NovelToon NovelToon
Janji Di Atas Kertas

Janji Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Neng Wendah

Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.

Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.

Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ Kejutan Manis

Mobil Lexus hitam yang dikendarai Reno melaju dengan tenang meninggalkan hiruk-pikuk pusat kota menuju kawasan perbukitan yang lebih asri di pinggiran Jakarta. Langit siang tampak cerah setelah hujan semalam. Sisa-sisa air masih berkilau di permukaan dedaunan, sementara udara terasa jauh lebih sejuk dan segar daripada biasanya.

Aura duduk nyaman di kursi penumpang, sesekali menoleh ke luar jendela sambil memperhatikan pemandangan yang perlahan berubah. Gedung-gedung tinggi mulai berganti dengan pepohonan rindang, jalanan yang lebih lengang, dan hamparan taman yang tertata indah.

Sejak tadi, rasa penasaran memenuhi benaknya.

Ia sudah beberapa kali bertanya kepada Reno mengenai tujuan mereka, tetapi sang suami hanya menjawab dengan senyum tipis yang penuh misteri.

"Mas sebenarnya mau bawa aku ke mana?" tanya Aura untuk kesekian kalinya.

Reno melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali memusatkan perhatian pada jalan.

"Kalau Mas kasih tahu sekarang, nanti kejutan kecilnya jadi tidak seru."

Aura mengembuskan napas panjang, pura-pura kesal.

"Mas ini..."

Reno terkekeh pelan.

"Tunggu sebentar lagi."

Aura akhirnya hanya bisa menggeleng sambil tersenyum. Namun, beberapa saat kemudian, sesuatu yang jauh lebih sederhana kembali membuat hatinya berdebar.

Tangan kanan Reno yang tidak sedang digunakan untuk mengemudi perlahan bergerak menuju konsol tengah. Jemari tegap itu mencari tangan Aura tanpa perlu melihat.

Begitu menemukan jemari lentik istrinya, Reno langsung menggenggamnya.

Jari-jari mereka bertaut dengan erat.

Ibu jari Reno mengusap punggung tangan Aura perlahan, berulang kali, seolah sentuhan sederhana itu merupakan caranya untuk memastikan bahwa wanita yang dicintainya benar-benar berada di sampingnya.

Aura menunduk menatap tangan mereka yang saling menggenggam.

Senyum kecil muncul di sudut bibirnya.

"Mas..."

"Hm?"

"Aku suka kalau Mas begini."

Reno tersenyum tanpa melepaskan pandangan dari jalan.

"Kalau begitu, Mas akan lebih sering begini."

Pipi Aura menghangat.

Ia tidak menjawab lagi, hanya membiarkan jemarinya semakin erat menggenggam tangan Reno.

Beberapa menit kemudian, kendaraan itu berhenti di depan sebuah restoran fine dining eksklusif yang berdiri anggun di atas perbukitan. Bangunannya didominasi kaca lebar dan kayu bernuansa hangat, sementara dari area balkon privat terlihat hamparan lanskap Jakarta yang terbentang luas.

Reno mematikan mesin, kemudian turun lebih dahulu.

Ia berjalan mengitari kendaraan dan membukakan pintu untuk Aura.

"Silakan, Nyonya Reno."

Aura tertawa kecil mendengar panggilan itu.

"Sejak kapan Mas mulai memanggilku begitu?"

"Sejak Mas semakin suka melihat kamu tersenyum."

Aura terdiam sesaat.

Kalimat sederhana itu berhasil membuat hatinya berdesir lebih kuat daripada yang seharusnya.

Ia menerima uluran tangan Reno dan turun dari mobil.

"Kita makan siang di sini?" tanyanya.

"Iya."

Aura melihat sekeliling.

Restoran tersebut terlihat sangat sepi. Tidak ada keramaian, tidak ada suara percakapan tamu, bahkan beberapa meja tampak sengaja dikosongkan.

"Mas... kok sepi sekali?"

Reno hanya tersenyum.

"Mas sudah meminta pengelola menutup area ini sementara."

Aura membulatkan mata.

"Untuk kita?"

"Untuk kita."

Reno menggenggam tangan Aura dan membawanya memasuki restoran.

"Mas ingin hari ini kamu bisa menikmati waktu tanpa harus memikirkan pekerjaan, kamera, berita, atau orang lain."

Dada Aura menghangat.

Ia menatap pria di sampingnya dengan penuh rasa syukur.

"Mas selalu saja melakukan hal-hal seperti ini."

"Karena kamu pantas mendapatkannya."

Mereka kemudian tiba di balkon privat.

Sebuah meja makan telah disiapkan dengan sangat indah. Bunga-bunga segar berwarna putih dan merah muda menghiasi bagian tengah meja. Alunan piano instrumental terdengar lembut dari kejauhan, sementara angin perbukitan bergerak perlahan melewati area balkon.

Aura berdiri beberapa saat, menikmati semuanya.

"Indah sekali..."

Reno memperhatikan wajahnya, bukan pemandangan di hadapan mereka.

"Mas lebih suka melihat kamu yang sedang bahagia."

Aura menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Kemudian Aura tersenyum malu dan menarik tangannya perlahan.

"Ayo makan."

Reno tertawa rendah.

"Baik."

Makan siang berlangsung hangat dan penuh percakapan kecil. Reno beberapa kali memastikan Aura menikmati hidangannya, sementara Aura sesekali menceritakan hal-hal ringan yang terjadi di tempat kerja.

Namun, di tengah percakapan itu, Reno tiba-tiba menjadi lebih serius.

"Aura."

Aura meletakkan sendoknya.

"Iya, Mas?"

Reno mengulurkan tangan melewati meja dan meraih jemari Aura.

Genggamannya hangat.

"Waktu pertama kali Mas menawarkan perjanjian pernikahan satu tahun itu..." Reno berhenti sejenak. "Mas memang hanya berpikir bagaimana caranya membantu kamu melunasi utang almarhum Bapak dan memastikan Ibu mendapatkan perawatan terbaik."

Aura diam mendengarkan.

"Tapi Mas tidak pernah menyangka semuanya akan berubah seperti ini."

Tatapan Reno semakin dalam.

"Mas tidak lagi menghitung hari. Tidak lagi memikirkan kapan satu tahun itu berakhir."

Bibir Aura bergetar kecil.

"Kenapa?"

Reno mengusap punggung tangan istrinya.

"Karena sekarang Mas sadar, yang Mas takutkan bukan berakhirnya perjanjian itu."

Ia menarik napas perlahan.

"Yang Mas takutkan justru kehilangan kamu."

Mata Aura seketika berkaca-kaca.

Reno melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.

"Rumah terasa berbeda sejak ada kamu. Pulang kerja terasa berbeda karena ada seseorang yang menunggu. Bahkan hari-hari yang paling melelahkan terasa lebih ringan hanya karena Mas tahu ada kamu di sana."

Air mata mulai menggenang di mata Aura.

"Mas..."

"Sekarang Mas tidak ingin kamu berada di sisi Mas karena sebuah dokumen."

Reno menggenggam tangannya lebih erat.

"Mas ingin kamu tetap di sisi Mas karena kita sama-sama memilih."

Aura menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Mas mencintai kamu, Aura Zhafira."

Kalimat itu sederhana.

Namun bagi Aura, rasanya seperti seluruh dunia berhenti bergerak.

"Mas mencintai kamu bukan karena perjanjian. Bukan karena kewajiban. Dan bukan karena rasa kasihan."

Reno tersenyum lembut.

"Mas mencintai kamu karena kamu adalah kamu."

Air mata Aura akhirnya jatuh.

Ia buru-buru mengusapnya, tetapi Reno lebih dahulu mengulurkan tangannya dan menyeka air mata itu dengan ibu jarinya.

"Jangan menangis."

"Aku bahagia, Mas..."

"Kalau begitu, tersenyumlah."

Aura tertawa kecil di sela tangisnya.

"Aku juga mencintai Mas."

Reno terdiam.

Seolah pengakuan itu tetap mampu membuatnya kehilangan kata-kata meskipun selama ini ia telah menunggu kalimat tersebut.

Aura membalas genggaman tangannya.

"Aku mungkin dulu takut berharap terlalu jauh. Aku takut suatu hari Mas benar-benar pergi ketika perjanjian itu selesai."

Ia menarik napas.

"Tapi sekarang aku tahu... aku tidak perlu takut lagi."

Senyum Reno perlahan mengembang.

"Karena Mas tidak akan pergi."

"Janji?"

"Janji."

Untuk beberapa saat, mereka hanya saling memandang.

Kemudian Reno berdiri dari kursinya.

Aura sempat mengernyit bingung ketika pria itu berjalan menghampirinya.

Namun Reno justru berlutut dengan satu kaki di hadapannya.

Aura langsung menahan napas.

"Mas..."

Reno meraih kedua tangan Aura dan menggenggamnya dengan penuh kelembutan.

"Mulai hari ini, Mas ingin menghapus satu-satunya hal yang masih mengingatkan kita pada awal hubungan kita."

Ia mengambil sebuah kotak kecil dari saku jasnya.

Ketika kotak itu dibuka, sebuah cincin berlian dengan desain elegan berkilau diterpa cahaya siang.

Mata Aura membesar.

"Mas..."

"Ini bukan pengganti perjanjian."

Reno tersenyum.

"Ini tanda bahwa Mas memilih kamu lagi. Kali ini tanpa batas waktu."

Air mata Aura kembali mengalir.

"Maukah kamu memakai cincin ini dan menjadi pendamping Mas sampai akhir hidup kita?"

Aura mengangguk berkali-kali.

"Iya, Mas."

Suaranya bergetar.

"Aku mau."

Reno mengambil tangan Aura dengan hati-hati, lalu menyematkan cincin itu ke jari manisnya.

Begitu cincin tersebut terpasang sempurna, Aura tidak mampu lagi menahan rasa harunya.

Ia bangkit dari kursi dan langsung memeluk Reno.

Reno membalas pelukan itu dengan erat.

Satu tangannya mengusap punggung Aura perlahan, sementara tangan lainnya menjaga kepala sang istri tetap nyaman di dadanya.

"Terima kasih, Mas..."

"Untuk apa?"

"Sudah membuatku merasa dipilih."

Reno menundukkan kepalanya.

"Karena memang kamu yang Mas pilih."

Aura semakin erat memeluknya.

Beberapa saat kemudian, Reno perlahan melepaskan pelukan itu.

Kedua tangannya berpindah menangkup wajah Aura.

Ia menghapus sisa air mata di pipi istrinya dengan gerakan sangat lembut.

"Mas mencintaimu."

Aura tersenyum.

"Aku juga mencintai Mas."

Reno mendekat.

Namun ia berhenti sejenak, memberikan kesempatan bagi Aura untuk menunjukkan bahwa ia menginginkan hal yang sama.

Aura tidak mundur.

Sebaliknya, ia mengangkat wajah sedikit dan memejamkan mata.

Reno kemudian mengecup keningnya terlebih dahulu.

Lembut.

Lama.

Penuh rasa syukur.

Kecupan berikutnya mendarat di pipi kanan Aura, lalu di pipi kirinya.

Aura tersenyum kecil dalam keadaan mata masih terpejam.

"Mas..."

"Hm?"

"Kalau terus begitu, aku tambah malu."

Reno tersenyum.

"Memangnya Mas tidak boleh membuat istrinya malu?"

Aura membuka mata dan menatapnya.

"Boleh... tapi jangan terlalu lama."

Reno terkekeh.

"Baik."

Ia kemudian menundukkan wajah dan memberikan kecupan lembut di bibir Aura.

Hanya sebentar.

Namun cukup untuk membuat hati keduanya berdebar.

Ketika Reno hendak menjauh, Aura justru menarik sedikit ujung jasnya.

Gerakan kecil itu membuat Reno berhenti.

Aura tersenyum malu.

"Kok berhenti?"

Tatapan Reno seketika melembut.

Ia kembali mendekat dan mengecup bibir Aura sekali lagi.

Kali ini sedikit lebih lama, tetapi tetap lembut dan penuh kehati-hatian.

Tidak ada tuntutan.

Tidak ada paksaan.

Hanya dua orang yang akhirnya menemukan keberanian untuk mencintai tanpa rasa takut.

Ketika mereka berpisah, dahi keduanya masih saling bertaut.

Aura tersenyum malu.

Reno mengusap pipinya.

"Bahagia?"

Aura mengangguk.

"Sangat."

Reno mengecup ujung hidungnya dengan gemas.

"Kalau begitu, hari ini adalah hari yang sempurna."

Aura tertawa kecil dan kembali bersandar di dada Reno.

Mereka berdiri cukup lama di balkon itu, menikmati angin yang berembus lembut dan pemandangan kota yang terbentang jauh di hadapan mereka.

Di jari manis Aura, cincin baru itu berkilau diterpa cahaya.

Bukan lagi lambang sebuah perjanjian.

Melainkan simbol pilihan.

Pilihan untuk tetap tinggal.

Pilihan untuk saling menjaga.

Dan pilihan untuk mencintai satu sama lain tanpa batas waktu.

1
Anonim
Karya yang bagus 👍
Neng Wendah: terimakasih😊 🙏
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirr👍
Neng Wendah: Terima kasih banyak Kak Rian sudah mampir! Selamat menikmati kisahnya ya 😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!