Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Kotak Kayu di Balik Tembok
Senter kecil yang tersemat di saku kemeja seragam Mahesa bergoyang seiring dengan gerakan tangannya yang lincah menyapu sudut-sudut rak paling belakang. Di bagian terdalam gudang arsip Graha Subroto ini, udara terasa tiga kali lebih pengap. Butiran debu makro beterbangan bebas, memantulkan cahaya senter seperti kunang-kunang di dalam kegelapan. Mahesa sesekali membenarkan letak masker kainnya yang sudah mulai terasa lembap oleh napasnya yang menderu teratur.
Ia baru saja selesai menata sekelompok dokumen bertuliskan tahun 1985 ketika ujung kemocengnya menyenggol selembar tripleks tebal yang bersandar pada dinding semen di balik rak paling pojok.
Prak.
Tripleks itu bergeser, jatuh tersandar ke badan rak besi, dan menyingkap sebuah pemandangan yang tidak biasa. Di balik papan penutup tadi, dinding semen gudang ternyata tidak rata. Ada sebuah rongga berbentuk persegi panjang yang sengaja dibuat melesak ke dalam, mirip sebuah loker rahasia yang sengaja disembunyikan dari cetak biru bangunan.
"Lho, ini kok ada lubang di tembok? Bukannya semennya harusnya rata ya?" gumam Mahesa pada dirinya sendiri, menyuarakan rasa penasarannya di tengah kesunyian gudang yang mencekam.
Ia melangkah mendekat, mengarahkan sorot senter sakunya tepat ke dalam rongga tersebut. Jantung pemuda itu berdegup sedikit lebih kencang saat cahayanya mengenai sebuah benda yang mendekam di dasar rongga tembok. Sebuah kotak kayu berukuran sekira kamus tebal terletak di sana, tertutup oleh lapisan debu hitam yang sangat pekat hingga menyamarkan corak aslinya.
Mahesa mengulurkan tangannya dengan hati-hati. Kulit jarinya yang kasar merasakan sensasi dingin dan permukaan kayu yang berserat kasar saat menyentuh pinggiran kotak tersebut. Dengan perlahan, ia menarik kotak itu keluar dari sarangnya.
Uhuk! Uhuk!
Debu tebal seketika rontok dan mengotori lantai semen, membuat Mahesa terbatuk kecil beberapa kali. Ia membawa kotak itu ke atas sebuah meja kayu kosong di dekatnya, lalu meletakkannya dengan perlahan seolah takut benda itu akan hancur menjadi serpihan.
"Kotak apaan ini ya? Berat banget untuk ukuran kayu selapuk ini," puji Mahesa pelan seraya mengusap permukaan atas kotak menggunakan ujung kain lap setengah basahnya.
Perlahan, rupa asli dari kotak itu mulai terlihat. Kayunya berwarna cokelat gelap mendekati hitam, dipenuhi ukiran-ukiran geometris kuno yang rumit di setiap sisinya. Di bagian tengah penutupnya, terdapat sebilah engsel besi kuningan yang sudah berkarat hijau, namun anehnya tidak menggunakan gembok sama sekali.
Mahesa menoleh ke arah pintu gudang yang tertutup rapat di kejauhan, memastikan situasi tetap aman. "Nggak apa-apa kali ya kalau dibuka? Penasaran juga isi barang tua perusahaan kayak begini," bisik Mahesa ragu, berbicara pada keheningan ruangan.
Dengan sedikit keraguan yang tersisa, jemari kurusnya menyentuh selot kuningan tersebut.
Krek.
Suara patahan kecil terdengar saat karat pada engsel itu menyerah pada tekanan tangan Mahesa. Penutup kotak kayu itu terbuka perlahan, mengeluarkan aroma yang sangat khas—bukan aroma busuk atau apek kertas biasa, melainkan wangi samar mirip kayu cendana campuran minyak atsiri kuno yang langsung menenangkan sistem sarafnya yang sempat tegang akibat stres kerjaan tadi siang.
Di dalam kotak yang dilapisi kain sutra merah yang sudah koyak dan memudar warnanya, tergeletak sebuah benda tunggal. Itu adalah sebuah kitab atau buku tebal berbahan lembaran kulit hewan yang dikeringkan, diikat rapi dengan tali rami hitam. Sampul kulitnya berwarna cokelat kekuningan, bertekstur kasar seperti kulit menjangan tua, dan di permukaannya tertulis beberapa karakter aksara kuno berlekuk-lekuk yang sama sekali tidak dipahami oleh Mahesa.
"Ini... buku apa ya? Kok bukan kertas hvs atau dokumen kantor? Malah kayak barang museum," gumam Mahesa dengan dahi berkerut, menatap heran ke dalam kotak kayu tersebut.
Ia mengulurkan tangan untuk menyentuh sampul kulit kitab itu. Tepat saat ujung telunjuknya menempel pada permukaan kulit pembungkusnya, Mahesa tersentak kecil. Sebuah sensasi hangat, mirip sengatan listrik statis yang sangat lembut namun bertenaga, menjalar dari ujung jarinya, naik ke lengan, hingga berdesir di dalam rongga dadanya. Mahesa refleks menarik tangannya kembali, menatap telapak tangannya sendiri dengan bingung.
"Kok tiba-tiba badanku rasanya hangat begini? Apa karena ruangannya pengap ya?" tanya Mahesa pada dirinya sendiri, mencoba mencari penjelasan rasional atas fenomena aneh yang baru saja dialaminya.
Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran-pikiran aneh. Rasa penasarannya justru semakin membubung tinggi. Mahesa kembali mengulurkan tangan, dan kali ini ia langsung menggenggam kitab kulit tersebut lalu mengangkatnya keluar dari dalam kotak kayu lapuk. Kitab itu terasa sangat solid dan mantap di dalam genggamannya. Saat ia membalik kitab tersebut, beberapa lembar bagian dalamnya sedikit terbuka, memperlihatkan guratan tinta hitam tebal berupa gambar siluet tubuh manusia dengan garis-garis petunjuk arah yang rumit, serta tulisan tangan beraksara aneh di sampingnya.
"Aneh banget, gambarnya kayak jalur urat tubuh. Tapi kok ada aksara jawa kuno atau sanksekerta begini ya? Aku sama sekali nggak bisa baca," tutur Mahesa lirih sembari membalik halaman demi halaman dengan sangat hati-hati, takut merusak lembaran kulit yang tampak sangat berharga itu.
Di tengah keasyikannya mengamati kitab tersebut, suara langkah kaki samar dari arah lorong luar mendadak memutus konsentrasinya. Mahesa tersentak kaget. Naluri bertahan hidupnya sebagai seorang OB yang sering disalahkan langsung mengambil alih. Jika ada supervisor atau pihak manajemen yang memergokinya memegang barang antik misterius seperti ini di area terbengkalai, ia pasti akan dituduh mencuri atau merusak aset kuno perusahaan.
"Aduh, ada orang jalan ke sini. Harus cepat-cepat disimpan," desis Mahesa dengan kepanikan yang mulai merayap di dadanya.
Dengan gerakan cepat namun penuh kehati-hatian, ia memasukkan kembali kitab kulit itu ke dalam kantong plastik putih tempat baju kotornya yang ia letakkan di dekat ember pel. Ia kemudian menutup kembali kotak kayu yang sudah kosong itu, memasukkannya kembali ke dalam rongga tersembunyi di balik tembok semen, dan menggeser kembali lembaran tripleks tebal ke posisi semula agar terlihat seperti sedia kala.
Tepat saat Mahesa kembali memegang kemoceng nya dan berpura-pura sibuk menyapu bagian atas rak besi, suara langkah kaki itu perlahan menjauh, rupanya hanya petugas sekuriti yang sedang melakukan patroli rutin di area parkir logistik luar tanpa berniat masuk ke dalam gudang arsip.
Mahesa mengembuskan napas lega yang teramat panjang, menyandarkan tubuhnya pada rak besi sembari memegangi dadanya yang berdegup kencang karena tegang. Pandangannya langsung tertuju pada kantong plastik putih di bawah sana, di mana kitab kulit kuno itu kini tersembunyi dengan aman di balik tumpukan baju seragam cadangannya yang belum dicuci.
"Hampir saja. Kalau ketahuan bisa habis aku didepak dari sini," bisik Mahesa dengan rasa lega yang membuncah.
Ia menatap jam tangan murahnya yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Waktu sudah menunjukkan hampir jam setengah lima sore, menandakan waktu sif kerjanya telah resmi berakhir. Mahesa segera merapikan semua peralatan kebersihannya, memasukkan botol cairan pembersih dan kain lap ke dalam ember, lalu menjinjing kantong plastik putihnya dengan erat seolah benda di dalamnya adalah harta karun yang paling berharga.
Sambil melangkah meninggalkan kegelapan gudang tua menuju pintu keluar, pikiran Mahesa tidak bisa lepas dari sensasi kehangatan misterius yang tadi sempat menjalar ke tubuhnya saat pertama kali menyentuh kitab tersebut. Ada seulas rasa penasaran yang mendalam, sekaligus seberkas harapan aneh yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Pemuda culun yang terbiasa hidup terasing dan penuh penderitaan itu kini melangkah membelah koridor basement dengan sebuah rahasia besar yang terbungkus rapi di dalam kantong plastiknya, siap untuk dibawa pulang ke rumah petak sempit tempat Neneknya menanti.