagi panggil saja aku," ucap Deni sambil menepuk dadanya bangga.
"Aku bisa merobohkan sepuluh orang seperti pelayan tadi sebelum Nona selesai berkedip."
Clara tersenyum kecil melihat kelakuan kurir pribadinya yang kadang terlihat bodoh tapi sangat bisa diandalkan itu.
Ckiit.
Mobil hitam itu akhirnya berhenti dengan mulus di lobi utama gedung megah Grup Nirvana.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam gedung dan langsung naik ke lantai atas menggunakan lift VIP.
Sesampainya di ruang kerja, Clara langsung disambut oleh Siska yang membawakan setumpuk map dokumen baru.
"Nona Clara ini laporan bulanan dari cabang pabrik di luar kota yang harus segera ditandatangani hari ini," lapor Siska.
"Taruh saja di mejaku Siska, aku punya urusan lain yang jauh lebih mendesak sekarang," kata Clara berjalan cepat menuju mejanya.
Siska menatap bingung ke arah Deni yang sedang berjalan santai mendekati sofa panjang di sudut ruangan.
"Deni, bos kita kenapa? Mukanya seram sekali seperti mau makan orang," bisik Siska pelan.
"Biasa Siska, Nona Clara baru saja mau diracun sama rekan bisnisnya yang ternyata musuh jahat," jawab Deni dengan suara keras.
Clara langsung menatap tajam ke arah Deni yang mulutnya terlalu bocor itu.
"Deni, tolong jaga mulutmu itu dan jangan menyebarkan kepanikan di kantor ini," tegur Clara tajam.
"Eh maaf Nona, aku lupa kalau ini rahasia kita berdua saja," jawab Deni nyengir sambil menggaruk kepalanya.
Siska yang mendengar hal itu langsung menutup mulutnya karena terkejut setengah mati.
"Ya ampun Nona Clara! Nona tidak terluka kan? Apa kita perlu lapor polisi sekarang juga?" tanya Siska panik.
"Tidak perlu Siska, Deni sudah membereskan mereka semua sebelum sempat melukaiku sedikit pun," jawab Clara menenangkan asistennya.
Clara kembali fokus mengetik sesuatu dengan cepat di laptopnya sementara Siska keluar untuk membuatkan kopi.
Deni yang duduk di sofa mulai merasa bosan karena tidak ada yang bisa diajak mengobrol lagi.
Dia mengeluarkan ponsel barunya yang berlambang apel digigit dari saku jaketnya.
"Karena Nona Clara sedang sibuk marah-marah di depan layar lebih baik aku cari pelanggan baru saja," gumam Deni pelan.
Deni membuka aplikasi kurir onlinenya dan mulai mengaktifkan mode pencarian pesanan di sekitar kantor.
Ting.
Sebuah pesanan makanan masuk ke aplikasinya dengan jarak pengantaran yang lumayan jauh di pinggiran kota.
"Wah lumayan nih ada pesanan bubur ayam spesial, harganya juga mahal pasti orang kaya yang pesan," ucap Deni senang.
Deni segera berdiri dan berjalan mendekati meja kerja Clara yang sibuk.
"Nona Clara, karena Nona sedang sibuk bekerja aku izin keluar sebentar ya buat mengantar pesanan," pamit Deni.
Clara menghentikan ketikannya dan menatap Deni dengan kening berkerut.
"Kamu mau ke mana lagi Deni? Di luar sana sangat berbahaya untukmu setelah kejadian tadi," cegah Clara khawatir.
"Tenang saja Nona, aku cuma mau mengantar bubur ayam ke alamat ini sebentar, Nona juga tahu kan aku butuh ulasan sistem," jelas Deni memelas.
Clara menatap layar ponsel Deni yang menunjukkan sebuah alamat di kawasan elit namun terkenal sudah lama ditinggalkan.
"Alamat ini ada di Kompleks Bukit Mawar, itu kan kawasan perumahan yang sudah lama kosong," kata Clara merasa curiga.
"Mungkin saja pelangganku ini hantu kaya yang suka makan bubur Nona, yang penting dia ngasih bintang lima ke akunku," jawab Deni tertawa.
Clara menghela nafas panjang karena tahu dia tidak akan pernah bisa melarang pemuda keras kepala ini.
"Baiklah pergilah, tapi ingat selalu nyalakan fitur berbagi lokasi di ponselmu agar aku bisa memantaumu terus," pesan Clara tegas.
"Siap Nona bos cantik, aku berangkat kerja dulu ya!" seru Deni langsung berlari keluar ruangan.
Deni turun ke lobi dan mengambil motor matic bututnya di tempat parkir khusus staf.
Brum brum.
Suara knalpot motornya memecah keramaian siang hari saat Deni memacu kendaraannya menuju kedai bubur ayam.
Setelah mengambil pesanan yang dibungkus rapi, Deni langsung meluncur menuju Kompleks Bukit Mawar di ujung kota.
Jalanan semakin sepi dan banyak pepohonan rindang di sisi jalan saat dia memasuki kawasan kompleks tersebut.
Suasana siang hari yang tadinya terik berubah menjadi sedikit teduh dan gelap karena tertutup rimbunnya pohon besar.
Kriet.
Motor Deni berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang sudah berkarat dan banyak ditumbuhi tanaman rambat.
Di balik gerbang itu berdiri sebuah rumah mewah berlantai dua yang cat temboknya sudah banyak terkelupas kusam.
"Alamatnya sih benar di sini, tapi apa iya ada manusia hidup yang mau tinggal di rumah seram begini," gumam Deni melihat layar ponselnya.
Deni turun dari motornya dan mencoba mendorong gerbang besi yang ternyata tidak dikunci itu.
Ngiik.
Suara engsel berkarat terdengar sangat nyaring saat Deni membuka gerbangnya lebar-lebar dengan sekali dorongan.
Dia berjalan menyusuri halaman depan yang dipenuhi rumput liar setinggi lutut orang dewasa.
Sampai di depan pintu utama yang terbuat dari kayu jati tebal, Deni mengetuknya dengan pelan dan sopan.
Tok tok tok.
"Permisi, paket pesanan bubur ayam spesialnya sudah datang, apa ada orang di dalam rumah?" teriak Deni ramah.
Tidak ada jawaban yang terdengar dari dalam rumah besar yang terlihat gelap tersebut.
Deni mencoba memutar gagang pintu dan ternyata pintunya juga sama sekali tidak terkunci.
Cklek.
Pintu terbuka dan Deni melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang sangat luas namun sangat berdebu.
Ada banyak perabotan mewah yang ditutupi lembaran kain putih berserakan di sana-sini.
"Halo? Pelanggan yang terhormat? Pesanannya mau ditaruh di mana nih meja atau kursi?" panggil Deni lagi.
Tiba-tiba telinga tajam Deni mendengar suara langkah kaki yang sangat pelan dari arah tangga kayu di sudut ruangan.
Tap tap tap.
Deni menoleh dan melihat seorang gadis muda berambut panjang turun dari tangga dengan langkah gontai.
Gadis itu memakai gaun tidur berwarna putih kusam dan wajah cantiknya terlihat sangat pucat pasi.
Matanya sayu dan ada kantung mata hitam yang sangat jelas terlihat di bawah kelopak matanya.
"Apakah kamu kurir shopee food yang mengantar pesananku?" tanya gadis itu dengan suara yang sangat pelan dan serak.
"Benar sekali Nona, ini pesanan bubur ayam spesialnya masih sangat hangat," jawab Deni menyodorkan kantong plastik putih itu.
Gadis itu berjalan mendekat dan mengambil kantong plastik dari tangan Deni dengan jemari yang sedikit gemetar.
"Terima kasih banyak, aku sudah tidak makan selama tiga hari karena terlalu takut untuk sekadar keluar rumah," kata gadis itu tersenyum tipis.
Deni mengerutkan keningnya mendengar ucapan memelas dari gadis yang terlihat seumuran dengannya itu.
"Kenapa takut keluar rumah Nona? Apakah ada rentenir jahat yang sedang mengejar Nona di luar sana?" tanya Deni penasaran.
Gadis itu menggeleng pelan lalu duduk lemah di salah satu kursi kayu tua yang tidak ditutupi kain putih.
"Namaku Maya, aku bersembunyi di sini karena paman tiriku ingin membunuhku untuk mengambil sisa harta warisan ayahku," cerita Maya sedih.
Mata Deni sedikit membesar mendengar plot cerita yang terasa sangat familiar di telinganya itu.
"Wah kebetulan sekali Nona Maya, bosku di kantor juga mau dibunuh sama paman tirinya sendiri lho," ucap Deni polos.
"Sepertinya menjadi paman tiri di kota ini adalah pekerjaan yang sangat umum dan jahat ya."
Maya tertawa kecil mendengar tanggapan yang sangat aneh dari kurir berjaket oranye di depannya ini.
"Paman tiriku bernama Hendra, dia orang tua yang sangat berkuasa di perusahaan Grup Nirvana," lanjut Maya memakan buburnya pelan-pelan.
Deni terkejut dan hampir melompat dari tempat berdirinya saat mendengar nama itu kembali disebut.
"Tunggu dulu, Nona bilang paman Nona namanya Hendra yang dari Grup Nirvana itu?" tanya Deni memastikan lagi.
Maya mengangguk pelan sambil terus meniup buburnya yang masih mengeluarkan asap panas.
"Benar, dia merebut perusahaanku setelah kecelakaan maut yang menimpa orang tuaku bulan lalu," jawab Maya sendu.
"Aku ini sebenarnya adalah adik sepupu dari Clara yang sekarang menjabat sebagai CEO di perusahaan sana."
Deni menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa dunia ibukota ini sungguh sangat sempit sekali.
"Dunia ini sungguh aneh, Nona Clara itu adalah bos tempatku bekerja sehari-hari sekarang Nona Maya," kata Deni bersemangat.
"Nona Clara orangnya baik kok, meskipun kadang suka marah-marah tidak jelas kalau sedang tegang."
Maya langsung menghentikan suapannya dan menatap Deni dengan kedua mata terbelalak sangat kaget.
"Kamu bekerja untuk Kak Clara? Syukurlah kalau dia baik-baik saja, aku sangat mengkhawatirkan keadaannya," ucap Maya lega.
"Aku tidak berani menghubunginya selama ini karena takut ponselnya disadap oleh orang-orang suruhan Paman Hendra."
Deni menarik sebuah kursi kayu yang berdebu, meniup debunya sebentar ke udara lalu duduk santai di depan Maya.
"Tenang saja Nona Maya, sekarang aku yang menjadi pengawal pribadi terkuat Nona Clara," kata Deni menepuk dadanya mantap.
"Tadi siang saja aku baru menghajar lima orang pembunuh bayaran suruhan si Hendra tua itu sampai pingsan di hotel."
Maya menatap pemuda aneh di depannya dengan tatapan penuh rasa kagum sekaligus harapan baru.
"Benarkah itu semua? Berarti kamu sangat ahli bertarung ya Mas kurir?" tanya Maya tersenyum manis.
"Namaku Deni Nona, dan soal kuat ya lumayanlah bisa mematahkan tiang besi pakai satu tangan kosong," jawab Deni santai.
Maya terdiam sejenak merenung seperti memikirkan sesuatu rencana yang sangat penting di kepalanya.
"Mas Deni, bisakah kamu membawaku menemui Kak Clara sekarang juga ke kantornya?" pinta Maya dengan nada memohon sungguh-sungguh.
"Aku punya bukti rekaman suara asli yang menunjukkan kalau Paman Hendra sengaja merusak rem mobil orang tuaku saat itu."
Deni mengangguk setuju dengan cepat karena ini adalah informasi penting yang pasti akan sangat berguna untuk bos cantiknya.
"Tentu saja bisa Nona Maya, Nona Clara pasti akan sangat senang melihatmu ternyata masih hidup," jawab Deni berdiri dari kursinya.
"Tapi sebelum kita pergi menemuinya, tolong selesaikan dulu pesanan di aplikasinya dan beri aku ulasan bintang lima ya Nona."
Maya tertawa lepas mendengarnya, rasa takut yang membayanginya selama berhari-hari seolah menguap begitu saja melihat kepolosan Deni.
"Baiklah Mas Deni, ini aku kasih bintang lima dan ulasan yang sangat panjang untukmu," kata Maya mengetik lincah di layar ponselnya.
Ting.
Suara sistem yang merdu langsung terdengar nyaring di kepala Deni membawa kabar yang sangat menggembirakan.
[Sistem Raja Kurir Merespon Pelanggan Maya memberikan ulasan bintang lima beserta pujian atas keramahan Tuan]
[Progres Tuan bertambah menjadi tujuh dari seribu ulasan bintang lima]
Deni tersenyum lebar melihat angka di sistem ajaibnya terus bertambah setiap hari dengan sangat lancar.
"Ayo Nona Maya kita berangkat ke kantor sekarang, motor bututku sudah menunggu dengan setia di depan," ajak Deni melangkah menuju pintu.
Maya mengangguk dan segera menghabiskan sisa buburnya sebelum berlari kecil mengikuti langkah lebar sang kurir sakti.