NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Bukan Kisah CEO Biasa

Bagas memicingkan mata. Menyadari ketidaksesuaian keterangan yang begitu kentara antara ibu dan anak ini. “Jujur aku tak peduli dengan cerita tentang Herwanto,” putusnya dingin. “Aku kemari untuk mengantar Mawar pulang. Sekaligus, mencari info tentang Melati, yang katamu sepupu itu."

“Uang tiga miliar itu, jangan lupa." Mawar memperingatkan, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menuntut haknya.

“Tentu saja. Asal kamu atau ibumu bisa memberi info tentang Melati.” Bagas menyahut tenang, menguji ketamakan keduanya.

“Eh, tiga miliar?” Netra Turi berbinar girang. Jiwa matrenya bergejolak hebat mendengarkan nominal tersebut. “Jadi dia ….” Tangannya menunjuk Bagas dengan gemetar.

“Ya, Bu.” Mawar menarik lengan ibunya dengan kasar ke sudut ruangan. Ia berbisik lirih. “Sementara tolong jangan ikut campur dulu. Biar aku yang nyelesain. Kalau ada Ibu, semua jadi amburadul nanti.”

“Oke, siap. Yang penting bagian Ibu aman, ya,” Turi membalas juga dengan berbisik, matanya terus melirik Bagas layaknya mangsa empuk.

Bagas menatap penuh selidik. Merasa ada yang janggal dan penuh intrik kotor dalam hubungan Mawar dan ibunya. Namun, ia tetap memilih diam dan fokus pada tujuan. “Begini saja. Apa kalian punya foto Melati?”

“Ada!” Turi langsung menyahut girang, mengabaikan Mawar yang melotot tajam ke arahnya seolah ingin menelannya hidup-hidup.

“Bisa aku lihat?”

“Boleh. Tapi bayar aku sejuta!” Turi tanpa malu menengadahkan tangannya yang keriput tepat di depan wajah Bagas.

Sikap itu membuat Bagas tersenyum geram. ‘Ibu dan anak sama-sama mata duitan,’ batinnya sampai mengumpat kasar. “Oke. Aku akan kasih. Tapi tunjukkan dulu.”

Setelah menimbang cukup lama dengan raut penuh perhitungan, Turi akhirnya setuju. Ia melangkah ke dalam kamar dan kembali dengan membawa sebuah album foto usang berlapis plastik yang sudah berdebu. Ia membukanya kasar di depan Bagas.

“Ini foto Melati waktu baru lahir.”

“Aku butuh foto yang terbaru,” sela Bagas, tak sabar.

Turi mencebik kesal, tangannya sibuk membolak-balik lembaran album untuk mencari foto yang dimaksud. “Ini yang terbaru. Sudah, aku nggak punya lagi. Dia ditaruh di panti sejak embah-nya mati.”

Ia menunjuk selembar foto seorang gadis remaja yang tersenyum manis meski dengan tatapan mata yang kosong.

Bagas terkesan melihat foto Melati yang anggun di dalam album tersebut. ‘Gadis ini cantik. Pantas Bram bisa terpikat sama dia,’ pikirnya. Ia merogoh gawai dari saku celana, dengan sigap mengambil gambar foto tersebut.

“Lho, kok difoto?” Turi secepat kilat menutup albumnya dengan entakan keras. “Ini nggak masuk perjanjian! Kamu harus ngasih aku uang lebih. Enak aja main ambil gambar!”

Sambil berkacak pinggang, menuntut tambahan uang dari sang pemuda kaya yang kini hanya bisa mendengkus kesal melihat keserakahan yang tak ada habisnya.

"Satu juta sudah cukup," balas Bagas tenang. Ia menatap lurus ke arah Turi dengan pandangan dingin yang berwibawa, tidak sudi didekte oleh keserakahan wanita tua di hadapannya.

"Kuranglah. Satu juta zaman now cukup buat apa? Masa orang kaya nggak bisa ngasih lebih sih," gerutu Turi dengan nada meremehkan, memancing drama di ruang tamu yang sempit itu.

"Nggak!"

Bagas melipat tangan, menolak keinginan Turi, membuat wanita itu mendelik kesal.

"Pelit bener. Nggak ingat kamu kalau anakku ...."

"Bu, sudah cukup." Mawar yang tidak tahan langsung memotong pembicaraan. Wajahnya pias, dilingkupi kepanikan akut jika rahasia malam kelamnya bersama Herwanto terlepas dari mulut ceroboh ibunya.

Ia lalu menatap Bagas, mencoba menyusun kembali intrik asmaranya yang sempat goyah. "Mengenai perjanjian kita. Karena surat kontrak belum ada, aku tunggu itu. Tapi untuk syarat awal, apa kau bisa memberiku dua ratus juta dulu?"

Bukan tanpa alasan Mawar meminta dia ratus juta. Ia berencana melunasi semua utang ibunya, sehingga bisa putus hubungan dengan Herwanto. Selamanya.

Lama Bagas menimbang. Matanya memicing, membaca ketegangan dewasa yang tersirat di antara ibu dan anak itu. Hingga akhirnya ia mengangguk. "Baiklah. Berikan nomor rekeningmu."

Mawar bergegas mengambil secarik kertas di atas meja, lalu menuliskan deretan nomor rekeningnya dengan jemari yang gemetar karena gairah kemenangan sesaat. "Ini, Bagas. Silakan."

Bagas menerima kertas itu, lalu merogoh gawai mahalnya. Jemarinya lincah menari di atas layar, melakukan transfer kilat untuk menyudahi drama malam ini. Ting. Gawai Mawar berbunyi, menampilkan notifikasi dana masuk.

"Dua ratus juta sudah masuk. Urusan kita berlanjut besok dengan pengacaraku," ucap Bagas dingin seraya bangkit dari sofa, bersiap pamit.

Mawar menahan langkah pria itu dengan menyentuh lengannya perlahan, menatapnya penuh harap. "Bagas, tolong jangan memblokir nomor teleponku lagi. Kita butuh komunikasi untuk urusan ini."

Bagas hanya menatap datar tangan Mawar di lengannya, lalu menarik dirinya mundur dengan perlahan. Setelahnya, ia melangkah lebar keluar dari rumah itu tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Mawar yang berdiri terpaku di ambang pintu sambil memeluk gawainya erat-erat, meratapi asmara penuh lika-liku yang kini mengikatnya.

“Mawar.” Turi mendekat. Mengamati punggung Bagas yang masuk ke mobil mewahnya di bawah pendar lampu jalan yang temaram. “Pemuda itu ganteng juga. Pantas jadi mantuku.” Seringai haus harta muncul di balik raut tua Turi, matanya berbinar penuh kelicikan membayangkan kekayaan keluarga Utama yang tak berseri.

“Aku sudah tidak berharap Bagas mau sama aku, Bu.” Mawar mendengkus pelan. Ia melangkah mundur, lalu membanting pintu depan dengan kasar demi menyembunyikan rasa frustrasi dan kegugupan yang mendera batinnya. “Sekarang yang aku pikirkan adalah lepas dari jerat Herwanto. Lalu mencari info tentang Melati.”

“Ah, nggak usah nyari info tentang si buta itu, buat apa, coba?” Turi mengibaskan tangan dengan acuh seiring langkahnya mengekor ke ruang tengah. “Beban kita ringan kalau Melati pergi dari rumah ini.”

“Demi uang tiga miliar, apa Ibu mau melepas Melati begitu saja? Toh ini hanya informasi saja kan?” Mawar berbalik, menatap ibunya dengan dahi berkerut tegang. Suaranya berbisik penuh penekanan intrik. “Bagas rela bayar mahal hanya untuk tahu keberadaan si buta itu!”

Turi menelan ludah. Celamitan membayangkan uang miliaran yang sudah di depan mata. “Kamu benar. Tapi … kalau Bagas jadi menantu Ibu … hihihi.” Mendadak Turi cekikikan nggak jelas, menutup mulutnya dengan telapak tangan yang gemetar akibat keserakahan yang memuncak. “Ibu bisa pamer mantu kaya ke tetangga. Biar mereka panas dan nggak nganggap keluarga kita remeh lagi!”

Mawar mencebik, melirik ibunya gemas. Rasa mual yang sedari tadi bersarang di perutnya kembali bergejolak, menambah drama ketegangan di antara mereka. “Bu! Please deh. Ini bukan novel CEO, di mana pemuda kaya dengan mudah jatuh cinta dengan gadis miskin,” tuturnya dengan nada sinis yang tajam. “Lagi pula, keluarga Utama pasti nyari yang setara lah buat anaknya. Bukan dari kasta seperti kita.”

“Ah, kamu ini botol. Bodoh dan tolol. Ibu punya kenalan dukun, yang bisa memelet Bagas supaya jatuh cinta sama kamu.” Turi mengkoarkan rencana liciknya, menyeringai penuh rencana mistis yang membuat atmosfer ruangan terasa semakin pekat dan penuh intrik kotor.

Membuat Mawar memicing heran sekaligus bergidik ngeri melihat ambisi ibunya yang membabi buta.

“Memelet? Ibu sudah gila, ya?” sentak Mawar, mencengkeram pinggiran kursi.

“Kamu pokok manut aja. Kita lihat nanti. Pasti si Bagas itu klepek-klepek sama anak Ibu,” lanjutnya penuh percaya diri, menepuk-nepuk bahu Mawar dengan tatapan mata yang berkilat penuh obsesi.

Mawar tidak menyahut lagi, ia langsung memutar tubuh dan melangkah cepat menuju kamarnya untuk menghindari ocehan gila sang ibu.

1
Lianty Itha Olivia
semakin byk nama tokoh pemerannya sampai GK kenal alur ceritanya, rumit dan berliku
ELIYONA: semangat
total 1 replies
Lianty Itha Olivia
semoga sebelum pernikahan mawar dan Bagas sudah ketahuan KLO hamilnya mawar BKN Krn Bagas biar mampus tu mawar berduri
Lianty Itha Olivia
kubusukan ht mawar hanya akan berbuah petaka utnya sendiri
Lianty Itha Olivia
ibu turi kebanyakan makan pecel sayur Turi makanya otaknya pekok
Lianty Itha Olivia: 😆😆😆💪💪💪💪💪💪💪
total 2 replies
Lianty Itha Olivia
😭kasihan melatinya
ELIYONA: banget sis🤭
total 3 replies
Ery Sithi Badriyyah
seru kak😍
Lianty Itha Olivia
waaaoo mawar yg sangat berduri dan kejam
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!