Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Harga Sebuah Ambisi
Saras merasa kedua tangannya semakin dingin. Bukan karena embusan AC di lobby hotel, melainkan karena waktu yang diberikan Bryan hampir habis, sementara Chantika tak kunjung ditemukan.
Bahkan petugas keamanan yang tadi memintanya menunggu pun tak kelihatan batang hidungnya.
"Kalau investasi ini gagal, tamat sudah riwayatku."
Ia mondar-mandir dengan gelisah. Sesekali pandangannya tertuju ke arah lift, berharap Chantika tiba-tiba muncul dari sana.
"Sudah lama aku mencari investor. Semua menolak berinvestasi. Hanya pria playboy itu satu-satunya harapanku. Tapi sekarang..."
Saras memijat pelipisnya.
Drrt...
Suara getar yang diiringi nada dering ponsel membuatnya tersentak. Hampir saja benda pipih itu terlepas dari genggamannya.
Nama yang muncul di layar membuat tenggorokannya mendadak terasa kering.
Bryan.
Saras menarik napas panjang sebelum akhirnya menerima panggilan itu.
"Waktumu sudah habis."
Suara Bryan terdengar dingin bahkan sebelum Saras sempat mengucapkan sepatah kata pun.
"Kakakmu, atau kamu yang datang ke kamarku. Kalau tidak, lupakan investasi itu."
Tut...
Panggilan langsung terputus.
"Sial!" desis Saras.
Hampir saja ia memekik jika tidak menyadari dirinya sedang berada di tempat umum.
Setelah beberapa saat terdiam, ia akhirnya melangkah menuju lift. Mau tak mau, ia harus menemui Bryan.
Tak lama kemudian, Saras berdiri di depan pintu kamar VIP milik Bryan. Tangannya terangkat perlahan.
Tok! Tok!
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Bryan berdiri di baliknya dengan wajah datar, tetapi sorot matanya menyiratkan ketidaksabaran.
"Jadi, kau tidak berhasil menemukan kakakmu?" tanyanya datar.
Saras menggeleng pelan. Jemarinya meremas erat tali tas yang menggantung di bahunya.
"Saya sudah meminta bantuan petugas keamanan mencarinya, Tuan. Tapi sampai saya ke sini, belum ada kabar."
Bryan menyunggingkan senyum tipis. "Kalau begitu, kau yang menggantikannya."
Ia membuka pintu lebih lebar. "Masuk."
"Tuan..." suara Saras bergetar. "Beri saya sedikit waktu lagi. Saya akan mencarikan wanita lain untuk Tuan."
Bryan menatapnya tanpa ekspresi. "Kau mau aku menunggu lagi?"
Saras terdiam.
"Kau pikir aku pria yang sesabar itu?"
Bryan melangkah mundur setengah langkah dari pintu, memberi jalan masuk.
"Masuk... atau pergi dari hadapanku sekarang juga."
Saras masih membeku di tempatnya. "Kalau aku pergi, semua usahaku selama ini akan sia-sia. Tapi kalau aku masuk ke dalam kamar playboy ini..."
Bryan menatapnya tajam. "Aku hitung sampai tiga."
Saras tanpa sadar menahan napas.
"Satu..."
Jantung Saras berdetak semakin kencang. Jemarinya mencengkeram tali tas hingga buku-buku jarinya memutih.
"Dua..."
Sebelum Bryan sempat mengucapkan angka berikutnya, Saras memejamkan mata sejenak. Lalu, dengan langkah berat, ia akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar.
Bryan menyunggingkan senyum sinis, lalu menutup pintu kamarnya. Tatapannya menyapu tubuh Saras dari ujung kepala hingga kaki tanpa sedikit pun berusaha menyembunyikannya.
"Tubuhmu tidak seseksi kakakmu." Pandangan Bryan kemudian terangkat menatap wajah Saras. "Dan wajahmu juga tidak secantik dia."
Ia melipat kedua tangan di depan dada. "Jadi, nilai investasiku akan berkurang."
"Mana bisa begitu?" protes Saras. "Kita sudah sepakat soal nominal investasinya."
"Kenapa tidak?" Bryan terkekeh pelan. "Barang yang kuterima tidak sesuai dengan perjanjian. Wajar kalau aku menurunkan nilainya, bukan?"
Gigi Saras mengatup rapat. "Dia menyamakanku dengan barang."
Dan yang lebih menyakitkan, ia kembali dibandingkan dengan Chantika. Dipandang lebih rendah dari kakak tirinya, hal yang selama ini paling ia benci.
Namun, bagaimanapun caranya, investasi itu harus ia dapatkan tanpa berkurang sedikit pun. Jika gagal, ia akan tetap menjadi seorang staf dan semakin diremehkan ayahnya.
Investasi ini adalah satu-satunya kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya juga memiliki kemampuan, meski bukan dengan cara yang akan pernah disetujui sang ayah.
"Aku masih perawan," ucap Saras akhirnya.
"Meski tubuhku tidak seseksi atau wajahku tidak secantik Kak Chantika..."
Kalimat itu terhenti di tenggorokannya. Hanya menggema di kepalanya.
Bryan mengangkat sebelah alis. "Yakin?"
"Kau akan tahu nanti," jawab Saras pelan sambil memalingkan wajah.
Bryan mengangguk-angguk kecil. Tatapannya kembali meneliti Saras. "Aku bisa tetap berinvestasi sesuai kesepakatan."
Ia berhenti sejenak, sengaja menggantung kalimatnya. "Tapi... semuanya tergantung padamu."
"Langsung saja," kata Saras singkat. "Setelah itu aku harus pulang."
Bryan tertawa pendek. "Sudah tidak sabar rupanya."
Ia melangkah mendekat. "Tenang saja. Malam ini akan menjadi malam yang tidak akan mudah kau lupakan."
Saras mengepalkan kedua tangannya. "Bagaimana mungkin aku melupakannya? Malam ketika aku harus menyerahkan kehormatanku pada pria tua bangka sepertimu. Mengorbankan harga diriku demi mendapatkan investasi ini."
Kalimat yang tak pernah terucap dari mulut Saras. Hanya bergema di kepalanya. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menguatkan dirinya.
"Sekarang," kata Bryan. "Lepas bajumu."
Saras membulatkan matanya.
"Kenapa?" tanya Bryan. "Kamu berharap aku melakukannya tanpa membuka bajumu?"
Saras tak menjawab.
"Aku mau melihat barang yang akan kupakai adalah barang bagus," lanjut Bryan. "Memastikan gak ada bagian yang terluka atau terlihat menjijikan.
Ingin rasanya Saras mengumpat dan menendang pria di depannya ini.
"Cepat buka," titah Bryan dengan suara rendah. Namun justru membuat Saras merasa tertekan. "Aku bukan orang yang sabar. Jika kau membuatku tak senang, maka investasi itu gak akan pernah ada."
Akhirnya Saras menurunkan tasnya. Melepaskan satu persatu kancing bajunya.
Bryan menatapnya tanpa berkedip. Sorot matanya penuh nafsu. Tanpa sadar menjilat bibirnya sendiri ketika melihat Saras melepaskan kemejanya.
Sumpah demi apapun, Saras ingin menghilang dari tempat itu detik itu juga. Kini hanya tersisa pakaian dalam yang menutupi tubuhnya.
"Cukup," kata Bryan.
Seketika Saras mengangkat wajahnya. "Kenapa?" batinnya. "Dia tak lagi menginginkan aku?"
...🔸🔸🔸...
..."Ambisi yang dibangun dengan mengorbankan orang lain sering kali menuntut pengorbanan yang lebih besar dari pemiliknya sendiri."...
..."Keserakahan selalu menawarkan jalan pintas, tetapi harga yang harus dibayar sering kali jauh lebih mahal daripada yang dibayangkan."...
..."Tak semua hukuman datang dari pengadilan. Sebagian hadir sebagai konsekuensi dari pilihan yang kita buat sendiri."...
..."Seseorang yang tega menjatuhkan orang lain demi kepentingannya sendiri akan memahami arti penyesalan ketika berada di posisi yang sama."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.
Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.
Penyandera minta disiapkan kendaraan.
Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Duuuuh malah terjadi tembak menembak.
Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.
Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.
Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.
Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.
Belum saatnya Enzo turun.
Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.
Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.
Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.
Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.
Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.
Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.
Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.
Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Chantika dan timnya sudah dikepung
Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.
Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.
Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.
Lawan lebih dari dua puluh orang.
Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.
Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.
Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.
Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.
Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.
Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.
Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.
Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.
Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.
Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.
Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.
Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.
Weleeehhh Saras
Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.
Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.
Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.
Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.
Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.
Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.
Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.
Chantika memimpin tim surveillance.
The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.
Pertempuran nanti malam bakal seru.