Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Beberapa saat kemudian Aisyah mengusap wajahnya setelah doanya selesai. Ia melipat mukena dan sajadahnya dengan rapi kemudian menyimpannya kembali ke dalam lemari kecil di sudut kamar. Setelah semuanya selesai, ia menoleh sekilas ke arah ranjang dan melihat Ammar yang mengambil bantal dan selimut lalu melemparkannya begitu saja ke arah Aisyah.
"Meskipun kita sudah menikah tapi aku hanya akan tetap setia kepada istriku, Salsa. Aku tidak membagi ranjangku ataupun tidur seranjang denganmu, Aisyah. Mulai malam ini dan seterusnya, kau akan tidur di sofa dan aku tidur di ranjang." Ucap Ammar dengan dingin tanpa mempedulikan perasaan Aisyah.
Ruangan kembali tenggelam dalam keheningan. Tak ada lagi suara selain dengung pelan pendingin ruangan yang memenuhi setiap sudut kamar pengantin Ammar dan Aisyah. Aisyah masih berdiri di tempatnya. Tatapannya jatuh pada bantal dan selimut yang kini tergeletak di lantai, beberapa langkah dari kakinya sementara perkataan Ammar barusan masih terngiang begitu jelas di telinganya namun entah mengapa terasa lebih menyakitkan daripada bentakan. Untuk beberapa saat Aisyah tidak bergerak. Dadanya terasa sesak. Harga dirinya seolah baru saja diremukkan, tetapi ia tahu dirinya tidak memiliki hak untuk memprotes apa pun.
Bukankah sejak awal laki-laki itu sudah mengatakan bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah keterpaksaan? Bukankah ia sendiri sudah berjanji tidak akan menuntut apa pun?
Perlahan Aisyah menarik napas panjang. Kelopak matanya kembali terasa panas, tetapi ia memaksa dirinya untuk tetap tenang.
"Jangan menangis lagi, Aisyah" Bisik Aisyah dalam hati. "Kalau kau menangis di depannya, Mas Ammar pasti akan semakin salah paham."
Aisyah pun membungkukkan badan. Tangannya meraih bantal yang terjatuh lebih dulu kemudian selimut yang masih sedikit kusut. Dengan gerakan hati-hati ia menepuk-nepuk bagian yang terkena lantai sebelum melipatnya serapi mungkin. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Aisyah yang mana sikap diam itu justru membuat kamar terasa semakin sunyi. Aisyah kemudian berjalan menuju sofa yang berada di dekat jendela. Sofa itu tidak terlalu besar, hanya cukup untuk satu orang berbaring..Ia menghamparkan selimut tipis di atasnya sebagai alas, lalu meletakkan bantal di salah satu ujung. Setelah semuanya rapi, Aisyah memandang sofa itu selama beberapa detik.
Mulai malam ini, tempat itulah yang akan menjadi ranjangnya. Aisyah tersenyum kecil.
Senyum yang begitu tipis hingga lebih menyerupai kepasrahan.
"Setidaknya," Batinnya lirih. "Aku masih memiliki tempat untuk beristirahat."
Aisyah kemudian menoleh sekilas ke arah ranjang dan melihat Ammar masih membelakanginya seolah tidak peduli dengan apa pun yang sedang ia lakukan yang membuat Aisyah mengalihkan kembali pandangannya. Tangannya menjangkau lampu tidur kecil di samping sofa lalu mematikannya. Lampu itu padam dan menyisakan lampu kamar yang terlihat sedikit redup. Dengan pelan Aisyah membaringkan tubuhnya. Ia memunggungi ranjang, memeluk bantal erat-erat ke dadanya lalu memejamkan matanya. Tidak butuh waktu lama hingga membuat kedua matanya terpejam dan membuatnya jatuh tertidur.
Sementara itu di atas ranjang, Ammar membuka kedua matanya. Sejak tadi ia sama sekali belum tidur. Ia mengetahui setiap gerakan yang dilakukan Aisyah. Ia mendengar langkah kaki perempuan itu. Ia mendengar suara kain selimut yang dirapikan. Ia bahkan mendengar suara sakelar lampu tidur yang dimatikan. Namun perempuan itu, tidak membantah sedikit pun perkataannya apalagi
memohon dan mencoba melunakkan hatinya.
Ammar memandang langit-langit kamarnya. Untuk sesaat, sebuah perasaan asing kembali menyusup ke dalam dadanya. Bukan cinta bukan pula iba, melainkan rasa tidak nyaman karena sikap Aisyah yang menerima semuanya tanpa perlawanan. Semakin Aisyah diam, semakin ia merasa seperti orang yang sedang menyakiti seseorang yang tidak bersalah dan itu membuat rahang Ammar mengeras.
"Tidak." Batinnya tegas. "Aku tidak boleh goyah." Ammar mengepalkan kedua tangannya di balik selimut. "Semua ini demi Salsa." Kalimat itu diulanginya berkali-kali di dalam hati. "Aku sudah berjanji akan tetap setia. Aku tidak boleh merasa kasihan, apalagi luluh."
Ammar memejamkan kedua matanya kuat-kuat. Perempuan yang berada di sofa itu memang bukan orang jahat. Ia mulai menyadarinya, tetapi kenyataan itu tidak akan mengubah apa pun. Hatinya tetap milik Salsa dan akan selalu begitu. Dengan keyakinan itu, Ammar menarik selimut hingga menutupi dadanya dan tidur.
Sementara itu, di sisi lain rumah megah keluarga Adhitama, sebuah kamar lain masih diterangi cahaya lampu tidur berwarna kekuningan. Salsa duduk bersandar di kepala ranjang, matanya menatap kosong ke arah jendela. Jam dinding telah menunjukkan pukul lewat tengah malam, namun kantuk sama sekali tidak menghampirinya. Tangannya menggenggam ujung selimut begitu erat. Berkali-kali ia menarik napas panjang, tetapi dadanya tetap terasa sesak.
Malam ini, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Ammar tidak berada di sisinya. Biasanya, laki-laki itu selalu mengucapkan selamat malam sebelum tidur.
Selalu memastikan ia sudah beristirahat atau belum dan memastikan dirinya berada di sampingnya. Namun malam ini, tempat itu kosong dan kekosongan itu terasa begitu menyiksa.
Perlahan Salsa memejamkan kedua matanya.
Tanpa diminta, bayangan yang paling ingin ia hindari justru bermunculan satu per satu. Ia membayangkan Ammar berada di kamar lain tengah berdua saja dengan Aisyah, adik kandungnya sendiri untuk melakukan malam pertama mereka sebagai suami istri. Membayangkan hal itu membuat jantung Salsa berdetak semakin cepat.
"Tidak." Bisiknya lirih. "Mas Ammar sudah berjanji."
Salsa mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau Ammar masih mencintainya dan tidak mungkin mengingkari janjinya sendiri. Tetapi, perkataan Pak Wira tadi kembali terngiang di kepalanya.
"Selama satu bulan, Ammar akan tidur bersama Aisyah agar keluarga Adhitama segera memiliki penerus."
Kalimat itu seperti pisau yang kembali menggores luka yang belum sempat mengering di hati Salsa. Bagaimana kalau Ammar akhirnya menuruti permintaan Papanya? Bagaimana kalau malam ini benar-benar menjadi malam pertama mereka?Kalau itu terjadi, apa yang akan tersisa untuk dirinya? Salsa buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Tidak." Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. "Mas Ammar tidak akan melakukan itu."
Salsa mengulang kalimat itu berkali-kali, namun semakin ia mengulanginya, semakin besar pula rasa takut yang memenuhi dadanya. Karena ia sadar, sebesar apa pun cinta Ammar kepadanya, Laki-laki itu tetap seorang anak yang berada di bawah tekanan ayahnya. Dan tekanan itu telah memaksa mereka sampai pada pernikahan yang tidak pernah mereka inginkan.
Perlahan Salsa memeluk kedua lututnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia tak pernah membayangkan kalau mencintai seseorang bisa sesakit ini. Lebih menyakitkannya lagi, perempuan yang kini berada bersama suaminya bukanlah orang asing, melainkan adik kandungnya sendiri. Seseorang yang sejak kecil selalu ia lindungi dan kenyataan itulah yang membuat Salsa merasa terjebak.
Ia tidak bisa membenci Aisyah tetapi ia juga tidak mampu menghilangkan rasa takut kehilangan laki-laki yang paling dicintainya.