Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Tumbal Kemenangan dan Benteng Absolut
Gundukan besi raksasa itu merayap membelah kegelapan terowongan kereta bawah tanah. Kumbang Baja Pengangkut bergerak dengan kecepatan stabil, diikuti oleh Yudha, Lin Tian, dan Lin Chen yang sesekali menoleh ke arah langit-langit terowongan yang bergetar hebat.
Di atas sana, tepat di pusat kota, neraka dunia sedang berlangsung.
Suara dentuman peluru artileri, raungan manusia yang disayat keputusasaan, dan lengkingan mekanis dari pasukan kuno saling bertumpuk menciptakan simfoni kematian. Fraksi Darah Besi dan kelompok-kelompok ambisius lainnya yang mengira mereka menemukan harta karun, kini harus membayar keserakahan mereka dengan darah dan nyawa.
"Mereka dibantai," gumam Lin Chen, merinding mendengar jeritan panjang yang menembus beton tebal di atas kepalanya.
"Reruntuhan itu dirancang untuk menahan invasi skala penuh, bukan kerumunan manusia yang baru mencicipi kekuatan Tingkat 5," balas Yudha dingin. Tangan kanannya merogoh saku jubahnya, menyentuh kubus logam keemasan yang memancarkan kehangatan. "Mereka telah menunaikan tugasnya sebagai pengalih perhatian dengan sangat baik. Sekarang, biarkan kematian menyaring yang terlemah."
Perjalanan pulang melintasi jalur bawah tanah jauh lebih aman. Sebagian besar monster bawah tanah telah melarikan diri akibat getaran pertempuran atau justru terpancing naik ke permukaan. Dalam waktu kurang dari dua jam, ketiganya berhasil menemukan jalur drainase besar yang terhubung ke sungai di pinggiran barat kota, tidak jauh dari wilayah mereka.
Menjelang senja, ketika langit berubah menjadi warna jingga berdarah, siluet gerbang Tatanan Besi Hitam akhirnya terlihat.
Menara Lontar Elektromagnetik berputar cepat menyambut kedatangan mereka, lensa merahnya berkedip hijau sebagai tanda pengenalan.
"Buka gerbangnya! Ketua telah kembali!" teriakan menggelegar Bara terdengar dari atas tembok barikade.
Gerbang besi tebal itu berderit terbuka. Seluruh pekerja kasar di halaman pabrik langsung menghentikan aktivitas mereka dan menundukkan kepala. Arya, sang Kepala Logistik, berlari kecil menghampiri dan langsung bersujud di tanah aspal.
"Selamat datang kembali, Ketua! Kami telah menjalankan semua perintah Anda. Barikade lapis kedua selesai dibangun, dan jatah makan malam sedang disiapkan," lapor Arya dengan nada penuh kepatuhan.
Yudha melangkah masuk, diiringi oleh derak berat Kumbang Baja Pengangkut. Ia mengedarkan pandangan. Halaman pabrik kini terlihat jauh lebih tertata. Tumpukan rongsokan telah dipisahkan berdasarkan jenis logamnya, dan dinding beton pabrik telah diperkuat dengan las pelat baja di beberapa titik kritis.
"Kerja bagus," ucap Yudha singkat. "Kumpulkan Bara dan kalian semua di tengah halaman. Jangan ada yang mendekati bangunan bengkel utama. Apa pun yang terjadi, tetap diam di tempat kalian."
"Siap, Ketua!" jawab Arya tanpa berani bertanya lebih lanjut.
Yudha meninggalkan kerumunan itu, berjalan lurus menuju bangunan utama pabrik peleburan yang menjadi bengkel pribadinya. Lin Tian dan Lin Chen membayangi di belakangnya bagaikan dua pengawal bayangan.
Begitu masuk ke dalam ruangan luas yang dipenuhi mesin bubut dan generator raksasa tersebut, Yudha melangkah ke bagian tengah. Di sana, terdapat sebuah generator uap tua yang terhubung dengan seluruh jaringan listrik pabrik.
"Lin Tian, Lin Chen, berjaga di pintu. Jangan biarkan satu ekor semut pun masuk," perintah Yudha.
Kedua bersaudara itu segera berbalik, menancapkan kuda-kuda kokoh di ambang pintu, dan mengawasi halaman luar dengan tatapan waspada.
Yudha merogoh jubahnya dan mengeluarkan kubus emas yang berpendar terang. Inti Pengendali Wilayah (Peringkat Epik). Benda yang membuat ribuan orang saling membunuh di pusat kota kini berada tepat di telapak tangannya.
"Sistem, aku ingin mengklaim wilayah ini," ucap Yudha, suaranya menggema di ruangan kosong itu.
[Mendeteksi 'Inti Pengendali Wilayah'.]
[Peringatan: Benda ini akan mengunci koordinat inang dan membangun Zona Aman Permanen tingkat fraksi. Proses ini tidak dapat dibatalkan.]
[Apakah Anda ingin menanamkan Inti Pengendali pada koordinat ini?]
"Tanamkan."
Yudha melepaskan kubus emas itu. Alih-alih jatuh ke lantai, kubus itu melayang di udara, berputar semakin cepat hingga bentuk geometrisnya melebur menjadi bola cahaya keemasan yang menyilaukan.
WUUUNGGG!
Gelombang kejut energi murni meledak dari bola cahaya tersebut, menyapu Yudha, melewati Lin bersaudara, dan meluas hingga menutupi seluruh area pabrik baja dalam radius satu kilometer.
Di luar, para pekerja kasar dan Bara jatuh berlutut, menutup mata mereka karena silau yang luar biasa. Tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan, bukan karena hancur, melainkan karena sedang diubah secara fundamental.
Di dalam bengkel, Yudha menyaksikan keajaiban sesungguhnya dari kelas Mekanik Anomali yang dipadukan dengan inti epik.
Cahaya emas itu meresap ke dalam lantai beton dan tiang-tiang baja pabrik. Karat-karat rontok seketika. Baja ringan dan seng berlubang yang menjadi atap pabrik melebur dan menebal, berubah menjadi lempengan paduan logam berwarna hitam pekat yang tidak bisa ditembus oleh artileri berat sekalipun.
Mesin-mesin tua di sekeliling Yudha menyala dengan sendirinya, roda giginya berputar tanpa bahan bakar, kini ditenagai sepenuhnya oleh pasokan energi tak terbatas dari inti wilayah.
[Integrasi Selesai!]
[Wilayah Fraksi Resmi Didirikan: Tatanan Besi Hitam]
[Peringkat Wilayah: 1 (Dapat Ditingkatkan)]
Sebuah layar raksasa muncul di benak Yudha, menampilkan cetak biru tiga dimensi dari seluruh area pabriknya yang kini telah bertransformasi menjadi benteng sejati.
[Efek Pasif Wilayah:]
Pemulihan Mutlak: Semua anggota fraksi terdaftar yang berada di dalam wilayah akan mendapatkan peningkatan kecepatan pemulihan stamina dan penyembuhan luka sebesar 200%.
Benteng Penekan: Semua entitas musuh (monster atau manusia) yang tidak terdaftar akan mengalami penurunan atribut fisik sebesar 20% saat memasuki radius wilayah.
Perisai Energi Dasar: Kubah tak kasat mata kini melindungi wilayah dari serangan udara atau proyektil jarak jauh (Mampu menahan hantaman kekuatan Tingkat 6).
Di luar ruangan, suara sorak-sorai bercampur isak tangis ketidakpercayaan terdengar bersahutan. Para pekerja menyentuh dinding pabrik yang kini sehalus kaca namun sekeras berlian. Menara Lontar Elektromagnetik di gerbang depan telah membesar dua kali lipat, larasnya kini mengalirkan energi keemasan yang menakutkan.
Mereka menyadari bahwa mereka bukan lagi sekadar bertahan hidup di rongsokan pabrik. Mereka kini berada di dalam sebuah benteng terkuat yang pernah ada di dunia baru ini.
Yudha tersenyum tipis. Cahaya biru dari matanya perlahan meredup. Ia melangkah keluar dari bengkel utama, disambut oleh Lin Tian dan Lin Chen yang menatapnya dengan penuh kekaguman.
Di halaman, semua orang—termasuk Bara dan Arya—telah bersujud rata dengan tanah. Tidak ada yang memaksa mereka. Hawa intimidasi dan kekuasaan absolut yang memancar dari pabrik itu secara alami memaksa mereka untuk tunduk.
"Mulai malam ini, kalian bisa tidur tanpa perlu membuka satu mata," suara Yudha menyapu seluruh halaman, membawa ketenangan yang aneh di tengah dunia yang hancur. "Tembok ini tidak akan runtuh, dan wilayah ini tidak akan jatuh. Tatanan Besi Hitam telah menancapkan akarnya."
Yudha menatap ke arah pusat kota yang langitnya masih diwarnai kilatan ledakan dari jauh.
Fraksi-fraksi lain mungkin sedang berebut kepingan logam rongsokan dan beberapa peti senjata dari pintu depan reruntuhan kuno itu. Namun jantungnya, sumber kehidupan dari peradaban masa lalu tersebut, kini telah berdetak di bawah kaki Yudha.