NovelToon NovelToon
Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Penyesalan Suami
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.

Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.

Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Ia menoleh ke arah kamar. Kian sedang mengerjakan pekerjaan rumah sekolah dengan wajah yang tenang. Anak itu sama sekali tidak tahu bahwa ibunya sedang berjuang mencari cara agar ia tetap bisa bersekolah. Melihat putranya, Nadia menggigit bibir bawahnya. "Maafkan Ibu..." bisiknya lirih, "Ibu janji akan cari jalan."

Air mata kembali jatuh. Namun hanya beberapa detik. Nadia segera mengusapnya kasar. Menangis tidak akan membuat rekeningnya bertambah. Menangis juga tidak akan melunasi uang sekolah Kian. Ia berdiri, lalu kembali duduk di depan mesin jahit. Kalau siang tidak cukup, ia akan bekerja sampai dini hari. Kalau pesanan masih sedikit, ia akan mencari pelanggan lebih banyak. Ia tidak tahu bagaimana caranya. Tetapi ia percaya, selama masih mau berusaha, selalu ada jalan yang Allah bukakan. Sebab ia yakin, rezeki seorang anak tidak akan pernah tertukar. Dan demi Kian, ia rela mengorbankan apa pun, kecuali kembali kepada laki-laki yang menjadikan nafkah anak sebagai alat untuk memaksa seorang ibu menyerahkan harga dirinya.

***

Malam itu, suara mesin jahit akhirnya berhenti tepat menjelang pukul sepuluh. Nadia meregangkan bahunya yang terasa pegal, lalu membereskan potongan-potongan kain yang berserakan di atas meja. Pikirannya masih dipenuhi satu hal. Uang sekolah Kian. Ia sudah menghitung berkali-kali isi rekeningnya. Hasilnya tetap sama. Masih kurang.

Saat Nadia sedang termenung, langkah kaki kecil mendekatinya. "Ibu..."

Nadia menoleh. Kian berdiri sambil menggenggam sebuah amplop cokelat yang sudah sedikit kusut. "Iya, Sayang?"

Anak itu mengulurkan amplop tersebut. "Ini buat Ibu."

Nadia menerimanya dengan bingung. "Apa ini, Nak?"

Kian hanya tersenyum kecil. "Ibu buka aja."

Nadia membuka amplop itu perlahan. Begitu melihat isinya, matanya langsung membelalak. Uang. Beberapa lembar uang pecahan yang jumlahnya cukup banyak untuk ukuran anak seusia Kian. Nadia buru-buru menatap putranya. "Kian... uang dari mana ini?"

"Kian pinjam."

"Pinjam?" Nadia mengernyit. "Sama siapa?"

"Sama Ray, sahabat Kian di sekolah."

Nadia langsung menggeleng. "Astaghfirullah. Nak, kenapa kamu pinjam uang ke teman? Apalagi uangnya sebanyak ini. Bagaimanapun kalau orang tua Ray tahu. Apa nggak akan jadi masalah?"

Kian menundukkan kepala sebentar, lalu berkata lirih, "Soalnya tadi Ibu kelihatan sedih waktu kemarin pulang dari sekolah." Nadia tercekat. "Kian dengar Ibu telepon Ayah." Kian tahu uang sekolah Kian belum dibayar." Suara anak itu begitu pelan, tetapi setiap katanya menghantam hati Nadia. "Ray bilang tabungan hadiah ulang tahunnya masih ada. Kata Ray, kalau Kian butuh, boleh dipinjam dulu."

Nadia menggenggam amplop itu semakin erat. "Terus... nanti gimana ngembaliinnya?"

Kian tersenyum polos. "Ibu nggak usah mikirin, nanti kalau Kian sudah besar, sudah kerja, Kian yang bayar."

Nadia menatap wajah putranya beberapa detik. Lalu tanpa sadar ia tertawa kecil di sela air matanya. "Jangan begitu, Sayang." Ia meraih Kian dan mendudukkannya di pangkuannya. "Utang tetap harus dibayar secepat mungkin. Bukan menunggu kamu sudah kerja." Nadia mengusap rambut putranya dengan penuh kasih. "Itu urusan Ibu."

"Tapi Kian mau bantu."

"Kian sudah membantu Ibu. Dengan tetap jadi anak yang baik." Nadia mengecup kening putranya. "Terima kasih karena sudah berpikir sejauh itu demi Ibu. Ibu bangga punya anak seperti kamu."

Kian memeluk ibunya erat. "Kalau begitu... uangnya dipakai dulu, Bu?"

Nadia memandang amplop di tangannya. Beberapa saat kemudian ia menggeleng pelan. "Besok kita kembalikan baik-baik ke Ray. Karena Ibu tidak ingin kamu memikul beban orang dewasa. Selagi ibumu masih hidup, ibu akan berusaha untuk Kian." Nadia tersenyum hangat sambil mengusap pipi Kian. "Tugas Kian sekarang adalah belajar, bermain, dan menjadi anak yang bahagia."

"Lalu tugas Ibu?"

Nadia menarik napas panjang. "Tugas Ibu adalah memastikan semua masalah ini selesai... tanpa mengambil masa kecil anak Ibu."

Kian mengangguk, meski ia belum sepenuhnya mengerti. Namun malam itu, Nadia semakin yakin bahwa ia tidak boleh menyerah. Sebab di hadapannya ada seorang anak kecil yang bahkan rela meminjam uang kepada sahabatnya agar ibunya tidak lagi menangis.

Keesokan harinya, setelah mengantar Kian ke sekolah, Nadia tidak langsung pulang. Ia membuka grup WhatsApp kelas satu per satu hingga menemukan nomor orang tua Ray. Dengan sedikit ragu, ia mengirimkan pesan.

[Assalamu'alaikum, Pak. Perkenalkan saya Nadia, ibunya Kian. Mohon maaf mengganggu waktunya. Kalau berkenan, saya ingin bertemu sebentar untuk mengembalikan uang yang kemarin dipinjamkan Ray kepada Kian.]

Tidak sampai lima menit, pesan itu dibalas.

[Wa'alaikumussalam, Bu Nadia. Silakan datang ke sekolah saat jam pulang. Kebetulan saya yang menjemput Ray hari ini.]

Nadia menghela napas lega. Bel sekolah akhirnya berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas dengan wajah riang. Nadia melihat Kian berjalan berdampingan dengan Ray. Begitu melihat ibunya, Kian langsung menghampiri. "Ibu."

"Kian."

Tak lama kemudian, seorang pria sepantaran Nadia datang sambil tersenyum ramah. "Assalamu'alaikum. Saya Fahri, ayahnya Ray."

"Wa'alaikumussalam, Pak." Setelah saling berjabat tangan, Nadia segera mengeluarkan amplop dari dalam tas. "Pak, terima kasih banyak. Saya datang untuk mengembalikan uang yang dipinjamkan Ray."

Pak Fahri malah tersenyum dan menggeleng. "Nggak usah, Bu."

Nadia terkejut. "Lho, Pak. Ini kan uang Ray. Makanya harus saya kembalikan."

Sempat terjadi tolak-tolakan antara Nadia dan Fahri. Nadia berpikir uang itu harus kembali, tetapi Fahri malah sebaliknya. Uang itu tak sekedar dipinjami anaknya, tetapi diberi dengan ikhlas sebagai bentuk kepedulian untuk membantu sahabatnya.

Ray berpikir keras, lalu berkata dengan wajah serius, "Kalau Ayah nggak nerima, nanti Tante sedih."

Kian ikut mengangguk cepat. "Iya, Om."

Pak Fahri tertawa. "Kalau Ayah nerima, Ray sedih."

Ray langsung menyahut, "Tentu saja karena aku nggak mau Kian sampai pindah sekolah." Rupanya Kian dan Ray sudah membahasnya sejauh ini. Semua yang berada di sana langsung tertawa. Ray kembali menoleh kepada Nadia. "Please, Tante..." Ia menyatukan kedua telapak tangannya seperti sedang memohon. "Terima uang itu."

Pak Fahri akhirnya berjongkok di hadapan kedua anak itu. "Dengar ya." Keduanya mengangguk bersamaan. "Uang itu memang dipinjamkan supaya Kian tetap bisa sekolah." Ray tersenyum lebar. "Tapi..." lanjut Pak Fahri, "kalau Tante Nadia sekarang sudah datang untuk mengembalikannya, berarti Tante adalah orang yang bertanggung jawab."

Ray mengembuskan napas panjang. "Oke deh." Ia menerima amplop itu dari tangan Nadia, tetapi belum sempat memasukkannya ke saku, Pak Fahri mengambil kembali amplop tersebut.

"Terus?"

Pak Fahri tersenyum hangat kepada Nadia. "Saya titipkan lagi untuk biaya sekolah Kian. Anggap saja ini bukan utang. Tapi saya pengikat persahabatan Ray dan Kian. Saya tahu Ibu pasti akan mengembalikannya suatu hari nanti kalau keadaan sudah lebih baik." Pak Fahri tersenyum tulus. "Untuk saat ini, izinkan saya membantu menjaga masa depan dua anak yang sudah mengajarkan kami arti persahabatan."

1
falea sezi
knp jd bertele tele thor😒 kayak ikan terbang🤣
falea sezi
kenapa Fachri jd goblokk🤣🤣 niat bantuin. g sih
Iffanaya 😽
kk aku ikutan mewek...pls Thor bikin kian balik ke ibunya trs bongkar kebusukan karin Thor gk tega liat kian tertekan 😭😭
Muji Lestari
lanjutt thorrr
falea sezi
lanjut
falea sezi
makanya jd istri jangan bego wkt jd istri nabung yg banyak kuras harta sembunyikan klo suami selingkuh qm cerai g susah 😒
Iffanaya 😽
ditunggu lanjutannya kk 🫶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!