SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 – Objek Tanpa Jejak
Dek komando berubah sibuk.
Semua mata tertuju pada layar utama.
Sebuah objek berbentuk tidak beraturan melayang di depan ESS Horizon.
Warnanya gelap.
Hampir menyatu dengan ruang angkasa di sekitarnya.
Kapten Idris berdiri.
"Status?"
Rina menjawab lebih dulu.
"Objek tetap berada di posisi yang sama."
"Kecepatannya?"
"Nol."
"Niko."
"Ya, Kapten?"
"Hentikan kapal pada jarak aman."
"Baik."
ESS Horizon mengurangi kecepatan hingga berhenti sekitar tiga ratus ribu kilometer dari objek tersebut.
---
AURA mulai melakukan analisis.
"Diameter objek: 3,2 kilometer."
"Bentuk menyerupai asteroid."
"Tetapi..."
"Tetapi apa?" tanya Kael.
"Komposisi permukaannya bukan batuan."
Hana langsung berdiri.
"Perbesar hasil pemindaian."
Grafik unsur kimia muncul di layar.
Hana membaca satu per satu.
"Besi..."
"Nikel..."
"Titanium..."
Ia menggeleng.
"Mustahil."
Darius menatapnya.
"Kenapa?"
"Asteroid tidak memiliki komposisi seperti ini."
"Lalu?"
"Ini benda buatan."
Ruangan kembali sunyi.
---
"Leo."
Kapten Idris menoleh.
"Coba kirim sinyal komunikasi."
"Baik."
Leo mengirimkan transmisi standar PPM.
"Di sini kapal eksplorasi ESS Horizon milik Persemakmuran Persatuan Manusia."
"Kami datang dengan damai."
"Kami meminta identifikasi."
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada jawaban.
Leo mencoba lagi.
Tetap hening.
---
Reza menyilangkan tangan.
"Aku tidak suka."
Kael menoleh.
"Kenapa?"
"Benda sebesar itu tiba-tiba muncul."
"Tidak mengirim sinyal."
"Tidak bergerak."
"Kalau itu jebakan?"
Kapten Idris menjawab singkat.
"Itulah alasan kita belum mendekat."
---
Sementara itu, Owen menjalankan drone pengintai.
"Drone Satu siap."
"Drone Dua siap."
Kedua drone melaju menuju objek.
Jarak dua ratus ribu kilometer.
Semua sistem normal.
Seratus ribu kilometer.
Masih normal.
Lima puluh ribu kilometer.
Tiba-tiba layar drone dipenuhi gangguan.
"Drone kehilangan stabilitas," lapor Owen.
"AURA?"
"Gangguan elektromagnetik meningkat."
"Masih bisa diteruskan?"
"Bisa."
Owen mengangguk.
"Aku lanjutkan."
---
Saat jarak tinggal sepuluh kilometer...
gambar menjadi kembali jernih.
Seluruh kru memperhatikan bentuk objek itu.
Permukaannya dipenuhi pola-pola geometris.
Tidak ada kawah.
Tidak ada retakan alami.
Hanya garis-garis yang tersusun sangat rapi.
Lyra berbisik pelan.
"Ini bukan asteroid."
Hana mengangguk.
"Ini sebuah struktur."
---
Drone mulai mengitari objek.
Tiba-tiba Rina menunjuk layar.
"Berhenti."
Owen menghentikan rekaman.
"Ada apa?"
"Itu."
Di salah satu sisi struktur tampak sebuah lambang yang hampir tertutup lapisan debu kosmik.
Leo memperbesar gambar.
Lambang itu perlahan terlihat jelas.
Semua orang mengenalinya.
"Itu lambang PPM," kata Darius.
Kael mengerutkan dahi.
"Bagaimana mungkin?"
Struktur itu jelas bukan buatan manusia.
Namun di permukaannya terdapat lambang resmi PPM.
---
"Perbesar lagi."
Resolusi ditingkatkan.
Di bawah lambang tersebut terdapat tulisan.
Rina membaca perlahan.
"Pos..."
Huruf berikutnya rusak.
"...Observasi..."
Hana melanjutkan.
"...Nomor..."
Sebagian tulisan hilang.
"...Tujuh."
Ruangan menjadi hening.
Kael menoleh ke Kapten Idris.
"PPM pernah membangun stasiun di sini?"
Kapten Idris menggeleng.
"Tidak ada dalam arsip yang kubaca."
AURA tiba-tiba menjawab.
"Data ditemukan."
Seluruh kru menoleh.
"Pos Observasi Tujuh."
"Status: Rahasia tingkat Omega."
"Tahun pembangunan: 2361."
"Itu berarti..." gumam Mira.
"Seratus dua puluh enam tahun yang lalu," jawab Rina.
---
Sebelum ada yang sempat berbicara...
alarm darurat berbunyi nyaring.
"AURA!"
teriak Kael.
"Sumber energi terdeteksi."
"Asalnya?"
"Objek di depan."
Permukaan struktur yang tadinya gelap mulai memancarkan cahaya biru.
Garis-garis geometris menyala satu demi satu.
Seolah-olah...
struktur itu baru saja aktif kembali.
"Energinya meningkat cepat!" seru Darius.
"Apakah menyerang kita?" tanya Reza.
"Belum."
"Tapi saya mendeteksi perubahan gravitasi di sekitar objek," jawab AURA.
ESS Horizon mulai bergetar pelan.
Lampu di dalam kapal berkedip beberapa kali.
Owen memegang konsol kendalinya.
"Kapten!"
"Dua droneku..."
"...tidak merespons lagi."
Layar kedua drone berubah hitam.
Beberapa detik kemudian...
kembali menyala.
Namun gambar yang muncul bukan lagi permukaan struktur.
Melainkan sebuah lorong logam panjang yang diterangi cahaya putih.
Seolah-olah...
kedua drone itu telah berpindah ke bagian dalam objek.
Padahal...
tidak ada satu pun rekaman yang menunjukkan mereka memasuki pintu atau celah apa pun.