Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 - Enam Puluh Detik
"**Enam puluh detik.**"
Suara pria bertopeng menggema melalui pengeras suara.
Hutan yang semula sunyi kini dipenuhi suara baling-baling tiga helikopter yang berputar rendah di atas pepohonan.
Puluhan titik laser merah menempel di dada Raka, Alea, Adrian, Kirana, dan pria yang terluka.
Tidak ada celah untuk melarikan diri.
Alea tanpa sadar menggenggam tangan Raka.
Telapak tangan suaminya terasa dingin.
Namun genggamannya tetap kuat.
"Kamu takut?" bisik Alea.
Raka tersenyum tipis.
"Kalau aku bilang tidak, berarti aku bohong."
Alea menghela napas pelan.
"Kalau begitu kita takut bersama."
Kalimat itu membuat Raka menoleh.
Di tengah ancaman maut, perempuan itu masih memilih berdiri di sisinya.
---
"Empat puluh lima detik."
Hitungan mundur kembali terdengar.
Adrian memperhatikan posisi musuh.
"Mereka membentuk formasi segitiga."
"Kita dikepung dari tiga arah."
Kirana menggeleng.
"Bukan tiga."
Ia menunjuk ke arah atas.
"Empat."
Semua mendongak.
Satu penembak jitu masih bertahan di pintu helikopter paling belakang.
Larangan sekecil apa pun bisa membuat peluru ditembakkan.
---
Pria yang terluka menarik napas berat.
"Raka..."
"Jangan berikan flashdisk itu."
"Tapi kalau tidak..."
"Mereka akan membunuh kita semua."
Pria itu menggeleng pelan.
"Kalau flashdisk jatuh ke tangan mereka..."
"...ratusan orang akan mati."
Raka mengepalkan tangan.
Pilihan itu terasa mustahil.
Menyelamatkan orang-orang di depannya...
Atau menyelamatkan ribuan orang yang belum ia kenal.
---
"Tiga puluh detik."
Pria bertopeng mulai berjalan mendekat.
Wajahnya masih tertutup masker hitam.
Namun sorot matanya begitu tenang.
Seolah ia sudah yakin akan menang.
"Aku tidak suka mengulang perintah."
"Serahkan flashdisk."
Raka perlahan mengeluarkan benda kecil itu dari sakunya.
Semua mata langsung tertuju padanya.
Alea menatap Raka.
Ia tahu suaminya sedang mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.
---
"Baik."
Raka mengangkat flashdisk itu.
"Aku akan menyerahkannya."
Adrian langsung menoleh.
"Raka, jangan!"
Kirana ikut menggeleng.
"Itu satu-satunya bukti."
Namun Raka tetap melangkah.
Pria bertopeng tersenyum puas.
"Itu keputusan yang bijaksana."
Raka berhenti sekitar lima meter di depannya.
Lalu...
Ia melempar flashdisk itu tinggi ke udara.
Semua orang spontan mengikuti arah benda kecil tersebut.
Saat itulah...
"DOR!"
Satu tembakan terdengar.
Namun bukan ke arah manusia.
Peluru itu menghancurkan flashdisk di udara hingga berkeping-keping.
Semua membeku.
Pria bertopeng langsung menoleh ke arah asal tembakan.
Di atas tebing, berdiri seseorang mengenakan jaket cokelat tua.
Asap tipis masih keluar dari laras senapannya.
"Siapa dia?" bisik Alea.
Pria itu menurunkan senjatanya perlahan.
Lalu tersenyum.
"Akhirnya kita bertemu lagi."
---
Wajah pria yang terluka langsung berubah.
"Tidak..."
"Dia..."
Raka menoleh.
"Kau mengenalnya?"
Pria itu mengangguk pelan.
"Dialah..."
"...Direktur Bayangan."
Semua membelalak.
Sosok yang selama puluhan tahun hanya menjadi nama...
Kini berdiri di depan mereka.
Anehnya...
Ia tidak tampak seperti penjahat.
Pria itu berusia sekitar lima puluh lima tahun.
Berpakaian sederhana.
Tatapannya teduh.
Bahkan senyumnya terlihat ramah.
Ia melangkah turun dari tebing tanpa sedikit pun rasa takut.
Pasukan bertopeng yang tadi mengancam Raka justru serempak menundukkan kepala.
"Hormat, Direktur."
Pria itu mengangguk singkat.
Tatapannya kemudian berhenti pada Raka.
"Lama sekali aku menunggumu."
Raka menatapnya tajam.
"Kau ingin membunuhku?"
Pria itu tertawa kecil.
"Membunuhmu?"
"Tidak."
"Aku justru sudah mencarimu sejak dua puluh tahun lalu."
Raka mengernyit.
"Kenapa?"
Pria itu menarik sesuatu dari saku mantelnya.
Sebuah foto keluarga yang sudah kusam.
Foto yang sama persis dengan foto di Vila Melati.
Namun kali ini tidak sobek.
Semua wajah terlihat utuh.
Termasuk sosok pria yang selama ini selalu terpotong dari setiap salinan foto.
Pria itu mengangkat foto tersebut.
Lalu menunjuk seorang laki-laki yang berdiri di samping Melati.
"Itu ayah kandungmu."
Raka mengangguk pelan.
Pria itu kemudian menunjuk dirinya sendiri.
"Dan..."
"...aku adalah kakak kandung ayahmu."
Jantung Raka seolah berhenti berdetak.
"Artinya..."
Pria itu tersenyum tipis.
"Iya."
"Aku pamanmu."
Keheningan menyelimuti seluruh hutan.
Jika pengakuan itu benar...
Maka selama ini mereka memburu orang yang sebenarnya masih memiliki hubungan darah dengan Raka.
Namun sebelum siapa pun sempat berbicara...
Suara tembakan kembali memecah malam.
**DOR!**
Peluru menembus dada pria yang mengaku sebagai paman Raka.
Matanya membelalak.
Darah mulai membasahi bajunya.
Ia menatap Raka untuk terakhir kalinya.
Dengan napas yang tersisa, ia berbisik lirih.
> "Di antara kita... masih ada pengkhianat..."
Tubuhnya roboh ke tanah.
Sementara dari balik pepohonan, seseorang yang baru saja menarik pelatuk perlahan menghilang ke dalam gelapnya hutan.
**Bersambung...**