NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:160
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

Semesta terus berputar, menggulirkan hari-hari tanpa jeda. Valeska, seorang gadis dengan paras yangvmemesona, berdiri di depan cermin. Seragam SMA Mandala Kencana membalut tubuhnya terlihat sempurna, menonjolkan kesederhanaan yang tetap menawan. Jemarinya perlahan merapikan dasi, lalu menyisir rambut panjangnya dengan sentuhan lembut. Tidak lupa, senyum kecil mengembang di wajahnya saat ia menatap dirinya dari pantulan cermin.

"Masih nggak percaya," bisiknya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

"Gadis secantik ini ternyata harus hidup dengan penyakit mematikan. Tapi, nggak apa-apa. Ayok, buat kenangan sebanyak mungkin. Jangan biarkan waktu berlalu gitu saja. Kalau nanti masanya sudah habis, setidaknya mereka akan ingat dengan Valeska yang penuh tawa." Dia menghela napas panjang, lalu meraih jam tangan pemberian papanya.

Kembali ia berdiri di depan cermin, mengamati dirinya sekali lagi. "Cantik, kan?" gumamnya dengan nada bercanda. "Setidaknya, sebelum rambut ini mulai rontok karena kemo, gue masih bisa menikmati rambut panjang ini. Dan siapa tahu, gue bisa menghadapi alur hidup yang penuh rintangan, meski harus menyebrangi lautan, lembah, gunung, bahkan hutan Amazon hingga ketemu raja hutan." Valeska tertawa kecil saat menyadari celotehannya sendiri.

"Kenapa jadi random kayak gini?" Setelahnya dia berjalan menuju kamar sang abang.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pintu itu khas sekali? keras dan tidak sabaran.

"Abang, ayok berangkat!"

Di balik pintu, Kaivandra sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Kalau adiknya yang mengetuk, pasti setelahnya ada omelan khas yang tak berujung.

"Abang udah sia--"

"Kan adek bilang, jangan begadang. Kalau begadang pasti aja pukul setengah tujuh baru selesai mandi, gimana kalau telat? Ini kan hari pertama adek sekolah setelah libur. Abang sih enak, masuknya jam delapan, nggak ada upacara bendera, lah adek? Kalau jam tujuh baru nyampe, adek harus lari secepat ultramen buat sampai kelas, udah gitu nggak bisa duduk santai dulu, wajib lari ke lapangan buat upacara. Abang ini gimana sih? Abang mau adek di hukum? Nggak mau kan? Kalau nggak mau, abang harus bangun lebih cepat, ih sebel deh. Abang selalu aja seperti ini, dan kenapa berlaku di hari Senin? Di hari berikutnya nggak, apa abang sengaja?"

Baru saja hendak berucap, Valeska sudah lebih dulu mengomel kepada abangnya. Cukup membuat gendang telinga Kaivandra terasa ingin pecah, tapi ternyata ini semua tidak bisa dia hindari. Kaivandra hanya bisa menghela napas panjang.

"Iya, dek, maafin abang. Tapi kalau ngomel terus, yang ada beneran telat, lho. Yuk, kita langsung berangkat."

Kaivandra menarik tangan adiknya, meninggalkan apartemen dan berjalan menuju lift. Tapi tentu saja, meski sudah di lift, omelan itu belum berhenti.

"Adek nggak capek ngomel terus?" tanya Kaivandra setengah bercanda.

"Buat apa capek?"

"Ya, kalau ngomel terus, tenaga adek bakal habis sebelum sampai sekolah." Kaivandra tersenyum kecil.

Kalau bukan Valeska, mungkin mulut itu sudah dia 'bekap' sejak tadi. Tapi, ini Valeska adiknya yang selalu menjadi alasan dia bertahan menghadapi apa pun.

"Eh, adek udah sarapan?" tanya Kaivandra sambil memakaikan helm pada adiknya.

"Udah, abang gimana?"

"Abang nanti sarapan di kantin aja,"

"Kenapa nggak di rumah?"

"Ya lagi pengen di kantin aja." Kaivandra tertawa kecil, menyembunyikan fakta bahwa dia terlambat bangun dan tidak sempat sarapan.

"Awas boros, bang,"

"Biarin. Kita kan masih hidup di bawah naungan finansial Papa dan Mama. Kalau bukan kita yang menghabiskan, siapa lagi?"

Valeska mengangguk, setuju. "The real tumbuh dengan uang."

Namun, ucapan itu membuatnya terdiam beberapa saat, tenggelam dalam pikirannya. Kaivandra menyadari itu. Ia menoleh sambil tersenyum.

"Dek, takdir memang nggak bisa kita ubah, tapi dengan do'a dan usaha, kita bisa merubah segalanya. Mungkin sekarang kita tumbuh dengan uang, tapi kekurangan kasih sayang. Tapi ke depan? Siapa tahu, kita punya dua-duanya. Hidup itu kayak panggung teater takdir. Bahkan penyakit yang adek alami sekarang, itu juga bagian dari takdir yang Tuhan berikan."

Valeska menghela napas panjang. Kata-kata abangnya menohok, menyadarkan betapa kerasnya kenyataan yang harus ia hadapi. Perceraian orang tua mereka, kesunyian yang kerap menyelimuti, dan dijatuhkan vonis penyakit yang merenggut sebagian mimpinya, semuanya terasa berat untuk seorang gadis seusianya. Namun, dia tahu, hidup harus terus berjalan.

"Ya udah, yuk. Kita berangkat sekarang." Kaivandra tersenyum, merangkul bahu adiknya pelan.

Keduanya pun melangkah ke motor yang sudah terparkir di depan sana, mulai menembus pagi yang mulai hangat. Bagi mereka, setiap hari adalah perjuangan takdir boleh menentukan, tapi semangat'lah yang membuat hidup tetap berarti.

***

Suara kicauan burung menggema lembut di tengah kesunyian pagi. Terdengar suara seorang siswa yang tengah memimpin jalannya upacara, suaranya menggema hingga ke sudut-sudut sekolah. Semilir angin perlahan menyentuh pepohonan yang menjulang, menciptakan harmoni alam yang menenangkan.

Namun, kedamaian itu terganggu oleh rasa sakit yang menusuk kepala seorang gadis. Bau anyir darah menyergap indera penciumannya, membuatnya terhuyung lemah. Rasa nyeri yang mendera semakin terasa intens, menghantam lebih hebat dari biasanya.

Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku, mencoba mengeluarkan beberapa lembar tisu. Tapi sebelum ia sempat menghapus aliran darah yang hampir mencapai dagunya, Anaya sudah lebih dulu menyadarinya.

"Valeska, lo mimisan?" tanya Anaya cemas, sambil sigap menghapus darah yang mulai mengalir deras.

"Jangan, Nay. Gue bisa sendiri. Ini darah, memang nggak jijik?" tanya Valeska, suaranya bergetar lemah, seperti menahan perih yang terus menggempur.

Anaya berbalik badan, kebetulan kedua tamannya berbaris di belakang dirinya. "Sha, lo bawa tisu lebih, nggak? Valeska mimisan. Kalau nggak ada, coba tanya Laksha," ujar Anaya, nadanya mendesak.

Prisha yang mendengar segera menoleh, dan matanya membelalak saat melihat kondisi Valeska. Darah yang terus mengalir dari hidungnya semakin membangkitkan rasa khawatir.

"Laksha, lo bawa tisu? Valeska mimisan, parah banget," tanya Prisha dengan nada panik.

"Hah? Serius? Aduh, gue nggak bawa tisu," balas Laksha, wajahnya penuh penyesalan saat mendekati Valeska bersama Prisha.

Kekhawatiran kini tampak jelas di wajah mereka. Valeska memejamkan mata, menahan sakit yang terus menghantam tanpa ampun.

"Bang, kepala adek sakit banget." batinnya pilu.

"Kita ke UKS sekarang. Jangan tunda lagi!," ujar Anaya tegas, suaranya terdengar seperti perintah.

Laksha dan Prisha mengangguk, segera membimbing Valeska yang tubuhnya mulai tidak seimbang. Langkah mereka terburu, melawan waktu demi menyelamatkan temannya yang kini terlihat begitu kesakitan. Dengan capet, seorang dokter yang bertugas di SMA Mandala Kencana, memberikan penanganan.

Ruangan UKS terasa begitu tegang, diselimuti kekhawatiran yang menggantung di udara. Valeska, gadis malang yang terus mengerang kesakitan. Tubuhnya tersentak hebat setiap detik, seperti ditusuk-tusuk tanpa ampun. Kepalanya terasa seolah dihantam ribuan jarum, ditambah dengan dadanya yang begitu sesak, setiap kali menarik napas.

Di atas meja kecil, secangkir air hangat jatuh berhamburan ketika rasa sakit kembali menghantam tubuhnyat anpa ampun.

"S-sakit ... ini sakit banget, dokter. Tolong, tolong ini sakit!" rintih Valeska, suaranya penuh kepiluan.

"Obat dokter, tolong kasih obat! Ini nggak tahan ...." lanjutnya, hampir kehilangan kendali atas dirinya.

Dokter itu pun seketika bingung, dia baru kali ini mendapatkan siswa yang sakitnya begitu intens. Namun ia cepat tersadar.

"Kamu punya obat pribadi? Di mana obatnya?" tanyanya lembut namun tegas.

"D-di, saku ..." Valeska menjawab dengan suara terputus, jemarinya gemetar menunjuk ke arah seragamnya.

Tanpa ragu, dokter memeriksa saku seragam, tangannya menemukan sebuah tabung kecil berisi enam butir pil. Dengan cekatan, ia segera memberikan obat itu kepada Valeska, yang langsung menelannya dengan sisa tenaga. Setelah obat itu diminum, dokter berusaha menenangkan Valeska. Dia mengusap lembut dada Valeska yang terbaring lemah di atas kasur UKS.

Untungnya, aliran darah dari hidungnya sudah berhenti, memberikans edikit kelegaan di tengah kepanikan. Namun, kondisi Valeska masih membuat nyali seorang dokter itu menciut. Matanya yang sayu menatap lurus ke depan, pupilnya nyaris tenggelam dalam lingkaran bulan sabit yang terbentuk oleh kelopak matanya.

Dokter akhirnya menarik napas lega ketika tubuh Valeska berangsur tenang. Gadis cantik di depannya kini tertidur, terlelap oleh efek samping obat yang diberikan. Meski untuk sesaat, setidaknya rasa sakit sudah teredam. Dokter belum tahu bahwa Valeska menderita kanker otak, sebuah kenyataan pahit yang menggantung seperti bayang-bayang gelap di atas diri gadis berusia 16 tahun.

***

Laksha, Anaya, dan Prisha kembali melangkah masuk ke ruang UKS setelah menyelesaikan pelajaran pertama. Senyum merekah terlihat di wajah mereka saat melihat Valeska perlahan membuka mata, mengerjap lembut seolah mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya. Dokter yang tadi menangani Valeska sudah kembali bertugas, meninggalkan ruangan dengan suasana yang lebih tenang.

Namun, mereka segera menyadari sesuatu. Valeska kembali memejamkan mata, kali ini tampak seperti sedang berusaha menahan rasa sakit.

"Valeska, lo mau pulang sekarang? Kalau mau, biar gue minta sopir buat nganterin lo ke apartemen," tawar Anaya.

Valeska menggeleng pelan. "Nggak usah, Nay. Gue mau di sini dulu, biar nanti gue pulang sama abang aja."

Anaya hanya mengangguk, matanya sekilas melirik bekas darah di seragam Valeska. Jejak pekat berwar namerah yang menjadi saksi betapa banyaknya darah yang keluar dari indra penciumannya.

"Ini pertama kali lo mimisan, atau udah sering kayak gini? Soalnya selama kita temenan, gue nggak pernah lihat lo mimisan," tanya Laksha, mencoba memecah keheningan yang menggantung di ruangan UKS.

Hendak menjawab, tapi dia terdiam sejenak. Pandangannya berusaha menangkap wajah Laksha yang terlihat kabur, meski jarak di antara mereka tidaklah jauh.

"Betul kata dia, Val. Sebenarnya lo sakit apa?" Prisha menimpali, nadanya penuh rasa ingin tahu yang bercampur cemas.

"Gue nggak sakit, mungkin cuma kecapekan," jawab Valeska, memaksakan sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya.

Namun, tatapannya mengkhianati kata-katanya, kabur dan sulit fokus, seperti bayangan yang tak lagi jelas. Anaya yang menyadari ada sesuatu yang lebih serius, memegang lengan Valeska dengan lembut.

"Habis ini, lo harus ke rumah sakit, ya. Kita nggak bisa tebak-tebakan soal kondisi lo. Periksa aja, biar pasti. Kalau nggak, periksa ke ayah nya Prisha, kan seorang dokter,"

"Iya betul, kalau mau, nanti lo ke rumah gue aja. Nggak apa-apa kok." Sahut Prisha.

Saat suasana mulai tegang, pintu UKS kembali terbuka. Dokter masuk dengan langkah sigap, mendekati Valeska untuk memeriksa ulang keadaannya. Ia menempelkan stetoskop ke dada gadis itu, memastikan detak jantungnya yang mulai stabil meski masih menyisakan getaran kecil.

"Setelah ini, pastikan untuk periksa lebih lanjut di rumah sakit, ya," ucap dokter.

Valeska mengangguk lemah, meski di dalam hati ia sudah tahu apa yang menjadi penyebab semuanya. Mungkin ini efek dari kemoterapi beberapa waktu lalu. Tapi ia memilih menyembunyikan kebenaran itu, karena tidak ingin membebani siapa pun dengan rasa takutnya.

"Dok, bagaimana kondisi teman kami?" tanya Laksha, tak mampu menyembunyikan rasa khawatir disuaranya.

"Sejauh ini terlihat stabil. Tapi untuk memastikan, kita perlu menunggu beberapa jam ke depan," jawab sang dokter dengan tenang.

Mereka saling bertukar pandang, seakan berkomunikasi tanpa kata.

"Semoga selalu baik," ujar Anaya lirih, nyaris seperti doa yang ia bisikkan pada semesta.

Prisha, tak mau kalah, mendekati Valeska dengan senyum hangat. "Valeska, semoga nggak ada kejadian kayak tadi pagi, ya. Kita semua harus sehat. Panjang umur. Biar bisa lulus bareng-bareng."

Valeska tersenyum kecil mendengar ucapan tersbeut, meski dalam hati ia berbisik pedih, "Apa orang kayak gue bisa berharap sejauh itu? Sedangkan penyakit gue, udah di tahap akhir."

Sebuah senyum menyembunyikan badai di dalam dirinya, sebuah kebenaran yang ia pendam sendirian,berharap waktu memberinya sedikit lebih lama untuk tetap bersama mereka.

***

Siang berganti malam, namun Valeska dan Kaivandra masih belum berniat pulang. Malam itu, entah mengapa, Valeska enggan kembali ke apartemennya. Padahal biasanya, begitu dijemput, ia selalu meminta untuk segera pulang tanpa mau mampir ke sana ke mari.

Setelah menikmati makan malam di sebuah restoran mewah di kota tempatnya tinggal, Valeska mulai merengek meminta pada abangnya untuk mengantarnya ke suatu tempat. Kaivandra awalnya ragu, mengingat kondisi adiknya yang tak lagi sekuat dulu apalagi cuaca malam ini sangatlah dingin.

"Ya, bang, ya? Please. Adek pengen banget ke tempat itu. Kali ini aja."

"Bang, ayolah, mau ya? Demi adek," pintanya lagi dengan nada memohon, sorot matanya penuh harap.

Kaivandra akhirnya menyerah. Ia mengangguk pelan, lalu tersenyum lembut. Untung saja tadi pagi ia membawa sweater, sehingga bisa menghangatkan tubuh adiknya yang kini lebih rentan terhadap dinginnya malam.

Kini keduanya melaju di atas kendaraan beroda dua milik Kaivandra. Sepanjang perjalanan, Valeska terus tersenyum, seperti anak kecil yang akhirnya mendapatkan hadiah impiannya.

"Kita mau ke mana, dek?" tanya Kaivandra, yang sejak tadi hanya mengikuti arahan adiknya tanpa tahu tujuan akhir.

"Ke tempat yang pastinya abang bakal suka. Indah banget, bang." Kaivandra hanya tersenyum, sedikit penasaran.

"Habis ini kiri atau kanan?"

"Kanan. Habis itu lurus, nanti ada tanjakan dikit, udah deh kita sampai."

Lima menit kemudian, mereka tiba di tujuan. Selama perjalanan, Kaivandra lebih banyak diam, menikmati suara ceria Valeska yang terus berceloteh dari belakang.

Valeska terus memeluk tubuh abangnya dari belakang, membuat Kaivandra melihat sesekali melalui kaca spion. Ia memperhatikan helaian rambut Valeska yang tertiup angin, berantakan namun tetap indah. Dalam hati, ia berdoa.

"Semoga rambutnya terus seperti ini, tumbuh lebat, tanpa ada satu pun yang hilang."

Setelah memarkirkan motor, Kaivandra membantu Valeska turun. Malam itu begitu tenang, hanya ditemani suara angin yang berembus lembut di antara pepohonan.

"Bang, ini namanya Cakrawala. Lihat deh ke sana, ada danau kecil, dikelilingi hamparan rumput yang luas.Tempat ini cocok banget buat rebahan sambil lihat bintang," ujar Valeska, matanya berbinar menatap pemandangan malam.

Kaivandra mengangkat alis, sedikit heran. "Kenapa harus malam-malam begini? Kenapa nggak siang aja? Kita masih bisa ke sini di saat weekend."

Valeska menatap lurus ke depan, napasnya terdengar pelan namun dalam. "Kalau dinanti-nanti, takutnya hanya jadi wacana, bang. Entah nanti adek yang drop, atau abang yang sibuk sama kegiatan kampus. Kita nggak pernah tahu, kan? Kalau bisa sekarang, kenapa harus nanti?"

Kaivandra terdiam. Ada sesuatu dalam ucapan adiknya yang terasa begitu tulus, namun menyimpan kedalaman yang sulit dipahami sepenuhnya. Valeska lalu memecah keheningan.

"Bang, mau denger kabar baik atau kabar buruk?" tanyanya sambil menatap gemerlap lampu kota di kejauhan. Kaivandra menoleh, menyunggingkan senyum kecil.

"Dua-duanya, biar adil." Valeska tersenyum tipis, mencoba menutupi keraguan di hatinya.

"Kabar baiknya, adek masih punya teman-teman yang sayang sama adek. Mereka perhatian, bikin adek ketawa, dan selalu bikin adek nyaman." Kaivandra mengangguk, menunggu kelanjutan kata-katanya.

"Kabar buruknya?" Valeska terdiam sejenak, dan melanjutkan dengan nada yang lebih pelan.

"Waktu sekolah tadi, hidung adek mimisan. Kepala adek sakit banget, sampai akhirnya adek merasakan kalau pandangan adek tidak seperti dulu, bang. Pandangan adek kabur, apakah ini karena penyakit adek?"

Kaivandra menatapnya dengan ekspresi terkejut. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, Valeska mendongakkan wajah, menatap langit malam yang bertabur bintang.

"Besok kita chek ke rumah sakit,"

"Tapi, besok adek sekolah, di hari libur aja ..."

"Abang juga besok ngampus, adek sekolahnya setengah hari aja, besok biar abang jemput sekalian mengantarkan surat izinnya,"

"Siap, abang."

Malam ini, bintang-bintang tampak lebih cerah dari biasanya, seolah Semesta sedang berbisik lembut, memberi Valeska kekuatan untuk terus bertahan. Sementara Kaivandra, diam-diam menguatkan hatinya, berjanji untuk selalu ada di sisi adiknya, apa pun yang terjadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!