NovelToon NovelToon
The Alpha'S Secret Girl

The Alpha'S Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Bab 31: Bayang-Bayang Masa Lalu di Persimpangan Jalan

Matahari pagi di hari Minggu memancarkan bias cahaya hangat yang menembus tirai tipis kamar utama kediaman Rangga dan Keisha. Suasana pagi itu semestinya menjadi kelanjutan dari ketenangan akhir pekan yang mereka nikmati sehari sebelumnya. Namun, udara di dalam rumah terasa sedikit berbeda—bukan karena pertengkaran besar di antara mereka, melainkan karena sebuah surat beramplop cokelat tebal yang tergeletak di atas meja teras depan, tepat di sebelah pot bunga melati milik Keisha.

Rangga yang pertama kali menemukannya saat hendak mengambil sandal jepit untuk menyiram tanaman. Pria itu mengerutkan keningnya dalam-dalam. Tidak ada nama pengirim di bagian luar amplop tersebut, hanya tertera tulisan tangan berukuran tegas yang mencantumkan nama lengkapnya: Rangga Dewantara Aldebaran.

Dengan rasa penasaran bercampur curiga, Rangga membawa amplop itu masuk ke ruang tamu tempat Keisha sedang merapikan cangkir teh bekas sarapan pagi.

"Ada apa, Kak? Pagi-pagi udah dahi berlipat gitu," tanya Keisha lembut, menyadari perubahan ekspresi di wajah suaminya. Ia meletakkan nampan di atas meja lalu menghampiri Rangga yang berdiri mematung di dekat sofa.

Rangga menghela napas berat, menyerahkan amplop cokelat tersebut kepada istrinya. "Aku nggak tahu ini dari siapa. Tadi ada di atas meja teras depan waktu aku mau keluar."

Keisha menerima amplop itu dengan tangan sedikit bergetar. Ia merobek penutupnya perlahan dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen resmi serta secarik surat bernada ancaman halus. Matanya menyusuri setiap baris kalimat yang tertulis di atas kertas putih tersebut. Jantungnya seketika berdegup kencang. Dokumen itu bukanlah surat tagihan biasa, melainkan somasi hukum terkait sengketa kepemilikan lahan pabrik utama Aldebaran Engineering & Automotive Hub yang diklaim secara sepihak oleh salah satu anak perusahaan konglomerat besar milik keluarga besar Aldebaran di masa lalu—pihak keluarga yang telah lama membuang Rangga dan menentang keras pernikahan mereka.

"Ini..." suara Keisha tercekat di tenggorokan. Ia mendongak, menatap manik mata suaminya dengan sorot mata penuh kecemasan. "Ini surat klaim dari korporasi keluarga besar ayahmu, Kak. Mereka... mereka mau merebut kembali pabrik operasional utama kita?"

Rangga mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang telah lama ia kubur dalam-dalam mendadak tersulut kembali. Selama ini, ia mengira bahwa keputusannya untuk membangun perusahaan dari titik nol secara mandiri dan melepaskan seluruh warisan keluarga sudah cukup untuk membuat mereka hidup tenang tanpa bayang-bayang masa lalu. Namun, kenyataan pahit kini menampar wajahnya: keluarga besar Aldebaran tidak akan pernah membiarkan Rangga hidup tenang di atas kaki sendiri.

"Mereka nggak pernah puas," ucap Rangga dengan suara baritonnya yang bergetar menahan emosi. Ia mencoba meredam amarahnya agar tidak meluap di hadapan istrinya, namun kilat kemarahan di matanya tidak bisa disembunyikan. "Mereka pengin hancurin apa pun yang udah aku bangun dengan keringatku sendiri, seolah-olah kesuksesan yang aku capai sekarang masih dianggap sebagai milik keluarga mereka."

Keisha segera melangkah mendekat, meraih tangan kanan Rangga dan menggenggamnya erat-erat untuk menyalurkan ketenangan. Wanita itu tahu betul betapa berharganya perusahaan tersebut bagi suaminya—bukan sekadar tempat mencari uang, but itu adalah bukti nyata bahwa Rangga mampu bangkit dari kehancuran masa lalu tanpa bantuan sepeser pun dari darah daging keluarganya sendiri.

"Tenang dulu, Kak... jangan emosi," bujuk Keisha lembut, mengusap punggung tangan suaminya dengan penuh kasih sayang. "Kita hadapi ini sama-sama. Apapun isi dokumen itu, kita nggak boleh langsung panik. Pasti ada jalan keluarnya."

Rangga menoleh, menatap wajah istrinya yang tampak tegar di tengah situasi yang menegangkan. Perlahan, ketegangan di rahang tegas Rangga mulai mengendur. Ia menarik napas panjang, lalu merangkul bahu Keisha erat-erat, menarik wanita itu ke dalam dekapannya.

"Maafkan aku, Keish..." bisik Rangga parau di dekat telinga istrinya. "Baru saja kemarin kita nikmati ketenangan akhir pekan, sekarang masalah masa lalu datang lagi dan menyeret kamu ke dalam kerumitan keluargaku."

"Jangan ngomong gitu, Kak," sela Keisha tegas, melepaskan sejenak pelukannya untuk menatap lurus ke dalam mata suaminya. "Kita kan sudah janji buat saling mendampingi dalam susah maupun senang. Masalah ini bukan cuma beban Kakak, tapi beban kita berdua."

Hari Minggu yang seharusnya diisi dengan rencana santai mendadak berubah menjadi hari penuh ketegangan. Pagi menjelang siang itu, alih-alih berkencan atau mengunjungi pameran, Rangga dan Keisha menghabiskan waktu di ruang kerja rumah mereka. Di atas meja kayu, lembaran-lembaran dokumen hukum dari korporasi keluarga Aldebaran dibentangkan berdampingan dengan berkas legalitas resmi perusahaan milik Rangga.

Rangga menelepon rekan sekaligus penasihat hukum perusahaannya, Advokat Arya, untuk membahas langkah hukum apa yang harus segera diambil guna menghadapi somasi tersebut.

"Halo, Arya? Bisa kita ketemu siang ini di kantor cabang? Ada dokumen somasi mendadak yang dikirim ke rumah saya pagi ini," ujar Rangga tegas melalui sambungan telepon genggamnya.

Di seberang sambungan, suara Arya terdengar serius. "Baik, Rangga. Saya kebetulan sedang berada di dekat kawasan kantormu. Kita ketemu jam satu siang di ruang rapat utama. Bawa semua dokumen kepemilikan lahan pabrik yang asli."

Setelah menutup panggilan, Rangga menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya di kursi kerja. Keisha yang duduk di kursi seberang langsung berdiri, berjalan mendekati suaminya lalu merapikan kerah kemeja Rangga dengan penuh kelembutan.

"Kakak harus tetap tenang saat ketemu sama Arya nanti. Jangan pakai emosi, kita selesaikan secara profesional berdasarkan hukum yang sah," pesan Keisha menenangkan.

Rangga mengangguk pelan, meraih tangan istrinya dan mengecupnya sekilas. "Iya, sayang. Aku bakal jaga kepala tetap dingin. Cuma... aku kepikiran kamu. Aku nggak mau masalah ini bikin kamu stres atau tertekan di kantor besok."

"Aku nggak apa-apa, Kak. Justru aku pengin ada di samping kamu terus buat mastiin semuanya baik-baik saja," jawab Keisha tulus.

Pukul satu siang, Rangga dan Keisha tiba di ruang rapat kantor operasional perusahaan. Advokat Arya telah menunggu di dalam ruangan berpendingin udara tersebut bersama map dokumen di atas meja. Begitu melihat kedatangan pasangan suami istri itu, Arya langsung berdiri menyambut mereka.

"Duduk, Rangga, Keisha," sambut Arya ramah namun ekspresinya menyiratkan keseriusan tinggi. Ia membuka map dokumen yang dibawanya. "Saya sudah baca salinan somasi yang kamu kirim lewat foto tadi pagi. Jujur saja, langkah hukum yang diambil oleh korporasi keluargamu ini cukup licik. Mereka memanfaatkan celah administratif lama saat pabrik itu pertama kali dialihfungsikan."

Rangga mengetukkan jari telunjuknya di atas meja, sorot matanya tajam menatap pengacaranya. "Celah apa maksudmu, Arya? Semua izin operasional dan akta jual beli tanah itu sudah sah atas nama perusahaan saya secara independen. Tidak ada satu pun aset yang bersumber dari dana keluarga Aldebaran sejak saya keluar dari rumah itu."

"Secara substansial memang benar," jelas Arya sambil memegang selembar kertas bermaterai. "Tapi mereka mengklaim bahwa penandatanganan akta pelepasan hak atas tanah di masa lalu cacat prosedur karena ada tanda tangan salah satu komisaris utama lama yang saat itu masih memegang hak veto—yang notabene adalah paman kandungmu sendiri."

Keisha yang duduk di sebelah Rangga mengerutkan keningnya. "Berarti ini murni tindakan sabotase sengaja untuk menjatuhkan perusahaan Kak Rangga?"

"Tepat sekali, Keisha," jawab Arya tegas. "Mereka tahu persis bahwa pabrik operasional utama kalian sedang merintis kontrak besar dengan klien asing baru. Kalau sengketa lahan ini mencuat ke media atau dibawa ke pengadilan perdata, kredibilitas perusahaan bisa jatuh, dan klien asing itu bisa saja membatalkan kerja sama sepihak."

Suasana di dalam ruang rapat mendadak hening. Udara terasa semakin berat. Ancaman itu nyata dan sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup perusahaan serta masa depan karier yang telah dibangun Rangga dari titik nol bersama istrinya.

Rangga terdiam seribu bahasa. Rahangnta mengeras, menahan gemuruh amarah di dadanya. Perasaan benci terhadap keserakahan keluarganya kembali membara. Namun di tengah kepungan tekanan tersebut, ia merasakan sentuhan hangat di lengan kanannya. Keisha mengelus pelan lengan suaminya, memberikan kekuatan batin yang sangat dibutuhkan saat itu.

"Apa langkah perlawanan kita selanjutnya, Arya?" tanya Rangga dengan suara tegas dan terkendali, menatap tajam ke arah pengacaranya.

Arya tersenyum tipis, menunjukkan keyakinan di balik kacamata profesionalnya. "Kita tidak akan tinggal diam. Saya akan siapkan gugatan balik sekaligus bukti autentik berupa surat pelepasan hak mutlak yang sudah ditandatangani di hadapan notaris independen lima tahun lalu. Pamanmu tidak punya kekuatan hukum lagi untuk menggugat setelah dokumen itu disahkan negara."

"Lakukan apa saja yang diperlukan secara hukum, Arya. Berapapun biayanya, saya akan tanggung," perintah Rangga tanpa ragu.

Menjelang sore hari, setelah pertemuan panjang dengan penasihat hukum mereka selesai, Rangga dan Keisha memutuskan untuk pulang ke rumah. Perjalanan sore itu terasa begitu sunyi. Tidak ada obrolan riang seperti hari-hari sebelumnya. Beban berat masalah hukum keluarga seolah menggantung di udara, membayangi setiap langkah mereka.

Setibanya di rumah, Keisha langsung menyiapkan air hangat dan menyeduh dua cangkir teh chamomile untuk suaminya. Ia melihat Rangga duduk termenung di ruang tengah, menatap kosong ke arah jendela kaca taman belakang yang mulai gelap tertutup malam.

Keisha melangkah mendekat, meletakkan cangkir teh di atas meja kecil, lalu duduk di samping suaminya. Ia merangkul lengan Rangga erat-erat, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.

"Kak..." panggil Keisha lembut.

Rangga menoleh, menatap wajah istrinya dengan pancaran lelah yang teramat sangat. Ia menarik Keisha ke dalam dekapannya, mendekap tubuh wanita itu seolah takut kehilangan.

"Maafkan aku, Keish..." bisik Rangga parau. "Kamu harus ikut menanggung beban sebesar ini di saat kita seharusnya menikmati masa-masa awal pernikahan kita dengan tenang."

Keisha mendongak, tersenyum tulus di tengah situasi sulit tersebut, lalu mengangkat tangannya untuk mengusap lembut pipi suaminya. "Jangan pernah ngomong gitu lagi, Kak. Aku istri kamu. Susah senang kita hadapi berdua. Kalau keluarga Kakak mau menjatuhkan kita, mereka harus berhadapan sama kita berdua."

Rangga merasakan kehangatan yang luar biasa menyelimuti hatinya. Di tengah badai masa lalu yang datang menerjang kembali, ia menyadari satu hal yang paling berharga: harta terbesarnya bukanlah pabrik, bukan pula kesuksesan finansial, melainkan wanita di sisinya yang tidak pernah gentar berdiri di garis terdepan mendampinginya.

Meskipun badai konflik korporasi keluarga besar Aldebaran mulai mengancam ketenangan hidup mereka, tekad di dalam dada Rangga kini semakin membaja. Ia tidak akan membiarkan siapa pun merusak istana kecil yang telah ia bangun bersama Keisha. Dengan cinta dan kesetiaan sebagai perisai, mereka bersiap menghadapi pertempuran baru yang menanti di esok hari.

1
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak tetap semangat berkarya ya kak jangan patah semangat oh ya kak aku punya novel baru yang berjudul cinta tiada ujungnya tolong mampir ya kak terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!