"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: JEJAK YANG TERTINGGAL DI BALIK JENDELA
Perpisahan bukanlah sebuah garis finis yang seketika menghapus seluruh rekam jejak masa lalu. Ketika Arman pergi malam itu dengan menjatuhkan talak satu, dunia Aini tidak langsung berubah menjadi selembar kertas putih yang bersih. Di minggu-minggu awal pasca-kepergian suaminya, kamar Aini masih sering menjelma menjadi ruang persidangan batin. Di dalam kesunyian malam, Aini kerap kali terduduk sendiri, membiarkan air matanya luruh menganak sungai, meratapi takdir yang patah di tengah jalan.
Pikirannya sering kali berkhianat, membawanya terbang mundur ke masa-masa indah saat mereka masih berpacaran dulu. Mereka menikah bukan karena dijodohkan paksa oleh orang tua, melainkan karena rajutan cinta yang mereka bangun sendiri dengan penuh tawa. Aini masih ingat betul bagaimana manisnya janji Arman dulu, bagaimana mereka pernah sebahagia itu sebelum biduk rumah tangga mereka karam dihantam gelombang patriarki dan keegoisan. Rasa tidak percaya bahwa hubungan seindah itu harus berakhir tragis sering kali menghunjam dadanya, menyisakan sesak yang teramat sangat.
Melihat kelayuan putrinya, Bapak Farhan dan Ibu Naya tidak pernah lelah menyiramkan kesejukan. Berulang kali Bapak Farhan duduk di tepi tempat tidur Aini, memberikan petuah yang menjadi lentera di tengah kegelapan hati anaknya.
"Anakku, masa lalu itu seperti bayangan di air. Jika kamu terus mengocok airnya karena marah, kamu tidak akan pernah melihat pantulan dirimu yang jernih. Terimalah bahwa ada beberapa orang yang dihadirkan di hidup kita hanya untuk menjadi bab cerita, bukan untuk menjadi seluruh isi buku," nasihat Bapak Farhan dengan suara kebapakan yang teduh. Ibu Naya pun tak kalah lembut, selalu memeluk dan meyakinkan Aini bahwa pilihan untuk melepaskan adalah keputusan terbaik demi kewarasan jiwanya.
Namun, dunia luar terkadang jauh lebih kejam daripada badai di dalam rumah. Di luar sana, orang-orang kampung mulai berbisik-bisik, menenun cerita buruk dan gunjingan tentang status baru Aini sebagai janda muda. Desas-desus liar bertebaran di sudut-sudut desa, membawa cerita-cerita miring yang bahkan Aini sendiri tidak pernah tahu dari mana asal-usulnya.
Seiring bergulirnya waktu, bulan demi bulan bertukar lembaran baru. Berkat fondasi doa dan dukungan tanpa henti dari kedua orang tuanya, Aini perlahan-lahan mulai bisa berdamai dengan kenyataan. Dia mulai menerima sebuah hakikat pahit:
bahwa cinta tidak selamanya harus dimiliki, dan mempertahankan seseorang yang tidak menghargai kita adalah bentuk nyata dari cara kita menyakiti diri sendiri.
Aini menolak untuk terus terkubur hidup-hidup dalam peti mati kesedihan. Dia bangkit, membasuh wajahnya, dan mulai mengisi lembaran hari-harinya dengan kesibukan baru yang produktif. Aini mulai menulis novel. Dia menuangkan seluruh gejolak rasa, pengalaman hidup, dan rona luka batinnya ke dalam baris-baris kalimat di sebuah aplikasi menulis digital.
Tak disangka, goresan tangannya yang jujur dan menyentuh jiwa berhasil memikat hati ribuan pembaca. Dukungan dan komentar positif mengalir deras dari para pembaca yang mencintai karyanya, menjadi obat penawar luka yang sangat mustajab bagi Aini.
Bapak Farhan dan Ibu Naya pun tersenyum bangga, mendukung penuh jalan baru yang dipilih putri mereka.Untuk mengusir kebosanan dan mencari inspirasi baru, sesekali Aini memilih keluar dari rumah. Dia pergi ke sebuah kafe kecil di pusat kota Pesisir Selatan, duduk menyendiri di sudut ruangan sambil menikmati secangkir teh hangat yang mengepulkan uap tipis.
Hanya bermodalkan telepon genggam di tangannya, jemari Aini dengan lincah menari-nari di atas layar, merangkai bab demi bab novelnya.
Sesekali, dia juga pergi menghabiskan waktu bersama teman-teman dekatnya. Aini mulai merawat penampilannya kembali; dia mengenakan pakaian terbaik yang rapi, cantik, dan segar, memancarkan binar memesona layaknya seorang gadis yang belum pernah tersentuh patah hati.
Hari-hari berlalu, bulan pun bertukar, dan Aini telah lahir kembali menjadi sosok wanita yang jauh lebih baik, lebih anggun, dan mandiri secara emosional. Namun, di tempat lain, roda penyesalan justru baru saja mulai menggilas hidup Arman.
Angin malam yang sunyi di rumah ibunya kini terasa seperti melodi kepedihan bagi Arman. Dia mulai merasakan hal yang sebaliknya; kesepian yang teramat pekat mulai merayap di dadanya. Pria itu mulai tersadar bahwa keputusan egois yang dia ambil delapan bulan lalu adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Apalagi saat dia tidak sengaja melihat unggahan foto terbaru Aini di media sosial. Melihat wajah mantan istrinya yang kini terlihat begitu ceria, segar, dan bahagia tanpa kehadirannya, ada belati tak kasat mata yang menghunjam ulu hati Arman. Rasa sakit itu merayap hebat.
Arman mendadak teringat bahwa terakhir kali dia melihat Aini bisa tertawa selega dan sebahagia itu adalah waktu mereka masih berpacaran dulu—waktu di mana ego keluarga belum merusak segalanya. Kenangan-kenangan manis masa lalu bergelayut manja di pelupuk matanya, melahirkan badai rindu yang semakin hari semakin menggebu di dalam dadanya. Arman tidak tahan lagi. Ego lelakinya runtuh dikalahkan oleh rasa ingin tahu tentang kabar wanita yang pernah dia telantarkan itu.
Sore itu, di dalam kamar rumah orang tuanya, Aini sedang fokus mematangkan naskah novelnya. Suasana hatinya sedang sangat baik karena novelnya baru saja diajukan kontrak resmi oleh pihak aplikasi, dan jumlah pembacanya meledak drastis hingga banyak dari mereka yang memenuhi kolom komentar, meminta Aini untuk cepat-cepat memperbarui (up) kelanjutan babnya.
Ting!
Sebuah notifikasi pesan WhatsApp masuk. Aini refleks membuka ponselnya. Namun seketika itu juga, detak jantungnya seolah berhenti berdenyut. Darahnya berdesir hebat, dingin menjalar hingga ke ujung jemari. Sepasang netranya terpaku menatap sebuah nama di layar kaca. Pesan itu berasal dari laki-laki yang pernah menjadi suaminya, pria yang sudah delapan bulan lamanya menjadi orang asing dan tidak pernah menjalin komunikasi sama sekali semenjak malam penjatuhan talak itu.
Aini membaca baris pesan yang tertera di layar tanpa membukanya:
Arman: Assalamualaikum, Ai. Apa kabar? Kamu sehat, kan? Aku lihat foto-fotomu belakangan ini... kamu terlihat sangat cantik dan bahagia sekarang.
Aini membeku. Sebuah senyum hambar terukir di sudut bibirnya. Ingatannya berputar pada masa-mana kelam dulu. Dahulu, di awal-awal perpisahan, Aini siang malam menangis menatap ponsel, berharap dan berdoa agar lelaki ini mengirimkan pesan, memohon untuk kembali, meminta maaf, dan berjanji mengulangi semuanya dari awal. Namun, jangankan memohon kembali, sekadar menanyakan apakah Aini sudah makan atau belum pun tidak pernah Arman lakukan selama delapan bulan ini.
Kini, setelah Aini berhasil merangkak keluar dari lumpur hisap kesedihan, setelah dia fokus dengan kesibukannya dan berhasil mengubur nama lelaki itu dalam-dalam, kenapa pria itu justru muncul kembali seperti hantu dari masa lalu?Sebab, inilah candaan takdir yang paling kejam:
seseorang sering kali baru akan mencarimu saat kamu sudah berhasil melupakannya, dan baru akan menghargaimu saat kamu sudah tidak lagi membutuhkannya.
Dengan ketegasan yang dia pelajari dari sang ayah, Aini memilih untuk tidak membuka pesan itu. Dia langsung mengusap layar dan menghapus pesan WhatsApp dari Arman tanpa sisa.
Namun, meski pesan itu telah musnah dari ponselnya, racunnya telanjur menyebar ke dalam pikiran Aini. Mood bahagianya sore itu runtuh berkeping-keping dalam sekejap. Energi mengetik yang tadinya membara mendadak padam. Aini mengurungkan niatnya untuk melanjutkan naskah. Dia mengempaskan ponselnya jauh-jauh dari pandangan mata, seolah benda itu adalah bara api yang menyengat kulitnya.
Aini terdiam, matanya menatap jauh ke luar jendela kamar. Dadanya bergemuruh oleh berbagai pertanyaan yang mendadak muncul tanpa diundang di benaknya.
Kenapa dia harus datang lagi sekarang? Apa maunya? Mengapa dia harus merusak ketenangan yang susah payah kubangun selama delapan bulan ini?
Entah berapa lama Aini tenggelam merenung dalam kesunyian kamar yang mendadak mencekam, tiba-tiba ponselnya di atas meja kembali bergetar hebat. Kali ini, layar ponselnya menyala, menampilkan panggilan telepon masuk dari nomor mantan suaminya itu.
Aini hanya menatap layar yang berkedip-kedip tersebut dengan tatapan kosong yang dingin. Dia tidak menyentuhnya, tidak berniat mengangkatnya. Dia membiarkan nada dering itu berbunyi nyaring di dalam kamar, hingga akhirnya panggilan itu mati dengan sendirinya karena kehabisan waktu.
Begitu layar ponsel kembali gelap, Aini mengambil alat komunikasinya itu dengan gerakan yang tenang namun pasti. Dia membuka kontak nomor Arman, lalu menekan satu tombol mutlak: Blokir.
Sore itu, di balik jendela kamar yang menatap langit Pesisir Selatan, Aini mengunci rapat-rapat pintu masa lalunya. Dia sadar, membiarkan orang yang pernah menghancurkanmu kembali masuk ke dalam hidupmu, sama saja dengan memberikan peluru kedua bagi musuh untuk menembak jantungmu yang baru saja sembuh.