Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melukai Hati yang Rapuh
Laras duduk di meja makan menatap berbagai hidangan mewah yang sudah tersaji. Di depannya Bu Wijaya, mertuanya duduk sambil meminum teh. Pandangan wanita parobaya itu tajam menembus hati Laras.
"Sayang sekali..! Istri perempuan itu kabur bawa anaknya. Padahal Ibu sudah pengen gendong tu bayi. Katanya sih...laki-laki"
Laras tak bergeming, hanya menunduk. Tangannya meremas ujung serbet makan di pangkuannya. Ia ingat wanita malang yang sempat dilihatnya di halte malam itu. Kalau benar dia....wanita yang berani lari demi anaknya. Laras justru merasa lega dan bersyukur. Setidaknya, ada satu ibu yang berhasil menyelamatkan anaknya dari transaksi kotor ini.
"Sudah dibilangin dari dulu," lanjut Bu Wijaya, suaranya bergema di ruangan luas itu.
"Mama ingin sekali menimang cucu, Laras. Melihat anak kecil berlari-lari di rumah besar ini, ada suara tangis dan tawa cucu Mama!"
Laras mengangkat wajahnya perlahan, menatap ibu mertuanya yang tampak marah.
"Tapi tidak harus mengambil anak orang lain kan Ma..? Bukannya saya tidak mau Ma, tapi ..." Laras menunduk.
"Karena kamu lemah Laras! Kamu tidak bisa meyakinkan Sejiwa untuk selalu berada di rumah ini...disisimu!!!" potong Bu Wijaya ketus, meletakkan cangkir tehnya keras-keras ke atas meja hingga berbunyi nyaring.
"Intinya, kau yang tak bisa mengatur rumah tanggamu dengan benar! Kau yang tak bisa mengatur suamimu agar mau pulang dan dekat denganmu! Kalau Jiwa sering ada di sini, kalau suamimu peduli sedikit saja sama keinginan kami, mungkin hal seperti ini tak perlu kami lakukan! Kau itu istri, Laras! Istri itu tugasnya mengikat suami di rumah. Mengapa Sejiwa lebih suka di kantor, dinas ke luar kota berbulan-bulan, dan jarang sekali pulang ke sini? Itu salahmu! Kau tak pandai mengambil hati suamimu!"
Kata-kata itu meluncur tajam, menancap tepat di ulu hati Laras. Rasa sakit fisik akibat penyakitnya yang sedang berkembang biak di dalam rahimnya, kini kalah sakitnya dengan rasa sakit batin yang ditimbulkan oleh ucapan ibu mertuanya.
Air mata mulai menggenang di mata Laras, tapi ia berusaha sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh.
Dengan napas tertahan dan suara bergetar, Laras akhirnya menjawab. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan itu, ia berani melawan dan meluruskan keadaan.
"Ma... tolong jangan salahkan saya terus-menerus," ucapnya pelan namun jelas. "Ini bukan kemauan saya. Saya juga ingin Mas Jiwa ada di sini. Saya juga ingin punya keluarga yang hangat seperti yang Mama inginkan."
Laras berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit. Ia melanjutkan lagi, suaranya makin bergetar menahan kepedihan yang selama ini dipendamnya sendirian.
"Mas Jiwa, dia pulang hanya karena kewajiban dan rasa hormat pada Mama dan Papa. Bukan karena ada saya di sini. Saya sudah berusaha jadi istri yang baik, Ma. Saya menunggu dia pulang, saya merawat rumah ini, saya diam saja meski kesepian setiap hari. Tapi kalau hatinya tidak ada di sini... kalau dia lebih memilih sibuk di luar daripada duduk sebentar berbicara dengan saya... apa lagi yang bisa saya lakukan? Semua ini bukan kemauan saya, Ma... sama sekali bukan kemauan saya."
Suara Laras perlahan menjadi bisikan. Dalam bisikan itu tersimpan makna yang jauh lebih menyakitkan. Ia tak bisa memberi keturunan bukan karena tak mau, tapi karena tubuhnya sedang dirusak penyakit yang tak ia ceritakan pada siapa pun. Ia tak bisa mendekatkan suaminya bukan karena tak pandai, tapi karena tak ada cinta di hati Sejiwa sejak awal pernikahan ini.
Bu Wijaya terdiam. Mulutnya terbuka hendak membantah, namun melihat raut wajah Laras yang memucat dia hanya diam. Ia meraih serbet, mengelap bibirnya sekilas, lalu berdiri dari kursi dengan wajah dingin.
"Pokoknya, masalah ini belum selesai. Saya akan cari jalan lain. Saya akan cari bayi lain. Saya harus punya cucu, mau bagaimana pun caranya," ucap Bu Wijaya datar, lalu berjalan pergi meninggalkan meja makan, meninggalkan Laras yang semakin tertekan.
Begitu langkah kaki itu menghilang, Laras menelungkupkan wajahnya di meja. Air matanya tumpah di ruangan besar yang sepi itu.
"Maafkan aku, Tuhan... Maafkan aku kalau aku terlihat diam saja selama ini. Tapi aku berjanji... aku takkan membiarkan mereka mengambil anak orang lain lagi. Aku akan cari cara... sebelum aku pergi dari dunia ini."
Belum sempat air mata Laras kering, rasa nyeri samar yang biasa ia rasakan tiba-tiba berubah menjadi rasa sakit yang hebat. Menjalar dari perut bagian bawah hingga ke pinggang dan punggungnya, seolah ada sesuatu yang sedang mencabik-cabik isi perutnya dari dalam. Laras mencengkeram pinggiran meja makan dengan kuat, kuku-kukunya memutih karena rasa sakit.
"Aduh... sakit... sakit sekali..." rintihnya hampir tak terdengar. Tubuhnya melorot jatuh dari kursi, jatuh berlutut di lantai yang dingin.
Bu Wijaya yang baru saja berjalan beberapa langkah, mendengar suara rintihan itu dan berbalik cepat. Melihat kondisi menantunya yang pucat pasi, kemarahannya seketika hilang.
"Laras! Laras! Apa kau sakit?! Astaga, Pak! Pak! Cepat ke sini!" teriak Bu Wijaya histeris memanggil suaminya.
Pak Wijaya bergegas datang, dan melihat kondisi Laras yang sudah mulai tak sadarkan diri. "Cepat! Angkat dia ke mobil! Kita bawa ke rumah sakit sekarang juga!" perintahnya tegas.
Dengan susah payah, kedua orang tua itu mengangkat tubuh Laras, membawanya ke mobil secepat mungkin.... menuju rumah sakit terdekat. Laras merintih pelan, matanya terpejam menahan rasa sakit. Di dalam hatinya, ia sadar... waktunya sudah habis. Rahasia besar yang ia simpan selama berbulan-bulan, akhirnya akan terbongkar juga.
Sesampainya di rumah sakit, Laras langsung dibawa masuk ke ruang gawat darurat. Dokter dan perawat bergerak cepat melakukan pemeriksaan. Bu Wijaya dan suaminya menunggu di luar ruangan dengan wajah cemas.
Penantian yang terasa berjam-jam itu akhirnya berakhir saat dokter keluar dengan wajah serius. Dokter itu mengajak mereka berdua ke ruang konsultasi.
"Mohon maaf, Bapak, Ibu... Saya sampaikan hasil pemeriksaan kami, dan juga hasil rontgen serta laboratorium tadi," kata dokter itu memulai, suaranya rendah dan penuh kehati-hatian. "Kondisi Ibu Laras cukup kritis. Beliau menderita Kanker Rahim Stadium Empat. Sel kanker sudah menyebar luas, tumbuh besar, dan menekan organ-organ di sekitarnya. Ini sudah berlangsung cukup lama, dan sepertinya sudah sampai pada tahap akhir."
Pak dan Bu Wijaya serentak terpaku, seolah disambar petir di siang bolong. Mulut Bu Wijaya terbuka namun tak ada suara yang keluar. Matanya terbelalak tak percaya.
"Kanker...? Stadium empat...?" gumam Pak Wijaya lemah, kakinya terasa lemas. "Maksud Dokter... penyakitnya sangat parah? Tapi... dia tidak pernah bilang apa-apa. Dia terlihat biasa saja."
"Dari catatan medis, sepertinya Ibu Laras sudah menyembunyikan gejala ini cukup lama, Pak. Penyakit ini sudah merusak rahim beliau sepenuhnya. Karena sudah stadium akhir, satu-satunya tindakan medis yang bisa kami lakukan untuk menyelamatkan nyawanya.. setidaknya memperpanjang usianya sedikit....adalah operasi pengangkatan seluruh rahim dan jaringan yang terinfeksi. Namun risikonya sangat besar, dan kemungkinan beliau tidak akan bisa bertahan lama setelah operasi pun ada," jelas dokter itu panjang lebar.
Kalimat dokter itu menghantam dada Bu Wijaya. Segala tudingan, segala kemarahan, segala keinginan untuk punya cucu... semuanya kini terasa begitu hambar, begitu kejam.
Rasa bersalah yang luar biasa menyergap Bu Wijaya. Ia terisak pelan, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ya Tuhan... Ampuni saya... Saya tidak tahu... Saya tuding dia macam-macam, saya paksa dia adopsi anak... padahal dia sedang menanggung semua ini sendirian..."
Pak Wijaya menepuk punggung istrinya yang gemetar, ia pun tak kalah syok dan sedihnya. "Kita harus beritahu Jiwa. Dia harus datang sekarang juga."
Dengan tangan gemetar, Bu Wijaya mengeluarkan ponselnya. Ia menekan nomor putranya, Sejiwa....suami Laras. Orang yang paling berhak tahu, orang yang seharusnya ada di sana sejak awal mendampingi istrinya, bukan sibuk di tempat tugas entah di mana.
Panggilan tersambung. Di seberang sana terdengar suara Sejiwa yang tenang, datar, dan biasa saja.
"Halo, Ma? Ada apa? Mama telepon jam begini, ada masalah ya?" tanyanya santai.
Suara Bu Wijaya parau dan bergetar hebat, bercampur sisa tangisnya.
"Jiwa... Pulanglah... Pulang sekarang juga, Nak..."
"Ada apa, Ma? Saya sedang ada rapat penting. Ada masalah apa?" tanyanya mulai heran mendengar nada suara ibunya yang berbeda.
"Laras, Jiwa... Istrimu..." suara Bu Wijaya tercekat, air matanya kembali menetes deras. "Laras ada di Rumah Sakit. Dia... dia sakit parah sekali, Nak. Dia kena kanker rahim stadium empat. Dokter bilang harus dioperasi sekarang juga... Dia sudah lama sakit, tapi dia sembunyikan dari kita semua... dari kamu juga, Jiwa..."
Di seberang telepon. Kata-kata itu menghantam Sejiwa bagaikan palu godam. Wanita yang ia tinggalkan sendiri di rumah besar itu, wanita yang ia anggap baik-baik saja dan kuat, ternyata sedang sekarat dan menanggung penderitaan berat sendirian.
"Kanker... stadium empat..." gumamnya pelan, suaranya berubah bergetar dan penuh ketidakpercayaan. "Dia... dia tidak pernah bilang apa-apa sama saya, Ma..."
"Karena dia sayang sama kamu, Jiwa! Dia takut kamu menjauh kalau tahu dia sakit! Dia diam saja, dia terima semua omelan Mama, dia terima kamu jarang pulang... dia pendam semuanya sendirian!" seru Bu Wijaya dengan suara meninggi penuh penyesalan.
"Cepat pulang, Nak! Kalau kamu masih menganggap dia istrimu, datanglah sekarang! Dia mungkin takkan lama lagi bersamamu..."
Panggilan terputus. Di dalam ruangan rumah sakit yang dingin itu, Bu Wijaya jatuh terduduk di kursi tunggu, menangis tersedu-sedu, Ia sadar, ambisinya ingin menimang cucu, kejamnya perkataannya, dan sikap dingin putranya... semua itu telah menjadi beban berat yang menambah penderitaan Laras....Menantunya.
******