Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.
Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.
"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Kejeniusan yang Menghancurkan Sabotase
Ketegangan di kursi barisan depan Kirana-Latief Group terasa begitu pekat hingga membuat Adrian hampir tidak bisa bernapas. Sisa waktu hitungan mundur di layar proyektor utama aula tinggal tiga puluh detik.
"Nona Chelsea, saya akan meminta interupsi waktu kepada panitia karena kendala teknis!" bisik Adrian panik, jemarinya bergerak liar mencoba menembus enkripsi ransomware yang mengunci laptop mereka.
"Jangan, Adrian," tahan Nadia, suaranya terdengar teramat tenang, kontras dengan badai yang sedang terjadi. "Meminta penundaan di depan komite Singapura sama saja dengan menunjukkan kelemahan sistem siber perusahaan kita sebelum kontrak dimulai. Itu hal yang diinginkan Arthur."
Reynald yang duduk di sebelah Nadia menatap tajam ke arah panggung, lalu menoleh ke arah tunangannya. Rahangnya mengetat. "Aku bisa memerintahkan tim IT pusat Reynald Group untuk melacak peretasnya sekarang, tapi butuh waktu setidaknya lima belas menit."
"Tidak perlu, Reynald," Nadia berdiri dengan keanggunan yang mutlak. Sorot matanya yang bulat kini menatap lurus ke depan, memancarkan kilat kepercayaan diri yang menakutkan. "Aku tidak butuh proyektor untuk menunjukkan apa yang ada di dalam kepalaku."
Nadia melangkah maju. Ketukan sepatu hak tingginya di atas lantai kayu panggung bergaung dengan ritme yang tegas. Di bawah sorotan lampu lampu panggung, ia berdiri di balik podium, menatap barisan juri internasional dan ratusan pasang mata yang menanti.
Di barisan penonton, Arthur Chen menaikkan sebelah alisnya, bersandar dengan senyuman sinis. Kita lihat bagaimana cara seorang gadis manja berpresentasi dengan layar kosong, batin Arthur meremehkan.
"Selamat pagi, para anggota komite yang terhormat," suara Nadia terdengar jernih, bergema melalui pengeras suara tanpa ada getaran gugup sedikit pun. "Hari ini, saya tidak akan membuang waktu Anda dengan grafik digital atau visualisasi animasi yang bisa dibuat oleh agensi pemasaran mana pun. Saya datang untuk membawa inti dari efisiensi itu sendiri."
Nadia memberi isyarat kepada petugas panggung. "Tolong matikan layar proyektor di belakang saya, dan bawakan saya sebuah papan tulis putih besar beserta spidol hitam."
Permintaan yang tidak biasa itu memicu bisik-bisik riuh di seluruh aula. Petugas panggung yang bingung melirik ke arah panitia, yang akhirnya mengangguk setuju. Dalam waktu dua menit, sebuah papan tulis putih besar sudah berdiri di atas panggung.
Nadia membuka tutup spidolnya. Tanpa melihat catatan selembar pun, tangannya mulai bergerak dengan kecepatan dan presisi yang luar biasa.
Sret! Sret! Sret!
Ia mulai menggambar cetak biru pelabuhan logistik secara manual. Garis demi garis arsitektur, titik koordinat pemuatan barang, hingga jalur distribusi maritim Selat Malaka tergambar dengan sangat detail dan proporsional.
"Desain yang kami tawarkan bukan sekadar ruang penyimpanan barang," ucap Nadia sembari terus menuliskan deretan rumus matematika rumit di papan tulis. "Ini adalah ekosistem prediktif. Dan ini..." Nadia mengetuk ujung spidolnya pada barisan rumus di tengah papan. "...adalah algoritma Distribusi Variabel X yang telah kami sempurnakan."
Mendengar frasa itu, senyuman di wajah Arthur Chen seketika lenyap. Pria paruh baya itu mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya membelalak menatap deretan formula yang ditulis Chelsea secara manual di atas papan tulis.
Rumus-rumus itu... adalah detail rahasia dari riset mendiang Nadia Kirana yang telah disabotase Arthur di dalam laptop! Bagaimana mungkin Chelsea Latief bisa menghafal susunan angka desimal dan variabel enkripsi yang sangat kompleks itu di luar kepala tanpa salah satu karakter pun?
Para juri komite Singapura yang tadinya tampak skeptis, kini mulai menaruh perhatian penuh. Beberapa dari mereka memakai kacamata mereka, mencatat rumus rumus yang ditulis Chelsea dengan ekspresi takjub.
"Dengan model matematika ini, kami bisa memotong waktu tunggu kontainer hingga tiga puluh empat persen, lebih efisien sembilan persen dibandingkan proposal terbaik yang ditawarkan oleh kompetitor lokal mana pun di ruangan ini," tegas Nadia, matanya melirik tajam ke arah Arthur Chen saat mengucapkan kata kompetitor lokal.
Nadia meletakkan spidolnya dengan ketukan yang mantap, lalu membungkuk hormat. "Visual bisa diretas, Tuan-Tuan. Tapi kejeniusan dan penguasaan mutlak atas proyek ini tidak akan pernah bisa dikunci oleh ransomware mana pun. Terima kasih."
Gemuruh tepuk tangan seketika pecah memenuhi aula konvensi. Beberapa juri bahkan berdiri memberikan apresiasi (standing ovation) atas performa presentasi yang luar biasa dan penuh keberanian tersebut.
Nadia berjalan turun dari panggung dengan kepala tegak. Saat ia melewati lorong tempat Arthur Chen duduk, ia menghentikan langkahnya sejenak, melirik pria paruh baya yang kini wajahnya mengeras menahan murka.
"Taktik murah siber yang menarik, Tuan Chen," bisik Nadia dengan senyuman miring yang sangat dingin. "Tapi di duniaku... otak selalu bergerak lebih cepat daripada peretas."
Begitu ia kembali ke kursinya, Reynald langsung menyambutnya. Pria itu tidak bisa menyembunyikan binar kebanggaan dan obsesi yang semakin absolut di dalam sepasang mata elangnya. Ia meraih tangan Nadia, menariknya lembut dan berbisik di dekat telinganya.
"Kamu benar-benar monster yang menakjubkan, Chelsea. Arthur Chen baru saja menyadari bahwa dia bukan sedang berhadapan dengan mangsa, melainkan pembantai."
Namun, di tengah euforia kemenangan presentasi tersebut, ponsel Nadia di dalam saku blazer kembali bergetar. Sebuah pesan baru masuk dari The Watcher:
"Presentasi yang luar biasa, Kirana. Tapi Arthur tidak akan membiarkanmu meninggalkan Singapura hidup-hidup setelah ini. Rem mobil Rolls-Royce hitam yang menjemputmu... sudah dipotong."