NovelToon NovelToon
Obsesi Tuan Perdana Menteri

Obsesi Tuan Perdana Menteri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Amila FM

“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”

Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.

Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Private Auction

Udara di dalam The Gilded Cage terasa berat, jenuh dengan aroma dupa mahal, keringat dingin, dan gairah yang terpendam. Dinding-dindingnya dilapisi beludru hitam dengan ukiran emas yang meliuk-liuk seperti ular, memantulkan cahaya lilin yang berkedip-kedip gelisah. Di sini, semua tamu mengenakan topeng porselen putih, sebuah simbol bahwa di bawah kegelapan ini, mereka semua adalah anonim yang setara dalam nafsu mereka.

Kael Arden berdiri di balkon lantai dua, tersembunyi dalam bayang-bayang. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak mengenakan lencana kenegaraannya. Tidak ada dasi sutra yang mencekik lehernya. Ia mengenakan setelan jas hitam pekat dengan kemeja hitam yang dibiarkan terbuka dua kancing teratasnya. Rambutnya yang biasanya klimis sempurna kini sedikit lebih berantakan, memberikan kesan predator yang baru saja keluar dari kandang birokrasi.

Matanya, setajam elang yang mengintai mangsa, terpaku pada panggung di bawah.

"Hadirin sekalian," suara sang juru lelang yang parau menggema. "Malam ini kita tidak melelang barang antik atau permata. Malam ini, kita melelang... akses."

Lampu sorot tunggal tiba-tiba menyala, menghujam bagian tengah panggung. Di sana, duduk di atas sebuah kursi tinggi yang menyerupai takhta kuno, adalah Aurelia Vane.

Napas Kael tercekat. Sensasi itu seperti dipukul tepat di ulu hati.

Aurelia mengenakan gaun corset berbahan kulit hitam yang sangat ketat, memaksakan lekuk tubuhnya terlihat begitu dramatis. Bagian bawahnya adalah rok sutra transparan yang memperlihatkan siluet kakinya yang jenjang di bawah cahaya lampu. Sebuah topeng emas berbentuk wajah singa menutupi sebagian wajahnya, namun bibir merah darahnya tetap terekspos, menyunggingkan senyum yang sanggup menghancurkan kerajaan.

Di lehernya, melingkar sebuah kalung rantai emas tipis yang ujungnya dipegang oleh seorang pria bertopeng di belakangnya.

Rahang Kael mengeras hingga giginya bergemeretak. Otak jeniusnya mulai menghitung probabilitas ledakan emosinya sendiri.

"Item ke-12," seru juru lelang. "Sebuah kunci enkripsi fisik untuk server pribadi Vane Group. Pemenang lelang ini tidak hanya mendapatkan data rahasia ekonomi dunia, tapi juga hak istimewa untuk menghabiskan satu malam penuh di penthouse Miss Vane untuk mendiskusikan... syarat-syarat penggunaannya."

Ruangan itu mendidih. Para pria di bawah sana, miliarder, pangeran dari tanah seberang, hingga bos kartel, mulai menaikkan papan tawaran mereka dengan beringas.

"50 juta dolar!" teriak seorang pria gemuk di barisan depan.

"70 juta!" sambung yang lain.

Kael merasa darahnya mendidih. Ia melihat bagaimana mata para pria itu melucuti Aurelia di atas panggung. Ia melihat bagaimana Dante Moretti, yang duduk di barisan VIP, menatap paha Aurelia dengan tatapan lapar yang tidak disembunyikan.

"100 juta dolar," suara Dante terdengar santai namun sombong. Ia menoleh ke arah balkon tempat Kael bersembunyi, seolah tahu musuhnya sedang mengintai di sana. "Dan aku akan memastikan kunci itu tidak pernah keluar dari kamarmu, Aurelia."

Aurelia tertawa, suara rendahnya merambat melalui pengeras suara, menciptakan getaran yang membuat bulu kuduk Kael meremang. Ia menyilangkan kakinya, membuat belahan gaunnya terbuka lebih lebar, menantang setiap pria di sana untuk kehilangan akal sehat.

"Hanya 100 juta, Dante?" ejek Aurelia. "Aku pikir harga dirimu lebih tinggi dari itu."

Kael tidak bisa menahannya lagi. Ia melangkah keluar dari bayang-bayang, mendekati pagar balkon. Kehadirannya, meski tanpa topeng, memancarkan aura otoritas yang begitu pekat hingga beberapa orang di bawah menengadah dengan rasa takut yang instingtif.

"Satu miliar dolar," suara Kael memotong keriuhan itu seperti pedang dingin.

Seluruh ruangan mendadak sunyi. Bahkan juru lelang menjatuhkan palunya.

Kael menatap Aurelia. Hanya Aurelia. "Satu miliar dolar. Dan aku tidak butuh kuncinya. Aku hanya ingin setiap pria di ruangan ini keluar sekarang juga."

Aurelia mendongak. Di balik topeng emasnya, matanya berkilat penuh kemenangan. Ia melihat Kael, pria yang selalu memuja ketertiban kini sedang menghancurkan segala tatanan demi dirinya.

"Tuan Perdana Menteri..." gumam Dante dengan nada mengejek, namun ada ketakutan di matanya. "Anda tidak punya wewenang di sini. Ini adalah wilayah swasta."

Kael melompat dari balkon lantai dua, mendarat dengan ringannya di atas lantai marmer, hanya beberapa meter dari panggung. Gerakannya begitu efisien, begitu mematikan. Ia berjalan melewati kerumunan yang membelah seperti Laut Merah. Setiap langkah sepatunya adalah dentuman genderang perang.

"Aku tidak bicara sebagai Perdana Menteri," kata Kael, berhenti tepat di depan panggung, mendongak menatap Aurelia. Matanya yang biasanya sedingin es kini menyala dengan api kegilaan. "Aku bicara sebagai pria yang akan membakar tempat ini jika kau tidak segera turun dari sana."

Aurelia berdiri dari takhtanya. Ia melangkah menuju tepi panggung, berlutut sehingga wajahnya sejajar dengan Kael. Aroma black rose dan kulit yang panas menguar dari tubuhnya, memenuhi indra penciuman Kael hingga ia merasa sesak.

"Satu miliar dolar hanya untuk mengusir mereka, Kael?" bisik Aurelia, suaranya hanya untuk pria itu. Ia mengulurkan tangan, ujung jemarinya yang mengenakan sarung tangan renda hitam menyentuh rahang Kael yang kaku. "Kau sangat boros malam ini. Apa yang akan kau lakukan jika aku bilang... aku suka diperhatikan oleh mereka?"

Kael mencengkeram pergelangan tangan Aurelia, menariknya sedikit lebih dekat hingga napas mereka berkecamuk. "Aku akan mencungkil mata setiap orang yang berani menatapmu lebih dari satu detik, Aurelia. Jangan mengujiku."

"Keluar," perintah Kael, suaranya menggelegar ke seluruh aula. "Semua orang. SEKARANG."

Kehadiran Kael begitu mengintimidasi hingga para pengawal The Gilded Cage pun ragu untuk bergerak. Satu per satu, para elite itu mulai meninggalkan ruangan, menyadari bahwa sang singa negara sedang dalam mode berburu yang paling berbahaya. Dante Moretti memberikan tatapan kebencian terakhir sebelum akhirnya dipaksa keluar oleh Lucian Volkov yang muncul dari kegelapan.

Kini, aula besar itu kosong. Hanya tersisa Kael dan Aurelia di bawah satu lampu sorot yang remang-remang.

Kael melompat naik ke atas panggung dengan gerakan predator yang tak tertahan. Matanya gelap, dipenuhi kabut obsesi yang telah mencapai titik jenuh. Tanpa sepatah kata pun, ia mencengkeram bahu Aurelia.

Sret!

Suara kain yang robek bergema di aula yang sunyi itu. Kael merobek gaun sutra transparan dan korset mahal milik Aurelia dengan kekuatan yang didorong oleh kemarahan dan pemujaan yang bertabrakan. Dalam hitungan detik, kain tak berbentuk itu sudah tergeletak di lantai marmer, mengekspos tubuh putih pucat pemiliknya yang tampak begitu kontras di bawah cahaya lampu.

Aurelia tidak menolak. Ia justru berdiri tegak, membiarkan dirinya terpapar, semakin menantang Kael dengan rantai emas yang masih melilit lehernya. Pemandangan itu memicu adrenalin dan insting penguasa Kael atas kepemilikan mutlak tubuh tersebut.

Kael menyentak rantai emas itu hingga tubuh mereka bersentuhan kasar. Ia menarik tengkuk Aurelia, meraup rambut hitamnya, dan kembali melumat bibir merah darah wanita itu dengan ciuman yang merupakan sebuah klaim kepemilikan. Kali ini, tangannya tidak lagi diam, jemarinya bergerak bergerilya, menjelajahi setiap inci kulit Aurelia, menuju bagian-bagian paling sensitif yang kini hanya tertutupi seutas tali sutra hitam tipis.

Aurelia membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, tangannya mencakar punggung Kael melalui kemeja hitamnya. Ia tampak menikmati setiap sentuhan kasar Kael, namun bibirnya tetap terkunci rapat, tidak ada desahan yang keluar dari tenggorokannya. Ia seolah sedang mengejek permainan jari Kael, menantang pria itu untuk membuktikan bahwa ia bisa meruntuhkan benteng pertahanannya.

Kael yang tidak terima dengan kebungkaman itu merasa harga dirinya dipertaruhkan. Dengan erangan rendah, ia membaringkan Aurelia di atas lantai marmer yang dingin dengan kasar. Ia menarik sisa kain pertahanan terakhir di tubuh Aurelia, melucuti wanita itu sepenuhnya.

Tanpa ampun, Kael menghujamkan miliknya, menyatukan tubuh mereka dalam ritme yang cepat dan penuh tuntutan.

"Keluarkan saja suaramu itu, Aurelia," ujar Kael terengah-engah, suaranya parau oleh gairah yang menyiksa. Ia tidak memberikan ampun, terus memacu setiap gerakannya untuk mencari titik lemah wanita di bawahnya.

Aurelia menyunggingkan senyum sinis yang provokatif, meski matanya berkabut. "Tidak... semudah itu... Ka..el," bisiknya di sela napas yang pendek. Ia justru tertawa kecil, tawa sinis yang justru semakin membangkitkan amarah dan kegilaan Kael.

Kael menggeram, ia mengangkat satu kaki wanita itu ke bahunya, memberikan penetrasi yang lebih dalam dan terus memacu pinggulnya maju mundur dengan tempo yang semakin liar. Ia ingin menghancurkan ketenangan wanita itu. Ia ingin mendengar Aurelia menyerah.

Tiba-tiba, sebuah erangan tertahan akhirnya lolos dari bibir Aurelia saat Kael menyentuh titik paling krusial dalam dirinya. Kael menyeringai penuh kemenangan di kegelapan aula itu. Di tengah aula yang kosong, di antara bayang-bayang emas dan hitam, mereka berdua menyadari bahwa mereka bukan lagi sekadar musuh. Mereka adalah dua predator yang telah terjebak dalam jaring yang mereka buat sendiri.

"Besok seluruh dunia akan tahu bahwa Perdana Menteri mereka adalah seorang gila yang menghabiskan satu miliar dolar dalam pelelangan gelap," bisik Aurelia saat Kael mencapai puncaknya di atas tubuhnya.

"Biarkan saja," jawab Kael, suaranya rendah dan berbahaya, sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aurelia. "Aku akan membakar seluruh dunia jika itu berarti tidak ada lagi pria yang bisa melihatmu seperti ini."

Malam itu, di bawah atap The Gilded Cage, sang Perdana Menteri akhirnya melepaskan mahkotanya untuk menjadi seorang budak bagi obsesinya sendiri. Namun, di balik kemenangan Aurelia, sebuah bayangan baru mulai muncul.

Permainan yang sesungguhnya, pengkhianatan yang akan menghancurkan mereka berdua, baru saja dimulai di balik pintu yang tertutup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!