Rina, pengusaha sukses berusia 28 tahun, tewas akibat pengkhianatan keluarga dan rekan bisnis. Saat sadar, dia regresi ke tubuhnya di kelas 11 SMA — tepat 10 tahun ke belakang.
Dulu Rina adalah gadis pemalu yang sering dibully geng cewek populer, dikhianati pacar pertamanya, dan diabaikan orang tuanya yang sibuk bisnis. Kini dengan semua pengetahuan masa depan, Rina berubah total.
Dia akan balas dendam di sekolah elit Harapan Elite International School, naik menjadi ratu sekolah yang ditakuti dan dikagumi, rebut prestasi akademik & ekstrakurikuler, perbaiki hubungan keluarga, serta hancurkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Drama remaja SMA, revenge yang memuaskan, slice-of-life sekolah, intrik keluarga kaya, dan romansa slow-burn dengan Kai — ketua OSIS dingin keturunan konglomerat yang pernah menolongnya di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejatulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UMPAN UNTUK TIKUS KECIL
Sore hari setelah jam sekolah berakhir, Rina tidak langsung pulang. Sesuai janjinya kepada Bu Sandra, sebuah draf proposal kasar untuk proyek Pop-Up Retro Cafe kelas 11-A harus diserahkan ke ruang OSIS untuk mendapatkan validasi awal dari sang Ketua OSIS, Kai Mahardika.
Namun sebelum menuju ke sana, Rina memiliki satu agenda penting yang harus diselesaikan di kantin belakang yang sudah sepi.
Dari kejauhan, Rina bisa melihat Kevin sudah duduk di salah satu kursi panjang dengan wajah gelisah. Cowok itu terus-menerus menatap layar ponselnya, bertingkah seperti seorang kriminal yang sedang menunggu kurir narkoba. Begitu sosok Rina yang anggun melangkah mendekat, Kevin langsung berdiri dengan binar mata yang dipenuhi keserakan dan gairah yang tak tertahankan.
"Rina! Lama banget sih, aku udah nunggu hampir setengah jam tahu," rajuk Kevin, mencoba memasang wajah manisnya yang manipulatif. Matanya dengan cepat menyapu penampilan Rina yang kini terlihat sangat cantik tanpa kacamata tebalnya.
Rina mengulum senyum tipis, sebuah senyuman yang tampak begitu manis namun sebenarnya sarat akan racun yang mematikan. Dia merasuk tangannya ke dalam saku rok seragamnya, lalu mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna perak mengkilap di antara jemari lentiknya yang bersih.
Mata Kevin langsung berbinar serakah melihat benda tersebut. Dia menjulurkan tangannya untuk merebut flashdisk itu, namun dengan gerakan yang sangat anggun dan cepat, Rina menarik kembali tangannya, membuat jemari Kevin hanya menangkap angin.
"Rin?" Kevin mengernyitkan keningnya, sedikit tidak suka dengan penolakan tersebut.
"Aku membawanya, Kevin," ucap Rina, menatap mata cowok itu lurus-urus dengan pandangan mata yang menusuk. "Di dalam sini ada semua data yang kakakmu butuhkan untuk 'tugas akhir'-nya. Strategi ekspansi vendor, analisis harga potongan kain, hingga draf tender proyek tahun depan perusahaan Ayah."
Tentu saja itu adalah kebohongan yang sangat rapi. Di dalam flashdisk tersebut, Rina bersama bantuan analisis data mikro milik Devan telah menyusun sebuah dokumen proposal palsu yang sangat meyakinkan. Dokumen itu berisi analisis pasar fiktif yang menyarankan investasi besar-besaran pada lahan komersial di wilayah pinggiran Jakarta Timur yang bulan depan akan dinyatakan sebagai zona hijau lindung oleh pemerintah—sebuah bom waktu finansial yang akan menghancurkan modal siapa pun yang nekat menirunya.
"Tapi," Rina melanjutkan kalimatnya sebelum Kevin sempat memotong, "dokumen ini sangat rahasia. Aku mengambil risiko yang sangat besar demi kamu, Kevin. Jadi, pastikan kakakmu menggunakannya dengan sangat hati-hati dan jangan sampai ada pihak luar yang tahu bahwa data ini berasal dari aku."
"Iya, Rin! Pasti! Aku sumpah nggak akan ada yang tahu!" seru Kevin penuh kemenangan, egonya melambung tinggi karena merasa Rina melakukan semua risiko gila ini murni karena sangat mencintainya. "Kamu emang pacar terbaik aku, Rin. Sini, kasih ke aku flashdisk-nya."
Rina menyerahkan flashdisk perak itu ke atas telapak tangan Kevin. Begitu jemari Kevin menutup benda tersebut, Rina tahu bahwa vonis kehancuran bagi keluarga cowok itu telah resmi berjalan. Tikus kecil itu telah memakan umpannya dengan sangat rakus.
"Terima kasih ya, cantik. Aku pergi duluan ya, ada urusan tim basket," ucap Kevin sambil mengedipkan sebelah matanya, berlagak romantis sebelum berbalik dan berjalan pergi dengan langkah terburu-buru, tidak sabar untuk segera mengirimkan data berharga itu kepada ayahnya.
Rina tetap berdiri di posisinya, menatap punggung Kevin yang menjauh dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa muak yang mendalam. Dia merogoh sapu tangan kecil dari sakunya, mengusap ujung jarinya yang sempat bersentuhan dengan tangan Kevin tadi.
"Nikmatilah kemenangan semu kalian, Keluarga Wangsa," desis Rina dengan suara yang sangat rendah. "Bulan depan, saat pemerintah menyegel lahan investasi kalian, aku ingin melihat apakah kalian masih bisa tersenyum lebar seperti itu."
Rina membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju gedung utama, menaiki tangga menuju lantai tiga tempat ruang OSIS berada. Koridor sudah sangat sepi, hanya menyisakan gema langkah kakinya yang berketukan teratur di atas lantai marmer.
Tok... Tok... Tok...
Rina mengetuk pintu kayu jati berlogo OSIS yang megah.
"Masuk," sebuah suara bariton yang dingin dan berat terdengar dari dalam.
Rina menggeser pintu tersebut. Di dalam ruangan yang luas, ber-AC dingin, dan dipenuhi oleh deretan piala serta piagam penghargaan, Kai Mahardika sedang duduk di balik meja kerja besarnya. Pemuda itu telah melepaskan jas sekolahnya, menyisakan kemeja putih bersih dengan lengan yang digulung hingga sikut, mengekspos lengan bawahnya yang kokoh. Di depannya, tumpukan berkas setinggi tiga puluh sentimeter berbaris rapi.
Kai mendongak. Begitu matanya menangkap sosok Rina dengan penampilan barunya, gerakan tangannya yang sedang memegang pulpen mewah sempat berhenti selama satu detik penuh. Tatapan matanya yang sewarna obsidian menyipit, mengamati wajah bersih Rina tanpa poni tebal dan kacamata besarnya. Ada riak keterkejutan yang sangat tipis di wajah tampannya, sebelum dia kembali menguasai ekspresinya menjadi sedatar biasanya.
"Rina Azalea. Ada keperluan apa?" tanya Kai, menyandarkan punggungnya pada kursi kerja kulitnya yang empuk.
Rina berjalan mendekat dengan langkah anggun, lalu meletakkan map draf proposal kelasnya di atas meja Kai dengan posisi yang sangat rapi. "Saya ingin menyerahkan draf proposal awal untuk Festival Budaya dari kelas 11-A, Ketua. Bu Sandra meminta saya menyerahkannya langsung kepadamu selaku ketua tim pengawas."
Kai melirik map tersebut, lalu kembali menatap Rina. "Kamu? Ketua proyek kelas 11-A? Bukankah biasanya posisi itu dipegang oleh Sherly atau Clarissa?"
"Dunia ini dinamis, Ketua OSIS. Posisi kepemimpinan seharusnya dipegang oleh mereka yang memiliki konsep fungsional, bukan mereka yang hanya mengandalkan nama besar orang tua," jawab Rina dengan nada suara yang sangat tenang dan percaya diri.
Kai menaikkan sebelah alisnya. Jawaban Rina barusan terdengar sangat berani dan sarat akan sindiran bagi anak-anak elit di sekolah ini. Kai menarik map merah tersebut, membukanya, dan mulai membaca lembar demi lembar draf yang disusun Rina.
Awalnya, Kai membaca dengan santai. Namun, menginjak halaman ketiga, tubuhnya perlahan menegak. Matanya bergerak cepat, membaca analisis SWOT, proyeksi omzet, strategi mitigasi risiko bahan baku, hingga konsep survei digital berbasis alamat IP yang dirancang Rina bersama Andi.
Ruangan itu diselimuti keheningan selama hampir lima menit, hanya menyisakan suara ketukan halus jari Kai di atas meja kayu. Kai benar-benar tertegun. Ini bukan draf proposal festival anak SMA; ini adalah draf business plan korporat tingkat tinggi yang siap dipresentasikan di depan dewan komisaris sebuah perusahaan multinasional.
Kai menutup map tersebut dengan bunyi ketukan yang pelan. Dia menatap Rina dengan pandangan mata yang sepenuhnya berubah—tatapan yang sarat akan kecurigaan yang mendalam sekaligus ketertarikan intelektual yang sangat kuat.
"Pemasaran digital berbasis data siber... analisis efisiensi modal hingga nol koma lima persen..." Kai mendesis pelan, suaranya terdengar sangat mengintimidasi. "Rina, katakan sejujurnya. Siapa yang membuatkan proposal ini untukmu? Konsultan bisnis ayahmu? Atau kamu menyewa orang luar?"
Rina tidak gentar sedikit pun menghadapi tekanan aura dari pewaris tunggal Grup Mahardika itu. Dia justru menatap balik Kai dengan sepasang matanya yang hitam pekat, memancarkan kedewasaan yang tak tergoyahkan.
"Saya membuatnya sendiri bersama tim saya, Ketua," jawab Rina tegas.
"Jangan berbohong!" Kai berdiri dari kursinya, menumpu kedua tangannya di atas meja, mencondongkan badannya ke arah Rina hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa puluh sentimeter. Aroma parfum maskulin beraroma cedarwood yang dingin maskulin dari tubuh Kai langsung menyerbu indra penciuman Rina. "Anak kelas sebelas tidak akan tahu apa itu fungsi elastisitas permintaan harga terhadap produk konsumsi musiman. Bahkan mahasiswa tingkat akhir jurusan bisnis pun belum tentu bisa menyusun mitigasi risiko sebersih ini. Siapa kamu sebenarnya, Rina Azalea?"
Kai menatap lekat-lekat mata Rina, mencoba mencari celah kebohongan, kegugupan, atau ketakutan yang biasa dia temukan pada orang lain. Namun, dia gagal total. Mata Rina sedalam dan sepekat palung samudera yang tak tertembus cahaya.
Rina tersenyum tipis—sebuah senyuman misterius yang tampak sangat anggun di wajah cantiknya yang baru. "Ketua OSIS yang terhormat... bukankah saya sudah mengatakannya kemarin di koridor? Terkadang, seseorang hanya perlu mengalami satu titik balik yang hebat di dalam hidupnya untuk berhenti menjadi orang bodoh yang selalu mengalah. Jika kamu menuntut data, proposal ini adalah datanya. Apakah ada poin regulasi sekolah yang saya langgar di dalam draf ini?"
Kai terdiam. Saraf-saraf di tubuhnya menegang. Kalimat Rina barusan terasa seperti sebuah skakmat yang sangat elegan. Tidak ada aturan sekolah yang dilanggar; draf ini justru adalah draf terbaik yang pernah dia pegang seumur hidupnya menjabat sebagai Ketua OSIS.
Perlahan, Kai kembali duduk di kursinya. Ketegangan di wajah tampannya mengendur, digantikan oleh seulas senyuman tipis yang sangat langka—sebuah senyuman apresiasi dari seorang predator jenius yang akhirnya menemukan lawan bermain yang sepadan di sekolah yang membosankan ini.
"Menarik," ucap Kai pendek, mengambil pulpennya dan langsung memberikan tanda tangan persetujuan beserta stempel resmi OSIS di lembar pertama proposal Rina. Dia menyerahkan kembali map itu kepada Rina. "Proposalmu disetujui tanpa revisi, Rina Azalea. Aku akan mengawasi jalannya proyek kelasmu secara pribadi. Jangan kecewakan aku."
Rina menerima map tersebut, membungkuk formal dengan keanggunan seorang sekretaris direksi. "Terima kasih atas kepercayaannya, Ketua OSIS. Saya pastikan, festival tahun ini akan menjadi festival yang tidak akan pernah bisa kamu lupakan."
Rina membalikkan badannya dan melangkah keluar dari ruang OSIS. Begitu pintu digeser menutup, Rina menarik napas panjang. Sesi konfrontasi dengan Kai barusan menguras energinya, namun hasilnya sangat sepadan. Umpan palsu telah ditelan oleh Kevin, dan validasi mutlak telah didapatkan dari Kai. Dua langkah besar di papan catur balas dendamnya telah sukses dijalankan hari ini.