Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Bab 1 Pengganti di Hari Pernikahan

"Luna! Cepat turun!"

Suara teriakan sang ibu menggema hingga ke lantai dua rumah keluarga Wulandari.

Lunaria Wulandari yang baru saja menyelesaikan sidang skripsinya seminggu lalu menghela napas panjang. Sejak pagi rumah mereka sudah dipenuhi kerabat dan para pekerja yang sibuk mempersiapkan pesta pernikahan kakaknya, Liana Wulandari.

Hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi keluarga mereka.

Seharusnya.

Dengan langkah malas, Luna menuruni tangga. Ia mengenakan dress sederhana berwarna biru muda dan rambut panjangnya dibiarkan tergerai.

"Ada apa sih, Bu?" tanyanya.

Namun begitu sampai di ruang tamu, langkahnya langsung terhenti.

Wajah ibunya pucat.

Ayahnya terlihat mondar-mandir sambil memegang ponsel.

Beberapa kerabat berbisik panik.

Dan yang paling membuat Luna bingung, Liana tidak terlihat di mana pun.

"Mana Kak Liana?" tanyanya.

Tidak ada yang menjawab.

Jantung Luna mulai berdegup tidak nyaman.

"Luna..." suara sang ibu bergetar.

"Kenapa, Bu?"

"Liana pergi."

Luna mengerjapkan mata.

"Pergi ke salon?"

"Bukan."

"Ke venue?"

"Bukan."

Sang ibu menahan tangis.

"Liana kabur."

Dunia Luna seolah berhenti berputar.

"Apa?"

Ayahnya menghantam meja dengan kesal.

"Kakakmu kabur dengan pacarnya!"

Luna membeku.

Pacar?

Bukankah Liana akan menikah hari ini dengan tunangannya?

Bukankah seluruh keluarga sudah menghabiskan miliaran rupiah untuk pesta megah ini?

"Ini... ini bercanda, kan?" suara Luna terdengar lirih.

Sang ibu menggeleng.

"Ayah menemukan surat di kamarnya pagi tadi."

Tubuh Luna terasa lemas.

Liana selama ini memang tidak pernah menyukai perjodohan itu. Namun tak seorang pun menyangka wanita itu akan benar-benar melarikan diri tepat di hari pernikahan.

"Dia pergi dengan laki-laki yang selama ini dia cintai."

Ruangan menjadi sunyi.

Luna memejamkan mata.

Ia tidak tahu harus marah atau sedih.

Yang ia tahu, keluarga mereka sedang berada di ambang kehancuran.

Calon pengantin pria berasal dari keluarga Dimitri, salah satu keluarga paling berpengaruh di kota itu.

Membatalkan pernikahan beberapa jam sebelum akad sama saja dengan mempermalukan kedua keluarga.

Dan keluarga Dimitri bukan orang yang bisa menerima penghinaan begitu saja.

"Ayah sudah menghubungi keluarga Dimitri," ucap ayahnya pelan.

"Lalu?"

"Mereka sedang dalam perjalanan ke sini."

Jantung Luna semakin tidak tenang.

---

Satu jam kemudian.

Mobil-mobil mewah memasuki halaman rumah.

Seluruh keluarga Wulandari langsung berdiri.

Pintu mobil utama terbuka.

Seorang pria tua dengan tongkat turun lebih dulu.

Tatapannya tajam meski usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun.

Dialah Dimitri Alexander Senior.

Pendiri keluarga Dimitri.

Orang yang paling disegani sekaligus ditakuti.

Di belakangnya berdiri seorang pria tinggi dengan setelan hitam sempurna.

Luna tanpa sadar menahan napas.

Pria itu tampan.

Sangat tampan.

Rahang tegas.

Tatapan dingin.

Dan aura yang membuat siapa pun enggan mendekat.

Alex Lucas Dimitri.

Calon pengantin pria yang baru saja ditinggalkan kakaknya.

Alex sama sekali tidak menunjukkan ekspresi marah.

Namun justru itulah yang membuat Luna merasa ngeri.

Pria itu terlihat terlalu tenang.

Terlalu dingin.

Seolah apa pun yang terjadi tidak mampu mengguncangnya.

"Kami ingin penjelasan."

Suara kakek Dimitri memecah keheningan.

Ayah Luna langsung membungkuk hormat.

"Saya mohon maaf..."

"Mana cucu saya yang akan menikah hari ini?"

Tidak ada yang menjawab.

Keheningan menjadi jawaban paling menyakitkan.

Wajah pria tua itu mengeras.

"Saya mengerti."

Ayah Luna menunduk semakin dalam.

"Kami benar-benar minta maaf."

"Maaf tidak mengembalikan harga diri keluarga saya."

Semua orang terdiam.

Luna bisa merasakan suasana menjadi semakin menyesakkan.

Lalu tiba-tiba sang kakek berbicara lagi.

"Jika Liana tidak ada."

Semua orang menatapnya.

"Maka gantikan dengan adiknya."

Luna merasa seperti disambar petir.

"Apa?"

Ruangan langsung gaduh.

Sang ibu membelalak.

Ayahnya terlihat syok.

Begitu pula Luna.

"Maksud Anda apa?" tanya ayahnya.

"Keluarga kalian tetap memenuhi perjanjian pernikahan."

Luna langsung berdiri.

"Tunggu dulu!"

Semua mata tertuju padanya.

"Saya tidak bisa menikah dengan orang yang bahkan tidak saya kenal."

Sang kakek menatap Luna beberapa saat.

"Siapa namamu?"

"Lunaria Wulandari."

"Usiamu?"

"Dua puluh dua tahun."

Pria tua itu mengangguk.

"Cukup."

Luna semakin bingung.

"Cukup apanya?"

"Kau menggantikan kakakmu."

"Tidak!"

Untuk pertama kalinya Luna berbicara tegas.

Ia baru saja lulus kuliah.

Ia memiliki banyak impian.

Menikah bahkan belum masuk dalam rencana hidupnya.

Apalagi dengan orang asing.

Namun sebelum ia sempat berkata lebih banyak, Alex akhirnya berbicara.

"Saya menolak."

Ruangan kembali sunyi.

Luna menoleh.

Alex menatap lurus ke arah kakeknya.

"Saya tidak tertarik menikah dengan siapa pun."

Kakek Dimitri mengetukkan tongkatnya ke lantai.

"Alex."

"Saya sudah mengikuti semua keinginan Kakek."

Suara Alex dingin.

"Tapi bukan berarti saya akan menikahi wanita lain begitu saja."

Luna diam-diam setuju.

Untuk pertama kalinya hari itu, ada seseorang yang memiliki pemikiran sama dengannya.

Namun sang kakek tidak bergeming.

"Perjodohan ini tetap berlangsung."

"Kakek—"

"Itu keputusan saya."

Tatapan Alex berubah tajam.

Sedangkan Luna mulai merasa pusing.

Mengapa hidupnya berubah secepat ini?

Pagi tadi ia masih seorang sarjana baru yang sedang memikirkan masa depan.

Kini ia tiba-tiba dijadikan calon pengantin pengganti.

"Luna."

Suara sang ibu membuatnya menoleh.

Mata wanita itu dipenuhi air mata.

"Tolong keluarga kita."

Kalimat itu menghantam hati Luna.

Ia menatap ayahnya.

Lalu ibunya.

Lalu para kerabat yang terlihat cemas.

Jika pernikahan ini gagal, bukan hanya nama baik keluarga mereka yang hancur.

Bisnis ayahnya juga bisa ikut terkena dampak.

Luna menggigit bibir bawahnya.

Sementara itu Alex berdiri dengan wajah tanpa ekspresi.

Pria itu jelas tidak menginginkan pernikahan ini.

Sama seperti dirinya.

Dua orang asing.

Dua orang yang sama-sama dipaksa.

Dan sebuah pernikahan yang tidak diinginkan siapa pun.

Namun takdir terkadang memang kejam.

Karena saat Luna kembali menatap kedua orang tuanya, ia melihat keputusasaan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Luna merasa dirinya sedang berdiri di persimpangan yang akan mengubah seluruh masa depannya.

Di satu sisi adalah kebebasan.

Di sisi lain adalah keluarganya.

Sementara di depannya berdiri seorang pria dingin bernama Alex Lucas Dimitri.

Pria yang mungkin akan menjadi suaminya dalam hitungan jam.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!