Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.
Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.
Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.
Mampukah mantan ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Belajar Saham
Sejak malam keajaiban di toko buku bekas itu, kehidupan Bumi di kawasan pasar induk mulai bergeser drastis. Ia tidak lagi setiap hari mengantri di bak truk untuk memanggul keranjang sawi atau kubis. Fisiknya yang kuat kini lebih sering ia gunakan untuk berjalan santai dengan kemeja flanel rapi, meski sesekali ia tetap main ke blok barat hanya untuk menjaga silaturahmi.
Perubahan ritme kerja Bumi ini tentu saja memancing rasa penasaran dari orang-orang lama di pasar. Pagi itu, saat Bumi sedang berjalan melewati area bongkar muat ruko sayur, sebuah teriakan nyaring menghentikan langkahnya.
"Woy, Bumi! Sini lu, Tong!" panggil Kang Bendot yang sedang duduk di atas peti kayu bersama Mandor Badrun.
Bumi tersenyum lalu menghampiri kedua orang tua pasar tersebut. "Pagi, Kang Bendot, Pak Mandor. Sehat-sehat kan?"
Mandor Badrun yang sedang memegang manifes barang menatap Bumi dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan dahi berkerut. "Sehat, Bum. Tapi lu tuh yang ke mana aja? Belakangan ini gua jarang bener ngelihat lu masuk slip antrean panggul. Si Bendot juga sering nanyain lu. Lu dapet kerjaan baru yang lebih elit ya di luar pasar?"
"Hahaha, bener, Bum. Lu sekarang gayanya udah necis bener, gak dekil kayak kita-kita lagi," timpal Kang Bendot sambil terkekeh. "Ada proyekan apa lu di luar, Tong? Jangan lupakan kita ya kalau udah sukses!"
Bumi tertawa renyah, merasa tidak enak hati. "Aduh, enggak kok, Pak Mandor, Kang Bendot. Saya gak ke mana-mana, masih tinggal di kosan Mak Surti. Cuma emang belakangan ini lagi ada kesibukan dikit di luar, bantuin urusan tugas kuliahnya si Mbak Alya sama temen-temennya."
Mandor Badrun mangut-mangut sambil menepuk pundak Bumi. "Oh, urusan si Alya. Ya baguslah kalau lu bisa bantuin mereka. Tapi ingat ya, kalau lu lagi senggang dan butuh duit tambahan, slot panggul di tim gua selalu terbuka lebar buat anak rajin kayak lu."
"Siap, Pak Mandor, Kang Bendot. Terima kasih banyak ya, saya pamit duluan mau nyamperin Mbak Alya," ucap Bumi menyalami kedua pria itu dengan hormat.
Kegiatan utama Bumi sekarang memang telah berubah total. Setiap siang hingga sore hari, ia menghabiskan waktunya di rumah salah satu teman kuliah Alya yang terletak di kompleks perumahan mapan tidak jauh dari ujung pasar induk. Awalnya, agendanya adalah Bumi belajar ilmu ekonomi dari Alya. Namun kenyataannya di lapangan, justru Alya dan teman-temannyalah yang berguru dan belajar banyak kepada Bumi.
Siang itu, di ruang tamu rumah Dika, salah satu teman sekelas Alya, suasana tampak seperti ruang bimbel privat. Buku-buku tebal berserakan di atas meja kaca.
"Mas Bumi, sumpah ya, grafik analisis regresi yang kamu ajarin kemarin itu masuk banget di otak gua! Dosen gua sampai heran pas gua bisa jawab pertanyaan di depan kelas tadi pagi," seru Dika penuh semangat sambil menyodorkan buku catatannya ke depan Bumi.
Alya yang duduk di samping Bumi ikut menimpali sambil tersenyum lebar. "Iya kan, Dik? Apa gua bilang! Mas Bumi ini emang jenius banget tahu. Padahal awalnya niat kita mau ngajarin dia konsep dasar ekonomi, eh malah kita yang dicekokin teori makro-mikro tingkat dewa sama dia."
Bumi hanya tersenyum rendah hati, mencoba bersikap biasa saja. "Ah, kalian ini berlebihan banget. Saya cuma kebetulan kemarin baca sekilas buku kalian, terus polanya langsung nyambung aja di kepala. Yuk, sekarang kita lanjutin bahas tugas analisis laporan keuangan bab selanjutnya."
"Siap, Mas Mentor!" sahut Dika dan Alya kompak.
Alya yang memiliki sifat baik dan polos sama sekali tidak pernah menaruh curiga yang aneh-aneh tentang dari mana asal kepintaran Bumi yang mendadak itu. Di dalam pikiran polos Alya, ia hanya menganggap bahwa Bumi pada dasarnya memang seorang pemuda desa yang memiliki otak cerdas dan bakat akademik yang terpendam, namun baru mendapatkan kesempatan untuk mengembangkannya sekarang di ibu kota.
Setelah sesi belajar kelompok yang melelahkan itu selesai menjelang sore, Alya pamit pulang duluan karena harus membantu ibunya di warung nasi. Kini tinggal Bumi dan Dika yang masih berada di ruang tamu.
Saat Bumi sedang merapikan alat tulisnya ke dalam tas, Dika tiba-tiba merogoh dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas pecahan seratus ribu, lalu menyodorkannya ke hadapan Bumi.
"Nih, Mas Bumi. Ada sedikit rezeki buat uang makan dan ongkos kamu hari ini," ucap Dika tulus.
Bumi langsung terkejut dan refleks mendorong kembali tangan Dika. "Eh, jangan, Mas Dika. Waduh, saya gak bisa terima ini. Dari awal kan saya murni cuma mau menolong Mbak Alya sama temen-temennya aja, gak ada niatan buat nyari bayaran atau pasang tarif begini."
Dika langsung menahan tangan Bumi dan memaksanya untuk menerima uang tersebut. "Aduh, Mas Bumi, jangan ditolak dong. Tolong diterima ya. Ini bukan masalah tarif atau bayaran profesional kok. Gua sama temen-temen yang lain ngerasa bener-bener sangat terbantu sama bimbingan kamu. Kalau gak ada kamu, kita pasti udah bayar mahal buat ikut bimbel atau dapet nilai jelek. Anggap aja ini uang lelah dan uang makan dari kita-kita yang ngerasa berutang budi sama kepintaran kamu. Terima ya, Mas, please."
Bumi menatap lembaran uang itu, lalu menatap wajah Dika yang memohon dengan tulus. Akhirnya, ia menghela napas panjang dan mengangguk. "Ya sudah... kalau emang Mas Dika maksa, saya terima ya. Terima kasih banyak, Mas. Ini bener-bener membantu banget buat kebutuhan saya di kosan."
"Sama-sama, Mas Bumi! Justru kita yang berterima kasih banget," jawab Dika lega.
Dengan begitu, meskipun Bumi sudah jarang bekerja kasar menjadi kuli panggul di pasar, ia tetap memiliki penghasilan rutin yang lumayan besar dari teman-teman kuliah Alya yang sangat membutuhkan bimbingan dan kecerdasannya untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah mereka yang menumpuk.
Sambil menyelam minum air, di sela-sela waktu mengajarkan ilmu ekonomi kepada teman-teman Alya, Bumi juga memanfaatkan kesempatan itu untuk mempelajari hal baru yang sedang marak dibicarakan di kalangan mahasiswa, yaitu dunia pasar modal atau saham. Di meja belajar Dika, terdapat banyak buku dan jurnal mengenai dunia investasi modern.
Bumi mulai membaca buku-buku tersebut dengan kecepatan pemindaian supernya. Ia melahap semua materi mulai dari analisis teknikal, analisis fundamental, cara membaca pergerakan grafik lilin (candlestick), cara memprediksi arah pasar, hingga strategi day trading dan manajemen risiko.
"Mas Bumi, kamu lagi ngelihatin grafik pergerakan saham perusahaan teknologi ini ya?" tanya Dika yang baru kembali dari dapur membawa dua gelas es teh manis, melihat Bumi sedang fokus menatap layar laptopnya yang menampilkan aplikasi trading.
"Iya, Mas Dika. Saya lagi nyoba mempelajari pola pergerakannya dari beberapa bulan ke belakang," jawab Bumi tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
Bagi orang biasa, dunia saham membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk dikuasai. Namun dengan kepintaran luar biasa warisan leluhurnya, Bumi mampu menguasai semua seluk-beluk ilmu saham tersebut dengan sangat mudah hanya dalam hitungan hari. Otaknya mampu melakukan kalkulasi probabilitas dan memprediksi pergerakan harga saham dengan tingkat akurasi yang luar biasa tinggi seolah ia bisa melihat masa depan.
"Gila ya, melihat fluktuasi pasarnya secepat ini. Tapi kalau polanya dibaca pakai rumus matriks yang kemarin kita pelajari, sebenarnya pergerakan bandar saham ini bisa ditebak arahnya, Dik," urai Bumi santai sambil menunjuk beberapa titik jenuh beli pada grafik di layar.
Dika melongo mendengar penjelasan Bumi. "Hah? Masa sih, Mas? Gua udah setahun main saham di emiten itu tapi seringnya malah boncos terus karena salah tebak."
Keesokan harinya, Dika yang sedang mengalami kebuntuan karena posisi sahamnya sedang memerah drastis, memutuskan untuk meminta saran langsung kepada Bumi sebelum melakukan transaksi di pasar.
"Mas Bumi, tolongin gua dong! Ini saham perusahaan tambang yang gua beli dua hari lalu harganya drop terus nih. Menurut analisis kamu, gua harus buru-buru jual rugi (cut loss) atau justru gua harus beli lagi di harga bawah (average down)?" tanya Dika panik sambil menunjukkan grafik aplikasi di ponselnya kepada Bumi yang baru datang.
Bumi mengambil ponsel Dika, menatap grafik pergerakan harga saham tersebut selama semenit, lalu melakukan perhitungan cepat di dalam otaknya yang super tajam.
"Jangan dijual rugi dulu, Dik," kata Bumi dengan nada suara yang sangat tenang dan meyakinkan. "Kalau gua lihat dari volume perdagangan dan analisis fundamental laporan keuangannya semalam, penurunan harga hari ini cuma permainan psikologis dari bandar buat nurunin penumpang ritel. Rekomendasi gua, lu justru harus beli lagi sekarang dalam jumlah besar di titik harga terendah ini. Tepat jam dua siang nanti, harganya bakal berbalik arah melonjak tajam karena ada sentimen positif pasar."
Dika sempat ragu dan menelan ludahnya dengan susah payah. "Lu... lu yakin, Mas Bumi? Ini duit tabungan gua taruhannya besar loh."
Alya yang kebetulan baru masuk ke dalam ruangan ikut memberikan dukungan. "Udah, Dik, percaya aja sama analisisnya Mas Bumi. Selama ini tebakan dia tentang teori ekonomi gak pernah ada yang meleset kan?"
"Oke, oke, gua ikutin saran lu, Mas Bumi! Gua beli lagi sekarang di harga bawah!" kata Dika nekat, langsung menekan tombol buy di aplikasinya dengan tangan gemetar.
Sore harinya, tepat setelah pasar saham ditutup pada pukul empat sore, Dika tiba-tiba berteriak histeris di dalam ruang tamu hingga melompat-lompat dari sofa.
"Astaga! Mas Bumi! Alya! Lihat ini! Gila, gila, gila! Analisis lu bener-bener akurat seratus persen, Mas!" teriak Dika histeris sambil menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan angka profit berwarna hijau terang. "Tepat jam dua siang tadi harganya langsung naik melonjak sampai batas atas! Gua berhasil dapet keuntungan yang sangat besar hari ini, Mas! Profit gua tembus puluhan juta rupiah cuma dalam hitungan jam!"
Alya yang melihat angka keuntungan Dika langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak lebar penuh rasa takjub. Ia menoleh ke arah Bumi yang hanya tersenyum tenang di kursinya.
"Ya ampun, Mas Bumi... kamu bener-bener hebat banget!" seru Alya dengan tatapan mata yang memancarkan rasa kagum yang luar biasa besar dan mendalam kepada Bumi. "Gak cuma jago teori kuliah, tapi kamu bahkan bisa memprediksi pasar saham yang rumit itu dengan sangat jitu. Kamu bener-bener luar biasa, Mas!"
Bumi hanya mengangguk pelan, bersyukur dalam hati karena ilmu yang ia serap dari warisan leluhurnya kini perlahan mulai membuka gerbang kesuksesan finansial baru baginya di ibu kota. Perjalanan hidup kuli pasar ini kini telah resmi memasuki babak baru yang jauh lebih berkelas.