NovelToon NovelToon
ISTRI TITIPAN ABANG

ISTRI TITIPAN ABANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GEMA TAFSYIR DI BAWAH REMBULAN

Usia kandungan Khadijah yang merambat naik memasuki bulan ketujuh membawa perubahan bentuk fisik yang kian nyata sekaligus memancarkan keanggunan seorang ibu muda.

Acara Tasyakuran Tujuh Bulanan yang diisi dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan doa bersama santri panti asuhan Sunter baru saja usai dua hari lalu.

Ketenangan kini benar-benar bertakhta di rumah keluarga Al-Idrus.

Namun, bagi Zaid Al-Idrus, menjadi suami seorang Hafizah dan calon ayah dari Muhammad Farhan Al-Idrus bukanlah alasan untuk bersantai.

Justru di fase inilah, semangat Zaid untuk mengimbangi kedalaman ilmu sang istri makin berkobar.

Malam itu, jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam.

Di dalam kamar utama, lampu gantung bernuansa kuning hangat membiaskan cahaya temaram.

Suasana sangat hening, hanya terdengar deru halus pendingin udara dan rintik gerimis tipis yang membasahi kaca jendela.

Zaid duduk bersila di atas karpet bulu tebal di sudut kamar.

Ia mengenakan baju koko katun berwarna kelabu dan sarung woven yang nyaman.

Di depannya, sebuah meja lipat kayu menopang sebuah Kitab Tafsir Al-Qur'an tebal bersampul kulit hitam.

Zaid tampak sangat serius, jemarinya yang tegap meraba baris demi baris tulisan Arab gundul, bibirnya bergumam mengeja dan meresapi artinya.

Khadijah, yang baru selesai mengoleskan minyak zaitun di perutnya yang kian membuncit anggun, melangkah pelan keluar dari ruang rias.

Gamis rumahannya berwarna merah muda lembut membungkus tubuhnya dengan hangat.

Melihat suaminya yang begitu tekun menunduk di atas meja kitab, sudut bibir Khadijah terangkat menyunggingkan senyum paling tulus.

Khadijah melangkah mendekat, lalu duduk bersimpuh di samping Zaid.

Aromanya yang wangi minyak kayu putih dan bunga melati seketika menyapa indra penciuman Zaid.

"Mas Zaid belum mengantuk?"

panggil Khadijah dengan suara selembut sutra.

Zaid menoleh, mengalihkan pandangannya dari kitab.

Tatapan mata elangnya seketika mencair saat menatap wajah bersih istrinya.

"Belum, Khadijah,"

jawab Zaid pelan.

Ia menggeser duduknya sedikit, memberi ruang agar Khadijah bisa menyandarkan punggungnya dengan nyaman di tepi ranjang.

"Aku sedang meresapi tafsir Surah Luqman ayat empat belas.

Soal perintah Allah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, terutama ibu yang telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah..."

Zaid menghentikan kalimatnya, menatap lurus ke arah perut Khadijah.

Tangan kekarnya terulur, mendarat lembut di atas perut sang istri yang terasa hangat.

"Melihat kamu beberapa minggu belakangan ini... susah tidur miring, napas sering terengah-engah, kaki mulai bengkak... aku baru benar-benar paham arti kata ‘wahnan 'ala wahnin’ itu, Khadijah,"

bisik Zaid, suaranya sarat akan rasa haru dan hormat yang mendalam.

"Pengorbanan seorang ibu itu luar biasa sekali.

Dulu aku pikir bertaruh nyawa di jalanan adalah hal paling berat, ternyata melahirkan dan mengandung kehidupan baru jauh lebih mulia dan berat."

Khadijah tersentuh mendengar penuturan suaminya.

Ia meraih tangan Zaid yang berada di perutnya, menggenggamnya erat.

"Tapi rasa berat itu menguap, Mas...

setiap kali saya melihat Mas Zaid ada di samping saya,"

balas Khadijah tulus, matanya berbinar menatap Zaid.

"Rasa lelah itu berubah jadi pahala dan kebahagiaan karena saya tahu, anak ini memiliki ayah yang luar biasa bertanggung jawab."

Khadijah mencoba mengubah posisi duduknya untuk meluruskan kakinya, namun ia meringis pelan.

Pergerakan tubuhnya kini makin terbatas karena beban perutnya yang makin berat.

Zaid dengan refleks cepat bergeser.

"Kenapa, Khadijah?

Pegal?"

"Kaki saya agak ngilu, Mas...

sepertinya sedikit bengkak lagi karena tadi sore terlalu lama duduk menyimak hafalan santri,"

Khadijah menunjuk kedua pergelangan kakinya yang memang tampak sedikit membesar.

Tanpa membuang waktu atau menanyakan hal kedua kali, Zaid berdiri.

Ia berjalan ke kamar mandi, lalu kembali membawa sebuah baskom kecil berisi air hangat yang dicampur garam epsom, serta selembar handuk lembut.

"Mas Zaid... tidak usah, nanti repot—"

"Ssst,"

Zaid memotong lembut.

Ia duduk di lantai di depan kaki Khadijah.

Dengan sangat hati-hati dan lembut, Zaid mengangkat kedua kaki istrinya, lalu mencelupkannya perlahan ke dalam air hangat.

Zaid berlutut, memijat lembut betis dan pergelangan kaki Khadijah dengan teknik yang sangat telaten.

Jemarinya yang biasanya memegang kunci pas bengkel atau berkas hukum yang kaku, kini berubah menjadi jemari yang penuh dengan kelembutan kasih sayang.

Khadijah menyandarkan kepalanya di tepi ranjang, memejamkan mata meresapi rasa hangat yang merayapi kakinya dan kehangatan yang lebih besar yang memenuhin dada dan jiwanya.

"Mas Zaid..."

panggil Khadijah lirih.

"Iya, Khadijah?"

tanya Zaid tanpa menghentikan pijatan lembutnya.

"Terima kasih ya..."

Zaid mendongak, menatap istrinya dari bawah.

"Untuk apa?

Ini sudah kewajiban suami melayani istrinya yang sedang berjuang mengandung anaknya."

"Bukan cuma untuk ini,"

Khadijah membuka matanya, menatap Zaid dengan binar keharuan.

"Tapi untuk semua perubahan Mas Zaid.

Dulu... waktu pertama kali kita menikah karena amanah almarhum Kak Farhan, saya sempat takut.

Saya takut Mas Zaid tidak akan pernah bisa menerima saya, atau saya tidak bisa menjadi istri yang baik untuk Mas."

Zaid melepaskan pijatannya, mengeringkan kaki Khadijah dengan handuk, lalu duduk berpindah ke samping istrinya.

Ia merangkul bahu Khadijah, menarik tubuh hangat istrinya ke dalam dekapannya.

"Aku yang harusnya takut dulu, Khadijah,"

bisik Zaid di dekat telinga istrinya.

"Aku ini mantan narapidana, berandalan yang tangannya penuh dosa.

Sementara kamu... seorang Hafizah, putri keluarga terhormat.

Aku merasa sama sekali tidak layak menyentuhmu.

Tapi Allah maha baik... Dia pakai kamu untuk menyelamatkan hidupku dari kegelapan."

Zaid mengepalkan jemarinya di atas paha Khadijah.

"Pernikahan kita ini bukan lagi soal amanah Bang Farhan.

Ini adalah takdir terbaik yang pernah Allah hadiahkan dalam hidupku.

Aku mencintaimu, Syarifah Khadijah... karena Allah."

Mendengar pengakuan jujur dan dalam yang keluar dari bibir Zaid, air mata kebahagiaan menetes manis di pipi Khadijah.

Kata-kata itu begitu murni, merobohkan sisa-sisa cemas atau keraguan yang mungkin pernah tersisa di masa lalu.

Malam makin larut, gerimis di luar telah mereda meninggalkan aroma tanah basah yang menenangkan.

Zaid mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur di samping ranjang yang memancarkan cahaya keemasan yang lembut.

Di atas ranjang yang empuk, Khadijah berbaring miring dengan ditopang beberapa bantal khusus ibu hamil.

Zaid berbaring di sampingnya, meletakkan tangannya melingkar hangat di pinggang Khadijah, sementara wajahnya berada sangat dekat dengan perut sang istri.

"Mas... bayinya lagi bangun,"

bisik Khadijah pelan seraya memegang tangan Zaid.

Memang benar, di bawah telapak tangan Zaid, perut Khadijah tampak bergerak-gerak kecil.

Si bayi sedang aktif menendang dan memutar tubuhnya di dalam rahim.

Zaid mendekatkan bibirnya ke permukaan perut Khadijah, berbisik dengan suara rendahnya yang berat.

"Assalamualaikum, Muhammad Farhan..."

panggil Zaid lembut.

'Duk!'

Sebuah tendangan balasan yang cukup kuat menghantam perut Khadijah, membuat Khadijah tertawa kecil.

"Wah, dia kenal suara Ayahnya, Mas!"

Zaid tersenyum lebar, dadanya meletup-letup oleh sensasi ajaib itu.

Ia melafalkan Surah Ar-Rahman dengan irama bertajwid yang pelan dan merdu sebuah lantunan ayat yang rutin dipelajarinya dari Habib Umar setiap malam.

_“Ar-Rahman... 'Allamal-Qur'an... Khalaqal-insan... 'Allamahul-bayan...”_

Suara Zaid yang bernada bass dan dalam mengalun indah di dalam kamar yang hening.

Pergerakan bayi di dalam rahim Khadijah perlahan-lahan mulai tenang, seolah-olah si kecil sedang terpukau dan tertidur dalam buaian bacaan Al-Qur'an sang ayah.

Khadijah memperhatikan suaminya yang sedang mengaji di depan perutnya dengan pandangan penuh cinta yang tak terhingga.

Pria yang dulu dikenal garang dan ditakuti di jalanan Jakarta, kini menjelma menjadi sosok imam yang begitu syahdu saat melantunkan firman Tuhan.

Setelah menyelesaikan beberapa ayat, Zaid menghentikan bacaannya, lalu mendaratkan ciuman yang sangat lama dan penuh kasih di perut Khadijah.

"Tidur yang nyenyak ya, Anakku...

tumbuhlah jadi anak yang sholeh dan pemberani,"

bisik Zaid tulus.

Zaid membetulkan posisi selimut tebal yang menutupi tubuh Khadijah, memastikan istrinya tidak kedinginan.

Ia kemudian melingkarkan lengannya kembali di pinggang Khadijah, merapatkan tubuh mereka.

Khadijah menyandarkan kepalanya di dada bidang Zaid, mendengarkan detak jantung suaminya yang berirama teratur dan menenangkan.

"Mas Zaid..."

panggil Khadijah dengan suara yang makin memberat karena kantuk mulai menyerangnya.

"Iya, Istriku?"

"Minggu depan... Mas ada jadwal sidang lagi di pengadilan?"

"Ada, satu kasus mediasi sengketa waris warga miskin di Jakarta Barat.

Tapi cuma sebentar,"

jawab Zaid lembut sambil jemarinya mengelus lembut rambut panjang Khadijah yang terurai di atas bantal.

"Kenapa, Khadijah?"

"Tidak apa-apa... saya cuma mau bilang, jangan terlalu dipaksa kalau lelah ya, Mas.

Kesehatan Mas Zaid juga penting untuk kami."

Zaid tersenyum hangat di dalam kegelapan malam, mengecup kening Khadijah penuh kehangatan.

"Iya, Sayang.

Aku janji akan selalu menjaga diriku.

Sekarang, tidurlah... besok pagi kita harus bangun Subuh bersama."

"Selamat tidur, Mas Zaid... suami terhebatku."

"Selamat tidur, Khadijah... Bidadariku."

Dalam dekap hangat yang saling melengkapi, Zaid dan Khadijah perlahan menyusul buah hati mereka ke alam mimpi.

Di luar rumah, bulan sabit mengintip anggun dari balik awan, menjadi saksi bisu betapa indahnya cinta yang dibangun di atas pilar iman, ketulusan, dan rasa saling menjaga.

Setiap babak kehidupan yang telah mereka lewati dari badai dendam, teror musuh, hingga perjuangan hukum kini bermuara pada muara kebahagiaan murni yang tak tergoyahkan.

Dan Zaid Al-Idrus tahu, perjalanan mereka menuju kelahiran sang buah hati dan babak-babak mendatang akan selalu dipenuhi oleh cahaya keberkahan.

1
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!