Demi membiayai pengobatan rumah sakit ibunya, Alya terpaksa mengambil keputusan paling nekat dalam hidupnya: menerima tawaran menjadi pengasuh sekaligus "Ibu Pengganti" rahasia. Tugasnya tidak mudah, ia harus menjinakkan Leon dan Lulu, sepasang anak kembar jenius berusia empat tahun yang terkenal super rewel dan selalu berhasil mengusir puluhan pengasuh sebelumnya.
Namun, sebuah keajaiban terjadi. Di hari pertama mereka bertemu, si kembar langsung memeluk Alya dan memanggilnya "Mama".
Hal itu membuat Adrian Vasillo, seorang CEO dingin, kejam, dan tidak tersentuh, terkejut setengah mati. Adrian yang selama ini menutup hatinya dari wanita, akhirnya menawarkan kontrak pernikahan demi kebahagiaan anak kembarnya. Alya mengira tugasnya hanya berpura-pura menjadi ibu yang baik di depan si kembar. Namun, ia keliru.
Di balik tatapan dingin Adrian, pria itu mulai menuntut hak-haknya sebagai seorang suami nyata. Di saat perasaan Alya mulai goyah, satu per satu rahasia masa lalu mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bbsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembaran yang Belum Selesai
Julian terhuyung ke belakang akibat hantaman keras itu. Punggungnya membentur tepian meja kaca hingga vas bunga kristal di atasnya bergetar hebat. Pengacaranya terpekik panik, langsung menahan tubuh Julian yang hampir terjatuh.
"Tuan Julian!" seru sang pengacara, buru-buru memeriksa rahang bosnya yang mulai memerah.
Julian menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah dengan punggung tangannya. Bukannya marah, ia justru tertawa renyah ”sebuah tawa provokatif yang menggema di ruang tengah griya tawang.
"Wow... Adrian Vasillo yang agung dan berdarah dingin akhirnya kehilangan kendali?" cibir Julian, menatap Adrian dengan pandangan mengejek. "Hanya karena aku menyebutkan rahasia kecil tentang istrimu?"
Alya tertegun di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena ancaman Julian, melainkan karena ia melihat dada Adrian yang naik-turun menahan amarah yang luar biasa. Jemari Adrian mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Adrian, jangan..." bisik Alya, menahan lengan suaminya sebelum Adrian melayangkan pukulan kedua. "Jangan biarkan dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia sengaja memancingmu di depan pengacaranya."
Adrian melirik Alya sekilas. Sentuhan lembut istrinya berhasil meredam sedikit kobaran api di matanya. Pria itu kemudian kembali menatap Julian, suaranya kini berdesik rendah bagai predator yang siap menerkam.
"Keluar dari rumahku, Julian," desis Adrian, setiap kata yang diucapkannya sarat akan ancaman mematikan. "Sebelum aku memastikan kamu tidak akan pernah bisa berjalan lagi keluar dari gerbang gedung ini."
Julian menegakkan tubuhnya, merapikan jasnya yang sedikit kusut dengan gaya angkuh. "Aku akan keluar. Tapi ingat, Adrian... jam pasirmu sudah mulai berjalan. Dokumen medis Alya dari rumah sakit jiwa empat tahun lalu” saat dia mengalami trauma pasca-kecelakaan Elena ”sudah ada di tanganku. Kita lihat seberapa kuat Vasillo Group menahan badai besok pagi."
Dengan senyum kemenangan yang licik, Julian berbalik dan melangkah masuk ke dalam lift bersama pengacaranya, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam griya tawang.
Begitu pintu lift tertutup rapat, Alya langsung menatap Adrian dengan tatapan cemas. "Adrian... berkas medis apa yang dia maksud? Empat tahun lalu, setelah kecelakaan itu, aku memang dirawat di rumah sakit karena syok dan luka-luka. Tapi... rumah sakit jiwa?"
Adrian tidak langsung menjawab. Ia berbalik, lalu merengkuh pundak Alya dengan kedua tangannya, menatap langsung ke dalam mata istrinya dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh penyesalan.
"Maafkan aku, Alya," ujar Adrian pelan, suaranya terdengar sangat berat. "Empat tahun lalu, saat Tuan Anggoro mencoba mengkambinghitamkanmu atas kecelakaan Elena, Malik terpaksa mengubah status perawatanmu di sistem medis. Kami memindahkanmu ke paviliun pemulihan psikologis khusus agar pihak kepolisian tidak bisa menyentuhmu atau menginterোগasimu secara sewenang-wenang. Itu adalah satu-satunya cara untuk melindungimu saat itu."
Alya menarik napas panjang, mencoba mencerna fakta baru yang baru saja didengarnya. "Jadi... secara hukum, aku pernah tercatat sebagai pasien gangguan jiwa?"
"Hanya di atas kertas, Sayang. Hanya untuk mengelabui Anggoro," tegas Adrian, menggenggam jemari Alya dengan erat. "Tapi Julian berhasil meretas atau membeli arsip lama itu dari oknum rumah sakit. Dia akan menggunakannya untuk menjatuhkan kredibilitasmu sebagai ibu asuh Leon dan Lulu, sekaligus menyerang posisiku di dewan komisaris."
Drrtt... Drrtt...
Ponsel Adrian di atas meja kaca bergetar. Layarnya menampilkan nama Malik. Adrian segera mengangkatnya dan mengaktifkan pelantang suara.
"Malik, bagaimana situasi di bawah?" tanya Adrian langsung.
"Julian baru saja memberikan pernyataan singkat di lobi, Tuan," sahut suara Malik dari seberang telepon, terdengar sangat tegang. "Dia tidak menyebutkan soal Nyonya Alya, tapi dia mengumumkan kepada media bahwa Vanguard Heritage akan melakukan audit independen terhadap seluruh kepemilikan aset Vasillo Group di Singapura. Sentimen pasar langsung merespons negasi, saham kita turun dua persen dalam tiga puluh menit terakhir."
Adrian menggeram rendah. "Tahan pergerakan media domestik. Jangan biarkan rumor tentang internal keluarga bocor ke infotaiment. Aku akan ke kantor sekarang."
"Baik, Tuan. Mobil Anda sudah siap di basement."
Sambungan telepon terputus. Adrian menatap Alya, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut namun tergesa-gesa. "Aku harus menyelesaikan ini di kantor, Alya. Kamu tetap di sini bersama anak-anak. Jangan keluar rumah dan jangan angkat telepon dari nomor yang tidak dikenal."
"Adrian, hati-hati," ucap Alya penuh kekhawatiran. "Julian tidak seperti Anggoro. Dia tahu persis titik lemahmu."
"Aku tahu," jawab Adrian dengan kilat mata yang kembali membeku. "Tapi dia lupa satu hal... aku adalah orang yang membangun Vasillo Group dari puing-puing yang ditinggalkan kakek. Jika dia ingin membakar rumah ini, aku akan memastikan dia ikut hangus di dalamnya."
Satu jam kemudian, di ruang rapat utama Vasillo Group, suasana tampak sangat tegang. Beberapa dewan komisaris berwajah paruh baya sudah duduk mengelilingi meja oval besar, berbisik-bisik dengan raut wajah cemas.
Begitu pintu ruang rapat terbuka dan Adrian melangkah masuk diikuti oleh Malik, seluruh ruangan mendadak hening seketika.
"Tuan Adrian," salah satu komisaris paling senior, Tuan Haryo, membuka suara. "Pergerakan Vanguard Heritage di Singapura sangat agresif. Jika tuduhan Julian tentang surat wasiat tandingan itu benar, para investor Eropa mengancam akan membekukan dana investasi proyek pelabuhan baru kita."
Adrian duduk di kursi kebesaran CEO di ujung meja, melipat kedua tangannya di atas meja dengan tenang. "Surat wasiat itu palsu, Tuan Haryo. Julian hanya menggunakan gertakan hukum lama untuk mengguncang psikologis pasar."
"Tapi bagaimana dengan bukti dokumen digital yang dia bawa?" kejar komisaris lain. "Jika media internasional mulai menggoreng isu ini, nama baik Vasillo akan dipertanyakan."
"Malik," panggil Adrian tanpa mengalihkan pandangannya dari para komisaris.
Malik maju selangkah, membuka layar proyektor besar di ujung ruangan yang langsung menampilkan grafik aliran dana terperinci. "Kami telah melacak pergerakan Vanguard Heritage selama dua belas jam terakhir. Dana yang digunakan Julian untuk membeli obligasi kita ternyata bukan berasal dari bankir Eropa, melainkan dari sebuah perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman yang terafiliasi dengan... sisa-sisa aset tersembunyi milik Anggoro Group."
Seluruh ruangan berdengung kaget.
"Artinya," Adrian mengambil alih pembicaraan, suaranya terdengar sangat tajam bagai pisau bedah. "Julian tidak bergerak sendirian. Dia bekerja sama dengan sisa-sisa pengikut Anggoro yang ingin membalas dendam padaku. Ini bukan perang warisan... ini adalah upaya sabotase korporasi ilegal."
Adrian berdiri, menatap satu per satu anggota dewan komisaris dengan pandangan yang sangat mengintimidasi. "Aku memberi kalian pilihan. Tetap berdiri di belakangku dan kita hancurkan Vanguard bersama-sama, atau kalian bisa menjual saham kalian sekarang sebelum aku meratakan Julian beserta seluruh sekutunya ke dasar bumi."
Di tengah ketegangan ruang rapat yang memuncak itu, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel pribadi Adrian dari nomor yang tidak dikenal.
Adrian membukanya dengan satu tangan.
Pilihan yang bagus di ruang rapat, Sepupuku. Tapi bagaimana dengan istrimu? Aku baru saja mengirimkan satu salinan berkas medisnya ke komite perlindungan anak Jakarta. Mari kita lihat seberapa cepat mereka datang menjemput Leon dan Lulu dari dekapan seorang 'mantan pasien gangguan jiwa'.
Rahang Adrian kembali mengeras. Julian benar-benar telah menabuh genderang perang yang salah ”dia tidak hanya menyerang bisnis Adrian, tapi dia telah berani menyentuh batas suci yang paling dilindungi Adrian: keluarganya.