Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.
Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Kabar yang Tidak Terduga
Sore itu, sinar matahari mulai meredup, berubah menjadi warna jingga kemerahan yang menyelinap masuk lewat celah atap dan jendela pecah pabrik tua itu. Suasana di dalam sudah kembali tenang, hanya terdengar suara kipas angin buatan dari daun kelapa yang digerakkan angin, sesekali diselingi suara kunyah kacang tanah yang pelan dari sudut ruangan.
Arda sudah selesai makan, dan sekarang duduk bersandar santai sambil memasukkan biji kacang ke mulutnya satu per satu. Matanya setengah terpejam, pikirannya melayang ke mana saja kecuali memikirkan masalah atau rencana apa pun. Baginya, sore yang seperti ini adalah waktu paling sempurna — tidak ada yang perlu dikerjakan, tidak ada tempat yang harus dituju, dan tidak ada alasan untuk bergerak.
Di meja tengah, Kael dan Niko masih duduk membahas hal-hal yang mereka anggap penting. Bastian sedang membersihkan bilah kayu bekas yang dipakai untuk latihan, sementara Mikhael sibuk membereskan peralatan masak dan menyimpan sisa bahan makanan ke dalam kotak kayu yang ditutup rapat agar tidak dimakan tikus.
"Jadi kesimpulannya," kata Niko sambil menorehkan garis di atas kertas lusuhnya, "selama ini Roderick hanya berani bergerak besar setelah dia dapat dukungan dari pihak lain. Kalau benar ada yang mendukungnya, maka kita tidak hanya menghadapi satu kelompok saja, tapi juga orang yang menggerakkan dia dari balik tirai."
Kael mengangguk perlahan, jari-jarinya kembali memutar koin perak kesayangannya dengan gerakan yang terbiasa. "Itu yang paling berbahaya. Kalau musuhnya terlihat, kita tahu ke mana harus melangkah. Tapi kalau dia bersembunyi di balik bayangan, kita bisa tersandung jebakan kapan saja tanpa sadar."
"Kita cari saja jejaknya," potong Bastian sambil mengelap kayu dengan kain bekas. "Kalau dia memberi uang atau orang pada Roderick, pasti ada jejak. Uang itu lewat pasar, orang itu lewat jalanan. Cukup perhatikan siapa yang sering mendekati markas Elang Berdarah, atau dari mana mereka dapat persediaan makanan dan senjata."
"Memang begitu jalannya," jawab Niko. "Tapi butuh waktu dan kesabaran. Kita tidak bisa terburu-buru, kalau terlihat mencurigakan, jejak itu akan segera ditutup rapat."
Pembicaraan mereka terhenti ketika suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar lagi dari luar. Kali ini langkahnya lebih ringan tapi terburu-buru, berbeda dengan langkah orang dewasa. Pintu didorong terbuka, dan masuklah Lio — anak pengantar pesan yang tadi pagi memberi kabar soal Pasar Lama — dengan napas yang kembali terengah-engah, wajahnya terlihat lebih pucat dari sebelumnya.
Kael langsung berdiri, merasa ada sesuatu yang salah. "Ada apa lagi, Lio? Jangan terburu-buru, tarik napas dulu."
Lio menggeleng cepat, tangannya memegang dinding untuk menopang tubuhnya. "Tidak bisa ditunda, Kael. Ada kabar... kabar yang aneh dan mengganggu."
Mikhael segera menuangkan air ke dalam gelas dan memberikannya. "Minum dulu, baru bicara pelan-pelan. Apa yang terjadi?"
Setelah meneguk air itu sampai habis, Lio mengusap mulutnya dengan lengan baju, lalu menatap mereka satu per satu dengan tatapan cemas.
"Setelah kalian pergi dari Pasar Lama tadi, aku tidak langsung pulang. Aku tetap mengawasi dari kejauhan seperti yang diperintahkan Niko. Aku melihat Roderick dan anak buahnya keluar dari pasar dengan wajah kesal dan lemas, berjalan menuju ujung barat kota seperti yang biasa mereka lakukan."
Dia berhenti sejenak, seolah mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan. "Tapi mereka tidak langsung masuk ke markas mereka. Mereka berbelok ke jalan sempit yang jarang orang lewati, lalu masuk ke sebuah gudang tua di dekat sungai. Aku mengintip dari balik tumpukan kayu, dan melihat ada orang lain yang sudah menunggu di sana."
"Orang seperti apa?" tanya Niko segera, matanya langsung menyipit tajam.
"Pakaiannya serba gelap, menutupi seluruh tubuhnya sampai hanya menyisakan sedikit bagian wajah. Suaranya berat dan dingin, aku tidak bisa mendengar semuanya jelas, tapi aku menangkap kalimat ini: 'Kegagalan hari ini hanya permulaan, besok kamu akan dapat bantuan yang lebih besar'."
Ruangan itu langsung terasa lebih hening. Bastian meletakkan kayu yang dipegangnya dengan agak keras, menimbulkan bunyi "dug" yang cukup nyaring. Mikhael berhenti bergerak, wajahnya yang biasanya selalu ceria kini berubah serius.
"Jadi benar dugaanku," gumam Kael pelan. "Dia memang tidak bergerak sendiri. Ada orang yang mengatur dia."
"Dan lebih buruk lagi," lanjut Lio dengan suara lebih pelan, "setelah itu, orang berjubah itu memberi Roderick sebuah kantong kain tebal yang terasa berat, dan sebuah gulungan kertas. Aku tidak tahu isinya apa, tapi Roderick menerimanya dengan wajah berseri-seri, seolah semua rasa sakit dan malunya hilang seketika."
Niko segera menulis sesuatu di kertasnya dengan cepat. "Gudang tua dekat sungai... itu wilayah yang tidak dikuasai siapa pun, sering dipakai untuk pertemuan rahasia karena jalannya bercabang banyak dan mudah menghilang."
"Kita pergi ke sana sekarang juga?" tanya Bastian sambil melangkah maju, sudah siap untuk mengambil jaketnya. "Kalau kita kejar sekarang, mungkin masih bisa menangkap orang itu sebelum dia pergi!"
"Tidak boleh," potong Kael tegas, mengangkat tangannya untuk menahan. "Kalau kita pergi sekarang, kita hanya akan menemukan gudang kosong. Orang yang bisa mengatur kelompok dari balik layar pasti sudah tahu cara menghilang sebelum ada yang bisa menangkapnya. Kalau kita terburu-buru, kita hanya akan terjebak perangkap atau menimbulkan konflik yang lebih besar tanpa persiapan."
Bastian menghela napas panjang, lalu menggaruk kepalanya dengan kesal. "Lalu apa yang harus kita lakukan? Diam saja dan menunggu dia datang lagi?"
"Menunggu bukan berarti diam saja," jawab Niko sambil menatap catatannya. "Mulai malam ini, kita pasang pengawasan lebih ketat di sekitar gudang itu, di jalanan yang menghubungkan ke dermaga, dan juga di sekitar markas Elang Berdarah. Kita lihat siapa yang datang dan pergi, dari mana sumber bantuan itu berasal. Semakin banyak jejak yang kita kumpulkan, semakin jelas gambaran musuh yang sebenarnya."
Mereka semua mengangguk setuju, meskipun perasaan was-was mulai merayap masuk ke dalam hati masing-masing. Selama ini, mereka hanya berhadapan dengan kelompok yang terlihat — kekuatan yang bisa dihitung, jumlah orang yang bisa dihitung. Tapi sekarang, mereka mulai menghadapi sesuatu yang lebih gelap, lebih luas, dan jauh lebih berbahaya.
Di sudut ruangan, Arda yang mendengar semuanya hanya mengunyah kacangnya dengan gerakan lambat. Dia tidak ikut bicara, tidak mengangkat kepala, dan tidak terlihat terkejut sedikit pun. Seolah apa yang dibicarakan itu hanyalah cerita orang lain yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Namun, Kael yang sudah mengenalnya bertahun-tahun bisa melihat ada perubahan kecil pada tatapan matanya. Tatapan yang tadi kosong dan malas, kini terlihat sedikit lebih tajam, meskipun hanya sebentar saja sebelum kembali seperti semula.
"Arda," panggil Kael pelan.
"Hmm?" jawabnya tanpa menoleh.
"Menurutmu, orang yang bisa mengatur kelompok dan memberi dukungan sebanyak itu... apa yang dia inginkan sebenarnya?"
Arda berhenti mengunyah sebentar, lalu menelan kacangnya perlahan. Dia mengangkat bahu santai, lalu menjawab dengan nada datar.
"Yang ingin kekuasaan selalu ingin hal yang sama: lebih banyak tanah, lebih banyak orang yang takut, dan lebih banyak uang. Bedanya, orang yang berani bersembunyi di balik layar itu tidak mau mengambil risiko sendiri. Dia memakai orang lain sebagai tameng dan sebagai alat."
Dia akhirnya menoleh, menatap mereka semua dengan tatapan yang masih terlihat malas tapi ada sedikit kejernihan di dalamnya.
"Jadi, selama Roderick masih bisa dipakai, dia akan terus diberi dukungan. Kalau Roderick gagal lagi, dia akan dibuang begitu saja dan diganti dengan orang lain. Itu cara kerja mereka yang tidak mau terlihat."
Mendengar penjelasan itu, mereka semua terdiam. Arda memang jarang bicara banyak, tapi setiap kali dia bicara soal sifat manusia dan jalanan, kata-katanya selalu tepat dan tajam — seolah dia sudah melihat dan mengalami hal serupa berkali-kali sebelumnya.
"Jadi kita harus siap menghadapi dua lapisan musuh sekaligus," simpul Niko. "Lapisan pertama adalah Roderick dan anak buahnya, yang terlihat dan mudah diprovokasi. Lapisan kedua adalah orang di balik layar, yang tidak terlihat, tidak bisa diprediksi, dan memiliki rencana yang lebih panjang."
"Berarti kita harus lebih waspada dari sebelumnya," tambah Mikhael dengan nada yang lebih serius. "Jangan sampai ada langkah yang salah, karena setiap kesalahan bisa dimanfaatkan oleh mereka."
Pembicaraan itu berlanjut sampai matahari benar-benar terbenam dan kegelapan mulai menyelimuti seluruh ruangan. Mikhael menyalakan lampu minyak sederhana yang terbuat dari kaleng bekas, memberi cahaya redup yang cukup untuk melihat sekeliling. Suasana menjadi lebih hening, hanya terdengar suara jangkrik dari luar dan suara angin yang berhembus lewat celah dinding.
Malam itu, setiap orang memiliki pikiran masing-masing. Bastian membayangkan pertarungan yang lebih besar dan ingin segera membuktikan kekuatannya. Niko sibuk menyusun rencana pengawasan dan memikirkan kemungkinan terburuk. Mikhael berharap agar semuanya bisa selesai tanpa banyak pertumpahan darah. Kael terus memutar koinnya, mencoba mencari celah dan kelemahan yang bisa mereka manfaatkan.
Dan Arda? Dia sudah kembali berbaring, menarik selimutnya sampai menutupi bahu, dan memejamkan matanya. Namun, kali ini dia tidak langsung terlelap. Di dalam hatinya, dia tahu bahwa ketenangan yang dia nikmati perlahan mulai terganggu. Semakin lama, semakin jelas bahwa masalah ini tidak akan selesai hanya dengan mengusir Roderick atau mengalahkan anak buahnya.
Suatu hari nanti, dia mungkin benar-benar harus bangun, bergerak, dan mengeluarkan kekuatan yang selama ini dia sembunyikan — hal yang paling dia benci di dunia ini. Tapi untuk saat ini, dia memilih untuk tetap tidur dan berpikir bahwa hari itu masih sangat jauh.
Di tempat lain, di sebuah ruangan yang jauh lebih luas dan mewah di bagian utara kota, orang berjubah yang bertemu dengan Roderick tadi sedang duduk di atas kursi besar yang terbuat dari kayu jati. Di hadapannya tergeletak peta Kota Veyra yang dibentangkan rapi, dengan tanda-tanda kecil yang menandai wilayah setiap kelompok.
Wajahnya yang tadinya tertutup kini terlihat jelas — seorang pria paruh baya dengan mata yang tajam dan dingin, rambutnya sudah mulai memutih di bagian pelipisnya. Dia memegang sebuah gelas berisi cairan merah, lalu menyesapnya perlahan sambil tersenyum tipis.
"Malaikat Hitam..." gumamnya pelan, suaranya bergema di ruangan kosong itu. "Selama ini kalian hanya diam dan menjaga wilayah kecil kalian. Tapi sekarang, kalian mulai mengganggu rencana yang sudah disusun bertahun-tahun. Kalau kalian terus menghalangi jalan, maka bukan hanya Roderick yang akan kalian hadapi. Akan ada kekuatan yang jauh lebih besar datang ke depan pintu kalian."
Dia menunjuk ke satu titik di peta, tepat di lokasi pabrik tua tempat Malaikat Hitam bermarkas.
"Kita lihat saja... apakah kelompok yang hanya terdiri dari lima orang itu cukup kuat untuk bertahan ketika seluruh kota mulai bergerak melawan mereka?"
Senyumnya semakin lebar, seolah sudah bisa membayangkan bagaimana pertarungan besar itu akan berlangsung. Dia tidak tahu bahwa di dalam kelompok yang dia anggap kecil dan lemah itu, tersembunyi satu kekuatan yang bahkan dia sendiri belum pernah dengar namanya — kekuatan yang bisa mengubah seluruh keadaan hanya dengan satu langkah saja.
Namun, untuk saat ini, semua itu masih tersembunyi dalam kegelapan, menunggu waktu yang tepat untuk muncul ke permukaan.
Bersambung...