NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang makan kecil

Matahari pagi masuk dari jendela kaca, cahayanya keemasan jatuh ke meja kayu, uap bubur ayam ngebul, wangi jahe sama daun bawang nyampur, bikin perut yang semaleman demam jadi lapar

Aku duduk di kursi ujung meja, rambut masih setengah basah, pake baju ganti yang Axel taruh di depan pintu tadi, ukurannya kebesaran, lengan nutup sampe ujung jari, tapi anget, bau sabun kayu yang sama kayak baju dia

Axel duduk di seberang, jarak 1 meter, punggungnya lurus, sendok di tangannya ga gerak, dia cuma liatin mangkok buburnya, kayak mikir berat

Aku sendok bubur pertama, tiup pelan, "hmmm... anget" kataku jujur, "Axel masak sendiri"

Dia kaku, baru ngangkat muka, "iya, resep Elina juga, kalo demam jangan makan berat, bubur aja"

Aku diem, terus senyum kecil, "Tuan inget semua ya soal Mama aku"

"Harus" jawabnya pelan, "13 tahun aku bawa itu, kalo lupa, aku takut aku balik jadi naga lagi"

Hening, cuma suara sendok "klitik" kena mangkok, prajurit lewat di luar pintu, langkahnya pelan, tapi telinganya jelas nempel ke dinding

"Jadi semaleman dia jagain non Aira" bisik salah satu prajurit, suaranya ketahan pintu

"Pintu ga dikunci" jawab yang lain, "tapi ga ada suara apa-apa, cuma... Tuan Axel ngomong pelan, terus non Aira nangis dikit"

"Terus subuh-subuh Tuan keluar, kuping merah, rambut acak"

"Gila, 13 tahun kita liat Tuan, baru kali ini liat dia senyum ke orang"

Aku pura-pura ga denger, tapi sendokku berhenti di tengah jalan, Axel juga denger, rahangnya ngeras, dia letak sendok, "makan yang bener, jangan dengerin gosip"

Aku noleh ke dia, "mereka ngomongin kita"

"Mereka ngomongin naga yang luluh" koreksinya, matanya liat aku, "bukan kita, Aira, inget itu"

Aku angguk, makan lagi, tapi anget di dada naik, bukan karena bubur

Axel dorong piring kecil ke tengah meja, isinya irisan jeruk, "makan ini, vitamin, biar ga demam lagi"

Aku ambil 1 iris, "Tuan... kenapa baik banget ke aku"

Axel merem, lama, terus buka mata, "karena aku ga mau kau ngira semua orang di istana ini monster, Aira, kau butuh bukti kalo ada yang manusia"

Aku makan jeruk, asam manis, mataku perih, "Axel"

"Hmm"

"Kalau aku udah sembuh total, Tuan masih mau masakin aku"

Pertanyaannya kelepasan, aku langsung nyesel, muka panas, Axel kaget, sendok di tangannya jatuh, "klang"

Dia nunduk pungut sendok, ga noleh, "aku... aku ga tau, Aira, 13 tahun rencana aku cuma satu, balas dendam ke Papa kau, sekarang rencana itu hancur, aku belum bikin rencana baru"

Aku diem, "jadi aku cuma... proyek balas dendam yang gagal"

"Kau bukan proyek" katanya cepet, kepalanya naik, matanya lurus, "kau kecelakaan, Aira, kecelakaan paling indah yang pernah naga alami, dan aku ga tau harus marah atau bersyukur"

Pintu "krek", masuk prajurit bawain roti, liat kami diem, dia langsung nunduk, "permisi Tuan, roti hangat"

"Letak situ" kata Axel, suaranya balik datar, prajuritnya kabur cepet, pintu ketutup lagi

Aku ambil roti, sobek pelan, "Axel, aku boleh minta satu hal"

"Apa"

"Jangan tutup diri lagi, habis ini, jangan balik ke luar pintu, jaga aku dari dalam terus, boleh"

Axel diem, jarinya mainin gagang sendok, "kau tau risikonya apa kalo aku di dalam terus"

"Risiko Tuan kebiasaan" kataku jujur, "risiko Tuan ga bisa lepasin aku lagi"

Dia noleh ke jendela, napasnya panjang, "iya, itu risikonya, Aira, dan aku takut aku malah suka sama risiko itu"

Hening lagi, tapi kali ini ga canggung, anget, kayak ada benang yang narik kami makin deket

*HALAMAN DALAM - JAM 07.15*

Habis sarapan, Axel ngajakin aku keluar, "jalan, biar keringetan dikit, demam cepet turun"

Kami jalan ke halaman, prajurit yang lagi latihan langsung berhenti, semua noleh, liat Axel jalan 2 langkah di belakang aku, ga di depan, ga ngusir, malah jagain

"Lihat tuh" bisik prajurit A ke B, "Tuan Axel bawa mantel, buat siapa, buat non Aira kan"

"Kemarin dia marah kalo ada yang liat non Aira, sekarang dia sendiri yang jalanin"

"Gila, 13 tahun kita kira dia batu, ternyata..."

"Shhh, dia denger"

Axel berhenti, noleh ke mereka, mata merahnya nyapu satu-satu, prajurit langsung "siap", tegak, pura-pura sibuk

Dia ga ngomong apa-apa, cuma narik mantel dari lenganku, nutupin bahuku lebih rapat, tangannya nyentuh kerah mantelku, 2 detik, terus lepas

"Angin" katanya pelan, ke aku doang, terus jalan lagi

Aku ngikut, pipi panas, bukan karena demam, karena malu

Kami berhenti di bawah pohon maple gede, daunnya udah mulai rontok, jatuh satu-satu, aku nangkep daun, "dulu Mama aku suka bilang, kalo nangkep 3 daun sekaligus, ada keajaiban"

Axel liat, "terus kau dapet berapa"

Aku buka tangan, 2 daun, "kurang satu"

Axel diem, terus dia ngangkat tangan, nangkep daun yang jatuh, 1 daun merah, dia taruh di telapak tanganku, jadi 3

"Ada keajaiban" katanya pelan, "aku 13 tahun nunggu, baru sekarang dateng"

Aku kaku, liat mata dia, "Axel..."

"Jangan ngomong" bisiknya, "aku tau, kau bingung, aku juga bingung, jadi diem aja, nikmatin 3 daun ini"

Angin lewat, daun lain jatuh, nutupin rambutku, Axel reflek maju, kali ini dia ga nahan, tangannya nyingirin daun dari pipiku, ujung jarinya mampir 1 detik di pipiku

Aku ga mundur, aku diem, liatin dia, jarak muka 20cm, napasnya anget

"Tuan" panggil prajurit dari jauh, suaranya pecah suasana, "ada utusan dari kota, bilang ada kabar soal... Papa non Aira"

Axel kaku, tangannya berhenti di pipiku, matanya berubah, merahnya makin pekat, 13 tahun dendam balik lagi, cepet

Aku mundur setengah langkah, "Axel, jangan"

Dia tarik napas, nutup mata, terus buka lagi, merahnya turun, jadi coklat gelap, "aku ga akan, Aira, janji"

Dia noleh ke prajurit, suaranya datar lagi, "suruh dia nunggu di aula, aku kesana nanti"

Prajurit lari, Axel noleh ke aku, "kau balik kamar, istirahat, aku urus"

Aku pegang lengan dia, "jangan tinggalin aku pas ada kabar Papa aku, aku takut Tuan berubah lagi"

Axel liat tanganku di lengan dia, terus liat mata aku, "Aira, aku 13 tahun latih diri buat ga goyah, 3 hari sama kau, aku goyah terus, kau tau capeknya kayak apa"

"Aku tau" kataku pelan, "makanya aku pegang, biar Tuan ga goyah sendirian"

Dia diem, terus tangannya nutup tanganku di lengan dia, genggam, "ikut, tapi diem, duduk di pojok aula, jangan liat mataku kalo aku marah, oke"

Aku angguk, "oke Axel"

*AULA ISTANA - JAM 07.40*

Utusan itu laki-laki tua, pake baju kusam, dia nunduk dalem pas liat Axel, "Tuan Naga, maaf ganggu"

"Bilng" kata Axel, duduk di kursi singgasana, aku duduk di kursi kecil di pojok, jarak 5 meter, jaga jarak sesuai janji

Utusan itu ngelirik aku, ragu, "kabarnya... Tuan Pramesti, Papa non Aira, dia lagi kumpulin pasukan di perbatasan, bilang mau nebus anaknya, atau... ngeratain istana ini"

Aula hening, prajurit saling liat, tangan ke gagang pedang

Axel ga gerak, tapi jari di sandaran kursi ngepal sampe putih, "dia mau perang"

"Iya Tuan" jawab utusan, "dia bilang, kalo anaknya ga dikembaliin 7 hari, dia bakar semua"

Axel merem, lama, terus dia buka mata, liat aku, tatapannya kosong, 13 tahun kebencian balik lagi

Aku kaku, napasku sesek, "Axel..."

Dia noleh ke utusan, "keluar"

Utusan kabur, pintu kebanting, "brak"

Hening, semua nunggu, naga mau meledak

Axel berdiri, langkahnya pelan ke arahku, "tek tok tek tok", tiap langkah kayak palu di dadaku, aku mundur setengah, punggung nempel dinding

Dia berhenti 1 meter di depanku, bayangannya nutupin aku, "Aira" panggilnya, suaranya rendah, bahaya

Aku angkat muka, "aku di sini Axel, aku ga lari, aku ga salah"

Dia liat aku, lama, terus tangannya naik, aku merem, kira dia bakal necekik, tapi tangannya cuma megang pipiku, anget, gemetar

"13 tahun aku mimpi ini" bisiknya, "mimpi necekik anaknya, tapi sekarang... aku ga bisa, Aira, aku ga bisa"

Dia narik aku ke pelukannya, kenceng, kemejanya bau asap sama pedang, napasnya berat di telingaku, "dia mau perang, dia mau rebut kau, atau bunuh kau biar aku sakit, aku tau"

Aku peluk balik, "jadi jangan lepas aku Axel, kalo Tuan lepas, dia menang"

Axel diem, terus dia bisik di rambutku, "denger ya, semua prajurit, mulai hari ini, non Aira bukan tawanan, dia... dia tamu istana, siapa yang sentuh dia tanpa izin aku, aku penggal"

Aula "deg", semua prajurit nunduk, "siap Tuan"

Axel lepas pelukan pelan, jarak balik 10cm, jempolnya ngusap pipiku, "kau denger, Aira, mulai sekarang kau aman di sini, aku yang jaga, biar Papa kau dateng bawa 1000 pasukan, dia ga akan sentuh kau"

Aku angguk, air mata jatuh, "makasih Axel"

Dia hapus air mataku pake jempol, "jangan nangis, aku ga suka liat kau nangis, 13 tahun aku yang bikin, sekarang aku yang hapus"

Dia noleh ke prajurit, "persiapan perang, tapi non Aira tetep di kamar, makan 3 kali, aku yang antar, ga ada yang boleh masuk kecuali aku"

"Siap Tuan" jawab semua

Axel gandeng tanganku, narik aku keluar aula, di depan semua orang, ga peduli gosip, ga peduli dendam

Di koridor, prajurit bisik-bisik lagi, "Tuan Axel gandeng tangan non Aira..."

"13 tahun dia benci, 3 hari dia jatuh cinta"

"Shhh, dia denger"

Axel berhenti, noleh ke mereka, "dengerin, aku denger, dan aku ga malu, Aira itu... milikku buat dijaga, titik"

Aku kaku, pipi merah, dia gandeng aku terus jalan, tangannya anget, keringatnya dikit, gemetar

Sampe depan kamar, dia lepas tanganku pelan, "masuk, istirahat, aku masak bubur lagi nanti"

Aku masuk, noleh, "Axel"

Dia berhenti, "Hmm"

"Perang beneran ya"

"Ya" jawabnya jujur, "tapi kau ga usah takut, Aira, naga 25 tahun ini udah ganti sisi, sekarang dia jagain, bukan nyerang"

Dia nutup pintu, ga dikunci, "krek"

Aku duduk di kasur, megang dadaku, jantung deg kenceng, takut, tapi anget

Di luar, Axel sandar di pintu, tangannya nutup mata, dia bisik, "Elina, maaf, aku janji jagain anak Ibu, tapi sekarang aku mau jagain dia dari Papa dia sendiri, aku gila ya"

Ga ada jawaban, cuma suara prajurit lari-lari persiapan perang

Matahari makin tinggi, sinarnya masuk dari celah pintu, nyentuh tanganku, anget

Dendam 13 tahun ketemu perang, tapi naga 25 tahun milih jagain bocah 18 tahun

Gosip bodyguard makin kenceng, tapi Axel udah ga peduli, dia udah pilih

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!