NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 transaksi di atas bara api

Keheningan di dalam kamar utama malam itu terasa jauh lebih berat daripada malam-malam sebelumnya. Gema teriakan histeris Lidya dan kepasrahan ayahnya yang diseret keluar dari mansion masih menyisakan gaung tak kasat mata di kepala Alana.

Alana duduk di tepi ranjang. Gaun malam midnight blue yang luar biasa indah itu kini terasa seperti beban seberat gunung yang menekan pundaknya. Ia belum mengganti pakaian, bahkan belum menghapus riasan wajahnya. Jemarinya yang dingin meremas ponsel di dalam saku gaun.

Bzzzt.

Ponsel itu bergetar lagi. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor Siska.

"Dua belas jam lagi, Alana. Lima ratus juta, atau besok pagi seluruh jagat maya akan tahu bahwa kau adalah pelacur haus harta yang menjebak CEO Adhitama. Aku tahu suamimu yang cacat itu membelamu tadi malam, tapi mari kita lihat apakah dia tetap membelamu setelah rekaman ini kusebar."

Alana memejamkan mata, merasakan hawa dingin menjalar dari ujung kakinya hingga ke dada. Napasnya memburu. Siska tidak main-main. Kakak tirinya itu tahu persis bagaimana cara menghancurkan sisa hidup Alana yang sudah berada di ujung tanduk. Bagi orang seperti Devano, reputasi dan harga diri adalah segala-galanya. Jika rumor beredar bahwa pernikahan ini adalah konspirasi busuk sejak awal untuk memeras hartanya, Devano tidak akan ragu untuk melenyapkan Alana tanpa jejak.

Klek.

Suara pintu yang terbuka membuat Alana tersentak. Ia buru-buru menyembunyikan ponselnya di balik lipatan gaun, mencoba mengatur ekspresi wajahnya sealami mungkin.

Devano masuk. Pria itu masih berada di atas kursi rodanya, namun jas hitamnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan lengan kekar dengan urat-urat yang menonjol seksi namun intimidatif. Wajah tampan itu tidak berekspresi, sebeku es di kutub, namun sepasang matanya yang sehitam malam langsung mengunci sosok Alana.

Devano menghentikan kursi rodanya tepat di depan Alana. Kehadirannya seketika mempersempit oksigen di dalam ruangan luas itu.

"Kau belum mengganti pakaianmu," ucap Devano. Suaranya rendah, bergema di antara dinding-dinding kamar yang sunyi. "Atau kau masih terpesona dengan sandiwara pembelaan yang kulakukan di ruang perjamuan tadi?"

Alana mendongak, mencoba menatap langsung ke dalam manik mata pria itu, meski seluruh tubuhnya berteriak untuk tunduk ketakutan. "Terima kasih untuk yang tadi malam, Tuan Devano. Anda... Anda menyelamatkan saya dari penghinaan Ibu tiriku."

Devano terkekeh rendah. Suara tawa yang kering, dingin, dan sama sekali tidak mengandung kehangatan manusia. Pria itu memajukan tubuhnya, menopang siku di sandaran kursi roda, menatap Alana dengan tatapan menilai yang tajam.

"Jangan salah paham, Alana. Aku tidak sedang menyelamatkanmu," desis Devano, kata-katanya mengalir seperti bisa ular. "Aku hanya sedang melindungi barang milikku. Sesuatu yang sudah kubeli dengan harga mahal tidak boleh dirusak atau diinjak-injak oleh orang lain sebelum aku sendiri yang bosan memainkannya. Paham?"

Rasa perih yang familiar kembali menyengat dada Alana. Ia tahu betul konsekuensinya. Di mata pria ini, ia bukanlah seorang istri, melainkan sebuah komoditas. Barang pengganti yang cacat kualitasnya.

"Saya paham, Tuan," jawab Alana lirih, suaranya diusahakan tetap tegap. "Saya tahu posisi saya di rumah ini."

"Bagus jika kau paham," sahut Devano. Namun, matanya tidak beralih. Pria itu memperhatikan bagaimana jemari Alana terus meremas kain gaun di bagian sakunya—sebuah gerakan refleks yang menunjukkan kecemasan ekstrem. Devano adalah seorang predator bisnis yang bisa mengendus ketakutan dan kebohongan dari jarak satu mil. "Lalu, mengapa kau masih gemetar? Apa yang sedang kau sembunyikan di balik gaun mahal itu, Nyonya Adhitama?"

Jantung Alana seolah melompat ke tenggorokan. "T-tidak ada, Tuan. Saya hanya lelah."

"Kebohongan lagi," desis Devano.

Dalam satu gerakan yang luar biasa cepat, Devano mencengkeram pergelangan tangan Alana dan menariknya dengan sentakan kuat. Tubuh Alana terdorong ke depan, terpaksa berlutut di lantai tepat di antara kedua lutut Devano. Sebelum Alana sempat memprotes atau bergerak mundur, tangan besar Devano yang lain sudah menyusup ke dalam saku gaun Alana, merenggut ponsel usang itu dari genggaman jarinya yang melemas.

"Tuan Devano, jangan! Kembalikan!" Alana memekik panik, mencoba meraih ponselnya kembali.

Namun, Devano dengan mudah menahan tubuh Alana dengan satu tangan yang mengunci bahu telanjang wanita itu, sementara matanya membaca layar ponsel yang masih menyala, menampilkan pesan ancaman dari Siska.

Udara di dalam kamar itu mendadak turun beberapa derajat. Alana bisa melihat bagaimana rahang tegas Devano mengeras, dan urat di pelipisnya menonjol saat membaca deretan kalimat pemerasan tersebut. Kilat kemarahan yang pekat dan berbahaya meledak di dalam manik mata sang tirani.

Devano melempar ponsel itu ke atas ranjang dengan kasar, lalu mengalihkan tatapannya kembali pada Alana yang kini menatapnya dengan mata berair penuh ketakutan.

"Lima ratus juta," ucap Devano, suaranya melembut, namun kelembutan itu justru seribu kali lebih mengerikan daripada bentakan. "Kakak tirimu yang murahan itu meminta lima ratus juta untuk pelariannya, dan kau... berniat memberikannya?"

"T-tidak, Tuan! Saya tidak punya uang sebanyak itu!" Alana menggelengkan kepala dengan panik, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya yang mulus. "Saya tidak berniat mengkhianati Anda, saya bersumpah! Saya hanya... saya takut dia akan menyebarkan fitnah itu ke media dan merusak nama baik Anda."

Devano menyeringai sinis. Tangan yang tadi mengunci bahu Alana kini bergerak naik, jemarinya yang panjang dan dingin mengelus leher Alana, merasakan detak nadi wanita itu yang berpacu liar di bawah kulitnya. Sentuhan itu sensual, namun sarat akan ancaman kematian.

"Kau takut reputasiku rusak, atau kau takut aku akan membunuhmu jika rahasia ini terbongkar, Alana?" bisik Devano, wajahnya membungkuk, mendekat hingga bibirnya menyentuh daun telinga Alana yang memerah akibat sensasi panas yang menjalar di tubuhnya.

Alana mencengkeram lutut celana kain Devano untuk menahan tubuhnya yang kian melemas. Kedekatan yang intim ini, aroma tubuh Devano yang maskulin bercampur wangi tembakau mahal, selalu berhasil melumpuhkan seluruh fungsi otaknya. "Saya... saya hanya tidak ingin menjadi beban untuk Anda..."

"Kau sudah menjadi beban sejak pertama kali menginjakkan kaki di sini," potong Devano kejam. Ibu jarinya menekan dagu Alana, memaksa wajah cantik yang basah oleh air mata itu mendongak menatapnya. "Lima ratus juta adalah uang receh bagiku. Aku bisa menghancurkan Siska dan seluruh keluargamu sebelum fajar menyingsing jika aku mau."

"Lalu... apa yang akan Anda lakukan?" cicit Alana, menatap pasrah pada pria yang kini memegang kendali penuh atas hidupnya.

Devano menatap bibir mungil Alana yang bergetar. Kilat kepemilikan yang gelap berkobar di matanya. Pria itu memajukan wajahnya, mengunci bibir Alana dalam sebuah ciuman yang lambat namun penuh tekanan dominasi. Alana melenguh pelan, memejamkan mata saat lidah Devano mulai menuntut kepatuhan mutlak darinya. Rasa takut dan gairah asing bercampur aduk, membakar kewarasan Alana di tengah malam yang sunyi.

Ketika Devano melepaskan tautan bibir mereka, napas keduanya memburu di udara. Devano menatap Alana yang terengah-engah di pangkuannya dengan tatapan puas seorang penguasa.

"Aku akan memberikan uang itu pada Siska," bisik Devano seksi, suaranya serak di depan bibir Alana. "Aku akan membiarkan tikus itu berlari sedikit lebih jauh sebelum aku mematahkan lehernya. Tapi tidak ada yang gratis di dunia bisnisku, Alana. Uang lima ratus juta itu adalah harga untuk kepatuhan totalmu."

Devano menarik tubuh Alana semakin rapat ke dadanya, mengabaikan fakta bahwa ia seharusnya berpura-pura lumpuh di depan umum. Di dalam kamar ini, ia adalah raja yang mutlak.

"Mulai malam ini, jika aku menyuruhmu merangkak, kau harus merangkak. Jika aku menyuruhmu melayaniku, kau tidak punya hak untuk menolak. Kau telah menandatangani kontrak dengan iblis, Alana. Dan malam ini, transaksi kita resmi dimulai."

Alana hanya bisa mengangguk pasrah dalam dekapan hangat yang mematikan itu. Ia tahu, uang lima ratus juta dari Devano bukan penyelamat, melainkan rantai baru yang mengikat lehernya selamanya di dalam sangkar emas sang tirani.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!