Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Energi Kuno yang Terasa
Riu Han melangkah perlahan menyusuri hamparan ilalang yang menjulang tinggi di sekelilingnya. Setiap langkahnya terasa hati-hati, matanya terus mengawasi setiap sudut di kejauhan, dan telinganya peka terhadap setiap suara yang terdengar. Niatnya satu: segera menemukan jejak Luo Jin, Pah Long, atau teman-teman lainnya dari Sekte Pedang. Terpisah di tempat asing yang penuh misteri seperti ini tentu membuatnya tidak tenang.
Namun saat ia baru berjalan beberapa puluh langkah, tiba-tiba cincin ruang yang tersimpan di jemarinya bergetar pelan namun jelas—getaran yang belum pernah dirasakannya selama ini.
“Riu Han… kau merasakannya juga?” Terdengar suara Long Siu di dalam pikirannya. Suara itu terdengar serius, penuh rasa takjub, dan sedikit bergetar karena emosi yang tertahan. Sudah lama jiwa sang pemuda dari Alam Atas itu tenggelam dalam istirahat untuk memulihkan kekuatan, sehingga kehadirannya tiba-tiba saja membuat Riu Han terkejut.
“Apa ini, Senior Long? Apa yang terjadi?” tanyanya pelan di dalam hati, sambil tetap berjalan perlahan.
“Itu energi yang ada di alam ini,” jawab Long Siu segera. “Kau tadi terlalu fokus mencari teman seperguruanmu, sampai lupa mengamati apa yang ada di sekelilingmu dengan seksama. Berhentilah sebentar, pejamkan matamu, dan gunakan sepenuhnya indra penciuman serta perasaanmu. Kau akan mengerti apa yang aku maksud.”
Riu Han menurut seketika. Ia berhenti melangkah, memejamkan mata rapat-rapat, lalu membiarkan kesadarannya menyebar ke segala arah tanpa menahan apa pun. Seketika itu juga, sensasi yang berbeda dari sebelumnya menyelimuti hatinya.
Energi di sini bukan sekadar padat atau kental seperti di Pagoda Kultivasi Sekte Pedang. Energi ini terasa murni, segar, dan seolah tidak pernah tercemar oleh waktu atau kejahatan. Namun di balik kemurnian itu, ada sesuatu yang lain—unsur asing yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata, sesuatu yang terasa sangat dalam, kuno, dan seolah bergetar selaras dengan denyut nadi langit dan bumi itu sendiri.
“Senior Long, benar sekali,” ucapnya pelan setelah membuka mata. “Energi di sini bukan hanya padat dan murni, tapi mengandung zat yang sama sekali tidak aku kenal. Rasanya… seolah aku sedang menyentuh sesuatu yang sudah ada sejak dunia ini baru tercipta.”
“Kau benar,” sahut Long Siu dengan nada kagum yang tak bisa disembunyikan. “Energi di sini memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan dunia tempatku berasal dulu—dunia yang disebut Alam Atas. Namun ada perbedaannya: zat yang kau rasakan itu lebih tua, lebih murni, dan berasal dari zaman sebelum Alam Atas seperti yang kau ketahui sekarang terbentuk. Mungkin ribuan tahun, mungkin puluhan ribu tahun yang lalu.”
Riu Han terbelalak kaget. “Alam Atas? Maksud Senior, tempat yang diceritakan dalam legenda—tempat tinggal para kultivator terkuat di benua ini?”
“Ya. Dan hal ini menjelaskan segalanya,” lanjut Long Siu perlahan, seolah sedang menyusun kepingan teka-teki yang sudah lama hilang. “Dulu, ribuan tahun silam, terjadi peperangan terbesar sepanjang sejarah. Perselisihan antar kekuatan dahsyat di Alam Atas memicu pertempuran yang tak terkendali. Di puncak kekacauan itu, sebuah pedang raksasa—senjata warisan leluhur yang kekuatannya melampaui nalar—tiba-tiba terayun dan membelah sebuah pulau besar yang menjadi pusat peradaban kuno di sana. Pulau itu hancur berkeping-keping, dan sebagian besar pecahannya jatuh ke dunia bawah ini, tersembunyi dari jangkauan siapa pun.”
Ia berhenti sejenak, lalu tertawa kecil penuh rasa syukur. “Sepertinya… sepertinya tempat yang kau pijak sekarang adalah salah satu pecahan pulau kuno itu! Tidak pernah ada yang menyangka bahwa pecahan berharga ini justru tersembunyi di bawah sana, di dunia tempatmu tinggal.”
Riu Han terdiam memproses berita luar biasa itu. Jika benar ini adalah pecahan pulau kuno dari Alam Atas, maka semua penjelasan menjadi masuk akal: kekuatan formasi pelindungnya, kemurnian energinya, dan larangan bagi siapa pun di atas tingkat Raja untuk masuk.
“Ini sungguh keberuntungan yang tak ternilai, Riu Han!” lanjut Long Siu dengan semangat yang menyala. “Pulau kuno itu dulunya adalah tempat tinggal klan-klan terhebat dan sekte-sekte legendaris di Alam Atas. Di sana tersimpan teknik kultivasi tingkat tertinggi, senjata pusaka, ramuan obat abadi, serta rahasia kekuatan yang sudah lama hilang dari ingatan manusia. Ketika pulau itu terbelah dan jatuh ke sini, semua warisan itu ikut terbawa bersamanya. Artinya, di dalam hamparan luas Alam Mistis ini, tersimpan harta karun yang bisa mengubah nasib siapa pun yang menemukannya!”
Pikiran Riu Han berputar cepat. Ia teringat pada cacat kultivasinya yang dulu, pada perjuangan ayahnya, pada nasib klan Riu yang sempat terpinggirkan, dan pada harapan besar yang dititipkan Jing Hu serta Pah Long kepadanya. Jika di sini ada kekuatan yang mampu melampaui batas dunia biasa, mungkin inilah jalan yang dicarinya.
Perasaan takut dan cemas karena terpisah dari teman-temannya perlahan hilang, berganti dengan semangat yang membara di dadanya. Ia menatap ke arah hamparan ilalang yang tampak tak berujung dengan pandangan yang berbeda—bukan lagi sebagai tempat yang asing dan menakutkan, melainkan sebagai gerbang menuju kebenaran dan kekuatan yang belum pernah dilihat siapa pun di dunia ini.
“Terima kasih atas penjelasannya, Senior Long,” ucapnya mantap. “Aku mengerti sekarang. Di sini pasti ada hal-hal luar biasa yang menunggu untuk ditemukan. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.”
Ia membenarkan posisi pedang di pinggangnya, menarik napas panjang untuk menenangkan hati, lalu kembali melangkah maju. Kali ini langkahnya lebih tegas dan penuh keyakinan. Di suatu tempat di hamparan luas ini, pasti ada jejak masa lalu yang akan mengubah jalan hidupnya selamanya.
Lanjut Up Thor 💪💪