NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana dadakan

Sore itu langit tampak agak kelabu, seolah mau turun hujan tapi tak kunjung menumpahkan isinya. Angin berhembus pelan lewat celah jendela ruang tengah, membawa bau tanah basah yang samar. Karin baru saja selesai melipat tumpukan baju bersih di sofa saat terdengar bunyi kunci pintu berputar. Ia menoleh cepat, menyadari Arkan pulang lebih awal dari biasanya.

Pria itu meletakkan tas kerjanya di meja dengan gerakan yang terlihat lelah. Kerah kemejanya sedikit longgar, rambut hitamnya agak berantakan tertiup angin luar. Biasanya Arkan selalu tampak rapi sempurna kapan pun dan di mana pun, jadi melihat sisi yang sedikit berantakan begini bikin Karin tanpa sadar menatapnya agak lama.

"Kok pulangnya lebih cepat?" tanyanya pelan, lalu buru-buru menambahkan sambil kembali melipat baju, "Eh, maksudnya... nggak ada kuliah tambahan ya?"

Arkan mengangguk pelan sambil melepas sepatu. "Ada rapat mendadak yang selesai lebih cepat. Badan rasanya agak pusing sedikit, mungkin karena cuaca lagi nggak menentu gini."

Mendengar itu, tangan Karin berhenti bergerak. Ia langsung berdiri menuju dapur. "Tunggu sebentar ya, aku buatin teh jahe hangat. Biasanya ampuh buat meredakan pusing kalau kena angin."

Tanpa menunggu jawaban, ia sibuk di depan kompor. Arkan hanya diam memperhatikan punggung gadis itu dari ambang pintu dapur. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya setiap kali Karin melakukan hal kecil kayak gini hal yang sederhana, tapi rasanya belum pernah ada orang lain yang melakukannya buat dia dengan senang hati.

Beberapa menit kemudian, secangkir teh jahe uap panas sudah tersedia di meja makan. Di sampingnya ada dua potong roti bakar selai kacang buatan Karin.

"Makan dulu sedikit biar perutnya nggak kosong," kata Karin sambil mendorong piring ke arah Arkan. "Katanya kalau minum obat atau teh hangat pas perut kosong malah bikin mual."

Arkan tersenyum tipis, senyum yang makin sering ia tunjukkan belakangan ini. "Kamu perhatian banget ya, padahal biasanya ceroboh kalau lagi buru-buru."

Wajah Karin memerah seketika. Ia memalingkan wajah pura-pura merapikan gelas lain. "Siapa yang ceroboh? Aku cuma... nggak enak aja kalau liat orang sakit nggak diurus."

Pria itu tertawa pelan, suara rendahnya terdengar enak didengar di ruangan yang tenang itu. Ia meminum teh jahe itu perlahan, rasanya hangat menyusuri kerongkongan sampai ke perut. Benar saja, rasa pening di kepalanya perlahan berkurang.

Saat mereka sedang duduk diam menikmati suasana, ponsel Arkan berdering. Nama Bunda tertera jelas di layar. Ia mengangkatnya setelah menyesap teh terakhir.

"Halo, Bun? Iya, ini aku... Ya, lagi di rumah... Hah? Sekarang? Sore ini?..."

Karin melihat raut wajah Arkan berubah sedikit bingung, lalu beralih menatap ke arahnya sekilas.

"Baiklah, nanti kami siap-siap. Oke, nanti kabari lagi ya kalau sudah dekat," kata Arkan sebelum menutup telepon. Ia meletakkan ponselnya kembali ke meja, lalu menatap Karin dengan tatapan yang campur aduk antara canggung dan tak sengaja.

"Ada apa, Pak?" tanya Karin penasaran.

"Bunda sama Kakek mau mampir sebentar ke sini. Katanya kebetulan lewat daerah sini dan pengen liat kondisi rumah sekalian... liat kamu juga," jawab Arkan pelan. "Mereka belum kasih kabar sebelumnya, makanya aku kaget juga."

Karin hampir tersedak ludahnya sendiri. Matanya melotot kaget. "Hah? Sekarang? Terus aku harus gimana? Aku pakai baju rumah biasa gini, rambut juga berantakan belum dirapiin!"

Tenang aja, Arkan langsung menenangkan. "Mereka bukan orang asing. Anggap aja keluarga sendiri. Lagian mereka cuma mampir sebentar, nggak bakal lama."

Tapi hati Karin tetap berdebar tak karuan. Ini pertama kalinya ia bakal bertemu langsung dengan keluarga besar Arkan di rumah mereka sendiri. Selama ini mereka cuma pernah bertemu sekilas di acara pernikahan tertutup dulu, dan itu pun Karin terlalu gugup sampai nggak ingat wajah mereka dengan jelas.

"Terus... aku harus ngomong apa nanti? Apa aku harus panggil Bunda sama Kakek? Atau ada panggilan lain?" tanyanya bertubi-tubi sambil berdiri gelisah.

"Panggil aja seperti itu. Sudah cukup sopan. Dan kamu nggak perlu pura-pura jadi orang lain. Jadi diri sendiri aja, mereka lebih suka begitu," kata Arkan sambil berdiri mendekat. Tanpa sadar tangannya terulur merapikan ujung rambut Karin yang berantakan. Gerakannya begitu lembut, sampai keduanya terdiam sejenak saat menyadari apa yang baru saja dilakukan.

Wajah Karin terasa panas membara. Ia menunduk cepat, berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya. "Aku... aku mau ke kamar ganti baju dulu ya!" serunya pelan lalu berlari kecil meninggalkan ruang makan.

Arkan menatap punggung gadis itu menghilang di balik pintu kamar, lalu tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepala. Entah sejak kapan, tingkah Karin yang gugup dan ceroboh malah bikin dia makin betah dan pengen melindungi terus.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, bel pintu berbunyi. Karin sudah siap dengan pakaian yang rapi tapi tetap sederhana, rambutnya diikat longgar di belakang. Ia berdiri di belakang Arkan saat pria itu membuka pintu.

Di depan sana berdiri sepasang orang tua yang tampak ramah, didampingi seorang sopir yang membawa beberapa bungkusan. Wanita paruh baya itulah Bunda Arkan, wajahnya lembut dengan senyum yang mirip sekali dengan Arkan. Di sebelahnya berdiri Kakek Arkan yang tampak tegas tapi matanya menyiratkan kehangatan.

"Assalamualaikum," sapa Bunda lembut.

"Waalaikumsalam, Bun, Kek," jawab Arkan sambil memberi jalan.

Saat mereka masuk, Bunda langsung menatap Karin yang masih berdiri canggung di samping. "Ini Karin ya? Sini nak, mendekatlah. Nenek kangen pengen ngobrol sama kamu."

Karin melangkah ragu mendekat, lalu mencium punggung tangan Bunda dan Kakek dengan sopan. "Iya, Bun. Apa kabar?"

"Kabar baik, Nak. Kamu sendiri sehat kan? Arkan kalau ngomongin kamu di telepon selalu singkat banget, nggak kasih tau detail," kata Bunda sambil menatap Karin dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan menyayangi.

"Sehat kok, Bun. Cuma kadang lagi sibuk urusan kuliah aja," jawab Karin sambil melirik sekilas ke arah Arkan. Pria itu cuma diam sambil tersenyum tipis seolah menahan tawa.

Mereka duduk di ruang tengah. Bunda membuka bungkusan yang dibawanya berisi kue dan buah-buahan. Kakek bercerita sedikit soal kebun di kampung halaman, sementara Bunda diam-diam memperhatikan interaksi Arkan dan Karin.

"Kalian berdua kelihatan cocok banget ya," celetuk Bunda tiba-tiba di tengah obrolan. "Arkan yang biasanya dingin dan susah diajak ngobrol, sekarang matanya sering melirik ke arah kamu lho, Karin."

Karin kaget sampai hampir menjatuhkan gelas di tangannya. Arkan buru-buru mengambil alih gelas itu sebelum tumpah. "Bunda jadi bercanda gini. Kita cuma... lagi berusaha menyesuaikan diri aja," kata Arkan, meski pipinya tampak sedikit memerah.

Bunda dan Kakek hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka. Tak ada pertanyaan yang menyudutkan, tak ada tuntutan yang berat. Mereka cuma berpesan agar saling menjaga, saling mengerti kekurangan masing-masing, dan jangan pernah menyimpan masalah sendirian.

"Pernikahan itu bukan soal siapa yang menang atau kalah, Nak," kata Kakek dengan suara berat tapi lembut. "Tapi soal berjalan beriringan, meski kadang langkahnya nggak sama cepatnya."

Karin menyimak setiap kata itu dengan saksama. Di dalam hatinya, ia merasa bersalah karena menyembunyikan soal kontrak pernikahan ini. Tapi melihat kebaikan keluarga Arkan, dan melihat tatapan Arkan yang perlahan berubah makna ke arahnya, ia mulai berharap mungkin saja satu tahun ini nggak cuma sekadar kewajiban. Mungkin ada hal lain yang tumbuh di tengah-tengah itu.

Saat tamu berpamitan menjelang maghrib, Bunda sempat berbisik di telinga Karin. "Arkan itu sebenarnya anak yang sangat perasa, cuma dia nggak pandai mengungkapkannya. Tolong bantu dia ya, Nak. Dan percayalah, kalian berdua bakal bahagia kalau saling mau berusaha."

Setelah pintu tertutup, suasana apartemen kembali tenang. Tapi kali ini nggak ada lagi rasa canggung yang menyesakkan. Arkan berdiri di dekat jendela menatap mobil yang menjauh, lalu berbalik menatap Karin.

"Makasih ya tadi," katanya pelan. "Kamu gak bikin malu sama sekali."

"Terima kasih juga udah... bantu aku tenangin diri tadi," balas Karin.

Malam itu mereka makan malam bersama dalam diam yang nyaman. Di luar hujan akhirnya turun rintik-rintik, membasahi kaca jendela. Dan di dalam sana, ada dua hati yang awalnya dipaksa bertemu karena syarat dan janji, kini perlahan mulai menyadari bahwa ikatan itu mungkin sudah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!