NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:829
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku pulang..

Pagi itu, udara Tsukimori terasa jauh lebih sejuk dari biasanya. Kabut tipis masih menggantung di sela-sela pepohonan saat sebuah mobil pikap putih berhenti di depan rumah Keiko. Mesin tuanya menderu pelan, sementara Kyo turun untuk membantu mengangkat koper ke bak belakang.

"Segini saja barangnya?" tanya Kyo.

Keiko mengangguk samar. "Iya. Sisanya memang sengaja kutinggalkan di sini."

"Kalau begitu, beres." Kyo mengikat koper itu dengan tali agar tidak bergeser, lalu menepuk-nepuk tangannya. "Berangkat sekarang?"

Keiko menoleh sekali lagi ke arah rumah peninggalan sang nenek. Bangunan kayu itu berdiri tenang di bawah langit pagi, sama seperti hari pertama ia tiba. Namun, kali ini terasa ada beban yang tertinggal di sana. Perlahan, ia menggeser pintu hingga tertutup rapat.

"Sampai jumpa," gumamnya lirih.

Ia mengunci pintu, lalu menyimpan kuncinya ke dalam tas. Shiro masih duduk di selasar, matanya yang tenang memperhatikan setiap gerak-gerik Keiko tanpa banyak bergerak. Keiko menghampirinya, berjongkok, lalu mengusap lembut kepala kucing abu-abu itu.

"Shiro, aku benar-benar berangkat, ya."

Shiro mengangkat wajahnya, menatap Keiko dalam diam dengan sepasang mata keemasan yang seolah memahami segalanya. Keiko tersenyum kecil, meski senyumnya terasa berat. "Jaga rumah ini baik-baik. Nanti kalau aku libur... aku pasti datang lagi."

Ia mengusap belakang telinga Shiro untuk terakhir kalinya sebelum bangkit.

"Yuk, Keiko-san," panggil Kyo dari balik kemudi.

Keiko mengangguk, lalu membuka pintu mobil. Tak lama, mesin pikap itu mulai meraung, perlahan meninggalkan halaman rumah. Keiko terus menoleh ke belakang, melambaikan tangan ke arah rumahnya. Namun, baru beberapa meter mobil melaju, ia melihat sesosok bayangan abu-abu yang berlari kencang dari arah belakang.

Shiro.

Kucing itu mengejar mobil yang semakin menjauh, melesat melewati pagar kayu dan barisan pohon sakura dengan napas yang memburu.

"Eh..." Keiko membelalak, ia buru-buru menurunkan kaca jendela. "Shiro! Jangan mengejar!"

Pikap terus melaju, namun Shiro tidak melambat sedikit pun. Keiko mencengkeram bingkai jendela, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Shiro, sudah! Jangan mengejar lagi..pulang!"

Suara Keiko nyaris tenggelam oleh deru mesin dan tiupan angin pagi. Jalan mulai menurun, membuat mobil melaju semakin cepat. Langkah Shiro perlahan tertinggal, hingga akhirnya, ia berhenti di tengah jalan desa. Tubuh kecil itu mematung, menatap mobil yang terus membawanya menjauh.

Keiko terus menoleh dari balik kaca belakang, berharap Shiro akan kembali. Sosok kucing itu semakin mengecil, namun ia tidak berbalik. Ia hanya berdiri di sana, sendirian, membiarkan angin pagi mengibaskan bulu keperakannya.

Ketika mobil berbelok melewati tikungan, sosok itu menghilang dari pandangan.

Keiko akhirnya menyandarkan punggungnya di kursi, mengembuskan napas panjang sembari menghapus bulir bening di pipinya. Ia tersenyum tipis, meski hatinya terasa nyeri.

"Dasar... kamu benar-benar bikin aku khawatir."

Mobil terus melaju meninggalkan Tsukimori. Di kejauhan, Shiro masih berdiri mematung, menatap arah kepergian sahabatnya hingga sosok itu benar-benar tak terlihat lagi.

...----------------...

Beberapa Puluh menit kemudian, Kyo menghentikan mobil tepat di depan pintu masuk Stasiun Tsukimori. Bangunan kecil bercat putih itu tampak lengang; hanya ada beberapa penumpang yang menunggu kereta, ditemani suara pengeras suara yang sesekali mengumumkan jadwal keberangkatan.

Kyo turun lebih dulu untuk mengambilkan koper dari bak belakang dan menyerahkan langsung ke tangan keiko

"Kyo-san, terima kasih untuk semuanya selama aku di Tsukimori."

Kyo tersenyum canggung. "Sama-sama. Semoga libur berikutnya kau bisa kembali lagi ke sini."

"Pasti," jawab Keiko mantap. "Aku masih punya rumah di sini."

Keduanya tertawa kecil. Tak lama, sayup-sayup suara kereta mulai terdengar dari kejauhan.

"Itu keretamu."

Keiko mengangguk. Ia membungkukkan badan sekali lagi. "Sampai jumpa, Kyo-san."

"Sampai jumpa, Keiko-san! Aku tunggu kamu siaran lagi !!" Kyo mengangkat tangan sebagai salam perpisahan.

Keiko membalas lambaian tangan kyo, lalu menarik kopernya masuk ke dalam stasiun. Beberapa menit kemudian, rangkaian kereta perlahan meninggalkan peron, membawa Keiko menjauh dari desa itu.

***

Keiko memilih kursi di dekat jendela. Ia meletakkan kopernya di rak bagasi, lalu menyandarkan tubuh dengan perlahan, membiarkan ayunan kereta membawanya pergi meninggalkan Tsukimori.

Di luar sana, pemandangan sawah, rumah-rumah kayu, dan barisan pegunungan perlahan memudar, berganti menjadi lanskap yang terasa semakin asing bagi matanya.

***

Menjelang siang kereta akhirnya tiba di Aoyama. Suasana kota yang sibuk langsung menyambutnya. Orang-orang berjalan tergesa, suara pengumuman stasiun bersahut-sahutan dengan dering ponsel dan lalu lintas yang tak pernah benar-benar berhenti.

Keiko menarik kopernya menyusuri trotoar. Sekitar lima belas menit kemudian, ia tiba di sebuah apartemen kecil berlantai tiga yang berdiri di sudut jalan. Bangunannya memang tidak baru, tetapi selalu tampak bersih dan terawat.

Keiko menarik koper menuju tangga besi di samping bangunan. Tangga itu tidak berhenti di lantai tiga.

Masih ada satu anak tangga lagi yang mengarah ke sebuah paviliun kecil di atas atap apartemen. Tempat itu menjadi rumah Keiko sejak mulai bekerja di Aoyama.

Bangunannya tidak besar. Hanya terdiri dari Satu kamar tidur yang lumayan luas, sebuah ruang utama yang menyatu dengan dapur kecil, ruang tamu dan kamar mandi di ujung.

Namun yang paling disukai Keiko justru halaman rooftop di depannya. Deretan pot bunga dan tanaman hijau memenuhi hampir setiap sudut. Sebuah meja kayu dengan payung taman berdiri di tengahnya, menjadi tempat favoritnya menikmati kopi pagi atau membaca surat-surat pendengar sebelum berangkat siaran.

Keiko berhenti di depan pintu, menekan kode sandi

Tiittttt...

Pintu perlahan terbuka. Keiko menarik kopernya melewati ambang pintu, lalu menutup pintu kayu di belakangnya

"Aku pulang..."

Tak ada jawaban. Ia tersenyum kecil. Rumah mungil di atas rooftop itu masih sama seperti saat ia tinggalkan beberapa minggu lalu. Tidak banyak perabotan hanya ada sofa, karpet tebal,rak buku dan televisi. Di sudut ruangan, meja kecil dengan laptop diatasnya.

Di sebelah kiri, dapur mungil terpisah dengan ruang utama dengan ada meja bar sebagai meja makan mini . Nyaris tak ada barang yang berantakan sehingga paviliun nya terlihat luas di ruang yang terbatas. Keiko membuka jendela geser yang terhubung ke teras rooftop.

Angin kota langsung menyapa wajahnya. Hamparan gedung-gedung Aoyama membentang di kejauhan, sementara bunga-bunga di sekeliling pagar besi masih bermekaran dengan cantik. Meja kayu dan tiga kursi di bawah payung taman tetap berada di tempatnya, seolah setia menunggu pemiliknya kembali.

Ia menarik napas panjang. "Masih cantik..."

Keiko tersenyum puas. Syukurlah, paman pemilik gedung benar-benar merawat tanamannya selama ia pergi. Ia kembali masuk ke dalam, membuka koper, dan mulai mengeluarkan pakaian satu per satu. Namun, gerakannya terhenti saat tangannya menyentuh jimat merah di dalam tas kecilnya.

Jimat itu berayun lembut di ujung jemarinya.

Bisiknya lirih. "Aku benar-benar belum sempat mengucapkan terimakasih."

Pandangannya menerawang ke luar jendela. Wajah pria berkimono hitam itu kembali terlintas—sosok misterius yang selalu muncul di saat yang tepat. Keiko mengembuskan napas pelan. "Lain kali... kalau aku kembali ke Tsukimori, semoga kita bisa bertemu lagi."

Ia menyimpan jimat itu ke dalam laci meja di samping tempat tidur dengan hati-hati. Setelah itu, ia meraih ponselnya dan menatap foto Shiro yang sedang meringkuk pulas di atas kasur. Sudut bibir Keiko perlahan terangkat.

"Semoga kamu baik-baik saja disana "

Ia mematikan layar ponsel dan meletakkannya di meja. Saat hendak beranjak ke dapur, tangannya spontan meraih sebuah mangkuk keramik kecil dari bawah wastafel.

Baru beberapa detik kemudian ia menyadari apa yang sedang dilakukannya.

Keiko terdiam.

Sejenak, lalu tersenyum getir pada dirinya sendiri.

"Lupa. Kamu kan tidak ada di sini."

Keiko mengembalikan mangkuk itu ke tempat semula.

Rumah kembali dipenuhi keheningan.

Di luar, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, membentuk lautan cahaya yang membentang hingga ke cakrawala. Angin sore masih berembus melewati rooftop kecil itu, menggerakkan dedaunan bunga yang memenuhi pagar.

Semuanya tetap sama. Hanya saja...

Kali ini, tak ada lagi seekor kucing abu-abu yang menemaninya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!