Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Langkah kaki Anya terasa lebih ringan. Lorong lantai 8 yang tadinya terasa menekan, kini kembali seperti semula: koridor korporat biasa dengan karpet abu-abu yang agak usang di beberapa sudut dan aroma pengharum ruangan otomatis beraroma kopi.
"Eh, Nya," Serra menyenggol lengan Anya. "Aku ke toilet ya. Kebelet banget dari tadi pas rapat, kebanyakan minum es tadi."
Anya terkekeh kecil, rasa hangat menjalar di dadanya. "Iya, mau ditemani gak."
"Gak usah. Aku duluan! Kalo ada apa-apa, kau tahu harus lari ke mana," bisik Serra setengah bercanda. Ia berlari menuju toilet kearah dekat pantry.
Anya menggeleng kepala lihat tingkah temannya. Ia jalan santai menuju meja kerjanya. Suasana kantor divisi mereka agak sepi. Beberapa rekan kerja memilih untuk memperpanjang waktu istirahat di lantai bawah.
Anya menarik kursi kerjanya. Suara decitan roda kursi di atas lantai terasa begitu akrab dan menenangkan. Ia menggerakkan mouse untuk menyalakan kembali layar laptopnya yang sempat masuk ke mode sleep.
Tampilan Excel, ribuan baris angka kembali menyapa matanya. Anya memakai headphone miliknya, sengaja tidak memutar musik. Ia hanya butuh peredam suara agar bisa fokus menyelesaikan draf laporan kantor.
Jari-jarinya kembali mengetik. Klik-klak-klik-klak. Suara papan ketik beradu dengan kesunyian kubikel. Lima menit berlalu. Sepuluh menit berlalu.
Gerakan Anya tiba-tiba melambat, saat ia merasakan sesuatu yang janggal. Hawa dingin perlahan merayap tengkuknya. Bukan dingin yang berasal dari embusan angin AC kantor, melainkan jenis dingin yang menusuk. Seolah ada seseorang berdiri di belakang.
Anya menelan ludah. Tenggorokannya mendadak terasa kering.'Perasaan gue aja' batinnya mencoba menenangkan diri. Efek kurang tidur.
Ia memaksakan matanya untuk tetap menatap layar monitor. Tapi, saat ia hendak menekan tombol Enter, sudut matanya menangkap sesuatu pada pantulan layar laptopnya yang berwarna hitam. Latar belakang aplikasi yang ia gunakan sedang menampilkan grafik gelap.
Di pantulan layar yang sedikit buram, Anya tidak hanya melihat wajahnya sendiri. pucat. Di belakang bahu kirinya, ada siluet kepala seseorang. Condong ke depan. Rambutnya panjang, menjuntai tidak beraturan, perlahan-lahan... siluet itu mendekatkan wajahnya ke arah telinga Anya.
Anya membeku. Seluruh tubuhnya mendadak kaku. Jantungnya berdetak keras, hingga ia bisa mendengarnya. Dari dalam headphone, terdengar suara bisikan. Suara itu begitu dekat, serak, dan terdengar seperti gesekan kertas amplas kering.
"Temani...Aku...."
Detik itu juga, napas Anya tercekat. Tubuhnya bergetar hebat. Makhluk itu tidak tertinggal di kosan. Makhluk itu... ikut bersamanya.
Anya nutup mata rapat-rapat. Jantungnya berdetak keras. Dadanya terasa sakit. “Ini cuma halusinasi. Efek kurang tidur,” bisik Anya. Ia coba menenangkan dirinya.
Ia beranikan diri buka mata. Siluet di layar laptopnya hilang. Hawa dingin di tengkuknya perlahan menguap. Anya mengembuskan napas lega, seolah baru saja lolos dari lubang. Ia melepas headphone-nya. tangannya gemetar.
Matanya beralih ke layar Excel. Ribuan baris angka yang tadinya rapi, perlahan mengabur. Angka-angka itu berputar, mencair, dan menyusun diri. Kembali menjadi barisan kalimat yang berulang-ulang di seluruh sel dokumen:
TEMANI AKU TEMANI AKU TEMANI AKU
Anya memundurkan kursi dengan panik. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari pertolongan. Kantor divisi tadinya hanya sepi, kini terasa benar-benar kosong. Tak berpenghuni. Lampu neon di atas kepalanya mulai berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding kubikel.
"Serra...?" panggil Anya.
Tak ada jawaban. Hanya ada suara dengung AC. tiba-tiba terdengar seperti suara tangisan lirih wanita. Pikiran Anya mulai terpecah antara fiksi yang diciptakan otaknya atau karna kelelahan.
Anya menekan kayu tripleks pelapis meja begitu kuat. “Aku cuma halusinasi. Ini psikologis.” racaunya dalam hati, coba menerapkan teori-teori psikologi yang pernah ia baca di internet.
Ia pejamkan mata, menarik napas selama empat detik. menahannya. Lalu mengembuskan nya perlahan. Ia harus kembali ke realita. Begitu Anya membuka mata, ilusi itu justru berevolusi menjadi lebih rapi dan manipulatif.
Distorsi Waktu dan Ruang. Suara ketikan gaib tiba-tiba berhenti. Layar laptopnya kembali normal, menampilkan grafik Excel membosankan, bukan lagi tulisan histeris. Anya menghela napas, merasa metodenya berhasil. Ia melirik jam di sudut kanan bawah layar laptopnya: 13.15.
Ia lalu melirik jam tangan analog di pergelangan kirinya. Jarum jamnya berputar mundur dengan kecepatan konstan. Detik demi detik berjalan mundur secara visua.
“Oke, mataku yang salah lihat,” bisik Anya, mulai frustrasi dengan otaknya sendiri.
Ia memutuskan untuk berdiri, berniat menyusul Serra ke toilet atau sekadar membasuh wajahnya dengan air dingin. Begitu ia berdiri. Langkahnya langsung terkunci. Koridor di depannya seolah memanjang tanpa ujung. Pintu toilet dan pantry yang tadinya hanya berjarak sekitar sepuluh meter, kini terlihat sangat jauh di ujung lorong. Seolah berada di dalam labirin.
"Anya? Lo kenapa berdiri aja di situ?"
Suara Serra terdengar dari arah belakangnya. Anya berbalik dengan cepat, merasa lega. Serra berdiri di sana, memegang cangkir kopi.
"Ser... lo dari mana? Tadi katanya ke toilet dekat pantry?" tanya Anya, suaranya agak bergetar.
Serra mengernyitkan dahi. "Toilet? Kan dari tadi aku duduk di sebelah kau, Nya. Kau dari tadi melamun, sambil liat laptop mati. Rapat kita kan baru mulai jam dua nanti."
Anya tertegun. Ia menoleh ke arah meja Serra. Benar, tas dan jaket Serra ada di sana. Anya melihat ke arah laptopnya sendiri. Layarnya hitam. Mati total. Tidak ada Excel, tidak ada draf laporan.
Anya merasakan pusing yang luar biasa. Mana yang nyata? Apakah rapat yang tadi ia hadiri hanya mimpi? Apakah Serra benar-benar tidak pernah pergi ke toilet? Atau... sosok Serra yang sedang berbicara dengannya saat ini justru bagian dari halusinasinya?
atau Anya kerja sambil kuliah thor?