Dikhianati hingga tewas di dunia modern, Anya, seorang CEO jenius ahli strategi investasi, bertransmigrasi ke tubuh Permaisuri Xian—seorang istri kaisar yang lemah, miskin, dan ditindas oleh para selir di istana belakang.
Namun, si licik salah memilih lawan. Jiwa yang baru ini tidak mengenal kata menyerah. Menggunakan ilmu ekonomi modern, Anya mengobrak-abrik Paviliun Logistik, menyikat habis menteri korup, dan membalikkan keadaan hingga para musuhnya gemetar ketakutan!
Di tengah aksi balas dendamnya yang badass, Kaisar Liang yang dingin dan berwibawa justru mulai mendekat, terpikat oleh kepakan sayap sang Ratu yang baru.
"Kau sangat menarik, Xian. Katakan padaku... apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 TAMU DARI NEGRI BARAT
Salju musim dingin mulai menebal, membungkus atap-atap megah Kota Terlarang dengan lapisan putih yang berkilauan. Kedatangan rombongan utusan dari Kekaisaran Wei bukan lagi sekadar urusan diplomatik biasa, melainkan sebuah parade kemewahan yang sengaja dirancang untuk mengintimidasi kekuatan Kekaisaran Han. Dipimpin oleh Pangeran Ketiga Wei, Mo Xuan, dan adiknya, Putri Mo Ran, rombongan tersebut membawa serta seratus kereta kuda yang sarat dengan batu permata, kain sutra barat yang ditenun dengan benang perak, serta rempah-rempah langka yang nilainya setara dengan emas.
Di dalam Istana Naga Emas, Anya duduk di samping Kaisar Liang di atas panggung singgasana yang sedikit lebih rendah, sebuah hak istimewa baru yang diberikan Kaisar sebagai tanda kemitraan setara mereka. Anya mengenakan gaun beludru ungu tua berlapis bulu rubah putih di bagian kerah, memberikan kesan misterius namun sangat berkelas. Sepasang matanya yang pekat mengamati setiap gerak-gerik Pangeran Mo Xuan yang saat ini sedang membungkuk memberi hormat di tengah aula.
"Kekaisaran Wei memberikan salam hormat yang setinggi-tingginya kepada Baginda Kaisar Liang yang agung, dan... Permaisuri Xian yang kabarnya baru saja menertibkan istana belakang dengan tangan besi," ucap Pangeran Mo Xuan. Suaranya terdengar ramah, namun ada kilatan licik dan meremehkan di dalam sepasang matanya. Pria itu sengaja menekankan kata 'tangan besi' untuk menguji reaksi Anya di depan umum.
Anya tidak terpancing. Dia justru menyandarkan punggungnya dengan santai, menatap Pangeran Mo Xuan seolah pria itu hanyalah seorang manajer pemasaran dari perusahaan kecil yang sedang mencoba mempresentasikan proposal yang membosankan.
"Pangeran Mo Xuan terlalu berlebihan," jawab Anya dengan nada suara yang sangat tenang dan jernih, bergema di seluruh aula. "Di Kekaisaran Han, kami tidak menyebutnya tangan besi. Kami menyebutnya 'efisiensi manajemen'. Sebuah konsep di mana setiap benalu yang menggerogoti aset negara harus dipotong hingga ke akarnya tanpa pengecualian. Saya harap di Kekaisaran Wei, Anda sekalian juga memiliki sistem yang sama rapinya, sehingga kita bisa berbicara dalam bahasa bisnis yang setara."
Mendengar istilah 'bahasa bisnis' dan 'efisiensi manajemen' yang asing namun terdengar sangat tajam, Pangeran Mo Xuan sempat tertegun sejenak. Rahangnya sedikit mengeras, menyadari bahwa desas-desus mengenai perubahan drastis pada diri Permaisuri Han bukanlah isapan jempol belaka. Di sampingnya, Putri Mo Ran yang mengenakan pakaian khas barat yang ketat dan seksi justru menatap ke arah Kaisar Liang dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh pesona godaan yang terang-terangan.
“Gadis kecil ini mengira dia bisa menggunakan taktik rayuan murahan untuk menggoyang posisi politikku?” batin Anya sambil melirik Putri Mo Ran dengan senyuman sinis yang tersembunyi di balik cangkir tehnya. “Dia tidak tahu bahwa pria yang duduk di sampingku ini adalah seorang kaisar berdarah dingin yang tidak akan pernah menukar kedaulatan negaranya hanya demi selembar wajah cantik. Jika mereka ingin bermain di papan caturku, aku akan memastikan mereka pulang dengan tangan hampa.”
Kaisar Liang yang merasakan ketajaman batin dari wanita di sampingnya diam-diam mengulas senyum tipis di balik untaian mahkotanya. Dia meletakkan tangan besarnya di atas sandaran kursi Anya, sebuah gerakan protektif yang sengaja diperlihatkannya di depan para utusan Wei. "Tujuan utama kedatangan kalian melintasi badai salju adalah untuk membahas pembukaan Jalur Sutra Barat yang baru. Katakan, Mo Xuan, apa penawaran konkret yang dibawa oleh Kekaisaran Wei untuk mengikat perjanjian dagang ini?"
Pangeran Mo Xuan tersenyum percaya diri, lalu memberi isyarat kepada pelayannya untuk membuka sebuah gulungan perkamen besar yang berisi peta jalur perdagangan baru. "Kami menawarkan pembagian keuntungan sebesar empat puluh persen dari seluruh pajak komoditas kain sutra dan porselen yang melewati wilayah barat Wei, dengan syarat Kekaisaran Han harus menyerahkan hak monopoli penjualan garam di pelabuhan perbatasan kepada klan dagang resmi kami selama sepuluh tahun ke depan."
Mendengar kata 'monopoli garam', beberapa menteri Han yang baru diangkat langsung berbisik panik. Garam adalah komoditas strategis yang mengendalikan hajat hidup orang banyak. Menyerahkan hak monopolinya kepada negara asing sama saja dengan menyerahkan leher kekaisaran untuk dicekik kapan saja. Di tengah kegelisahan aula tersebut, Anya justru meletakkan cangkir tehnya dengan suara ketukan yang pelan namun sanggup membungkam seluruh ruangan seketika.