Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Akar Pohon yang Hidup dan Menyerang
Riu Han melanjutkan langkahnya, meninggalkan hamparan hutan bunga yang indah namun menyimpan bahaya tersembunyi, dan melangkah masuk ke dalam wilayah hutan yang jauh lebih gelap dan rimbun. Pepohonan di sini tumbuh menjulang sangat tinggi, batangnya berwarna hitam pekat dengan kulit kayu yang kasar seperti kulit batu purba, sementara dedaunan lebat di atasnya saling bertaut hingga hampir tak menyisakan celah bagi sinar matahari untuk menembus ke bawah. Suasana menjadi remang-remang, sepi, dan terasa dingin hingga ke tulang sumsum.
Sudah dua hari berlalu sejak ia melangkah masuk ke dalam Alam Mistis ini. Namun selama perjalanan sejauh itu, ia belum berpapasan dengan satu orang pun—baik itu teman seperguruan dari Sekte Pedang maupun perwakilan dari sekte lain. Rasanya seolah-olah dirinya adalah satu-satunya makhluk hidup yang tersisa di dunia luas ini, dan semua orang lain lenyap tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Kesunyian yang mendalam ini perlahan menimbulkan rasa tidak nyaman, namun ia tetap berusaha menenangkan diri dan terus melangkah maju.
Tiba-tiba—“Siut… Des!”
Suara gesekan cepat terdengar dari sisi kiri. Riu Han menangkis dengan refleks yang sangat tajam, namun saat ia menoleh ke arah serangan itu, matanya terbelalak kaget. Benda yang baru saja menyerangnya bukan binatang roh, bukan pula senjata manusia—melainkan seutas akar pohon yang sangat panjang dan kaku, bergerak lincah seolah memiliki kesadaran sendiri.
Belum sempat ia mencerna apa yang terjadi, suara serupa terdengar lagi dari segala arah: “Suit… Sup!” Dua akar lain melesat menuju leher dan kakinya secara bersamaan. Riu Han melompat ke belakang dengan gesit, menghindari serangan maut itu hanya dengan selisih sehelai rambut.
Ia segera mencabut pedang di punggungnya, cengkeramannya erat pada gagang senjata. “Akar pohon sialan…” gerutunya pelan. Seumur hidup, baru kali ini ia melihat dan memahami bahwa akar pohon bisa bergerak, bernapas, bahkan menyerang makhluk hidup dengan niat membunuh yang nyata.
Kewaspadaannya naik ke tingkat tertinggi. Setiap kali akar itu melesat, ia menghindar sekaligus menyabetkan pedangnya dengan presisi. “Wus… Ces!” Tiga batang akar terputus seketika terkena bilah pedangnya. Namun hal aneh yang tak terduga pun terjadi: dari ujung akar yang terpotong itu menetes cairan berwarna merah cerah persis seperti darah, dan udara di sekitarnya langsung dipenuhi aroma harum yang sangat lembut namun menyengat.
Riu Han sempat tertegun sesaat, namun ia tidak sempat berpikir panjang—belasan akar lain dari arah yang berbeda sudah melesat menyerbu.
“Buk!”
Salah satu akar yang lebih tebal berhasil menghantam punggungnya sebelum ia sempat menangkis. Tubuh Riu Han terpental jauh ke depan lalu jatuh berguling di atas tanah yang lembap. Ia segera bangkit berdiri dalam sekejap mata, tepat saat akar-akar itu hendak memukulnya lagi di tempat jatuh.
Saat ini belasan batang akar yang berukuran besar bergerak serentak mengelilinginya, ujung-ujungnya meruncing seperti tombak kayu yang tajam. Riu Han mengerahkan Teknik Langkah Bayangan sepenuhnya; tubuhnya berubah menjadi bayangan samar yang bergerak tak terduga di antara hantaman akar. Gerakan akar pohon itu ternyata jauh lebih cepat daripada yang ia duga, dan jumlahnya terus bertambah setiap detiknya.
Ia menyadari betul betapa beruntungnya ia memiliki teknik gerak kelas atas. Jika bukan karena Langkah Bayangan yang luar biasa ini, mungkin saat ini tubuhnya sudah dilubangi dan tertanam di sini sebagai pupuk bagi pohon kuno itu.
Ia terus menebas dan memotong akar yang mendekat, namun setiap kali satu terpotong, dua lagi muncul dari tanah menggantikannya. Semakin lama ia bertahan di satu tempat, semakin banyak akar yang datang mengepung. Melawan mereka di sini sama saja dengan menunggu kematian perlahan.
“Harus menjauh!” pikirnya cepat.
Ia memilih strategi terbaik: berlari sambil terus menangkis serangan, menembus celah di antara kepungan akar, dan melesat secepat kilat menjauhi batang pohon utama itu. Angin berdesir di telinganya, suara benturan akar ke tanah terdengar terus-menerus di belakangnya seolah tidak akan berhenti mengejar.
Hanya setelah ia berlari cukup jauh hingga batang pohon raksasa itu tak lagi terlihat di balik pepohonan lain, gerakan akar yang mengejarnya perlahan melambat, lalu akhirnya berhenti sepenuhnya dan kembali merayap masuk ke dalam tanah seolah tidak pernah ada apa-apa.
Riu Han berhenti di bawah pohon lain yang lebih kecil, bersandar pada batangnya sambil mengatur napas yang memburu. “Hah… hampir saja aku terkepung selamanya di sana,” keluhnya pelan sambil mengelap keringat dingin di kening.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Baru kali ini sejak masuk ke dalam Alam Mistis ia merasa begitu lelah hingga hampir kehabisan tenaga. Anehnya, kelelahan ini bukan berasal dari pertarungan sengit atau pengeluaran energi yang besar, melainkan karena rasa takut dan kecemasan saat berlari menyelamatkan diri dari sesuatu yang tak masuk akal. Makhluk yang seharusnya diam dan pasif ternyata menjadi ancaman paling mematikan yang pernah ia temui sejauh ini.
Sambil memijat bahu yang terasa nyeri terkena hantaman tadi, matanya kembali menatap ke arah dalam hutan yang masih gelap. Ia teringat cairan merah berbau harum yang keluar dari akar yang terpotong. Itu sama sekali bukan getah biasa. Kemungkinan besar pohon itu adalah makhluk roh tingkat tinggi yang telah berubah wujud, atau mungkin tanaman kuno legendaris yang telah mendapatkan kesadaran.
Namun apa pun itu, ia tidak berniat kembali lagi ke sana dalam waktu dekat. Ia harus bergerak maju, menemukan jalan keluar dari hutan ini, dan siapa tahu—di kejauhan sana mungkin sudah menunggu hal yang jauh lebih penting daripada sekadar bahaya yang tak terduga.