Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.
Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.
Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.
Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: KUPING CEO YANG KEPANASAN
Di sudut lain ibu kota, tepatnya di dalam ruangan CEO PT Bimantara Food Internasional yang super mewah, keadaan justru sedang mendingin secara ekstrem. Bukan karena sistem pendingin ruangannya sudah diperbaiki oleh teknisi, melainkan karena sang pemilik ruangan sedang membeku menatap layar ponselnya.
Bzzzt.
Satu notifikasi foto masuk di grup WhatsApp bernama **"Bimantara Bahagia & Sentosa"**—sebuah grup keluarga yang isinya sembilan puluh persen adalah pameran menu sarapan Bu Ambar dan tautan artikel kesehatan palsu kiriman Papa Hartawan. Namun, foto yang baru saja dikirim oleh sang papa sukses membuat Bima tersedak air liurnya sendiri.
Itu foto sebuah tangan ramping yang sangat ia kenal, dengan sebentuk cincin berlian warisan sang nenek melingkar pas di jari manisnya. Di latar belakang foto yang agak buram, wajah Anaya tampak merona merah antara pasrah, dongkol, dan syok berat.
Di bawah foto itu, Papa Hartawan menulis sebuah pesan singkat: “Sah! Calon Ibu Negara Kedua sudah dikunci. Tinggal nunggu pengantin pria pulang bawa mas kawin mi instan satu truk.”
"Mama... Papa... kalian benar-benar tidak ada akhlak," desis Bima, giginya bergemalatuk menahan gejolak gengsi yang mendadak melambung tinggi.
Pria itu langsung berdiri dari kursi kebesarannya. Matanya kemudian melirik ke arah meja marmer, di mana sebuah benda tipis berpenutup casing warna pastel tergeletak mengenaskan di sebelah cangkir kopi. Itu ponsel Anaya. Ponsel yang sengaja Bima selipkan di bawah tumpukan dokumen sebelum sekretarisnya itu berangkat tadi, murni sebagai taktik picik agar wanita itu punya alasan untuk kembali ke ruangannya hari ini.
"Bagus. Sekarang saya punya alasan resmi untuk menyusul ke Menteng," gumam Bima, menyunggingkan senyum penuh kemenangan yang sangat tipikal seorang pria narsis.
Dia menyambar ponsel Anaya, memasukkannya ke dalam saku jas, lalu melangkah lebar keluar ruangan dengan aura dominan yang siap meruntuhkan mental siapa saja yang berpapasan dengannya di koridor kantor.
Dua puluh lima menit kemudian, mobil Porsche hitam milik Bima sudah terparkir sembarangan di depan “Ambar’s Rose & Co.”. Tanpa memedulikan tatapan kagum orang-orang di sekitar Menteng terhadap ketampanannya yang hakiki hari ini, Bima melangkah tegap menuju pintu kaca toko bunga milik ibunya.
Namun, tepat saat tangannya hendak mendorong pintu kayu berlonceng itu, langkah Bima terhenti. Pintu toko tersebut ternyata sedikit renggang, menyisakan celah beberapa sentimeter yang mengizinkan suara-suara dari dalam menguar dengan sangat jelas sampai ke indra pendengarannya.
Dan suara pertama yang terdengar adalah suara helaan napas frustrasi dari sekretarisnya.
"Aduh, Ibu Ambar, Papa Hartawan... tolong dong lepasin dulu cincinnya. Ini kalau nggak bisa lepas, saya bisa dituntut pasal penggelapan aset keluarga sama anak Ibu yang perfeksionis itu," terdengar suara Anaya, nadanya santai namun penuh tekanan batin.
Bima menyipitkan mata, menempelkan telinganya sedikit lebih dekat ke celah pintu. Egonya mendadak tegak beridiri, siap mendengarkan bagaimana Anaya memujinya di depan kedua orang tuanya. Ayo, katakan kalau kamu sebenarnya tidak sabar jadi istri dari pria se-genius saya, Anaya, batin Bima percaya diri.
"Lho, kenapa harus dilepas? Kamu nggak mau punya suami ganteng, mapan, dan punya delapan belas cabang perusahaan kuliner kayak Bima?" suara Bu Ambar menyahut, terdengar menginterogasi.
Di balik pintu, Bima tersenyum bangga. Good job, Mama. Pertanyaan yang sangat bermutu.
Namun, jawaban yang keluar dari mulut Anaya berikutnya sukses membuat senyum narsis di wajah Bima membeku seketika.
"Bukannya nggak mau punya suami mapan, Bu," Anaya menjeda kalimatnya, terdengar sedang meneguk teh hangat yang disediakan. "Tapi saya itu gak mungkin nikah sama Pak Bima. Menghadapi dia di kantor delapan jam sehari aja udah bikin saya rajin minum obat sakit kepala. Apalagi kalau harus serumah? Bisa-bisa saya mati muda karena tekanan batin."
Kretek. Bima bersumpah dia mendengar suara egonya yang setinggi langit mendadak retak satu senti.
"Lho, emang si Bima seburuk itu, Nay?" kini suara Papa Hartawan ikut menimpali, terdengar sangat bersemangat memancing aib anak kandungnya sendiri.
"Buruk banget sih nggak, Pak," sahut Anaya, suaranya terdengar makin santai, mengalir begitu saja tanpa beban seolah sedang bergosip di warung kopi. "Cuma ya... dia itu sejenis manusia purba tanpa perasaan. Bapak sama Ibu tahu kan, waktu saya tipus tahun lalu dan harus dirawat di rumah sakit? Alih-alih bawa buah atau bilang 'semoga cepat sembuh', dia malah datang bawa laptop kantor, duduk di samping ranjang saya, terus nyuruh saya merevisi laporan tahunan sambil tangan saya masih ditusuk jarum infus! Manusia normal mana yang kepikiran kayak begitu, Coba?"
Di balik pintu, wajah Bima mendadak memanas. Kupingnya terasa seperti disiram air mendidih. Dadanya bergemuruh hebat. Manusia purba tanpa perasaan? Dia? Seorang Bima Bimantara yang wajahnya pernah masuk majalah finansial Asia sebagai “The Most Eligible Bachelor” disamakan dengan manusia purba?
Padahal, waktu kejadian tahun lalu itu, Bima sengaja membawa laptop ke rumah sakit karena dia tidak percaya dengan kerjaan sekretaris pengganti, dan dia... sebetulnya hanya ingin punya alasan untuk menemani Anaya di kamar rawat tanpa terlihat terlalu peduli. Tapi ternyata, di mata Anaya, tindakan penuh perhatian terselubungnya itu dinilai setara dengan kekejaman zaman batu!
"Terus ya, Bu, Pak," suara Anaya kembali terdengar, kali ini nadanya terdengar sangat gemas. "Tingkat narsisnya itu udah di luar nalar manusia sehat. Setiap kali berkaca di koridor kantor, dia bisa berdiri lima menit cuma buat benerin rambut sambil gumam, 'Kenapa saya diciptakan terlalu sempurna?'. Saya yang berdiri di belakangnya bawa map dokumen rasanya pengen banget numpahin air radiator ke kepalanya supaya dia sadar kalau bumi itu berputar mengelilingi matahari, bukan mengelilingi ketampanan dia!"
Brakk!
Ego Bima Bimantara runtuh total, hancur berkeping-keping menjadi debu roket, lalu terbakar habis oleh kobaran api asmara yang bercampur dengan rasa dongkol setengah mati. Kupingnya sudah benar-benar kepanasan, merah padam sampai ke leher.
Tanpa memedulikan sopan santun lagi, Bima mendorong pintu kaca toko bunga itu dengan sentakan kasar hingga lonceng di atasnya berdentang heboh berulang kali.
Prang! Kring!
Semua orang di dalam toko langsung menoleh. Bu Ambar menghentikan drama tisunya, Papa Hartawan hampir menjatuhkan risoles keduanya, dan Anaya... seketika membeku dengan mulut setengah terbuka saat melihat sosok pria bertubuh jangkung yang kini berdiri di ambang pintu dengan tatapan mata elang yang siap menguliti siapa saja hidup-hidup.
Bima melangkah masuk, aura dominannya mendadak berubah menjadi sangat pekat dan berbahaya. Jas hitamnya sengaja ia buka, memperlihatkan kemeja putih dengan tiga kancing teratas yang masih terbuka—sisa konfrontasi mereka tadi pagi di kantor.
Matanya langsung terkunci lurus pada Anaya yang kini tampak salah tingkah dan buru-buru menyembunyikan tangan kirinya yang memakai cincin di balik bantal sofa.
"Oh," Bima bersuara, nadanya rendah, dingin, namun terdengar sangat seksi sekaligus mengerikan di saat yang bersamaan. Dia berjalan perlahan mendekati sofa, mengabaikan keberadaan kedua orang tuanya. "Jadi... di mata kamu, saya ini sejenis manusia purba tanpa perasaan yang pantas disiram air radiator, Anaya?"
Anaya menelan ludah dengan susah payah. Di dalam kepalanya, seluruh koleksi kebun binatang yang tadi sempat membuat kehebohan mendadak pingsan massal secara berjamaah. Burung unta, simpanse, kangguru, semuanya mendadak tiarap, menyisakan keheningan horor yang luar biasa mencekam.
Mampus kamu, Anaya, jerit batinnya panik. Singa narsisnya denger semuanya!
Tunggu kelanjutannya besok, bakal rilis 2 bab tiap harinya jam 08.00 dan 11.00. Stay tune ya kakak, boleh juga kasih hadiah dan dukungannya juga kalau berkenan. Thank uuu
-
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...