Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Empat
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela dapur, membuat ruangan terasa hangat. Aroma bawang putih yang ditumis berpadu dengan wangi sup ayam, ayam kecap, tumis buncis, telur dadar gulung, sambal, hingga nasi hangat yang baru matang memenuhi seluruh rumah.
Di dapur, Mama Dina tampak sibuk. Tangannya bergerak lincah dari kompor ke meja makan. Satu per satu wadah makanan ditata dengan rapi.
Tak hanya satu atau dua menu. Melainkan hampir seperti sedang menyiapkan hidangan untuk acara keluarga besar.
Zoya yang baru bangun langsung mengernyit begitu melihat pemandangan itu. "Ma ...."
Mama Dina menoleh sambil tersenyum. "Sudah bangun?"
Zoya mengangguk pelan. "Ini ... banyak banget masakannya."
Belum sempat Mama Dina menjawab, Farhan yang baru turun dari lantai atas juga ikut menghampiri dapur. Pandangannya menyapu meja makan yang hampir penuh.
"Ada apa ini? Kanapa banyak sekali kamu masak. Ada ayam, sup, ikan, sayur, buah ... bahkan puding segala."
Mama Dina tersenyum santai. "Memang sengaja, Mas."
Farhan mengangkat sebelah alis. "Sengaja buat siapa?"
Mama Dina meletakkan sendok sayur, lalu menjawab dengan tenang. "Buat pacarnya Zoya."
Zoya yang sedang menuang teh hampir tersedak.."Ma ...."
Farhan ikut terdiam beberapa detik. "Pacarnya Zoya?"
"Iya."
Mama Dina mengangguk ringan seolah tidak ada yang aneh. Farhan menatap putrinya bergantian dengan istrinya.
"El ...?" tanya Farhan dengan rasa heran.
Zoya menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya mengangguk. "Iya, Pa."
Farhan kembali bertanya dengan nada hati-hati. "El ... anaknya Arsaka?"
Zoya kembali mengangguk. "Iya, Pa."
Suasana mendadak hening. Farhan menundukkan kepalanya beberapa saat. Nama Arsaka bukan nama asing baginya.
Dalam hati Farhan muncul perasaan tidak nyaman. Ia masih mengingat beberapa sikap Mama Dina selama ini.
Setiap kali membahas keluarga Arsaka, istrinya selalu terlihat terlalu antusias.
Bahkan semalam, saat Zoya menceritakan pertemuannya dengan Arsaka, Farhan sempat mendengar sebagian percakapan mereka dari luar ruang keluarga.
Kalimat-kalimat Mama Dina masih teringat jelas. "Buat dia semakin bergantung padamu. Suatu hari nanti semua harta itu tetap akan jatuh ke tangan El."
Farhan mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia mengenal Zoya. Anak tirinya itu sebenarnya gadis yang lembut. Namun ia juga tahu Mama Dina sangat pandai memengaruhi orang.
Entah sejak kapan, Zoya mulai berubah mengikuti cara berpikir ibunya. Farhan ingin menegur. Ingin mengatakan bahwa hubungan tidak seharusnya dibangun karena kekayaan.
Namun ia tidak memiliki bukti apa pun. Kalau ia berbicara sekarang, justru akan memicu pertengkaran. Akhirnya ia memilih diam.
Hanya saja, dalam hati kecilnya muncul rasa bersalah. "Maafkan aku, Arsaka ... kalau memang dugaanku benar, semoga aku bisa menemukan cara menghentikan semua ini."
Sarapan berlangsung cukup tenang. Mama Dina terus menambahkan lauk ke piring Zoya.
"Makan yang banyak."
"Iya, Ma."
Sesekali Mama Dina tersenyum sendiri melihat kotak-kotak makan yang sudah tersusun rapi di meja dapur. Begitu selesai makan, ia segera memasukkan semua masakan ke dalam beberapa wadah cantik.
Zoya memperhatikan dengan heran. "Ma ... ini semuanya mau dibawa?"
"Iya."
"Banyak banget."
Mama Dina menutup kotak terakhir. "Memangnya kenapa?"
"Nanti El malah kaget."
Mama Dina tertawa kecil. "Justru itu lebih bagus."
Zoya mengernyit. "Maksud Mama?"
Mama Dina berjalan mendekat sambil menyerahkan dua tas besar berisi makanan. "Kalau mau dapat ikan ....".Ia berhenti sejenak. "... harus pakai umpan."
Zoya menatap ibunya beberapa detik. Lalu perlahan sudut bibirnya terangkat. "Aku paham."
Mama Dina mengangguk puas. "Pergilah. Temani dan perhatikan dia. Jangan biarkan dia merasa sendirian."
"Iya, Ma."
Tak lama kemudian Zoya meninggalkan rumah.
---
Sekitar empat puluh menit kemudian, Zoya telah sampai. Lift apartemen berhenti di lantai tempat El tinggal. Pintu terbuka perlahan.
Zoya keluar sambil membawa dua tas besar di kedua tangannya. Ia berdiri beberapa saat di depan pintu apartemen. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Zoya mengetuk pintu. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari dalam. Pintu terbuka.
El muncul dengan rambut yang masih sedikit basah. Kaus hitam sederhana dan celana training membuat penampilannya terlihat santai. Aroma sabun masih begitu jelas.
Tatapan El langsung melembut begitu melihat Zoya berdiri di depan pintunya. "Zoya?"
Zoya tersenyum kecil sambil mengangkat kedua tas di tangannya. "Selamat pagi."
El ikut tersenyum. "Masuk."
Ia segera bergeser memberi jalan. Begitu masuk, Zoya melihat apartemen itu jauh lebih sepi dibanding biasanya.
El menutup pintu lalu kembali menatap Zoya. "Kamu datang pagi-pagi begini?"
"Iya." Zoya mengangkat tas yang dibawanya. "Aku bawain makanan."
El tampak bingung. "Makanan?"
"Iya," jawab Zoya singkat. Aku takut kamu belum sempat sarapan."
El memandang kedua tas itu. "Kamu masak?"
Zoya tersenyum malu. "Sebagian Mama yang masak. Kata mama makanan rumah lebih enak daripada beli di luar."
El terdiam. Tatapannya perlahan berpindah dari tas makanan menuju wajah gadis di depannya. Entah kenapa, dadanya terasa hangat.
Sejak beberapa hari hidupnya benar-benar berubah. Semua kartu diblokir. Fasilitas dihentikan.
Namun pagi ini, di saat ia bahkan belum sempat memikirkan sarapan. Ada seseorang yang datang membawakannya makanan.
Bukan karena diminta. Bukan juga karena terpaksa..Melainkan karena peduli.
Tanpa sadar senyum tipis muncul di bibir El. "Kamu ...."
Zoya memiringkan kepala. "Kenapa?"
El melangkah mendekat. Semakin dekat. Hingga kini hanya tersisa beberapa senti di antara mereka.
Zoya menatap bingung. "El?"
Tanpa berkata apa pun, El langsung merentangkan kedua tangannya. Tubuh Zoya masuk ke dalam pelukannya.
Zoya membeku. Matanya membulat. "El ...."
Pria itu memejamkan mata beberapa detik. Suaranya terdengar pelan. Namun penuh kejujuran.
"Cuma kamu yang benar-benar mengerti aku."
Kalimat itu membuat jantung Zoya berdegup lebih cepat. Perlahan kedua tangannya ikut membalas pelukan itu.
"Kalau bukan aku siapa lagi? Sebagai kekasihmu, apa yang aku lakukan ini belum seberapa.
El tersenyum tipis tanpa melepaskan pelukannya. "Daddy mungkin sedang marah padaku. Tapi selama masih ada kamu ...."
Ia mengembuskan napas panjang. "Aku rasa aku bisa melewati semuanya."
Mendengar ucapan itu, mata Zoya perlahan berbinar. Ucapan Mama Dina kembali terngiang di kepalanya.
"Buat dia merasa hanya kamu tempat dia pulang."
Dan saat ini, tanpa perlu melakukan banyak hal, El sendiri yang mengatakannya. Tanpa disadari, sebuah senyum kecil terbit di sudut bibir Zoya.
Sementara di luar apartemen, langit pagi tampak begitu cerah. Tak seorang pun menyadari bahwa di balik perhatian, pelukan hangat, dan senyum manis yang baru saja tercipta, benih-benih permainan yang jauh lebih besar mulai tumbuh perlahan.
Dan ketika hati seseorang sudah dipenuhi rasa percaya, sering kali, ia tidak lagi mampu membedakan mana ketulusan dan mana yang hanya sebuah rencana.
suka iy lah
duka ..maaf yee🤣
jd ga sbr ngu hari itu el🤣🤣