Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masmu dan masku
"Pak Dipta," panggil Arkana berdiri di seberang meja Pradipta yang sedang fokus pada lembaran kertas. Sesekali membalik halaman dan membandingkan dengan dokumen yang berada di layar komputer.
"Hm."
Dipta masih fokus pada pekerjaan.
"Nggak ngapel Pak?"
"Apel apa?" tanyanya tanpa menoleh.
"Ngapel bu Alya."
"Saya sibuk."
"Biasanya juga kalau sibuk gini diserahkan ke saya sama Sena. Kok tiba-tiba banget jadi gila kerja lagi," sindir Arkana.
Lantas Dipta menghentikan pekerjaanya, melepas kacamata anti radiasi di wajah tampannya dan menatap tajam asisten yang selalu bercanda tersebut.
"Cuma membicarakan kebiasan Pak." Arkana menyengir.
"Ditolak." Dipta menyandarkan punggungnya pada kursi dan menghela napas panjang.
"Lah kok bisa ditolak? Pria setampan bapak. Pekerja keras, mapan, perhatian, setia dan ...."
"Katakan saja tujuanmu memuji saya," potong Dipta cepat.
"Jadi begini Pak, saya mau izin pulang cepat soalnya ada janji sama seseorang."
"Boleh, pekerjaan kamu lempar ke Sena dulu."
"Jangan Pak ...." Refleks, Arkana hampir saja berteriak. "Kayaknya Sena juga mau izin cepat pulang Pak."
"Kalian janjian?" Dipta menatap penuh selidik asistennya.
"Kok bapak bisa ditolak?" Dan Arkana langsung mengalihkan pembicaraan.
"Bukan urusan kamu."
Dipta beranjak dan menjauhi Arkana ketika ponselnya berdering.
"Ada apa?"
"Aku ada diapartemen, mas pulang jam berapa?"
"Loh kok nggak mengabari dulu dek?"
"Dadakan Mas, mumpung lagi dapat cuti."
Sambungan terputus dan Dipta kembali ke meja kerjanya. Mengambil jas dan kunci mobil.
"Bereskan setelah itu kamu boleh pulang," ujar Pradipta membuat Arkana tersenyum lebar.
***
Pradipta tiba di apartemennya hanya dalam hitungan menit, dan langkahnya berhenti tidak jauh dari sofa melihat ada seorang perempuan bersama adik sepupunya. Adik sepupu yang dia biayai sekolahnya hingga sekarang.
"Ikut mas," ujar Pradipta melewati adik sepupunya dan tamu perempuan yang dibawanya.
"Aku tahu mas mau ceramah dan bilang aku harus fokus pendidikan dulu baru bisa cinta-cintaan," ucap Jemian lebih dulu sebelum Pradipta bicara.
Alhasil, Pradipta mengatupkan bibirnya kembali.
"Tapi mas, aku sangat mencintainya, tenang saja aku tetap fokus kok. Percayalah."
Dipta merespon dengan alis terangkat, tangan kanannya sedang bertumpu pada meja tepat di belakang tubuhnya. Bahkan jarinya mengetuk-etuk permukaan meja.
"Lalu apa tujuanmu membawa anak gadis orang ke Bandung, Jemian?"
"Bertemu kakak iparnya."
"Ipar?"
"Kak Alya."
"Alya Zahira?" Wajah Dipta berubah menjadi sangat serius. Dan seperkian detik benar-benar datar dan aura dingin menguar. "Adiknya Adrian dan kau memacarinya?"
"Apa salahnya? Mas juga menyukai mantan istri Adrian."
Skatmat, Dipta tidak bisa lagi melawan calon dokter dihadapannya. Dia dibuat tidak berkutik.
"Beritahu alamat kak Alya dan aku akan mengantar kekasihku ke sana."
"Nggak."
"Mas." Jemian memelas dan Dipta tetap pada pendiriannya tidak akan memberitahukan alamat Alya pada adik sepupunya.
"Jangan mengurusi orang dewasa."
"Aku nggak mengurusi kalian Mas. Aku hanya mau membuat kekasihku senang, itu saja."
"Benar-benar keras kepala." Dipta menghela napas panjang.
Selain tidak ingin memberitahu Jemian alamat Alya, dia juga tidak tahu harus berbuat apa jika datang lagi ke rumah wanita itu.
Ada ibu Alya yang sangat galak dan tidak membiarkannya mendekat.
***
"Mbak ...." Sudut bibir Adrina melengkung ke bawah melihat wanita cantik membukakan pintu untuknya. Dia langsung memeluk dan menangis. "Kangen banget aku tuh sama Mbak. Tega banget blokir aku. Padahal aku nggak mau ngapa-ngapain mbak," ucap Adrina terbata-bata.
Alya membalas pelukan mantan adik iparnya, mengelus pundak yang bergetar dengan tatapan tertuju pada Pradipta.
Seolah bertanya kenapa Adrina bisa datang bersama pria itu.
Namun, Dipta mengedikkan bahunya.
"Mbak minta maaf karena blokir kamu. Mbak takut."
"Dibuka blokirnya."
"Iya Dek." Alya melerai pelukan dan mempersilahkan tamu-tamunya masuk. Menyuguhkan minuman hangat karena sore ini terasa sangat dingin.
"Kok bisa kenal, gimana ceritanya?" tanya Alya duduk tepat di samping Pradipta.
"Pria disamping kak Alya, masku itu."
"Oh ya?" Alya tampak terkejut. "Dunia sesempit itu ternyata." Dan akhirnya dia tertawa pelan.
"Mbak senang tuh kalian masih sama-sama. Soalnya pacar kamu ini, sering banget bicarain mau putusin kamu kalau lagi kesal."
"Beneran gitu?" Jemian menatap Adrina yang sibuk mengeringkan air matanya di pipi.
"Iya, habisnya kamu sering sibuk. Untung mbak Alya nggak ngomporin, nyuruh aku bicarain baik-baik sama kamu," jawab Adrina ketus dan suaranya masih terdengar serak.
Dipta mengulum senyum mendengar dan menyaksikan pembicaraan tiga orang yang lebih muda darinya. Tetapi sesekali tatapannya tertuju pada tangan Alya.
Seperti ada luka baru di jarinya.
"Mulai lagi?" tanya Dipta.
"Mulai apa mas?"
"Melukai diri sendiri? Kenapa kali ini?"
"Nggak sengaja." Alya langsung menyembunyikannya.
"Mana." Dipta menengadahkan tangannya.
"Nanti saya obati sendiri."
"Mana tangannya dek."
Jantung Alya hampir saja melompat dari tempatnya mendengar panggilan Dek yang lolos dari mulut Dipta. Apalagi suaranya sangat pelan.
Entah setan dari mana yang menggoda Alya sehingga memiliki keinginan mengulurkan tangannya. Dibiarkan diobati oleh Dipta di depan Adrina dan Jemian.
Dipta sendiri menyambut tangan itu dengan senyuman tipis. Merogoh saku celananya untuk mengambil plaster obat, seolah celana itu adalah apotek berjalan.
"Banyak pikiran ini," gumam Dipta membalurkan plaster dan sesekali meniupnya.
Jemian sampai menahan napas melihat aksi masnya. Bukan karena Dipta terlalu dingin pada seorang wanita, hanya saja yang dia tahu Dipta tidak begitu peduli pada seorang wanita yang hanya dianggap teman.
"Kamu liat sendiri kan? Masku tuh baik," bisik Jemian pada Adrina.
"Masku juga dulu gitu, ngejar mbak Alya udah kayak nggak ada cewek lain. Bahkan pas selingkuh masih romantis sama mbak," balas Adrina dengan bibir miring kanan dan kiri. Bukan dia yang diselingkuhi, tapi dia ikut trauma.
"Masku itu beda."
"Masmu sama aja."
"Beda Adrina."
"Sama aja Jemian!"
Sepasang kekasih itu saling tatap dengan tangan berada di pinggang. Seolah akan memulai peperangan.
Dan orang yang mereka perdebatkan menatap dengan kening mengerut, tangannya pun anteng mengenggam tangan Alya seolah akan menyeberang jalan.
"Al, anak kamu nangis ini."
"Iya Bu." Alya langsung berdiri. "Kalian duduk dulu ya." Dan berjalan menuju kamar.
Melihat hal tersebut, Adrina mengekori Alya. Selain kangen pada kakak iparnya, tentu dia ingin melihat seberapa tampan putra mas brengseknya tersebut.
"Lucu banget sih ponakan aku," seru Adrina melihat bayi mungil yang kini berada di gendongan Alya.
Sungguh, dia hanya pura-pura baik-baik saja ketika menyadari tatapan ibu Alya yang menghunus tajam seolah akan menelannya hidup-hidup.
"Mbak sudah ngasih nama?"
"Belum Rin. Mbak belum nemu nama yang pas untuk malaikat mbak ini."
"Bagaimana dengan Aryan Ardana mbak?"
"Harus pakai Ardana ya?" tanya Alya tidak enak.
.
.
.
Kira-kira Alya bakal setuju ambil marga Adrian nggak ya?
Jangan lupa like, komen dan subscribe. Dukungan kalian semangat author.
klo cinta... tak akn km mnduakn alya