NovelToon NovelToon
Hati Yang Terluka.

Hati Yang Terluka.

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Contest / Patahhati / Chicklit / Tamat
Popularitas:231.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zulfatur Rohmah

Zahira Al Mahyra seorang gadis berparas Ayu yang berprofesi sebagai guru, seorang penulis, punya toko kue dan restoran, bahkan memiliki kantor sendiri, bahkan dirinya adalah direktur utama di sebuah perusahaan di negara Malaysia.
tapi siapa sangka sikapnya yang datar, dingin, enggan berkenalan dengan pria, bahkan menyembunyikan identitasnya sebagai penulis novel dan hanya mencantumkan nama belakangnya Al Mahyra.
sosok yang selalu di elu-elukan oleh muridnya, bahkan semua orang. namun Zahira sendiri masa lalu yang kelam, Zahira yang awalnya hendak menikah dengan pria bernama Andri namun di batalkan karena menganggap Zahira tak layak untuk nya, bahkan mengatakan Zahira tidak pantas di nikahi ataupun di cintai, membuat semua keluarga nya menyalahkannya dan mengusirnya dari rumahnya.
namun Zahira punya dua orang sahabat yang selalu ada untuk nya, dan merahasiakan identitasnya sebagai penulis.
Fachrul Razi el Kaady, seorang pria pengagum berat Al Mahyra, di pertemukan di tempat Zahira mengajar, seringkali Razi menganggap Zahira adalah Al Mahyra, namun selalu ia tepis.
ketika akhirnya Razi memutuskan untuk taaruf dan menikah dengan Zahira, bagaimanakah reaksinya saat Tahu istrinya adalah sosok yang di kaguminya, sosok Al Mahyra yang selalu ia kagumi.???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zulfatur Rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

part 5

"Eummm... Baiklah bulan ini gaji mu dan Radit aku naikkan. " ucapnya mantap.

Nadia yang mendengarnya langsung kegirangan, dan ia segera mengirim pesan pada Radit untuk memberitahu dirinya.

Zahira hanya tersenyum kecil melihat Nadia yang tampak sangat bahagia.

"Bahagia itu sederhana, entah dengan bersyukur karena memiliki hal sederhana atau justru membuat orang lain bahagia. "

Zahira Al Mahyra.

                            ***

 

  Sekali lagi Zahira mendesah. ia merutuki Nadia yang pergi dengan menggunakan sepeda motor nya, sehingga ia harus mengajar dengan menggunakan mobil, padahal ia begitu malas karena harus memarkirkan mobilnya.

"Huuuft.... "

Zahira bernafas lega ketika mobilnya akhirnya terparkir manis di depan gedung sekolah SMA Wachid Hasyim. Ia memperbaiki kacamatanya yang hampir jatuh lalu memakainya kembali. Zahira menyampirkan tas ke punggungnya lalu berjalan menuju sekolah sebelahnya.

"Pagi Bu.. " sapa nya beberapa murid terhadapnya yang di balas dengan senyum datar olehnya.

Sudah hal yang lumrah bila Zahira membalas nya dengan senyum datar, lebih parah bila tatapan nya dingin.

Zahira membuka pintu ruang kerjanya yang letaknya di dalam, tidak seperti Radit yang berada di ruang BK. Zahira duduk dan mengeluarkan laptop dari tasnya, ia memicingkan matanya melihat pria di sebelahnya.

"Selamat pagi" sapa pria itu dengan senyum yang merekah.

Sedangkan yang di sapa hanya memutar bola mata nya dengan malas. Terlihat Radit berjalan ke arahnya membawa beberapa map.

"Hay Razi!" katanya lalu duduk di depan meja Zahira menyerahkan map di tangan nya, Razi tersenyum menatap Zahira dan Radit.

"Ini laporan yang semalem kamu minta, tapi lebih detailnya biar kita nggak ribet untuk pengelolaan keuangan bulan ini, kamu tunggu email pak ferdi" Radit mencoba menjelaskan isi map yang di serahkan nya.

"Dan yang di luar kota laporan nya? " Tanya Zahira pada Radit tanpa mengalihkan pandangan nya dari map di tangan nya.

"Bukan nya kamu udah nyerahin semuanya pada manager restoran, kamu tinggal terima dan cek rekening mu Ra, masak iya aku harus pergi ke luar kota untuk semua itu?"

Radit menghela nafas pelan sedangkan Zahira menyimpan map yang di berikan Radit di tasnya.

"Baiklah, sabtu dan minggu ini tolong kamu ke rumahku sekalian ambil gaji mu"

Radit memicingkan alisnya karena gajinya sudah ia minta untuk kredit motor.

"Bukan nya aku sudah minta untuk kredit motor? "

Zahira menatap dingin ke arah Radit yang membuat Radit dan Razi merinding.

"Motormu mau kamu ambil atau tidak Radit Supriyadi?" Zahira menekan kata-kata nya karena kesal.

"Ehh.. Iya, kalo begitu aku masuk ke ruangan ku dulu ya" kata Radit bergegas pergi mencari aman.

Zahira lalu pergi meninggalkan Razi yang masih tertegun melihat Zahira begitu dingin.

"Sepertinya gadis ini begitu sulit di taklukkan, tatapan nya saja membuat bulu kudukku merinding " gumamnya dalam hati.

Sekitar jam setengah empat Zahira sedang berkutat di dapurnya membuat kue, tidak seperti biasanya ia di dapur di jam segini, terlihat keningnya terkena tepung, namun justru ia terlihat manis ketika membuat kue.

"Fiuuhh... Akhirnya selesai juga"

Zahira menyelesaikan adonan terakhir dan memanggangnya ke dalam oven.

Tok tok tok tok

Zahira berlari ke arah pintu setelah mendengar ada yang mengetuk pintu.

mata Zahira melotot melihat Nadia, Radit Dan Razi.

"Kenapa bertiga? Silahkan masuk"

Mereka masuk dan duduk di ruang tamu.

"Memangnya kenapa? Nggak boleh aku ngajak Razi kesini? " tanya Radit menatap Zahira yang wajahnya belepotan oleh tepung.

"Ya nggak apa-apa" jawabnya pendek lalu berjalan ke arah dapur untuk membuatkan mereka minuman.

Beberapa saat Zahira muncul membawa jus lemon dengan kue dan roti yang baru saja ia buat.

"Pantas saja di wajahmu penuh tepung, ternyata kamu sedang membuat kue dan roti" kata Nadia segera mencuci tangan nya ke wastafel di ikuti Radit, karena tak sabar ingin mencicipi kue dan roti buatan Zahira. terakhir kali ia memakan kue buatan Zahira lima bulan lalu.

Zahira memandang ke arah Razi.

"Kamu tidak ingin cuci tangan?" Tanyanya ke arah Razi lalu berjalan ke arah kamarnya. Razi mengangguk lalu ikut mencuci tangan.

"Huh... Ini enak banget" Nadia memekik senang saat memakan roti buatan Zahira.

Zahira muncul dengan wajah yang sudah bersih, wajahnya terlihat putih sekali, ia duduk di dekat Nadia.

"Masih ada nggak kue dan rotinya Ra? " tanya Radit yang sedang mengunyah kue.

"Ada tuh di dapur, bentar aku matiin oven dulu" Zahira berlari kecil menuju dapur ia mengambil roti dari dalam oven-nya lalu mematikan nya.

Radit, Nadia dan Razi sibuk makan kue dan roti, Nadia melihat ke arah Zahira yang sedang sibuk memasak makan malam lalu menghampiri nya untuk ikut membantu.

"Omong omong tumben masak kue sama roti, biasanya kan kamu sibuk kerja? " tanya Nadia membantu Zahira memotong wortel.

"Lagi pusing aja kalo kerja mulu, lagian ada kamu sama Radit untuk bantuin aku ngurus semua itu. jadi karena sudah punya asisten dan sekretaris yah nggak apa-apa dong aku sibuk dirumah"

Zahira meledek Nadia.

"Iya deh bu bos, ibu bos mah bebas tinggal bilang ke karyawan." Cibirnya pada Zahira.

Razi dan Radit tengah berbincang-bincang sesekali Razi melihat ke arah Zahira yang tampak begitu piawai dalam memasak.

"Kalian udah lama kenal? "

"Aku, Nadia sama Zahira maksud kamu? "

Razi menganggukkan kepala.

"Aku sebenarnya kenal sama Zahira saat seminar di Surabaya, kebetulan dia jadi juru bicaranya, eh tahu-tahu dia akhirnya mengajar di tempat yang sama sama aku"

Radit menceritakan panjang lebar perkenalannya dengan Zahira dan Nadia.

"Di balik sikapnya yang jutek, cuek, dingin, dan tidak bersahabat, dia itu baik banget Raz, udah dua tahun aku kerja bareng dia dan dia selalu bantuin aku kalo aku punya masalah"

"Kamu kerja sama dia? "

Radit menganggukkan kepalanya.

"Dia punya beberapa restoran dan toko kue sama roti, punya beberapa cabang di luar kota, jadi aku sama Nadia yang ngebantu dia untuk mengelola keuangan nya, dan dia juga juga punya kantor sendiri, aku ini sekretaris sekaligus tangan kanannya, kalo Nadia itu asistennya yang akan menghandle setiap pekerjaan nya" jelasnya panjang lebar.

"Bukan nya Nadia itu asistennya Al Mahyra ya? "

Radit terlihat gelagapan.

"Itu benar, tapi hanya mengatur pertemuan, selain dari itu Nadia kerja bareng aku, kerja sama Zahira" ucapnya begitu hati-hati tak ingin Razi curiga.

"Kamu ini begitu hafal sama penulis yang lagi hits itu" Radit mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Aku begitu suka sama karyanya, aku pengen banget tahu orang nya seperti apa, tapi sayang banget Al Mahyra ini enggan menunjukkan dirinya ke publik. beberapa kali aku melihat penayangan film yang di angkat dari novelnya tapi hasilnya nihil, dan di instagram nya pun fotonya tidak jelas, aku hanya melihat Nadia yang selalu mewakilinya setiap media meminta pertemuan atau launching buku" keluhnya.

Radit menatap dengan heran sahabatnya itu.

"Kamu ini segitunya mengidolakan nya, kalo kamu bertemu dengan nya memangnya apa yang mau kamu lakukan? "

"Anggap saja aku ini pengagum beratnya, syukur-syukur bisa ku nikahi"

Radit tertawa terbahak-bahak setelah mendengar kata-kata Razi.

"Aku kemaren melihat Zahira di taman, entah dia sedang melakukan apa"

Radit berhenti tertawa.

"Zahira memang sering ke sana bila sedang libur Raz, dia sangat suka melihat senja di sore hari, barangkali ketemu jodohnya ya?"

"masih sendiri? "

"Ya begitu, masih terluka"

Radit ingat betul kejadian dua tahun lalu yang membuat Zahira berubah dingin.

"Sudahlah, ayo ke rumah mu, aku numpang mandi di rumah mu"

Razi mengiyakan ajakan Radit padahal ia masih ingin bertanya soal Zahira yang kata Radit masih terluka.

"Ra, aku ke rumah Razi dulu"

Radit dan Razi hendak berjalan keluar, namun Zahira memanggilnya. Zahira berjalan ke arah mereka membawa paper bag.

"Ini untukmu kue dan roti"

Zahira menyodorkan paper bag di tangannya kepada Razi, Razi tersenyum simpul lalu mengambil nya.

"Terimakasih" ucapnya lalu di balas dengan anggukan oleh Zahira.

Radit dan Razi lalu melangkah pergi menuju rumah Razi yang berada di ujung jalan.

..."Bagi orang-orang yang memiliki luka di hatinya, mereka selalu mencari-cari pekerjaan, dan kesibukan demi melupakan luka yang di rasakan nya atau justru untuk mengalihkan pemikiran nya."...

...Radit Supriadi....

1
Rini Haryati
bagus
sukses
semangat
mksh
Nurafni Zalfaalituhayu
alur dan ceritanya bagus sih cuman terlalu kaku untuk tokoh2nya terutama zahira .....dan alurnya terlalu njlimet bener2 gak ada lompatan cerita bisa di kata terlalu detail bngt jadi bikin cepet bosen bacanya hari2 yg di jalani tokohnya pun terlalu lempeng ...sory jgn marahh ya kak
Nurafni Zalfaalituhayu
ego mu terlalu gede zahira
Nurafni Zalfaalituhayu
👍👍👍👍👍
Nurafni Zalfaalituhayu
dah razi ungkapin aja klo dah jodoh gak bakalan kemana
Nurafni Zalfaalituhayu
sosok zahira yang penuh misteri.......dengan kehidupanya
Dwi Agustin N Muftie
nulis kata mau itu "mau" ya Thor jangan "mauk". gak enak baca n dengernya..
Isabell Serinah
sambung lagi plseeee 😭😭😭😭
axxxxs.......
mau Thor,BKN mauk
Tarilia Saputra Wibowo
lanjut
Hayati Sumarna
novel mba bgs bgt beda dgn yg lain, kata2nya bermakna,dn sopan, dn di setiap akhir part selalu ada kata2 mutiara yg bermakna. 👍
Ros
lanjut
Ros
lanjut saya suka
Tarilia Saputra Wibowo
lanjut
Ms Zarf
Begitulah nasib perempuan.Tetap lembut dan mengalah dan malah dipijak2 ..... Sepatutnya kena beri sedikit pengajaran pd lelaki yg mudah menganggap perempuan ni tiada perasaan.Hurmmmm
Ros
lanjut saya suka lanjut
Ros
lanjut saya suka
Tarilia Saputra Wibowo
lanjut
Ros
lanjut saya suka
Ros
lànju
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!