NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Langkah Kaki di Paviliun Belakang

Gemerlap lampu kristal di Mansion Tengah malam itu terasa begitu menyilaukan bagi Xavier Garrick. Di dalam kamar tidurnya yang super mewah—yang ukurannya bahkan tiga kali lebih besar daripada seluruh bangunan paviliun belakang—pria flamboyan itu tampak duduk di tepi ranjang sutranya. Di atas meja kerja mahoni di depannya, bertumpuk laporan keuangan bulanan dari jaringan kasino raksasa miliknya di Monaco dan Las Vegas. Angka-angka yang biasanya menjadi sumber gairah utamanya, malam ini terlihat seperti deretan huruf mati yang membosankan.

Xavier menyandarkan punggungnya, mengembuskan napas kasar ke langit-langit kamar. Jemarinya yang dihiasi cincin safir meraba saku dalam jas kasualnya yang digantung di dekat ranjang. Dia menarik keluar rajutan pembatas buku katun sederhana bermotif klasik itu.

Aroma melati yang menenangkan langsung menguar, memenuhi rongga dadanya, mengusir aroma alkohol dan cerutu yang menempel di kamarnya. Xavier menatap benda itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Sepanjang sore hingga malam ini, bayangan sepasang mata jernih namun sedingin es milik Alana terus berputar-putar di kepalanya bagaikan kaset rusak. Kata-kata Alana yang menelanjangi rasa bosannya terasa seperti tamparan keras pada harga dirinya yang setinggi langit.

Pangeran kasino yang selalu dikejar, dipuja, dan diinginkan oleh ratusan wanita cantik dari kalangan atas ini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, diabaikan sepenuhnya oleh seorang gadis bergaun katun murah yang memiliki luka memar di pipinya. Rasa frustrasi yang aneh bergejolak di dalam dadanya, namun bersamaan dengan itu, ada rasa gairah dan adrenalin yang sangat pekat yang menuntut untuk segera dituntaskan.

'Menolak menjadi alat taruhan, ya?' Xavier menyeringai gelap, matanya berkilat di bawah temaram lampu kamar. 'Mari kita lihat seberapa kuat pertahananmu saat aku mendatangi kandangmu, Adik Kecil.'

Xavier berdiri, menyambar jasnya, dan melangkah keluar kamar dengan keputusan impulsif yang mutlak. Dia tidak bisa menunggu sampai besok. Dia harus melihat mata itu lagi malam ini.

Sementara itu, di bagian paling belakang kompleks kediaman Garrick, suasana paviliun faksi keempat tampak sangat sunyi dan temaram. Hanya ada satu lampu minyak dan satu lampu bohlam kecil berkekuatan rendah yang menerangi ruang tengah yang sederhana.

Elena sedang berlutut di dekat meja rias usang, mencari sesuatu di bawah kolong meja dan di sela-sela karpet tipis dengan wajah yang pucat pasi dan panik. "Alana... apakah kamu yakin tidak menjatuhkannya di dalam kamar? Pembatas buku rajutan melati yang kita buat kemarin... Ibu sudah mencari ke mana-mana tapi tidak ada."

Alana yang sedang duduk tenang di kursi kayu sambil menyeduh teh hangat buatan ibunya, menatap kepanikan Elena dengan ekspresi wajah yang sangat damai. Dia menyesap tehnya perlahan, membiarkan kehangatan cairan itu membasahi tenggorokannya.

"Sudahlah, Ibu. Jangan dicari lagi. Anggap saja benda itu sudah hilang," kata Alana dengan nada suara yang begitu santai, seolah-olah barang yang hilang itu hanyalah sebatang kerikil tidak berharga.

"Tapi Alana, itu adalah benda yang kamu bilang sangat penting untuk... untuk masa depan kita," suara Elena bergetar, matanya kembali berkaca-kaca menahan rasa bersalah. Dia mengira kecerobohannya atau kecerobohan Alana yang menjatuhkan benda itu di taman tadi siang telah menghancurkan rencana putrinya.

Alana meletakkan cangkir tehnya dengan ketukan pelan di atas meja kayu. Dia berdiri, berjalan mendekati Elena, lalu membantu wanita paruh baya itu untuk berdiri dan duduk di kursi. Alana menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti, sepasang matanya berkilat tenang di bawah temaram lampu.

"Ibu, percayalah padaku. Pembatas buku itu tidak hilang," bisik Alana dengan nada yang teramat menenangkan. "Benda itu sedang berada di tempat yang tepat, sedang melakukan tugasnya dengan sangat baik untuk membawa masa depan kita ke paviliun ini."

Elena mengedipkan matanya yang basah, sama sekali tidak memahami maksud dari kalimat metafora putrinya. Namun, sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, keheningan malam di paviliun belakang mendadak pecah oleh sebuah suara yang sangat asing di telinga mereka.

Krieeek...

Suara pagar besi kecil yang membatasi halaman paviliun belakang terdengar digeser dari luar. Disusul oleh langkah kaki yang santai, berirama, dan dipenuhi oleh aura kepercayaan diri yang luar biasa besar, melintasi jalan setapak berbatu menuju pintu depan paviliun mereka.

Elena seketika menegang di tempat duduknya, wajahnya memucat drastis karena ketakutan bawah sadar. Di mansion mafia ini, kedatangan tamu di malam hari ke paviliun faksi keempat yang terisolasi biasanya bukan membawa kabar baik—melainkan membawa perintah eksekusi, hukuman, atau penindasan baru dari faksi Istri Sah.

"Alana... ada orang di luar... Siapa yang datang malam-malam begini?" bisik Elena dengan suara yang gemetar hebat, tangannya mencengkeram lengan baju Alana dengan erat.

"Tenang, Ibu. Duduklah di sini dan jangan panik," jawab Alana datar. Aura tenangnya sama sekali tidak goyah. Dia melepaskan cengkeraman tangan Elena dengan lembut, lalu berjalan dengan langkah kaki yang mantap menuju pintu depan paviliun.

Tok... Tok... Tok...

Ketukan di pintu terdengar tiga kali. Ketukan yang tidak kasar seperti ketukan para pelayan atau pengawal Eleanor kemarin, melainkan ketukan yang ritmis, elegan, namun menuntut untuk segera dibuka.

Alana memegang gagang pintu kayu yang sudah agak berkarat, lalu menariknya terbuka.

Begitu pintu terbuka, embusan angin malam yang dingin langsung menerpa wajah Alana, membawa serta aroma asap cerutu vanila premium yang sangat pekat dan familiar. Di ambang pintu, berdiri sesosok pria bertubuh tinggi tegap dengan setelan jas kasual hitam tanpa dasi. Cahaya rembulan malam menyinari wajah tampannya yang sedang menyunggingkan sebuah senyuman jenaka yang memikat—Xavier Garrick.

Xavier berdiri di sana sendirian, tanpa ada satu pun pengawal berjas hitam yang biasanya selalu mengekor di belakang punggungnya. Dia melintasi batas faksi di malam hari, menginjakkan kakinya di atas tanah kasta terendah kediaman Garrick hanya demi menemui seorang gadis. Kejadian gila ini adalah sesuatu yang belum pernah terjadi seumur hidup Alana asli, dan jika faksi Eleanor tahu, seluruh mansion pasti akan gempar.

"Selamat malam, Adik Kecil," sapa Xavier dengan nada baritonnya yang renyah, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Alana yang berdiri di depannya.

Alana tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Dia tidak mundur selangkah, tidak membelalakkan matanya, dan jelas tidak gemetar seperti tikus tanah. Dia tetap mempertahankan posisi berdirinya di ambang pintu, menatap Xavier dengan sepasang mata sedingin es yang sama seperti tadi siang di bawah pohon ek.

"Tuan Muda Xavier," Alana menyebut namanya dengan nada formal yang kaku dan datar, menghalangi jalan masuk pria itu dengan tubuhnya sendiri. "Ada urusan apa yang membuat putra mahkota faksi ketiga sudi mengotori sepatu mahalnya di paviliun belakang yang kumuh ini pada jam selarut ini?"

Xavier terkekeh rendah, matanya menyipit menikmati sambutan dingin yang begitu menyegarkan bagi egonya. Dia meraba saku jasnya, lalu mengeluarkan rajutan pembatas buku katun melati dari sana, menggoyangkannya di depan wajah Alana.

"Kamu menjatuhkan barangmu di lapak judiku siang tadi, Alana," ujar Xavier dengan seringai tipis yang penuh kemenangan, mengira dia memiliki alasan kuat untuk mengintimidasi gadis itu. "Sebagai seorang kakak yang baik hati dan dermawan, aku datang jauh-jauh ke sini murni hanya untuk mengembalikan pembatas buku murahmu ini."

Alana melirik benda rajutan itu sekilas, lalu kembali menatap lurus ke dalam manik mata hazel Xavier. Sudut bibir Alana terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan taktik negosiasi korporat yang dingin.

"Jika Anda hanya ingin mengembalikan benda murah itu, Anda bisa menyuruh pelayan terendah di mansion Anda untuk melemparkannya ke tempat sampah di depan paviliun ini, Tuan Muda," balas Alana dengan suara yang teramat tenang namun tajam. "Fakta bahwa Anda datang sendiri malam-malam begini tanpa pengawal murni hanya membuktikan satu hal."

Alana memajukan wajahnya sedikit, memotong jarak di antara mereka hingga Xavier bisa mencium aroma melati murni yang menguar dari tubuh gadis itu, bukan dari pembatas buku.

"Jebakan saya berhasil, dan Anda... secara sukarela telah berjalan masuk ke dalam papan permainan saya, Xavier Garrick."

Xavier seketika menegang di tempatnya berdiri, senyuman jenaka di wajah tampannya perlahan-lahan luntur, digantikan oleh ekspresi keterkejutan yang teramat mendalam saat Alana menyebut nama lengkapnya tanpa embel-embel formalitas untuk pertama kalinya. Permainan pikiran di ambang pintu paviliun sepi itu baru saja memasuki babak yang sesungguhnya.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!