NovelToon NovelToon
Savage Royalty

Savage Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Diam-Diam Cinta
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: SeraphinSky

SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.

​Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
​Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: AIR MATA DIVA DAN BOM MOLOTOV PALSU

Senin Malam, Pukul 20.00 WIB

Markas Besar Vanguards (Bengkel Belakang Sekolah)

​Hujan deras mengguyur atap seng bengkel, menciptakan suara gaduh yang seirama dengan kekacauan di hati Lia.

​Di lantai bengkel yang dingin dan beroli, Lia masih terduduk lemas. Bahunya berguncang hebat. Wajahnya yang biasanya angkuh dan glowing, kini sembab. Mascara waterproof-nya bertahan, tapi pertahanan mentalnya runtuh.

​Ilham Mahendra berlutut di depannya, tangannya menggantung canggung di udara, bingung mau pegang bahu Lia atau enggak. Dia biasa nonjok orang, bukan ngeredain cewek nangis.

​"Udah dong, Li... jangan nangis..." bujuk Ilham kaku, suaranya melembut (tumben). "Gue... gue nggak tega liat lo begini. Mending lo marah-marah deh, atau siram gue pake Thai Tea lagi. Asal jangan nangis."

​Lia mendongak, matanya basah menatap Ilham. "Temen lo jahat, Ham... Aqeela salah apa sampe dilempar darah ayam... dia trauma berat..."

​"Demi Tuhan, Li. Itu bukan kita," Fattah Maverick duduk di atas ban bekas di dekat mereka, wajahnya frustrasi sambil menjambak rambut cepaknya. "Gue emang benci Roseanna. Gue emang bangsat. Tapi gue punya prinsip. Gue nggak main fisik sama cewek, apalagi neror pake bangkai."

​"TAPI ADA TULISAN VANGUARDS DI TEMBOK!" jerit Lia histeris.

​"Itu fitnah, Neng!" sahut Harry dari pojokan, sambil ngemil kacang (untuk nenangin diri). "Tulisan tembok bisa dibuat siapa aja. Yang punya pilox bukan cuma kita. Tukang pilox motor juga punya."

​"Diem lo!" sentak Lia. Dia menatap Ilham lagi. "Gue liat jaketnya... jaket kalian..."

​"Jaket bisa dipalsuin, Li," kata Ilham pelan, menatap mata Lia dalam-dalam. "Lo liat gue. Liat mata gue. Apa gue kelihatan kayak pengecut yang berani neror cewek di tengah ujan?"

​Lia terdiam. Dia menatap mata Ilham. Di balik sifat emosian dan kepala botaknya yang licin, ada kejujuran yang aneh di sana.

​"Gue..." Lia mulai ragu.

​Tiba-tiba...

​BRAKK!!

​Kaca jendela nako di bagian depan bengkel pecah berantakan.

​Sesuatu menggelinding masuk. Sebuah botol kaca berisi cairan kekuningan dengan sumbu api yang menyala di ujungnya.

​Bom Molotov.

​Waktu seakan berhenti sedetik. Mata Fattah membelalak. Mata Ilham membelalak.

​"AWAS!!" teriak Fattah.

​PYARRRR!!

​Botol itu pecah menghantam lantai, tepat dua meter dari tempat Lia dan Ilham duduk. Api langsung menyambar tumpukan kain lap berminyak yang berserakan.

​WUSH!

​Api berkobar besar dalam sekejap, memisahkan Lia dan pintu keluar.

​"AAAAAA!!" Lia menjerit ketakutan, menutup wajahnya.

​Ilham tidak berpikir panjang. Naluri pelindungnya mengambil alih. Dia melompat, memeluk tubuh Lia, dan berguling menjauh dari jilatan api.

​"Harry! Mohan! AMBIL APAR!" teriak Fattah komando.

​Fattah menyambar karung goni basah di dekat wastafel, lalu memukul-mukul api yang mulai menjalar ke meja kerja kayu.

​"Panas! Panas!" teriak Harry panik sambil nyari tabung pemadam. "Dimana APAR-nya?!"

​"Di deket pintu bego!" teriak Oliver.

​Harry menyambar tabung merah itu, menarik pin pengamannya, dan...

​FROOOOSHH!

​Busa putih menyemprot deras, memadamkan api yang sedang melahap meja kerja Fattah. Asap putih tebal langsung memenuhi ruangan, bikin sesak napas.

​"Uhuk! Uhuk!"

​Di pojokan, Ilham masih memeluk Lia erat-erat, melindunginya dari percikan api dan asap. Punggung Ilham terasa panas, tapi dia tidak peduli.

​"Lo gapapa?" tanya Ilham, menatap wajah Lia yang ada di dadanya.

​Lia membuka matanya perlahan. Dia melihat wajah Ilham yang cemong kena asap, tapi matanya khawatir banget. Jantung Lia berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi karena... safe.

​"Gue... gue gapapa," bisik Lia.

​Ilham menghela napas lega, lalu melepaskan pelukannya (sedikit nggak rela). Dia membantu Lia berdiri.

​Api sudah padam. Menyisakan bau bensin dan hangus yang menyengat.

​"Siapa yang lempar?!" geram Fattah, wajahnya hitam kena asap.

​Oliver lari ke depan, melihat keluar jendela yang pecah.

​"Nggak ada orang, Bos. Sepi. Ujan deres banget," lapor Oliver.

​Tapi di lantai, di dekat pecahan botol molotov tadi, ada sebuah benda lain yang ikut terlempar masuk. Sebuah batu besar yang dibungkus kertas.

​Fattah memungut batu itu dengan tangan gemetar karena marah. Dia membuka kertasnya yang basah tapi masih bisa dibaca.

​Tulisannya dicetak pake huruf kapital merah (spidol):

​"INI BALASAN DARI KAMI. JANGAN MACEM-MACEM SAMA PERTIWI. RASAIN API NERAKA. - THE ROYALS"

​Fattah membaca tulisan itu dengan suara keras.

​"The Royals..." desis Fattah. Dia menatap Lia tajam. "Liat, Li? Temen-temen lo yang nyerang kita. Mereka mau bakar kita hidup-hidup!"

​Lia merebut kertas itu dari tangan Fattah. Dia membacanya.

​"Ini..." Lia mengerutkan kening.

​"Apa? Mau nyangkal lagi?" tantang Ilham. "Jelas-jelas itu tulisan 'The Royals'!"

​"Bukan," kata Lia tegas. Matanya menyipit, otaknya yang cerdas mulai bekerja.

​"Maksud lo?" tanya Fattah.

​"Pikir pake logika, Botak!" Lia menunjuk kertas itu. "Pertama, Roseanna tau gue ada di sini. Gue tadi pamit sama dia mau ngelabrak kalian. Lo pikir Roseanna bakal ngelempar bom api ke tempat di mana sahabatnya sendiri lagi berada di dalem?!"

​Hening.

​Fattah, Ilham, Harry, Mohan, dan Oliver saling pandang.

​Benar juga. Roseanna mungkin kejam, tapi dia sangat protektif sama gengnya. Nggak mungkin dia ngebakar Lia.

​"Kedua," lanjut Lia, menunjuk kertas itu lagi. "Ini kertas HVS murah 70 gram. Roseanna kalau nulis surat ancaman, minimal pake kertas linen wangi Chanel atau kertas daur ulang estetik. Dia nggak bakal nyentuh kertas murahan kayak gini."

​"Anjir, bener juga," gumam Harry. "Wangi kertasnya bau terasi, bukan bau duit."

​"Dan ketiga," Lia menunjuk tulisan spidol merah itu. "Tulisannya jelek banget. Tulisan Roseanna itu tegak bersambung, rapi, dan pake pulpen mahal. Ini tulisan cakar ayam."

​Lia meremas kertas itu. Wajahnya menggelap.

​"Ada yang ngadu domba kita," simpul Lia dingin. "Ada yang nyerang Aqeela pake nama Vanguards, terus nyerang kalian pake nama Royals. Biar kita saling bunuh."

​"Siapa?" tanya Ilham.

​"Gue nggak tau. Tapi gue bakal cari tau," Lia merogoh saku dress-nya, mengeluarkan HP-nya yang layarnya retak dikit.

​"Lo mau ngapain?" tanya Fattah waspada.

​"Nelpon Rose," jawab Lia. "Gue harus pastiin dia nggak ngelakuin hal bodoh karena mikir gue diculik atau dibunuh kalian."

​Lia menekan speed dial nomor 1.

​Tuuuut... Tuuuut...

​Di seberang sana, telepon diangkat pada dering kedua.

​"LIA?! YA TUHAN! LO DIMANA?!" suara Roseanna terdengar panik dan histeris dari loudspeaker. "Gue telpon dari tadi nggak diangkat! Gue udah mau bawa polisi ke sana!"

​"Gue aman, Rose," kata Lia cepat, berusaha tenang meski tangannya gemetar. "Gue masih di bengkel Rajawali."

​"APA?! MEREKA NYAKITIN LO?! GUE KE SANA SEKARANG! GUE BAWA PENGACARA SAMA POLISI!"

​"JANGAN!" teriak Lia. "Dengerin gue dulu, Rose! Jangan bawa polisi! Jangan ke sini!"

​"Kenapa?! Lo disandera?!"

​"Enggak! Dengerin gue," Lia menarik napas panjang. Dia menatap Fattah dan Ilham. "Barusan ada yang ngelempar bom molotov ke sini. Hampir kena gue."

​"HAH?! SIAPA?! ANAK RAJAWALI?!"

​"Bukan. Orang luar," kata Lia tegas. "Ada surat ancaman yang ngaku-ngaku dari 'The Royals'. Mereka mau kita mikir kalau lo yang nyerang."

​Hening di ujung telepon. Roseanna sedang memproses informasi itu.

​"Gue... gue nggak pernah nyuruh orang lempar bom, Li. Gue emang marah, tapi gue nggak segila itu," suara Roseanna bergetar.

​"Gue tau," kata Lia lembut. "Gue tau lo nggak bakal nyelakain gue. Makanya, Rose... kita lagi diadu domba. Aqeela diserang pake nama Vanguards, Vanguards diserang pake nama Royals."

​"Siapa..." desis Roseanna.

​"Gue curiga sama satu nama," kata Fattah tiba-tiba, mendekat ke HP Lia. "Kalingga."

​"Siapa itu?!" tanya Roseanna kaget denger suara cowok.

​"Gue Fattah," kata Fattah. "Rose, denger. Musuh kita bukan satu sama lain malem ini. Ada uler yang main di air keruh. Kalau lo bawa polisi sekarang, kita semua masuk penjara, dan pelaku aslinya ketawa bebas."

​Roseanna terdiam lama.

​"Oke," akhirnya Roseanna bicara, suaranya kembali dingin dan bossy. "Gue tahan polisi. Tapi Lia harus pulang sekarang. Detik ini juga."

​"Gue anterin dia," kata Ilham spontan.

​Lia menoleh ke Ilham. Ilham tampak serius.

​"Siapa itu? Si Botak?" tanya Roseanna curiga.

​"Iya, Rose. Ilham yang anter gue," jawab Lia. "Dia... dia nyelamatin gue tadi dari api."

​Hening lagi.

​"Oke. Anterin dia sampe depan gerbang rumah gue. Kalau ada lecet dikit aja, gue botakin alis lo, Ilham," ancam Roseanna, lalu menutup telepon.

​Lia menurunkan HP-nya. Dia menatap Ilham, lalu menatap Fattah dan yang lain.

​"Gencatan senjata," kata Lia. "Sampe kita nemu siapa yang mainin kita."

​Fattah mengangguk tegas. "Sepakat. Gencatan senjata."

​Lia berjalan keluar dari bengkel yang masih berasap. Hujan sudah mulai reda, menyisakan gerimis.

​Ilham mengambil jaket denimnya (yang agak bau apek tapi hangat), lalu menyampirkannya ke bahu Lia yang terekspos.

​"Pake," kata Ilham kaku. "Di luar dingin. Baju lo tipis."

​Lia menatap jaket itu. Biasanya dia bakal nolak barang "murah" dan bau. Tapi malam ini... baunya terasa menenangkan.

​"Makasih," gumam Lia pelan. Dia merapatkan jaket itu ke tubuhnya. "Ayo anterin gue. Supir gue pasti udah tidur."

​Ilham menyalakan motor RX King-nya. Lia naik ke jok belakang dengan ragu (takut roknya kotor, tapi ya sudahlah).

​"Pegangan," kata Ilham.

​"Modus," cibir Lia, tapi tangannya memegang ujung jaket Ilham.

​Motor itu melaju menembus malam Jakarta yang basah. Di balik punggung Ilham, Lia berpikir keras.

​Siapa pun yang melakukan ini... mereka membuat kesalahan besar. Mereka baru saja menyatukan Ratu Pertiwi dan Raja Jalanan. Dan kolaborasi itu... akan sangat mematikan.

​Sementara itu, di bengkel, Fattah memungut batu yang tadi dilempar. Dia membolak-balik batu itu.

​"Harry, Oliver," panggil Fattah.

​"Ya Bos?"

​"Cari tau jenis batu ini. Ini batu kali atau batu proyek. Dan cari tau siapa yang jual botol sirup merek ini di sekitar sini," perintah Fattah tajam.

​"Siap Bos. Mode Detektif Conan: On," jawab Oliver.

​Perang terbuka ditunda. Sekarang waktunya Investigasi Gabungan.

1
anggita
ikut ng👍like, iklan☝aja. moga novelnya lancar.
Yel
LANJUT SAMPAI TAMAT KAAAKKK 😍 pengen nabung bab nya karna bab 1 aja sdh rame. semangat thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!