NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Eyang

Istri Pilihan Eyang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6 sah

​Halaman rumah Pakde Joko yang biasanya tenang kini telah berubah menjadi lautan manusia. Kabar pernikahan Dokter Nada, sang malaikat penolong Desa Sukamaju, telah menyebar cepat. Ratusan warga desa—mulai dari ibu-ibu pengajian, bapak-bapak yang sering diomeli Nada soal tensi darah, hingga anak-anak kecil yang dulu takut disuntik—semuanya berkumpul di bawah tenda sederhana yang dihias janur kuning.

​Suasana begitu ramai dan riuh dengan gurauan khas pedesaan, namun terselip rasa haru yang mendalam. Mereka semua datang dengan sukarela, membawa bingkisan hasil bumi sebagai wujud rasa terima kasih dan pelepasan masa lajang untuk dokter kesayangan mereka.

​"Aduh, tidak menyangka ya, Dokter Nada kita dipersunting orang kota," bisik seorang ibu dengan mata berkaca-kaca.

​"Iya, semoga suaminya tidak galak. Dokter Nada kan orangnya baik sekali," sahut yang lain.

​Di barisan depan, suasana mendadak hening ketika rombongan keluarga Alexander memasuki area akad nikah. Kelvin Alexander berjalan dengan langkah tegap, memancarkan aura dingin yang kontras dengan kehangatan desa tersebut. Ia mengenakan beskap putih modern yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya. Wajah tampannya datar tanpa senyuman sedikit pun saat ia melangkah dan mengambil tempat duduk di kursi empuk yang telah disediakan di depan meja akad.

​Eyang Arka, Gavin, dan Siska duduk di barisan kursi keluarga dengan tatapan penuh wibawa. Kelvin menatap lurus ke depan, ke arah meja kayu yang di atasnya sudah terdapat kitab suci dan berkas pernikahan. Dadanya bergemuruh oleh kekesalan yang coba ia redam dengan sisa-sisa ketenangannya sebagai seorang CEO.

​“Cek... satu, dua...” Suara pembawa acara (MC) menggema melalui pengeras suara, memecah ketegangan yang sempat merayap.

​"Bismillahirahmanirrahim. Bapak, Ibu, dan para hadirin yang berbahagia, kini tibalah saat yang kita nantikan bersama. Kepada pengantin wanita, dipersilakan untuk melangkah menuju pelaminan akad, bersanding bersama calon imam pilihan hati."

​Alunan musik kecapi suling Sunda yang begitu merdu dan magis mulai mengalun, memenuhi atmosfer udara pagi yang sejuk. Pintu rumah jati itu perlahan terbuka lebar.

​Detik itu juga, seluruh keriuhan di halaman rumah mendadak sirna. Suasana menjadi begitu hening, seolah waktu berhenti berputar.

​Denada melangkah keluar dari ambang pintu, didampingi oleh Budhe Sumi di sisi kirinya. Begitu sosoknya tertangkap oleh pandangan mata, terdengar helaan napas kagum yang tertahan dari para warga desa. Semua mata—tanpa terkecuali—langsung tertuju padanya.

​Nada berjalan dengan sangat anggun, langkah kakinya pelan dan teratur di atas karpet merah. Kebaya putihnya tampak berkilau lembut diterpa sinar matahari pagi, dan ronce melati yang menjuntai di bahunya menebarkan aroma harum yang seketika menenangkan ruangan. Wajah cantiknya yang alami kini memancarkan aura yang begitu magis, manis, dan sangat berwibawa. Sebuah senyuman teduh yang tulus terukir di bibirnya, menatap satu per satu warga desanya yang menatapnya dengan pandangan haru.

​Mendengar bisik-bisik kekaguman yang kian memenuhi tenda, Kelvin yang sedari tadi enggan menoleh, akhirnya digerakkan oleh rasa penasaran. Ia memutar kepalanya perlahan, berniat menatap wanita desa yang selalu ia tuduh haus harta itu dengan tatapan meremehkan.

​Namun, begitu manik mata hitam Kelvin menangkap sosok Denada, kalimat cemoohan yang sudah ia siapkan di dalam kepala mendadak lenyap tanpa bekas.

​Kelvin terpaku. Sepasang matanya yang tajam melebar samar, terkunci sepenuhnya pada sosok pengantin wanita yang tengah berjalan ke arahnya. Pria itu membeku di kursinya, seolah seluruh pasokan udara di sekitarnya tersedot habis. Di matanya, Denada tidak terlihat seperti seorang gadis desa biasa yang naif. Wanita itu memancarkan keanggunan berkelas yang bahkan mengalahkan model-model papan atas yang pernah Kelvin temui di kota besar—termasuk Catalina.

​Siska yang melihat reaksi putranya hanya bisa tersenyum penuh kemenangan dari barisan belakang, sementara Eyang Arka mengangguk puas.

​Nada terus melangkah, hingga akhirnya ia tiba di dekat meja akad. Sebelum duduk di kursi sebelah Kelvin, Nada sempat melirik ke arah sang calon suami. Mata indah nan teduh itu bertemu langsung dengan tatapan tajam nan dingin milik Kelvin. Bukannya merasa terintimidasi oleh aura sang CEO, Nada justru memberikan sebuah senyuman misterius yang sangat manis, seolah ia tahu persis apa yang sedang bergejolak di dalam dada pria tampan di hadapannya saat ini.

Prosesi akad nikah dimulai dengan khidmat di bawah bimbingan penghulu dari Kantor Urusan Agama setempat. Suasana di bawah tenda mendadak hening total, menyisakan deru angin sepoi-sepoi yang menggoyang janur kuning. Pakde Joko, bertindak sebagai wali nikah, menjabat erat tangan kanan Kelvin di atas meja akad yang dilapisi kain putih bersih.

​Kelvin mengatur napasnya yang sempat tertahan. Sebagai seorang CEO yang terbiasa memimpin rapat bernilai miliaran, menjabat tangan wali nikah ternyata memberikan getaran yang jauh berbeda di dadanya.

​"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Kelvin Alexander bin Gavin Alexander, dengan keponakan saya, Denada putri kandung mendiang Hermawan, dengan mas kawin logam mulia seratus gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!" ucap Pakde Joko dengan suara mantap yang bergema lewat mikrofon.

​Tanpa jeda, dengan suara baritonnya yang tegas, lantang, dan penuh penekanan, Kelvin menjawab dalam satu tarikan napas. "Saya terima nikah dan kawinnya Denada binti Hermawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

​"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu ke arah saksi dari kedua belah pihak.

​"SAH!" seru para warga desa dan keluarga yang hadir dengan serempak.

​"Alhamdulillah..." Doa pun dipanjatkan. Di sebelah Kelvin, Nada menundukkan kepala dengan khusyuk, mengaminkan doa-doa kebaikan untuk masa depan mereka. Detik itu juga, status mereka telah berubah menjadi sepasang suami istri di mata hukum dan agama.

​Setelah doa selesai, penghulu mempersilakan kedua mempelai untuk saling berinteraksi sebagai suami istri. Kelvin yang masih merasa kaku dan canggung hanya diam mematung di kursinya, tidak tahu harus memulai dari mana karena hatinya masih diselimuti ego.

​Melihat kegugupan sang suami, Nada tersenyum maklum. Dengan inisiatifnya sendiri, ia menggeser posisi duduknya menghadap Kelvin. Nada mengulurkan tangan kanannya yang halus ke hadapan Kelvin, bergerak dengan keanggunan yang begitu alami.

​Kelvin sempat tertegun menatap telapak tangan itu sebelum akhirnya mengulurkan tangannya. Begitu dua tangan mereka bertautan, ada kehangatan yang menjalar. Nada mendekatkan wajahnya, lalu dengan lembut dan takzim mencium punggung tangan kanan Kelvin—sebuah simbol kepatuhan dan penghormatan pertamanya sebagai seorang istri. Aroma harum melati dari rambut Nada seketika menyeruak, menenangkan saraf-saraf Kelvin yang sempat tegang.

​"Mohon bimbingannya, Mas Kelvin," bisik Nada lirih saat menegakkan kembali tubuhnya, menatap Kelvin dengan mata indahnya yang teduh. Kelvin hanya berdeham pendek, berusaha menyembunyikan getaran aneh di hatinya.

​Sesi berikutnya adalah dokumentasi. Namun, karena Kelvin sejak awal sangat ketat soal privasi dan enggan wajahnya terekam, fotografer desa yang sudah diberi instruksi oleh Raka hanya mengambil gambar-gambar tertentu. Bahkan, ada momen unik di mana hanya Nada yang berfoto sendirian di pelaminan sederhana itu atas permintaan keluarga kota.

​Nada berdiri anggun memegang buku nikah mereka, tersenyum sangat manis ke arah kamera. Meskipun berfoto tanpa didampingi suami di sisinya, aura kecantikan dan ketegaran Nada justru terpancar begitu luar biasa, membuat setiap jepretan foto itu tampak seperti mahakarya.

1
Nasya
hadeh kelvin masi aja ingat mantan
Nasya
masa lalu yang tragis
falea sezi
klo abis ne lu jutek 😒 gue timpuk lu empin
Nasya
Wkwkwk kelvin sampai pangling lihat nada, selamat buat pengantin baru
falea sezi
nah loo😕 denada celaka demi lu kevin😒
falea sezi
lanjut klo kevin g bucin q tendang ya🤣🤣 lanjut banyak thor tak kirim kembang sekebon🤣
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi🤣
falea sezi
klo uda anu2 tp lu masih berat ma katalina siap2 di buang sama nada lu kevin🤭
falea sezi
wah apakah unboxing😒
falea sezi
😒 di kasih berlian kyak nada milih jalang kayak catalina🤣 siap siap gigit jari lu klo nada uda bales dendam dan pergi jauh🤣
falea sezi
q ksih hadiah lagi seruu liat kisah bales dendam. gini asal gk kemakan permainan sendiri aja🤣
falea sezi
lanjut banyakk q kasih hadiah banyakk ya🤣🤣
falea sezi
bner jalang Catalina dan kevin lu emank goblok🤣
falea sezi
fashion thor bukan feshen🤭
zra
balas dendam jdi cinta?atau nanti ada yang lebih baik dari kelvin
zra
pasti nanti catalina menyesal wkwk,thor jangan buat kevin kembali dengan cathalina
zra
bagus
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor✍️👈☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!