NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / CEO
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Rumah Bernama Kamu

Chantika akhirnya membalikkan tubuhnya hingga kini ia berhadapan langsung dengan Enzo.

"Sudah malam," katanya sambil menatap pria itu. "Cepat pulang sana."

Ia mendorong pelan dada Enzo agar pria itu berbalik menuju pintu balkon.

Namun, tubuh Enzo sama sekali bergerak. Tetap bergeming di tempatnya. Pria itu benar-benar seperti tembok.

"Aku sudah pulang," jawab Enzo santai.

Chantika mengernyit. "Pulang?" ulangnya. "Ini rumah orang tuaku, bukan rumahmu."

Enzo tersenyum tipis. "Ini rumah mertuaku." Ia menatap mata Chantika lekat-lekat. "Dan... kamu adalah rumahku."

Chantika terdiam. Entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa begitu hangat. Tatapan Enzo yang biasanya dingin kini dipenuhi kelembutan yang sulit dijelaskan. Untuk sesaat, jantung Chantika berdetak sedikit lebih cepat.

Tanpa aba-aba, Enzo mengangkat tubuh Chantika.

"Enzo!"

Chantika hampir berteriak, tetapi buru-buru menahan suaranya. Ini sudah lewat tengah malam. Ia jelas tidak ingin seluruh penghuni rumah mengetahui kalau di dalam kamarnya ada seorang pria.

"Ayo tidur," ucap Enzo ringan.

"Enzo, aku serius. Kamu pulang sana. Aku gak mau ada yang tahu keberadaanmu."

"Aku cuma di kamar kamu. Memangnya siapa yang bakal lihat?"

"Astaga...." Chantika mengusap wajahnya frustrasi.

Melihat ekspresi wanita itu, Enzo terkekeh pelan. Dengan hati-hati ia mendudukkan Chantika di tepi ranjang.

Chantika mengembuskan napas panjang. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia melirik gelas di atas nakas, tetapi gelas itu sudah kosong. Ia akhirnya beranjak dari duduknya.

Enzo yang kini duduk santai di tepi ranjang menoleh. "Mau ke mana?"

"Mau minum. Berdebat sama kamu bikin haus."

Enzo kembali terkekeh. "Mau aku temenin?"

Chantika langsung memelototinya. "Kamu mau semua orang di rumah tahu kalau kamu nyusup ke kamarku?"

Enzo mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Iya, iya. Bu Polisi selalu benar."

"Yang benar itu kamu pulang."

Enzo tersenyum jail. "Apa rumah istriku bukan rumahku?"

"Belum jadi istri."

"Sebentar lagi."

Chantika hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat pria itu.

"Aku ambil minum. Jangan ke mana-mana."

Enzo mengangguk pelan. "Tenang aja. Aku tunggu."

Chantika kembali menatapnya curiga sebelum akhirnya keluar dari kamar.

Koridor rumah begitu sunyi.

Saat memasuki lorong dapur, Chantika sedikit terkejut melihat lampunya masih menyala.

Rahardja sedang menuang air hangat ke dalam sebuah gelas. Pria itu menoleh ketika mendengar langkah kaki putrinya.

"Belum tidur?" tanyanya lembut.

"Sudah, Pa," sahut Chantika. "Haus, jadi kebangun."

Rahardja mengangguk pelan, lalu menyerahkan segelas air kepada Chantika.

Setelah Chantika meneguk beberapa teguk, Rahardja kembali menatapnya.

"Kamu menyukai pemuda tadi?"

Chantika mengangkat wajahnya. "Iya, Pa."

Rahardja menunggu putrinya melanjutkan.

"Kami serius." Chantika menjeda sejenak. "Kami ingin menikah."

Rahardja tampak sedikit terkejut. "Mau menikah?"

"Iya, Pa." Chantika mengangguk mantap. "Dalam waktu dekat aku akan mengajukan izin menikah ke institusi. Enzo juga sudah menyerahkan seluruh berkas pribadinya."

Rahardja terdiam beberapa saat. "Kenapa begitu cepat?"

Tatapannya penuh perhatian. "Dan... apa kamu benar-benar yakin ingin menikah dengannya?"

Chantika tersenyum kecil. "Aku yakin, Pa."

Ia menarik napas pelan. "Selama ini aku gak pernah benar-benar tertarik sama laki-laki mana pun. Tapi sama Enzo..."

Ia menatap ayahnya dengan mata yang penuh keyakinan. "...rasanya berbeda."

Rahardja memandang putrinya cukup lama. Kemudian perlahan ia tersenyum.

"Kalau itu memang pilihanmu..." Pria paruh baya itu mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. "...Papa akan mendukung."

Mata Chantika langsung berbinar. "Terima kasih, Pa."

Rahardja tersenyum hangat. "Asal kamu bahagia, Papa akan selalu mendukungmu."

Chantika tak mampu lagi menahan haru. Ia langsung memeluk ayahnya erat.

Sejak ibunya meninggal, Chantika memang tinggal bersama neneknya di kampung.

Meski terpisah, Rahardja tak pernah melupakan putrinya itu. Ia rutin datang menjenguk dan berkali-kali mengajak Chantika tinggal bersamanya.

Namun, setiap kali itu pula Chantika selalu menolak karena tidak ingin meninggalkan neneknya seorang diri.

Barulah setelah sang nenek meninggal dunia, Chantika tak lagi memiliki alasan untuk menolak ketika Rahardja datang menjemputnya.

Sejak saat itu, Rahardja selalu berusaha memenuhi setiap kebutuhan putrinya.

Bahkan ketika Chantika memutuskan menjadi polisi dan menolak meneruskan bisnis keluarga, Rahardja yang semula berharap putrinya menjadi penerus perusahaan akhirnya memilih mengalah.

Baginya, kebahagiaan Chantika selalu lebih penting daripada ambisi pribadinya.

***

Chantika akhirnya kembali ke kamarnya sambil membawa segelas air hangat.

Begitu membuka pintu, ia melihat Enzo masih duduk di tepi ranjang sambil menatap layar ponselnya.

Pria itu langsung mengangkat wajah saat mendengar pintu terbuka. Senyum tipis segera terukir di bibirnya ketika melihat Chantika masuk.

"Ini," ucap Chantika sambil menyodorkan gelas itu. "Minumlah. Kamu pasti haus setelah manjat kamarku, berantem sama aku, terus masih sempat debat lagi."

Enzo menerima gelas itu. "Istriku perhatian sekali."

Chantika langsung mendengus. "Kita belum menikah."

"Sebentar lagi." Jawaban Enzo tetap sama seperti sebelumnya.

Chantika hanya menggeleng malas. Ia memilih naik ke atas ranjang lalu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.

Enzo menghabiskan air hangat itu dalam beberapa teguk, lalu meletakkan gelas kosong di atas nakas.

Tanpa meminta izin, ia ikut berbaring di samping Chantika. Seketika lengannya melingkar di pinggang wanita itu dan menariknya ke dalam pelukan.

"Enzo..." protes Chantika pelan.

Namun pria itu sama sekali tidak melepaskan pelukannya. Ia justru memejamkan mata, menghirup lembut aroma sampo dan tubuh Chantika yang entah mengapa selalu berhasil menenangkan pikirannya.

Perlahan, napas Enzo menjadi semakin teratur. Tak lama kemudian, Chantika pun ikut terlelap di dalam pelukannya.

 

Pagi menjelang. Cahaya matahari mulai menyelinap melalui celah tirai balkon.

Enzo terbangun lebih dulu. Ia menatap wajah Chantika yang masih tertidur pulas dalam pelukannya.

Perlahan, ia menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah wanita itu.

Senyum tipis terukir di bibirnya. Semalam, saat bersama Chantika, untuk kedua kalinya sejak bertahun-tahun, ia berhasil tidur tanpa mimpi buruk.

Tak ada bayangan ayahnya. Tak ada pukulan, atau tendangan yang membangunkannya. Yang ada hanyalah ketenangan. Dan semua itu terjadi setiap kali ia tidur di sisi wanita ini.

Dengan hati-hati Enzo mengecup kening Chantika. Kemudian ia perlahan melepaskan pelukannya.

Chantika hanya bergumam pelan, mencari posisi yang lebih nyaman sebelum kembali terlelap.

Enzo bangkit dari ranjang. Ia merapikan selimut yang menyelimuti tubuh Chantika, lalu menatapnya beberapa detik seolah enggan berpisah.

Setelah itu, ia berjalan menuju balkon. Dalam beberapa gerakan ringan, sosoknya menghilang di balik temaram fajar yang mulai menyingsing.

 

Beberapa menit kemudian...

Chantika terbangun. Refleks ia menoleh ke sisi ranjang.

Kosong.

Sudut bibirnya terangkat tipis. "Dasar penyusup."

Meski begitu, senyum kecil masih bertahan di wajahnya. Namun saat kakinya menapak lantai, sebuah ingatan kembali terlintas di benaknya.

"Setelah pulang dinas... aku harus melihat rekaman CCTV hotel itu.

Sudah saatnya aku mencari tahu... apakah semua itu memang kecelakaan, atau seseorang sengaja menjebakku."

 

...🔸🔸🔸...

..."Rumah bukan selalu tempat untuk pulang. Kadang, rumah adalah seseorang yang mampu membuat luka masa lalu berhenti menghantui."...

..."Restu orang tua adalah doa. Kepercayaan adalah hadiah. Dan cinta sejati adalah tempat hati akhirnya merasa pulang."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Saking Nyaman-nya di Kelonin Enzo, membuat Chantika ke siangan lagi... 😁😁😁
Ass Yfa
Enzo udah manggil istriku..kayak stlah kejadian mlm itu..Enzo udah melegalkan perniahannya deh..nyuruh asistennya daftarin secara negara
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lankutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Maaf Kak Nana... Ini maksudnya gimana ya Kak Nana? Kalimat Chsntika ysng mengatakan "Dia hak pernah memintaku berhenti dari Pekerjaan" Aku bingung di bagian "Hak" itu loh Kak Nana... 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Ssmangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Betul Sekali Chsntika... Karena Map itulah, kau di jebak oleh adikmu sendiri tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Gampang Enzo... Tarok aja harga dirimi di bokongmu sendiri... 😂😂😂 Gampang kan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kalau ada kalimat begini, pasti afa hal buruk yang akan terjadi nih... Perasaanku mulai nggk enak nih Kak... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Aku sudah ketimggalan kauh mih Kak Nana... 😁😁😁 Jadi belum bisa lomen sampai puluhan komen... 😁😁😁 Ketinggalan jauh banget nih Kak... 😁😁😁🙏

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Tuan Rahardja nggk bisa Kamj tipu Saras... 😂😂😂 Dia bukan orang baru, di dunia bisnis... 😂😂😂 Sekaramg Apalagi alasan ysng akan kamu berikan? ha? 😂😂😂

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Maaf Kak Nana... kalimat ini Maksudnya gimana ya Kak 'Darinya berkerut samar' atau 'Dahinya berkerut samar' Kak Nana? 😁😁😁 Aku bingung nih Kak Nana... 😁😁😁
Sugiharti Rusli
apalagi dia sebentar lagi juga jadi calon menantu yang sangat bucin sama putri kamu itu🤩🤩🤩
Sugiharti Rusli
tenang saja tuan Rahardja, setelah tahu kecurangan dari calon investor yang diajukan si Saras, ada calon investor lain yang lebih kompeten sih nanti😅😅😅
Sugiharti Rusli
mana bikin perintah dadakan dan juga dengan waktu yang mepet pulak, sepertinya kamu memang sudah teruji Marco😂👏👏
Sugiharti Rusli
namanya juga bos besar yah, tapi tenang saja dan berharap sama calon nyonya bis yang lebih manusiawi😄😄😄
Sugiharti Rusli
sabar yah Marco dengan sifat bos kamu yang terkadang suka seenaknya sendiri😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!