Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: KIRANA DIJODOHKAN TEMAN SEKELAS
Ruang diskusi lantai tiga terasa lebih ramai dari biasanya karena ada acara kecil yang diadakan jurusan, semacam sesi santai mempertemukan mahasiswa dari kelas paralel sebelum lanjut ke sesi kerja kelompok formal. Kirana duduk di antara Nadia dan Dinda, memperhatikan beberapa anggota kelompok lain yang sedang mengobrol ringan sambil menunggu Alden datang.
"Kir, eh, aku mau kenalin kamu sama temenku," kata Dinda tiba tiba, menarik lengan seorang cowok yang baru datang dari pintu masuk. "Ini Reza, temen sekelasku dari kelas paralel."
Reza tersenyum ramah, mengulurkan tangan. "Hai, Kirana kan? Sering denger nama kamu dari Dinda."
"Hai," Kirana membalas jabatan tangan itu sopan, meski agak canggung dengan perkenalan mendadak ini.
"Denger denger kamu jadi koordinator kelompok gabungan ya," lanjut Reza, duduk di kursi kosong di sebelah Kirana tanpa diminta. "Keren banget bisa ngatur delapan orang sekaligus."
"Ah, biasa aja kok, tim-nya juga kooperatif semua," Kirana menjawab sopan, sedikit tidak nyaman dengan pujian yang terasa berlebihan.
Dinda tersenyum lebar, jelas terlihat sedang berusaha mendekatkan mereka berdua. "Reza ini anak organisasi juga lho, Kir, ketua himpunan mahasiswa jurusan sebelah. Pinter banget orangnya."
"Dinda, kamu lebay banget," Reza tertawa, meski jelas terlihat senang dengan pujian itu.
Kirana hanya tersenyum kikuk, mulai menyadari arah percakapan ini sepertinya bukan sekadar perkenalan biasa. Dia melirik ke arah Nadia yang duduk di sebelahnya, memberi tatapan meminta bantuan, tapi Nadia hanya mengangkat bahu, sama bingungnya.
"Kir, kamu udah punya pacar belum?" tanya Reza langsung, tanpa basa basi lebih jauh.
Pertanyaan blak blakan itu membuat Kirana tersentak. "Eh, belum sih."
"Nah, kan," Dinda menyeringai puas, seperti baru saja berhasil membuka jalan untuk sesuatu yang lebih besar. "Reza juga masih sendiri lho, Kir."
"Dinda," Reza menyenggol lengan Dinda, setengah malu setengah geli dengan cara temannya mempromosikan dirinya seterang itu.
Kirana tertawa canggung, tidak tahu harus merespons bagaimana. Dalam hati, dia merasa situasi ini semakin tidak nyaman, apalagi mengingat perasaannya yang sebenarnya sedang tertuju pada orang lain, orang yang statusnya jauh lebih rumit dari sekadar teman kelas biasa.
"Kir, kalian cocok lho kalau diliat," Ratna yang duduk tidak jauh ikut menimpali, ikut serta dalam usaha perjodohan dadakan itu. "Sama sama rajin, sama sama jadi ketua di kelompok masing masing."
"Aduh, kalian ini," Kirana menggeleng, mencoba tertawa untuk mencairkan suasana.
"Baru kenal juga udah langsung dijodoh jodohin."
"Justru itu serunya," Fikri yang baru bergabung ikut menambahkan, membuat seisi kelompok tertawa kecil.
Reza tersenyum ke arah Kirana, matanya menunjukkan ketertarikan yang cukup jelas. "Kalau kamu nggak keberatan, boleh nggak aku minta kontak kamu? Siapa tau nanti bisa diskusi lebih lanjut soal proyek, atau hal lain."
Kirana ragu sejenak, tidak enak menolak secara langsung di depan banyak orang, tapi juga merasa tidak nyaman memberikan kontaknya begitu saja. "Boleh sih, buat urusan proyek aja ya."
"Tentu," Reza mengangguk, mengeluarkan ponselnya untuk menukar kontak.
Di tengah pertukaran kontak itu, pintu ruangan terbuka, dan Alden masuk membawa map dan laptopnya seperti biasa. Kirana yang sedang menyerahkan nomornya ke Reza tanpa sadar mendongak, mendapati Alden berhenti sejenak di ambang pintu, matanya melirik singkat ke arah mereka berdua sebelum melanjutkan langkah menuju kursinya.
"Selamat sore," sapa Alden, suaranya terdengar sedikit lebih datar dari biasanya, meski Kirana tidak yakin apakah itu hanya perasaannya saja atau memang ada sesuatu yang berbeda.
Kelompok segera merapikan diri, mengalihkan perhatian dari obrolan santai ke suasana kerja yang lebih formal. Kirana buru buru memasukkan ponselnya, merasa sedikit tidak enak meski dia tahu tidak ada yang salah dengan pertukaran kontak untuk urusan proyek.
"Sebelum kita mulai diskusi progress, saya mau kenalan dulu sama anggota baru yang belum pernah saya temui," kata Alden, matanya menyapu seisi ruangan. "Kamu, yang tadi baru datang."
Reza mengangkat tangan, memperkenalkan diri. "Saya Reza, Pak, dari kelas paralel. Ketua himpunan jurusan sebelah."
"Kamu bukan anggota kelompok ini kan?" tanya Alden, alisnya sedikit terangkat.
"Bukan, Pak, saya cuma lagi main ke sini, kebetulan kenal sama Dinda," jawab Reza, sedikit gugup mendapat perhatian langsung dari dosen yang terkenal galak itu.
"Kalau bukan anggota kelompok, mohon maaf, tapi ruang diskusi ini khusus untuk sesi kerja kelompok," kata Alden, nadanya tegas meski tetap sopan. "Silakan lanjutkan obrolan di luar."
Suasana sedikit canggung setelah teguran halus itu. Reza mengangguk cepat, berdiri dari kursinya. "Baik, Pak, maaf mengganggu."
Dia berpamitan ke beberapa orang, termasuk melirik Kirana sekilas dengan senyum kecil sebelum akhirnya keluar ruangan. Kirana merasa sedikit lega sekaligus canggung dengan keseluruhan kejadian itu, tidak yakin harus merasa bagaimana dengan reaksi Alden yang terasa sedikit lebih tegas dari biasanya.
Diskusi kelompok berlangsung seperti biasa setelahnya, membahas progress masing masing bagian dengan detail. Tapi Kirana memperhatikan sesuatu yang berbeda dari sikap Alden hari ini, dia lebih sering menatap ke arah lain, tidak seintens biasanya ketika bertanya ke Kirana, dan nada suaranya terdengar sedikit lebih dingin dari yang biasa dia gunakan belakangan ini.
"Kirana, bagian analisis finansial gimana progressnya?" tanya Alden, matanya tetap tertuju ke layar laptopnya sendiri, tidak menatap langsung seperti kebiasaannya sebelum sesi ini dimulai.
"Udah selesai sensitivity analysis-nya, Pak," jawab Kirana, sedikit heran dengan perubahan sikap itu. "Mau saya tunjukin?"
"Kirim aja filenya lewat email kelompok, saya cek nanti," jawab Alden singkat, tanpa meminta Kirana menunjukkan langsung seperti biasa dia lakukan.
Kirana mengangguk, meski dalam hati dia merasakan sesuatu yang mengganjal dengan cara Alden merespons kali ini. Diskusi berlanjut sampai selesai, dan begitu Alden mengumumkan sesi hari itu berakhir, dia langsung merapikan barangnya dan keluar ruangan lebih cepat dari biasanya, tanpa basa basi tambahan seperti yang sering dia lakukan sebelumnya.
"Kir, Pak Alden kayaknya lagi bad mood ya hari ini," komentar Bagas begitu Alden benar benar keluar ruangan.
"Mungkin," jawab Kirana pendek, meski dalam hati dia mulai menduga alasan sebenarnya di balik perubahan sikap itu.
Setelah kelompok lain mulai membubarkan diri, Nadia mendekati Kirana dengan raut wajah penuh arti. "Kir, kamu sadar nggak? Pak Alden keliatan agak beda pas ngeliat kamu tuker kontak sama Reza tadi."
"Ah, nggak mungkin, Nad. Itu kan cuma buat urusan proyek doang," Kirana mencoba menepis dugaan itu, meski dalam hati dia sendiri mulai mempertimbangkan kemungkinan yang sama.
"Terus kenapa dia jadi lebih formal banget sama kamu hari ini, beda dari biasanya?" Nadia mendesak, matanya menyipit penuh selidik.
Kirana terdiam, tidak punya jawaban pasti untuk pertanyaan itu. "Aku juga nggak tau, Nad. Tapi mungkin emang kebetulan aja dia lagi banyak pikiran."
Nadia tidak sepenuhnya percaya dengan penjelasan itu, tapi dia memilih untuk tidak mendesak lebih jauh, hanya menepuk bahu Kirana pelan. "Yaudah, kamu yang lebih ngerti situasinya. Tapi hati hati aja, Kir, jangan sampe salah paham yang nggak perlu."
Sepanjang perjalanan pulang, Kirana terus memikirkan kejadian hari itu, cara Alden menegur Reza dengan nada yang lebih tegas dari biasanya, cara dia menjadi lebih dingin sepanjang diskusi setelahnya. Dia tidak yakin apakah itu murni kebetulan atau ada sesuatu yang lebih dalam di balik perubahan sikap itu, tapi rasa penasarannya semakin membesar, dicampur dengan sedikit harapan yang dia sendiri coba tekan sekuat mungkin.
"Apa mungkin dia... cemburu?" bisiknya pelan pada dirinya sendiri, hampir tidak percaya dengan pikiran yang baru saja terlintas di kepalanya.
Dia menggeleng cepat, mencoba menepis pikiran itu sebagai sesuatu yang terlalu berlebihan untuk dipercaya. Tapi semakin dia mencoba mengabaikannya, semakin kuat dugaan itu bertahan di kepalanya, membawa campuran perasaan yang sulit dia jelaskan sepanjang sisa hari itu.