Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin yang Menghujam, Luka yang Menganga
Gemercik air di dalam kamar mandi lambat laun mereda, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam kamar berdekorasi marun itu. Humaira masih terduduk di atas lantai yang dingin. Gaun tidur satin marun kiriman Zulfa yang semula ia harapkan bisa menjadi jembatan penghubung hatinya dengan sang suami, kini terasa seperti pakaian kehinaan yang menguliti seluruh harga dirinya. Isak tangisnya sudah berhenti, menyisakan dada yang sesak dan sepasang mata yang menatap kosong ke arah pintu kayu di depannya.
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Gus Arsalan melangkah keluar dengan rambut hitamnya yang basah kuyup, meneteskan sisa-sisa air ke atas bahunya. Pria itu telah mengganti kemeja hitamnya dengan kaos oblong putih polos dan sarung abu-abu. Wajah tampannya yang sempat kehilangan kendali beberapa menit lalu, kini telah kembali mengeras, datar, dan sedingin es musim dingin di London. Tidak ada lagi sisa-sisa gairah atau tatapan memuja. Hanya ada benteng pertahanan yang dibangun kembali, bahkan jauh lebih kokoh dan tinggi dari sebelumnya.
Arsalan berjalan melewati Humaira yang masih bersimpuh di lantai. Ia sengaja mengalihkan pandangannya, enggan menatap lekuk tubuh istrinya yang masih terekspos oleh potongan rendah gaun malam tersebut. Langkah kakinya berhenti tepat di depan sofa panjang tempat ia biasa melewatkan malam.
Tanpa berbalik, dengan punggung tegap yang memunggungi istrinya, Arsalan berbicara. Suaranya terdengar sangat berat, rendah, namun setiap kosakatanya meluncur seperti belati yang diasah tajam, siap merobek kembali luka di hati Humaira.
"Humaira," panggil Arsalan datar.
Humaira tidak menyahut, namun jemarinya meremas kuat-kuat ujung satin marun di atas pahanya.
"Tolong, setelah malam ini, jangan pernah lagi kamu menggunakan baju haram itu di depan saya," ucap Arsalan tanpa riak emosi sedikit pun.
Deg.
Kata "baju haram" itu menghantam telinga Humaira dengan dentuman yang sangat keras. Dadanya serasa dihantam godam raksasa. *Baju haram?* Di dalam hukum Islam yang ia pelajari sejak kecil di dalam pesantren, mengenakan pakaian seksi di depan suami adalah hal yang bernilai pahala besar. Itu adalah hak mutlak yang halal. Namun malam ini, di mulut suaminya sendiri, usaha tulusnya untuk menjemput takdir dan melayani pria itu justru dicap dengan konotasi yang begitu menjijikkan.
Rasa sakit yang teramat perih membakar ulu hati Humaira, namun kali ini, rasa sakit itu memicu sesuatu yang lain. Sisi "bar-bar" dan ketegasan seorang Ning yang selama seminggu ini ia tekan demi menjadi istri yang penurut, mendadak bergejolak hebat di dalam dadanya. Ia lelah diinjak-injak. Ia lelah mengemis perhatian pada pria yang jiwanya tertinggal di benua lain.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Humaira bangkit berdiri. Ia tidak lagi menunduk. Ia menegakkan bahunya, menatap langsung pada punggung tegap suaminya yang masih enggan berbalik.
"Baju haram, Gus?" suara Humaira bergetar, bukan karena ingin menangis lagi, melainkan karena menahan amarah dan kehancuran yang bertumpuk menjadi satu. "Njenengan seorang Gus, putra kiai besar, lulusan luar negeri. Kulo rasa ilmu fikih Njenengan jauh lebih tinggi dari kulo. Sejak kapan seorang istri yang berdandan dan memakai pakaian seperti ini di kamar tertutup bersama suami sahnya disebut memakai baju haram?!"
Mendengar bait kalimat yang sarat akan penekanan itu, bahu Arsalan tampak menegang. Ia tidak menyangka bahwa Humaira yang biasanya hanya menjawab dengan anggukan dan kata "enggeh" yang lembut, malam ini bisa berbicara dengan nada menantang.
Arsalan membalikkan badannya perlahan. Sepasang mata elangnya menatap Humaira dengan tatapan mengunci. "Kamu tahu persis apa maksud saya, Humaira. Jangan memutarbalikkan syariat demi membenarkan tindakanmu yang sengaja memancing saya."
Humaira tertawa getir, sebuah tawa hancur yang menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarnya. "Memancing Njenengan? Gus Arsalan yang terhormat... kulo ini istri Njenengan! Sah secara agama dan hukum! Kalau kulo ingin memancing hasrat suami kulo sendiri, di mana letak kesalahannya? Apakah kulo harus terus bertingkah seperti orang asing di rumah ini sementara di luar kita sibuk berpura-pura saling mencintai?!"
Arsalan mengepalkan tangannya di balik lipatan sarungnya. Kilatan rasa bersalah kembali berkelebat di matanya saat melihat air mata yang mulai menggenang kembali di pelupuk mata manis Humaira. Namun, egonya terlalu tinggi. Rasa setianya pada Evelyn di London telah membutakan nuraninya sebagai seorang suami.
"Saya sudah mengatakannya sejak malam pertama, Humaira. Jangan harapkan batinmu terpenuhi dari saya," ucap Arsalan, suaranya naik satu oktav, mencoba menutupi kegoyahan hatinya sendiri. "Saya menghargai posisimu sebagai seorang Ning, putri dari sahabat Abi saya. Tapi bertingkah murahan dengan mengenakan pakaian seperti ini demi menggoda pria yang tidak mencintaimu... itu hanya akan membuat saya semakin tidak bisa menghormatimu!"
Plak!
Kalimat "bertingkah murahan" itu menjadi batas akhir kesabaran Humaira. Kata-kata itu terlalu kejam untuk diucapkan oleh seorang suami kepada istrinya yang sedang berusaha memperbaiki keretakan hubungan mereka. Dunia Humaira serasa runtuh perlahan, meninggalkan rasa perih yang begitu pekat dan menyiksa di dalam dadanya.
Humaira mundur satu langkah, menatap Arsalan dengan pandangan yang sepenuhnya kecewa dan terluka dalam. Air matanya menetes deras tanpa suara, membasahi pipinya yang pias.
"Murahan..." bisik Humaira lirih, suaranya mendadak habis, digantikan oleh rasa putus asa yang mendalam. "Njenengan bilang kulo murahan, Gus? Demi Allah, kulo menurunkan seluruh gengsi kulo sebagai seorang wanita, kulo mengabaikan rasa malu kulo demi melayani Njenengan, demi mencari celah agar pernikahan yang abah dan abi kita bangun tidak berakhir menjadi neraka yang sunyi! Tapi malam ini... Njenengan tidak hanya menolak kulo, Gus. Njenengan juga menginjak-injak harga diri kulo sebagai seorang Ning dan seorang istri."
Arsalan terdiam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kelu melihat kehancuran yang begitu nyata di wajah manis Humaira. Kalimat-kalimat tajam yang tadi ia siapkan untuk membela diri, menguap begitu saja di tenggorokan.
Humaira menghapus air matanya dengan kasar dengan punggung tangannya. Ia menatap Arsalan untuk terakhir kalinya malam itu dengan tatapan mata yang tidak lagi menyiratkan harapan, melainkan sebuah kepasrahan yang teramat dingin.
"Mulai malam ini, Njenengan mboten usah khawatir, Gus," ucap Humaira dengan suara yang teramat tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat dada Arsalan mendadak berdenyut aneh. "Kulo mboten akan pernah lagi mengemis nafkah batin dari Njenengan. Kulo mboten akan pernah lagi memakai baju tidur ini, atau pakaian apa pun yang bisa mengganggu pandangan suci Njenengan yang terhormat. Kulo akan menjadi pajangan yang anggun di rumah ini, seperti yang Njenengan inginkan."
Tanpa menunggu jawaban dari Arsalan, Humaira berbalik. Ia berjalan menuju lemari pakaian, mengambil sebuah gamis panjang berwarna hitam polos dan khimar instan. Di depan mata Arsalan yang hanya bisa terpaku, Humaira mengganti busana tidur satin merunnya di balik sekat lemari, menanggalkan pakaian yang telah menorehkan luka paling dalam di hidupnya.
Setelah berpakaian tertutup sempurna, Humaira naik ke atas ranjang pengantin yang luas itu. Ia menarik selimut tebal hingga menutupi seluruh tubuhnya, memunggungi Arsalan, dan mengunci dirinya dalam keheningan malam yang sunyi.
Di sudut lain kamar, Arsalan perlahan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Matanya menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang berkecamuk hebat. Benteng es yang ia bangun di London memang belum runtuh, namun malam ini, untuk pertama kalinya, Arsalan merasakan sesak yang teramat sangat di dadanya melihat punggung rapuh istrinya yang tertidur dalam linangan air mata.