NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Transmigrasi Menjadi Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cincin ruang

Setelah orang tuanya meninggalkan Bellatrix untuk membersihkan diri, gadis ini mendekati cermin besar itu, matanya tak lepas memandang bayangan dirinya sendiri. Ia masih terpesona melihat wujud aslinya yang kini terlihat jelas tanpa lapisan sihir apa pun. Rambut biru terangnya melambai lembut, dan matanya bersinar jernih bagai danau di bawah langit cerah jauh lebih indah daripada penampilan buatan yang dulu ia paksakan.

Namun saat ia menatap lebih teliti, ia mengerutkan kening perlahan. Memang wajahnya memiliki garis-garis yang sempurna, tulang pipi yang tinggi, dan rahang yang halus, namun terlihat agak kusam, kering, dan ada bekas tekanan yang tidak alami. Kulitnya yang seharusnya bersih dan bercahaya justru terlihat sedikit kasar di beberapa bagian, dan pori-porinya terasa tidak rapi.

Dari ingatan yang mengalir di kepalanya, ia segera paham alasannya. Selama ini, Bellatrix yang lama selalu mengenakan riasan yang sangat tebal dan berat, bahkan di pagi hari sekalipun, hanya agar terlihat lebih mencolok dan sesuai selera Putra Mahkota.

Sayangnya, kualitas kosmetik yang ia gunakan tidaklah sebaik yang ia bayangkan banyak yang mengandung bahan kasar atau kurang cocok dengan jenis kulitnya. Ditambah lagi, ia sama sekali tidak peduli dengan perawatan dasar, sehingga seiring waktu kulitnya menjadi tertekan, kusam, dan kehilangan kilau alaminya.

Bellatrix menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala.

“Tidak heran rasanya ada yang kurang pas. Dulu saat menjadi tentara di dunia lama, aku bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan perawatan kulit yang ada hanya pelatihan, misi, dan menjaga kondisi fisik agar tetap kuat. Riasan? Hampir tidak pernah aku gunakan. Tapi sekarang… aku punya tubuh yang indah, dan aku berhak merawatnya dengan baik. Tidak untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri.”

Saat ia bergerak sedikit, jari tangannya tanpa sengaja menyentuh sebuah cincin sederhana berwarna perak kusam yang melingkar rapi di jari manis tangan kirinya. Ia baru benar-benar memperhatikan benda itu, dan ingatan tentangnya langsung muncul dengan jelas.

Ini adalah Cincin Dimensi, peninggalan turun-temurun keluarga Volkov. Tidak terlihat mewah dari luar, namun di dalamnya tersimpan ruang sihir yang luas dan tak terbatas, seolah memiliki dunia kecil tersendiri. Ruang ini terpisah dari dunia nyata, waktu di dalamnya berjalan lebih lambat, sehingga barang-barang yang disimpan tidak akan pernah rusak, basi, atau lapuk. Hanya keturunan Volkov yang memiliki kesesuaian aliran sihir yang bisa membuka, mengakses, dan mengatur isinya sesuka hati.

Dengan rasa penasaran, ia menutup matanya sejenak dan menyalurkan seulas tenaga sihir ke dalam cincin itu. Seketika, ruang luas itu terbuka di dalam kesadarannya. Saat ia menjelajahi setiap sudut ruangan itu, ia menemukan satu bagian khusus yang membuat matanya berbinar penuh kegembiraan.

Saat ia menjelajahi setiap sudut ruangan itu, ia menemukan satu bagian khusus yang membuat matanya berbinar penuh kegembiraan.

Di sana tersusun rapi berbagai jenis perawatan kulit, minyak esensial, krim pelembap, sabun pembersih lembut, masker alami, hingga berbagai produk perawatan rambut dan tubuh yang terbuat dari bahan-bahan terbaik Kerajaan Arcadia. Ada juga rangkaian minyak wangi halus dan peralatan bersolek yang berkualitas tinggi, jauh lebih baik dibandingkan barang-barang yang dulu ia gunakan.

“Bagus sekali… ini semua yang aku butuhkan,” gumamnya pelan.

Dengan kemampuan mengatur ruang dimensi yang kini ia pahami, ia memindahkan satu per satu produk yang diperlukannya ke atas meja rias di kamar itu cairan pembersih, toner penyegar, pelembap yang ringan namun menutrisi, serum khusus untuk memulihkan kulit yang lelah, serta minyak perawatan rambut yang lembut. Ia juga menyiapkan kain lembut dan spons halus untuk membersihkan wajahnya.

Sambil mulai merawat kulitnya dengan gerakan perlahan dan teratur, rasa penasaran di hatinya kembali muncul. Ia baru ingat bahwa keluarga Volkov memiliki garis keturunan yang dikenal memiliki afinitas sihir yang sangat kuat. Ia memusatkan perhatiannya ke dalam diri sendiri, merasakan aliran energi yang mengalir di sepanjang pembuluh sihirnya.

Tiba-tiba, ia merasakan aliran energi yang lembut, dingin, dan tenang mengalir seperti air yang bergerak lancar tanpa hambatan.

“Sihir air…” bisiknya dalam hati.

Benar saja. Seperti yang tercatat dalam sejarah keluarga, afinitas utama keturunan Volkov adalah sihir air. Sihir ini bukan hanya sekadar mengendalikan air biasa, melainkan memiliki sifat yang sangat luas bisa digunakan untuk penyembuhan, pembersihan, menenangkan, hingga pertahanan yang kuat dan serangan yang mematikan jika dikuasai dengan baik.

Bellatrix tersenyum lega. Sebagai mantan tentara, ia sangat mengerti bahwa memiliki satu jenis sihir dasar saja tidak cukup jika ingin bertahan dan melindungi orang-orang tercinta.

“Sihir air adalah dasar yang sangat baik. Sifatnya fleksibel, bisa digunakan untuk banyak hal. Tapi aku tidak akan berhenti hanya di sini. Di dunia ini, ada banyak jenis sihir lain api, angin, tanah, cahaya, bahkan sihir ruang dan waktu. Selama tubuh ini memiliki kapasitas yang cukup, aku akan mempelajari semuanya sedikit demi sedikit. Aku ingin menguasai apa pun yang bisa membuatku lebih kuat dan mandiri.”

Ia melanjutkan perawatan wajahnya dengan penuh ketelitian, membiarkan bahan-bahan alami itu meresap ke dalam kulitnya. Seiring berjalannya waktu, ia bisa merasakan perbedaannya sendiri kulit yang tadinya terasa kaku dan kering perlahan menjadi lebih lembap, halus, dan rileks. Bahkan aliran sihir air di dalam dirinya seolah merespons, membantu menyalurkan nutrisi lebih dalam ke lapisan kulit, mempercepat pemulihan kondisi tubuhnya yang masih lemah akibat kecelakaan empat hari lalu.

Setelah selesai merawat wajah dan membersihkan sisa riasan lama yang menempel keras, ia melanjutkan merawat rambutnya. Ia mengoleskan minyak perawatan yang lembut, lalu menyisirnya perlahan hingga helai demi helai rambut biru terangnya menjadi lebih halus, berkilau alami, dan tidak lagi terasa kering atau kusut.

Saat ia kembali berdiri di depan cermin, perubahannya terlihat sangat mencolok.

Kulitnya yang sebelumnya kusam kini memancarkan kilau segar dan bersih, seolah memantulkan cahaya sendiri. Bekas tekanan akibat riasan tebal sudah hilang, meninggalkan permukaan yang halus dan lembut saat disentuh. Wajahnya yang memang sudah memiliki bentuk yang sempurna kini terlihat lebih alami, menawan, dan jauh lebih segar tanpa perlu ditutupi lapisan kosmetik yang berat. Matanya yang berwarna biru terang itu kini terlihat lebih hidup, lebih tajam, namun tetap lembut mencerminkan jiwa baru yang kini menghuni tubuh itu.

Bellatrix menatap bayangannya dengan rasa bangga dan puas.

“Ini baru aku. Cantik, alami, dan sehat. Dulu aku tidak punya waktu untuk merawat diri, tapi sekarang aku bisa melakukannya sepuasnya. Dan dengan kekuatan sihir air ini, aku bisa menjaga kondisi tubuh dan penampilan ini tetap terjaga dengan mudah.”

Ia menggerakkan jari-jarinya perlahan, dan setetes air jernih sebesar kacang polong muncul di atas telapak tangannya, melayang stabil di udara. Ia menggerakkannya ke kiri, ke kanan, lalu mengubah bentuknya menjadi lembaran tipis sebelum akhirnya menghilang kembali menjadi uap halus.

“Masih dalam tahap awal, tapi potensinya sangat besar. Mulai hari ini, selain membiasakan diri dengan kehidupan baru, aku juga akan mulai melatih sihir air ini secara serius, dan perlahan mempelajari jenis sihir lain yang bisa dikuasai. Cincin dimensi ini juga akan sangat berguna ada buku-buku sihir dan panduan pelatihan di dalamnya, bukan hanya senjata dan barang kebutuhan.”

Dengan hati yang tenang dan penuh semangat, ia mengenakan gaun yang disiapkan para pelayan sederhana namun anggun, tanpa hiasan berlebihan yang bisa mengganggu pergerakannya. Ia memastikan cincin dimensi tetap tersembunyi rapi di jari tangannya, tidak menarik perhatian siapa pun.

Saat ia melangkah keluar kamar menuju ruang makan, tatapannya sudah penuh keyakinan. Ia tahu, perjalanan baru ini tidak akan selalu mudah, tapi ia memiliki keluarga yang menyayanginya, kekuatan yang terus berkembang, dan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri sepenuhnya.

 

Bellatrix melangkah perlahan menuju ruang makan, langkahnya masih sedikit lemah namun terasa jauh lebih ringan dibandingkan tadi pagi. Begitu tiba di ambang pintu, pandangannya langsung tertuju pada dua sosok yang sudah menunggunya Duke Leonidas Volkov yang duduk di ujung meja utama, dan Duchess Elara Volkov yang duduk di sebelahnya, keduanya menoleh serentak begitu mendengar langkah kakinya.

Saat melihat penampilan putrinya yang baru, mata mereka terbelalak takjub.

Rambut biru terangnya terurai rapi, berkilau lembut seolah memancarkan cahaya sendiri. Kulitnya kini terlihat bersih, halus, dan bercahaya alami tanpa sedikit pun riasan tebal yang biasa ia kenakan. Matanya yang juga berwarna biru terang memandang mereka dengan tatapan lembut dan jernih, jauh berbeda dari sorot mata dingin atau penuh obsesi yang dulu sering mereka lihat. Gaun yang dikenakannya sederhana namun sangat cocok, membuatnya terlihat lebih segar, lebih muda, dan jauh lebih menawan dari sebelumnya.

“Ya Dewi Sihir… lihatlah dia, Leonidas,” bisik Elara dengan suara penuh kekaguman, matanya kembali berkaca-kaca. “Sejak kapan dia terlihat begitu alami dan bersinar seperti ini?”

Leonidas mengangguk perlahan, senyum tipis namun tulus terukir di wajahnya yang biasanya tegas. “Memang benar. Inilah wujud asli putri kita. Lebih indah daripada yang pernah kita lihat sebelumnya.”

Begitu mendengar pujian itu, pipi Bellatrix sedikit memerah. Ia melangkah lebih dekat, lalu tanpa ragu langsung mendekati sisi ibunya dan bersandar lembut di lengan Elara, persis seperti anak kecil yang mencari tempat nyaman.

“Bunda… Ayah…” panggilnya dengan suara lembut dan sedikit merajuk, terasa sangat akrab.

Elara segera mengelus punggung dan kepala putrinya dengan penuh kasih sayang, sementara Leonidas hanya menatap dengan tatapan hangat yang tak tersembunyi.

“Duduklah di sini, Nak. Jangan terlalu lelah berjalan,” ujar Elara sambil menarik kursi di sebelahnya agar Bellatrix bisa duduk dengan nyaman.

Begitu duduk, Bellatrix tidak langsung menyentuh makanan. Ia malah mendekatkan wajahnya ke bahu ibunya lagi, memejamkan mata sejenak sambil menghirup aroma wangi bunga yang selalu melekat pada pakaian Elara. Rasanya sangat menenangkan, membuat seluruh rasa lelah dan kekhawatiran di hatinya perlahan menghilang.

“Bunda baunya enak sekali… terasa tenang,” gumamnya pelan, suaranya terdengar manja dan lembut.

Elara terkekeh lembut, lalu mencium kening putrinya dengan sayang. “Dasar kamu ini. Dulu kamu hampir tidak pernah mau mendekat atau bahkan bicara lama dengan Bunda. Sekarang malah lengket seperti ini… Bunda sangat senang sekali.”

Mendengar itu, Bellatrix hanya tersenyum malu, lalu mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah ayahnya. Matanya yang jernih menatap Leonidas dengan tatapan yang penuh kekaguman, persis seperti cara ia memandang ayahnya di dunia lama.

Leonidas mengangkat tangannya yang besar dan kasar karena sering memegang senjata, lalu mengusap lembut kepala putrinya.

Setelah suasana semakin hangat, para pelayan mulai menyajikan hidangan yang beraneka ragam sup hangat yang beraroma sedap, daging panggang yang empuk, sayuran segar yang ditanam di kebun sendiri, hingga roti lembut dan buah-buahan manis.

Bellatrix menatap makanan itu dengan pandangan bersemangat, namun saat ia ingin mengambil sendoknya, tangannya terasa sedikit gemetar karena masih lemah. Tanpa berpikir panjang, ia menoleh lagi ke ibunya dengan wajah memelas dan sedikit merajuk.

“Bunda… tanganku masih agak lemas. Bisa tolong ambilkan sedikit untukku? Yang lembut saja ya, yang tidak terlalu keras,” pintanya dengan nada manja yang tak pernah terdengar sebelumnya dari mulut Bellatrix.

Elara hanya tersenyum lebar, hatinya terasa meluap-luap bahagia. “Tentu saja, sayang. Bunda siapkan yang terbaik untukmu.”

Ia segera mengambil piring kecil, lalu mengisinya dengan sup hangat yang bergizi, daging yang sudah dipotong kecil-kecil agar mudah dimakan, dan sedikit sayuran yang lembut. Sesekali ia menyuapi putrinya dengan lembut, dan Bellatrix menerimanya dengan senyum lebar, sesekali mengelap sisa kuah di sudut bibirnya sambil terus mengobrol dengan nada yang santai dan manja.

“Ayah… sup ini enak sekali. Ayah juga harus makan banyak ya, biar tetap kuat menjaga kita semua,” ucapnya sambil menatap Leonidas, lalu tanpa ragu mengambil sepotong daging dari piringnya sendiri dan menyuapkannya ke arah ayahnya.

Leonidas tertegun sejenak, matanya terasa panas. Ia menerima suapan itu dengan senyum bahagia, sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. “Baiklah, Ayah akan makan banyak. Asalkan kamu juga memulihkan tenagamu dengan cepat.”

Sepanjang makan siang itu, Bellatrix terus menunjukkan sisi manjanya. Ia bersandar ke ibunya saat merasa sedikit lelah, meminta tolong untuk memotongkan makanan, memuji setiap hidangan yang ada, dan sesekali mengeluh kecil jika ada yang terasa kurang pas namun semua itu terdengar sangat tulus dan membuat suasana menjadi hangat, bukan mengganggu.

Ia sadar, selama hidup sebagai tentara di dunia lama, ia tidak pernah bisa bersikap seperti ini. Ia harus selalu tegas, kuat, dan tidak boleh menunjukkan kelemahan sedikit pun. Tapi sekarang, di sini, di samping orang-orang yang menyayanginya tanpa syarat, ia merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri — menjadi anak bungsu yang sedikit manja, yang ingin mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang selama ini ia rindukan.

Di dalam hatinya, ia berjanji lagi. “Ini adalah kebahagiaan yang tidak akan pernah aku lepaskan. Aku akan menjadi anak yang baik, sedikit manja tapi juga bisa melindungi mereka saat dibutuhkan. Hidup baru ini terasa sangat indah…”

Sementara itu, Duke dan Duchess hanya saling bertukar pandang sesekali, dengan senyum bahagia yang tak terhapuskan dari wajah mereka. Meskipun perubahan sikap putrinya terasa sangat drastis, mereka tidak mempertanyakannya. Yang mereka tahu hanyalah satu hal: Bellatrix mereka sudah kembali, dan kali ini dia jauh lebih baik dari sebelumnya.

 

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
khemjira
lnjt ka, cium aja udh🤭🤭🤭
Noveni Lawasti Munte
hahhaha si sbella tidak sadar masuk perangkap🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!