Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Kejutan Manis
Mobil Lexus hitam yang dikendarai Reno melaju mulus menuju kawasan bernuansa asri di pinggiran kota. Langit siang tampak cerah setelah hujan semalam, menyisakan udara yang jauh lebih sejuk daripada biasanya. Pepohonan di sepanjang jalan bergoyang perlahan diterpa angin, menghadirkan suasana damai yang membuat hati Aura ikut merasa ringan. Sepanjang perjalanan, Aura sempat bertanya-tanya ke mana sang suami akan membawanya, namun Reno hanya membalasnya dengan senyuman misterius yang teramat menawan.
Sesekali Aura menoleh ke arah Reno yang fokus mengemudi. Pria itu tampak begitu tenang dan berwibawa. Satu tangannya memegang setir, sementara tangan yang lain bergerak aktif di atas konsol tengah, mencari jemari Aura. Begitu menemukannya, Reno menyusupkan jari-jarinya ke sela-sela jari Aura, menautkannya dengan erat, lalu mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jari secara perlahan. Sentuhan kulit yang hangat dan intim itu seketika mengirimkan desiran halus yang membuat pipi Aura menghangat.
Kendaraan mewah itu akhirnya berhenti di depan sebuah restoran fine dining bernuansa privat yang berdiri anggun di atas perbukitan kecil. Dari area restoran tersebut, pemandangan lanskap kota Jakarta yang megah membentang indah tanpa batas.
Reno berputar dan membukakan pintu untuk Aura secara ksatria. Pria tegap itu menundukkan tubuhnya sedikit, mengulurkan tangannya yang kokoh, yang langsung disambut hangat oleh jemari Aura.
"Kita makan siang di sini ya, sayang," ucap Reno lembut, suaranya terdengar begitu menenangkan di telinga Aura.
Aura melangkah keluar dari mobil, lalu menatap sekeliling restoran yang tampak sangat tenang dan sepi dari pengunjung lain. Tidak ada deru kendaraan atau obrolan tamu-tamu seperti restoran pada umumnya. "Mas... kok sepi banget? Restorannya belum buka ya?"
Reno terkekeh pelan, suara tawa rendahnya terdengar seksi. Ia menarik tangan Aura sedikit lebih dekat, hingga lengan mereka bersentuhan erat saat melangkah masuk menuju area balkon khusus yang menghadap ke pemandangan kota. "Mas sudah menyewa seluruh area tempat ini khusus untuk kita berdua hari ini, sayang. Supaya kamu bisa bersantai menikmati waktu kita tanpa ada gangguan dari siapa pun."
Dada Aura mendesir hangat, dipenuhi rasa tak percaya. Perhatian Reno yang begitu mendalam dan selalu memprioritaskannya selalu berhasil melelehkan hatinya yang paling dalam.
Di meja makan balkon yang berhiaskan bunga-bunga segar bernuansa pink lembut dan putih, pelayan menyajikan hidangan spesial satu per satu. Wangi kelopak mawar berpadu dengan aroma hidangan premium yang menggugah selera. Suasana tempat itu begitu romantis, mewah, dan tenang, diiringi alunan musik instrumental piano yang syahdu, seolah-olah seluruh dunia sengaja mengalah demi memberikan ruang bagi mereka berdua.
Saat mereka menikmati sajian makanan, Reno tidak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari Aura. Ia menatap Aura yang tampak begitu anggun dan bersahaja dengan kerudung serta pakaian elegannya. Di bawah pendar cahaya siang yang lembut, wajah Aura terlihat begitu bersinar. Tatapan mata pria itu sarat akan rasa kagum, kehangatan, dan gairah posesif yang tak lagi bisa disembunyikan di balik topeng sikap dinginnya yang dulu.
"Aura," panggil Reno pelan, memecah keheningan yang manis di antara mereka.
Aura meletakkan sendoknya perlahan, menatap lurus ke dalam manik mata tajam dan gelap milik Reno. "Iya, Mas?"
Reno tidak langsung menjawab. Ia mengulurkan kedua tangannya melewati meja makan, meraih jemari Aura, lalu menggenggamnya dengan erat dan lembut. Ibu jarinya memberikan usapan memutar yang menenangkan di pergelangan tangan Aura, membuat detak jantung wanita itu kian berkejaran.
"Waktu pertama kali Mas menawarkan perjanjian pernikahan satu tahun itu... Mas akui, Mas hanya berpikir untuk membantumu melunasi utang Almarhum Bapak dan membiayai seluruh perawatan Ibu," tutur Reno dengan suara baritonnya yang dalam, jujur, dan sarat akan emosi yang bergolak. "Tapi sekarang... setelah setiap detik kita lalui bersama di bawah atap yang sama, Mas sadar satu hal yang sangat besar."
Binar mata Aura bergetar pelan, napasnya tertahan di dada, menunggu kalimat selanjutnya yang akan meluncur dari bibir sang suami.
"Mas tidak pernah lagi memikirkan batas waktu satu tahun itu, sayang. Dokumen itu sudah tidak ada artinya bagi Mas. Kehadiranmu yang selalu menyambut Mas di penthouse, senyum tulusmu setiap kali Mas pulang kerja dalam keadaan lelah, dan caramu memperlakukan Mas dengan penuh perhatian... semua itu sudah mengubah seluruh ego Mas," lanjut Reno seraya menatap kian dalam ke dalam manik mata Aura, seolah ingin menyatukan jiwa mereka. "Mas jatuh cinta padamu, Aura Zhafira. Sangat dalam, hingga Mas tidak bisa lagi membayangkan hidup Mas tanpa kamu di dalamnya. Mas ingin kamu jadi istri Mas selamanya, menjadi ibu dari anak-anak Mas, bukan cuma untuk satu tahun."
Air mata haru seketika menggenang di pelupuk mata Aura, perlahan luruh membasahi pipinya yang merona kemerahan. Dinding batas dari pernikahan kontrak yang selama ini membayangi pikirannya, membuat dirinya sering kali merasa takut untuk berharap lebih, kini runtuh tanpa sisa. Pengakuan tulus dari pria gagah dan perkasa di hadapannya ini adalah jawaban terindah atas seluruh doa yang diam-diam selalu ia panjatkan di setiap sepertiga malamnya.
Binar cinta yang membuncah dan dada yang bergemuruh hebat, Aura membalas genggaman tangan Reno, tidak lagi menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. "Mas Reno... aku juga sudah jatuh cinta sama Mas. Aku mencintaimu... Terima kasih sudah menjadi pelindung terbaik untuk aku dan Ibu selama ini."
Reno tersenyum sangat menawan, seulas senyuman penuh kebahagiaan murni yang membuat ketampanannya berlipat ganda. Di atas balkon yang indah itu, dua hati yang awalnya disatukan oleh sebuah lembar kesepakatan tertulis, kini telah resmi dilebur dan terikat kuat oleh ketulusan cinta sejati yang tak akan tergoyahkan.
Mendengar pengakuan balasan dari Aura, Reno tidak mampu lagi menahan jarak di antara mereka. Pria itu bangkit dari kursinya, melangkah mantap mendekati Aura. Sebelum Aura sempat bereaksi, Reno menarik kursi istrinya sedikit mundur, lalu menundukkan tubuhnya untuk berlutut dengan satu kaki di hadapan Aura, menyejajarkan wajah mereka.
Reno meraih kedua tangan Aura, membawanya ke bibirnya, lalu mencium telapak tangan Aura bergantian dengan kecupan yang lama, dalam, dan penuh takzim. Sentuhan bibir hangat Reno di kulit tangannya membuat Aura merinding hebat, menyebarkan gelombang getaran romantis yang memabukkan ke seluruh tubuhnya.
"Mulai hari ini, tidak akan ada lagi kertas kontrak yang mengikat kita," ucap Reno rendah, suaranya kini terdengar serak oleh gairah dan emosi. Dari saku jasnya, Reno mengeluarkan sebuah kotak beludru merah kecil. Saat membukanya, sebuah cincin berlian dengan desain klasik yang sangat indah berkilau mewah diterpa cahaya. "Maukah kamu memakai cincin ini sebagai tanda bahwa kamu bersedia mendampingi Mas hingga akhir hayat kita, Nyonya Reno?"
Aura mengangguk cepat di sela tangis bahagianya, air matanya kian deras mengalir. "Iya, Mas... aku mau."
Reno menyematkan cincin itu ke jari manis Aura secara perlahan. Begitu cincin terpasang sempurna, Aura langsung memajukan tubuhnya, menenggelamkan diri ke dalam pelukan hangat Reno. Sepasang lengan kekar Reno seketika melingkar protektif dan posesif di pinggang ramping Aura, mendekap tubuh mungil istrinya begitu erat, seolah ingin menyatukan kedua detak jantung mereka yang berdegup kencang dengan irama yang sama.
Reno menenggelamkan wajahnya di leher Aura yang terbalut kerudung, menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu menjadi candu baginya. Tangan kokohnya mengusap punggung Aura ke atas dan ke bawah dengan gerakan lambat yang menenangkan namun sarat akan keintiman fisik yang intens. Aura meremas bahu tegap Reno, menikmati kehangatan tubuh suaminya yang mendekapnya tanpa menyisakan celah udara di antara mereka.
Perlahan, Reno merenggangkan pelukan mereka, namun kedua tangannya beralih menangkup wajah Aura yang basah oleh air mata. Ibu jarinya dengan teramat lembut menghapus sisa air mata di pipi halus Aura. Pandangan mereka bertemu dari jarak yang sangat dekat, hanya menyisakan beberapa sentimeter. Napas Reno yang hangat berembus teratur, menerpa permukaan bibir Aura.
"Mas mencintaimu, Aura. Seluruh jiwa dan ragaku adalah milikmu," bisik Reno, matanya menggelap penuh gairah saat menatap bibir Aura yang sedikit terbuka.
Aura tidak mengalihkan pandangannya, matanya sayu dipenuhi rasa percaya yang mutlak. Ia memejamkan matanya lambat saat wajah Reno kian mendekat.
Detik berikutnya, Reno mendaratkan bibirnya di atas bibir Aura. Ciuman itu dimulai dengan kelembutan yang dalam, sebuah pagutan manis yang menyampaikan rasa syukur dan kasih sayang seorang suami kepada belahan jiwanya. Namun, seiring dengan debaran dada yang kian menggila, ciuman itu perlahan berubah menjadi lumatan yang intens, dalam, dan menuntut. Reno memiringkan kepalanya, memperdalam pagutan mereka, menghisap dan melumat bibir manis Aura dengan ritme yang memabukkan kesadaran.
Aura melenguh lirih di sela ciuman mereka, tangannya bergerak naik melingkar di leher tegap Reno, mencari pegangan karena rasa melayang yang luar biasa yang tiba-tiba menguasai dirinya. Setiap sentuhan bibir Reno memicu sengatan listrik yang membakar gairah romantis di dalam dirinya, membuatnya pasrah sepenuhnya dalam kendali sang suami. Reno mempererat dekapannya di pinggang Aura, membawa tubuh wanita itu kian menempel rapat pada tubuh tegapnya. Ciuman intim mereka mengalun begitu indah dan penuh penjiwaan di atas balkon privat tersebut, mengunci janji suci mereka dalam sebuah ciuman yang tak terlupakan.
Ketika pautan bibir mereka terlepas perlahan, Reno tidak menjauhkan wajahnya. Ia menempelkan keningnya pada kening Aura, membiarkan napas mereka yang memburu saling berkejaran di udara sejuk perbukitan. Aura membuka matanya yang sayu berair, menatap wajah tampan Reno dengan senyuman malu namun sarat akan cinta. Reno mengecup ujung hidung Aura dengan gemas, lalu merangkul bahu istrinya dengan hangat, membawa Aura bersandar nyaman pada dada bidangnya. Mereka berdiri bersama di tepi balkon, memandangi hamparan kota yang indah, siap menghadapi masa depan baru yang kini murni diikat oleh ketulusan cinta sejati.